Di luar kamar, Nina duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Steven pun ikut duduk di ubin itu pula sambil meletakan keranjang buah.
Si nona mengalihkan pandangan ke buah-buahan dalam keranjang, jari telunjuk tangan kanan ditepuk-tepuk ke salah satu sudut bibir, tampak dia berpikir ingin mengambil buah yang mana dari keranjang.
Steven segera menyobek plastic pembungkus keranjang buah, lantas menyolek lengan nona ini yang tampak senang melihat aneka buah segar terpampang menggoda selera.
“Kamu mau buah yang mana dulu?” sang CEO menawarkan buah ke nona, “Untuk energy awal sebelum mulai miting debat sama Aku.” Imbuh dia konyol.
Marno dan Haris dua ajudan yang berjaga di depan pintu melongo melihat adegan ini, sedangkan Damar dan Fitri mengintip dari sisi kusen pintu. Kedua orangtua itu penasaran, benar atau tidak Nina dan Steven saat adu debat sambil mengemil buah.
“Aku mau jeruk Mandarin itu.” Nina menunjuk satu buah jeruk Mandarin, “Kamu tolong kupasin kulit dan serat di buah.” dia seenak perut memerintah Steven.
“Iyalah, Nona!” Steven bertambah gemas, diambil buah tersebut, lantas mulai mengupas kulit luar, “Seumur-umur,” dia sambil bicara, “Baru kali ini, adu debat sambil ngemil buah.” Disindir Nina yang menanti diberi setiap potong jeruk yang sedang dikupas ini.
“Itu kesalahan yang berdebat.” Nina menyahut dengan santai, “Padahal di meja disediakan kemilan, kue dan buah. Kenapa tidak dikemilin saat mulai adu debat.”
Steven menyimak jawaban ini sambil dipikirkan, “Iya juga sih,” dia merasa Nina benar, “Untung Kamu menyadari itu.” Diberikan sepotong jeruk yang sudah dibersihkan dari serat ke tangan si nona.
“Hehehe.” Sang gadis terkekeh sambil melahap jeruk itu, “Umm, manis jeruknya!” dia mulai merasakan manis buah jeruk dalam mulut. “Steve, kamu cobain deh jeruknya, manis seger.” diminta Steven mencoba jeruk tersebut.
“Oke lah.” Sang CEO memakan sepotong jeruk yang belum bersih benar dari seratnya, dilumat-lumat, “Umm!” seru dia, “Kamu benar, jeruknya manis seger.” Dia merasakan jeruk ini benar manis segar. “Nanti, saat Kita beli buah untuk Opa, kita beli jeruk ini juga untuk kita ya.”
“Oke!” Nina mengacungkan satu jari telunjuk tangan kanan ke udara.
Damar dan Fitri tersenyum geli, mengapa Nina dan Steven tidak adu debat, malah asyik makan buah? Mana Steven dengan setia mengupas kulit buah yang diinginkan Nina. Lantas kedua manusia itu bukan hanya makan buah, tapi mengobrol yang temanya tidak mengenai pernikahan. Ternyata buah bikin mood berdebat hilang, berganti kesenangan mengobrol.
Tanpa mereka sadari, Mila dari pintu kamar perawatan melihat semua adegan manis Nina dan Steven. Wajah dia menjadi masam, mengapa sang kakak dengan cepat ada pengganti Eric?
Sementara di belakang gadis itu, Eric pun melihatnya. Dia datang untuk membesuk Iqbal, ingin mengambil hati si kakek agar membujuk Nina mau menikah sama dia. Tapi dia melihat kemesraan Nina dan Steven. Hatinya menjadi hancur.
***
Sabina tersenyum melihat Steven datang bersama Nina untuk membesuknya. Tampak gadis itu sudah segar dan berpakaian baru. Lantas satu tangan si nona mengamit lengan tuan tampan cucu angkat dia.
“Oma,” Steven mendekati sang nenek, dicium saying kedua pipi neneknya ini, lantas meletakan dua keranjang buah di bufet, “Oma, Steve mau mengenalkan bidadari ini ke Oma.” Lalu menarik Nina agar ke sisi dia untuk diperlihatkan ke si nenek.
Nina terkesiap, lantas, “Steve, Oma Kamu udah kenal aku, untuk apa Kamu kenalin lagi?”
“Memang,” sahut Steven santai, “Tapi kan Aku belum mengenalkanmu, meski Kamu sudah kenalan sama Oma Aku.”
Nina melipat sedikit bibirnya, “Terserah lah.” Dia menarik tuan muda ke belakang, lantas menyapa Sabina yang terus tersenyum haru melihat tingkah laku mereka. “Nyonya Sabina.”
Steven terkesiap mendengar ini, langsung ke sisi lain si nona.
“Kok Nyonya Sabina sih?”
“Lantas?” Nina memandang sang CEO dengan polos.
“Panggil Oma saja, karena Aku memanggil Opa Kamu dengan Opa.”
“Aku memang memanggil beliau dengan Oma.”
“Mana? Kamu panggil Nyonya Sabina.”
“Sengaja,” sahut Nina cengegesan, “Ish, Kamu sensi banget jadi orang.” Disenyumin tuan muda ini.
“Ugh!!” terdengar suara gemas sang CEO, hendak meraih pinggang nona ini agar bisa dipeluk dan dihadiahkan ciuman, karena berani sekali menggoda dia. “Nina!” seru dia karena tuan putri langsung melompat naik ke bed dan menyandar di sisi lengan Sabina, “Curang!” dia kesal gagal memeluk dan mencium sang putri, “Berlindung ke Oma!”
“Biarin!” Nina sedikit menjulurkan lidah, merasa puas menang dari Steven.
Sabina terkikik-kikik, hatinya bahagia sebab Steven dan Nina ternyata mulai dekat.
Peter dan Darian tersenyum haru melihat Nina nyaman di dekat Sabina.
Steven duduk di tepi bed, menghadap Nina dan Sabina, diamati kedua perempuan itu baik-baik, wajah dia menjadi tersenyum karena sang nenek cerah wajahnya, berarti neneknya menyukai Nina.
Tidak lama dia menepuk sedikit kening, mengapa mengatakan si nenek berarti menyukai Nina, padahal besar kemungkinan Nina itu Bella cucu kesayangan sang oma.
“Nina-!”
Sabina menegur Nina.
“Ya, Oma?”
“Boleh Oma tanya sesuatu?”
“Boleh, Oma.”
“Kamu membatalkan pertunangan, apa ada seseorang yang Kamu cinta?”
Nina terhenyak diberi pertanyaan itu, lantas menghela napas, bingung harus menjawab apa, karena pria yang dicinta entah di mana berada. Dia pernah minta mendiang Kemal ajudannya mencari Fikar di Jakarta, tapi ternyata Fikar sudah tidak tinggal di perumahan pemulung. Tidak ada yang tahu kemana Fikar pindah, hanya diketahui Fikar dibawa perempuan kaya.
“Nina.”
Nina melihat ke Sabina, “Nina tidak ada seseorang, Oma, karena mungkin dia sudah melupakan Nina.”
“Melupakanmu? Mengapa?”
“Ceritanya panjang, Oma.” Nina memasang senyum.
“Apa Kamu tetap menunggu orang itu, atau move on dari dia?”
Sang gadis terdiam, hatinya bertanya apakah tetap menunggu atau move on dari Fikar?
“Entahlah, Oma-“ dia menghela napas memberi jawaban pertanyaan Sabina.
“Kalau,” Sabina melirik Steven yang menyimak semua percakapan mereka, “Oma ada calon untukmu, apa Kamu berkenan mempertimbangkan untuk menerimanya?”
Steven menahan napas, karena si nenek ternyata serius hendak menjodohkan dia sama Nina. Dia sangat senang, sebab jatuh hati ke gadis itu. Tapi bagaimana dengan si nona? Lantas apa Keith mau punya ibu baru?
Untuk alasan terakhir yang terpenting, sebab jika Keith tidak mau, maka dia tidak menikah lagi. Bagi dia, sang anak lebih penting dari istri baru, selain dia menanti Tuhan mempertemukannya kembali dengan Nina kecil itu.
“Siapa calonnya, Oma?”
Nina dengan polos menanyakan siapa calon dari Sabina.
Si nenek pun menunjuk Steven.
“Steven?!”
Nina melihat yang ditunjuk sang oma.
Sabina menganggukan kepala.
“Meski dia duda satu anak,” Oma bicara dengan suara lembut, “Tapi dia bisa diandalkan menjadi suami yang baik, Nina.” Mulai mempromosikan Steven.
“Steven punya anak, Oma?”
“Punya, laki-laki, berusia 4 tahun.”
Sang nona hendak menanggapi, tapi datang Gandy, di mana sang asisten mengetuk daun pintu dengan sopan sambil mengucap salam.
“Permisi!”
Mereka berbarengan melihat ke asisten itu.
“Oma,” Nina menegur Sabina, “Maaf, Nina permisi sebentar menemui Gandy asisten Nina.” Dia minta izin meninggalkan si nenek untuk sejenak, lantas turun dari bed dan bergegas menemui asistennya. “Ya, Gandy?”
“Nona,” Gandy memandang Nina, “Tuan Damar minta Anda datang ke ballroom Zahara Hotel untuk bertemu para undangan acara pertunangan anda yang batal itu.”
Nina menghela napas, “Apa di sana ada Mila dan Eric juga?”
Steven berbisik ke telinga Sabina, lantas bergegas mendekati Nina.
“Nina!” ditegur gadis ini, “Ada masalah kah?” langsung bertanya apa si nona mendapat masalah.
“Tidak, Steven.” Nina memutuskan tidak memberitahu, “Aku ke Oma dulu,” dia segera beranjak pergi menuju Sabina yang mengamati mereka. “Oma.” Langsung ditegur si nenek saat mereka berhadapan, “Maafin Nina, karena Nina hanya sebentar bersama Oma.” Dia minta maaf terlebih dulu, “Papa memanggil Nina.”
“Ada masalahkah dengan Opa Kamu?”
“Tidak ada, Oma. Hanya Papa ada perlu sama Nina.”
Sabina menghela napas, hatinya menjadi was-was. Darian sudah memberitahu mengenai peristiwa Karla mencoba membunuh Iqbal, lantas wartawan mengejar Nina prihal batalnya pertunangan itu. Dia mencemaskan Nina yang dipanggil Damar.
Nina meraih tangan sang nenek, digenggam lembut.
“Oma tenang ya,” dibujuk si nenek untuk menenangkan hati, “Nanti setelah Nina selesai, Nina kemari menemani Oma.”
Sabina membalas genggaman tangan putri Damar ini.
“Baik, cucuku.” Disebut Nina cucuku, “Kamu jangan segan minta bantuan Steven ya kalau ada masalah apa pun juga.”
“Iya, Oma.” Nina tidak tega mengatakan, “Lihat nanti, Oma, karena kami belum bertukar nomor telpon.” Lantas dicium saying kedua pipi si nenek, baru melepas genggaman tangan mereka, “Nina pergi dulu ya, Oma.”
Sabina menganggukan kepala, membiarkan si cucu meninggalkan dia sambil terus mengawasi kepergian itu.
“Nina-!”
Steven menghadang si nona.
“Ya?”
Nina memandang tuan muda.
“Kita berangkat bareng ke ballroom.”
“Maksudmu?”
“Aku juga undangan acara pertunanganmu yang batal itu kan?”
Nina terkesiap, lantas mengalihkan pandangan ke Gandy. Sorot matanya bertanya apakah si asisten mengatakan perintah Damar yang menyuruhnya ke ballroom menghadapi para undangan itu?
“Maaf, Nona,” Gandy paham pandangan nonanya, “Tuan Damar juga minta Tuan Steven ke sana, sebab Tuan Steven termasuk yang di undang ke acara Anda yang batal itu.” Dijelaskan mengapa Steven mengajak nona itu ke ballroom, sekaligus menutupi fakta kalau Steven tadi mencecer dia mengapa memanggil Nina.
Nina menghela napas, “Iyalah.” Dia pasrah, lantas memandang Steven, “Kamu pamitan dulu sama Oma.”
Steven menganggukan kepala, segera menghampiri Sabina, sejenak berpamitan, baru kembali ke dekat sang gadis. Diletakan tangan si nona ke lengannya, lantas dibawa berjalan meninggalkan kamar ini.
Gandy dan Peter cepat mengikuti dari belakang.
Sabina tersenyum melihat Steven membuat Nina mengamit lengan cucu angkatnya itu.
‘Tuhanku,’ bisik hatinya, ‘Semoga Engkau memang mentakdirkan mereka menjadi suami istri, sebab Engkau yang mempertemukan mereka di masa kecil, dan masa ini.’