Iqbal menajamkan mata sebab saat ini Nina datang bersama Steven, dimana sang CEO menggandeng tangan cucunya. Lalu tangan lain pria itu menenteng keranjang buah. Si opa merasa mengenali tuan muda tersebut, tapi mengapa bisa bersama tuan putri?
Sang kakek sudah dipindah ke VVIP baru, karena merengek tidak betah di ICU. Jadilah Damar minta dokter Fadel memindahkan pula peralatan medis di ICU ke kamar VVIP, biar si opa tidak merajuk di depan batu Malin Kundang.
Sedangkan Damar, Fitri, Gandy, dan Julian tersenyum geli karena Nina yang batal tunangan, sekarang digandeng Steven duda ganteng cucu tertua Sabina Duarte billionaire kondang tersebut.
“Opa.” Nina menyapa kakeknya yang masih mengamati dia dan Steven, dicium saying kedua pipi sang kakek, lantas menghadapkan Steven ke si kakek, “Opa, Nina mau mengenalkan teman Nina ini.” Ditunjuk sang CEO, “Dia Steven,”
“Steven Duarte?” sela Iqbal cepat, “Kamu betulkan, Steven Duarte?” ditanya Steven sambil menatap pria itu, sebab tidak mungkin Mike Duarte, karena pria itu didengar sedang diklinik penjara, babak belur dihajar cucu tertua Sabina.
“Betul, Tuan.” Steven menyahut dengan sopan.
“Kamu cucu sulung Sabina Duarte presdir Duarte Company kan?”
“Apa, Opa?” Nina terhenyak mendengar ini, “Steven nama lengkapnya Steven Duarte, lantas dia cucu Nyonya Sabina Duarte rekan kerja Opa?”
“Kamu baru itu?” tanya Iqbal memandang si cucu antara percaya dengan tidak, “Apa Steven tidak mengatakan identitasnya?”
Nina terhenyak lagi diberi semua pertanyaan itu, lantas melihat ke sang CEO.
Damar berdiri, mendekati ayahnya dari sisi lain.
“Papa,” ditegur sang ayah, “Mereka bertemu tanpa sengaja, saat Nina melarikan diri dari kejaran Eric dan Mila.” Diberitahu kapan pasangan itu bertemu, “Saat itu pun mereka hanya mengenal nama panggilan saja.”
Iqbal menghela napas, “Papa tahu.” Dia tersadar sudah mengetahui cerita pertemuan Nina dan Steven, “Sudahlah,” desah dia, “Tidak masalah kalau Nina punya teman baru yang ganteng, dan memahami dia yang slengean,” ujarnya memandang sang cucu dan Steven, “Cucuku bisa bersembunyi di toilet pria, disaat ada pria ganteng ini sedang kencing.” Dia pusing kepala dengan kelakuan si cucu.
Nina mendengar ini menjadi ciut.
“Opa,” dia merengek,”Nina saat itu tidak sengaja, hanya berpikir jangan sampai ditangkap Eric dan Mila.”
“Iya, iya,” Iqbal terkekeh sambil mengulurkan satu tangan ke depan, minta Nina duduk dihadapan dia, “But next,” diusap saying kepala cucunya ini, “Meski situasi darurat, tetap awas ke sekitar ya. Untung pria di toilet itu Steven, coba kalau yang lain? Kamu dimangsa gimana? Meski Kamu jago kungfu, kalau lawanmu predator perempuan?” dinasehati cucu cantik tersebut.
“Iya, Opa, Nina tidak akan melakukan itu lagi.” Sahut Nina menerima nasehat opa. “Meski Steven pria baik, dia buaya darat juga, Opa.”
Steven terkesiap mendengar ini, “Maksudmu apa?” dicolek tuan putri.
“Kamu berani mencium bibirku saat itu kan?” Nina memandang sang CEO.
Tuan muda terkaget, lantas tampak gemas, “Lantas Kamu gimana, hmm? Kamu mendorongku masuk ke bilik urinoir kan?”
“Itu terpaksa tauk! Aku dengar suara teriakan Eric memanggilku.”
“Aku juga terpaksa mencium bibirmu, karena Eric nekat membuka semua pintu bilik urinoir. Daripada Kamu ditangkap dia, lantas diperkosa, atau dibikin babak belur, lebih baik kubikin sandiwara kita sedang bermesraan.”
“Pikiranmu terlalu jauh.”
“Pikiranmu sempit. Eric berani meniduri adikmu, sudah menunjukan dia pria yang bisa melakukan apa pun. Meski kamu bisa kungfu dan cerdik, tapi jangan remehkan pria model Eric.”
Damar, Fitri, Gandy, dan Julian tersenyum geli sebab Nina dan Steven kembali menjadi Tom and Jerry. Sedangkan Iqbal melongo mendengar percakapan ini, karena dia baru tahu detail kejadian. Tidak lama dia menepuk kening, baru tersadar mengapa Sabina mengusulkan menjodohkan Nina sama Steven, karena rekan kerjanya pasti mengetahui kejadian di toilet itu dengan detail.
Hehehe, keliru Tuan Iqbal. Sabina tidak tahu detail kejadian itu, hanya mengetahui kalau Steven dan Nina sudah bertemu, jadi Tom and Jerry, lantas Nina batal bertunangan, maka apa salahnya menjodohkan si nona dengan sang CEO?
“Nyonya,” Gandy di sebelah Fitri berbisik, “Yang difeelingkan Peter kejadian. Nona ama Tuan Steven kelar drama romantic di menara, kembali jadi Tom and Jerry.”
“Hehehe,” kekeh Fitri terkikik geli, “Itu biasa dalam penjajakan pendekatan cinta, Gandy.” Ujarnya, “Dulu saya ama Damar awalnya begitu. Kami berantem melulu, tapi bikin kami menjadi dekat, lantas menikah deh.”
“Nyonya ama Tuan dulu Tom and Jerry juga?”
“Iya. Tanya deh ke Papa.” Fitri mengerling ke Iqbal yang saksi sejarah percintaan dia dan Damar.
Kembali ke Nina dan Steven yang bertengkar kecil, cepat Iqbal menengahi.
“Hei, sudah, sudah!”
Pasangan ini terpaksa berhenti berdebat.
“Hais, kalian ini!” sang opa mengelus d***, “Sama-sama konyol!” dia memandang gemas Nina dan Steven. “Yang satu seenaknya masuk ke toilet pria, lainnya main cium bibir.”
Nina dan Steven menjadi malu hati mendengar ini.
“Hais!” Iqbal menghela napas, “Gini ceritanya, Opa berunding sama Sabina agar segera menikahkan kalian.”
Tuing, mereka terkaget, tapi menjawab berbeda.
“Steve mau, Opa!”
“Nina ngga mau, Opa!”
Lantas saling memandang, bertengkar lagi.
“Kok ngga mau sih? Apa karena Aku duda?”
“Ish, ngga gitu! Aku dah bilang cinta seseorang kan?”
“Iya, tapi Kamu juga bilang dia sudah melupakanmu.”
Iqbal, Damar, Fitri, Gandy, dan Julian tersenyum geli lagi karena pasangan ini sebentar akur, lantas berantem. Apakah ini namanya cinta unik, awal berantem lama-lama jadi suami istri saling mencintai?
Nina menjadi gemas, “Kita miting di luar!” dia memutuskan melanjutkan perdebatan di luar, menyadari mereka menjadi tontonan saat ini, ditunjuk pintu kamar yang terbuka lebar.
“Oke!” Steven setuju sambil menganggukan kepala, “Silahkan Nona Nina Ramlan!” dia pun mengulurkan tangan kanan mempersilahkan si nona lebih dulu berjalan.
“Huh!” Nina mendengus gemas, lantas segera turun dari tempat tidur, dengan wajah bersunggut disenggol kesal sisi lengan sang CEO, bahkan sedikit mencibirkan bibir ke pria itu, baru melangkah pergi.
“Awas Kamu ya, kuciumin baru rasa!” Steven keki sekaligus gemas melihat tingkah laku putri sulung tersebut, bergegas menyusul.
Sejurus kemudian,
“Tuan Muda tunggu!” seru Gandy lantang menghentikan langkah sang CEO.
“Ngga bisa, Gandy!” sahut pria itu hanya melihat sekilas sang asisten, “Saya mau ciumin Nina yang mengejek Saya tadi!” imbuh dia dengan polos mengutarakan kegemasan diledek Nina.
“Tuan!” Gandy berseru lagi, “Apa Anda mencium Nona sambil nenteng keranjang buah?” tanyanya, karena ternyata sedari tadi Steven tidak meletakan keranjang buah di bufet, ditenteng saja.
Steven terkesiap mendengar seruan tersebut, berhenti melangkah di mana kedua manik dia melihat ke tangan. Astaga! Dia benar menenteng keranjang buah. Satu tangan dia menepuk kening, mengapa tidak ada yang menegur dia dari tadi kalau masih menenteng keranjang buah?
Gandy sendiri baru menyadari saat si tuan melangkah pergi, maka cepat dia menghentikan. Masa mau mencium Nina, tangan menenteng keranjang buah?
Damar, Fitri, dan Julian tersenyum geli melihat semua ini, sedangkan Iqbal mengelus d*** merasa cucu Sabina ini slengean juga seperti Nina.
“Steven!” sekonyong-konyong muncul wajah Nina dari sisi kusen pintu, “Ngapain sih? Dari tadi ngga keluar juga?” dia memandang Steven yang terkesiap dia muncul dadakan. “Buruan kenapa? Mumpung Aku lagi mood berdebat nih!” seru dia konyol.
Steven manyun mendengar ini, merasa bertambah gemas, baru kali ini ada perempuan berani slengean ke dia.
“Iya, bentar!” sahut dia lantang, “Aku taruh dulu keranjang buah ini!” diangkat keranjang buah ditangan ke atas agar Nina melihatnya, “Dah Kamu tunggu di luar aja.” diminta si nona menunggunya, lantas segera ke bufet, diletakan keranjang itu di sana, lalu bergegas melangkah menuju tuan putri itu.
“Yah!” seru Nina terdengar, “Kok Kamu taruh di sana keranjang buahnya?” tanya dia ke Steven yang terkaget mendengar seruan dia, sampai berhenti melangkah.
“Lantas?” sang CEO memandang nona ini dengan heran, “Mustinya taruh di mana?”
“Kamu bawa aja kale keluar.”
“Kok dibawa keluar?”
“Iya, agar saat kita adu debat, bisa ngemilin buah.”
Steven terkesiap, dipandang nona itu, mengapa saat adu debat sambil ngemil buah? Memang sempat memikirkan perut perlu diisi saat berdebat?
Iqbal, Damar, Fitri, Gandy, dan Julian tersenyum geli, wajah mereka mulai memerah, karena pasangan itu lebih dari slengean.
“Steven!” seru Nina, “Adu debat kan nguras tenaga, jadi perlu diisi kemilan sehat yaitu buah.” Dijelaskan mengapa perlu mengemil buah saat adu debat.
“Tapi buah itu kan untuk Opa Kamu.” Steven sedikit menggaruk kepala yang menjadi gatal.
“Haiyah!” decak Nina, “Kelar debat, kita beli yang baru untuk Opa.” Ujarnya santai, “Udah buruan bawa tuh keranjang buah untuk kita kemilin.” Dia pun main memerintah sang CEO mengambil lagi keranjang tersebut, lantas menghilang dari tepi kusen pintu.
Entah kenapa, Steven mematuhi perintah si nona, cepat dia mengambil kembali keranjang tersebut, bahkan bicara sama Iqbal.
“Opa, sorry, Steven bawa buahnya ya buat ngemil Steven ama Nina.” Lantas tergesa pergi dengan menenteng keranjang buah. Dia pun tanpa sadar memanggil Iqbal dengan Opa.
Semua penonton kembali tersenyum geli dengan wajah memerah.