“Karena aku lebih nyaman di rumah saja.” Jawaban yang membuatku bingung. Apa Zara akan menghukumku karena sudah terlalu lama mengabaikannya? “Biasanya kamu paling semangat mengajakku ziarah.” Aku masih berdiri di hadapannya. Mencoba mengenali istri yang baru-baru ini kuakui kecantikannya. “Mulai hari ini hingga setahun ke depan, mungkin aku gak bisa lagi ikut ke makam.” Aku mengernyit menanggapi ucapan yang lebih menjurus pada permintaan. Zara pasti paham keterkejutanku. Tapi anehnya dia masih setengah-setengah memberikan penjelasan. “Jangan bikin aku mikir yang enggak-enggak.” Aku memegang kedua lengannya. “Ck, serius amat, sih!” Tiba-tiba Zara meraih tangan kananku lalu memberikan sebuah bungkus ... testpack? “Apa ini?” aku langsung bertanya. Zara tersenyum simpul, lalu berjinj

