Nina cepat meraih satu tangan Steven dengan kedua tangannya, saat pria ini terjungkal jatuh, membuat dia jatuh telungkup di lantai semen menara. Lantas cucu Sabina pun sempat memegang tepi menara, meski tubuhnya tergantung-gantung di udara.
“Steven!” Nina menjadi panic melihat sang CEO menggantung-gantung di udara, “Ulurkan tanganmu yang lain ke aku!” dia hendak melepas satu tangan agar bisa diulurkan ke tangan lain pria itu
“Ngga Nina!” sahut Steven lantang sebab angin mulai bertiup kencang, dia pegang pergelangan tangan si nona, “Kamu bisa merosot bersamaku ke bawah.”
“Tapi Aku harus menarikmu ke atas!” sang nona melepas satu tangan, diraih lengan pria itu, lantas mengerahkan tenaga menarik ke atas. Tapi karena posisi dia tengkurap, tidak kuat menarik tubuh kekar itu. Lantas juga akibat panic, power tenaga dalam kungfu dia mandek.
Saat itu kedua mata Steven melihat gelang rantai kulit dengan liontin satu keping emas di pergelangan tangan kanan Nina. Diamati gelang itu, lantas teringat saat memasangkan gelang tersebut ke tangan Nina kecil di masa lalu dia.
‘Tuhanku,’ bisiknya hatinya terharu, ‘Terima kasih, ternyata Nina Ramlan yang kukenal saat ini adalah Nina kecilku. Ditangan kanan dia ada gelang milikku.’ Dia menjadi bahagia karena sekarang sudah jelas bahwa Nina yang ditolongnya batal tunangan adalah Nina gadis kecil di masa lalu dia.
“Steven!” seru Nina, “Tenagaku kalah kuat sama badanmu yang Hanoman itu!” dia nelangsa tidak berhasil menarik Steven naik ke menara.
Tuing, sang CEO terkesiap, lantas sedikit nyengir karena si nona menyebut tubuhnya seperti badan Hanoman.
‘Awas Kamu ya,’ dia menjadi gemas, ingin menciumin wajah Nina yang berani mengatainya berbadan Hanoman, ‘Kalau sudah kudapat cintamu, habis kuciumin Kamu!’ dia bertekad menciumin si nona jika sudah meraih cinta putri cantik ini.
Padahal dia bisa sling agar naik ke atas, tapi entah kenapa lupa ilmunya itu.
“Kalau begitu!” sahut dia memandang Nina, “Kamu lepaskan tanganku, biar Aku jatuh ke bawah!”
“Ish, mana boleh itu!” tukas sang nona terkesiap, lantas kedua mata menyisir ke sekitar menara, mencari sesuatu untuk membantunya mengangkat sang CEO naik ke menara. Lantas dia melihat gulungan tali tambang di halaman depan sebuah ruangan. “Steven!” segera mengalihkan pandangan ke Steven, “Ada tambang, Aku segera mengambilnya, lantas menarikmu ke atas ya.” Dia memberitahu apa yang dilihat ke pria itu, lalu dengan hati-hati meletakan tangan tuan muda di tepi menara.
“Nina!” jerit cucu Sabina kaget sebab si nona cepat berdiri lantas meninggalkan dia, “Nina!” dia kira sang gadis membiarkan dia begitu saja, “Ish, ngga bertanggungjawab!” dirutuki tuan putri.
Tidak lama Nina kembali membawa gulungan tambang, dengan hati-hati mengikat telapak tangan Steven pakai tambang, baru dibikin tangan itu memegang tambang yang tidak terikat.
Setelah itu dia mengikat ujung lainnya ke pinggang, baru kedua tangan memegang tambang yang tidak terikat.
Steven mengamati semua ini tersenyum haru. Meski Nina didekatnya judes, tapi saat seperti ini, si nona berusaha menyelamatkan dia. Betapa ingin dia memeluk dan mencium saying gadis ini, terenyuh kebaikan sang nona.
“Steven!” seru Nina sambil mundur ke belakang agar tambang terentang lurus kokoh, “Aku akan menarikmu, kamu usahakan naik ya.”
“Iya!” sahut sang CEO dengan wajah sedikit tersenyum haru, “Kamu kuat kah menarikku pakai tambang?”
“Aku usahakan kuat!”
Tapi apa daya karena keduanya terlarut dalam ketegangan, Nina tidak kuat menarik Steven yang sudah setengah badan naik ke atas menara. Berakibat dia berhenti di tempat dengan napas terengah-engah.
“Nina!” seru Steven di mana setengah badan tengkurap di lantai semen menara, “Kamu telpon Gandy asistenmu, biar bantu kamu menarikku ke atas!”
Tuing, Nina terkesiap mendengar ini, “Bilang dong dari tadi Aku telpon dia!” dipandang gregetan sang CEO.
Steven menarik bibir ke dalam, dia sendiri baru teringat mengenai hal itu.
“Eee!” serunya sebab Nina melepas tambang, “Nina!” jeritnya sebab tubuh dia jadi merosot turun, “Nina!”
Nina terkaget, tidak jadi mengeluarkan ponsel, cepat berlari menangkap tangan Steven yang terulur ke depan. Bruk, begitu dapat, terjerebab tengkurap di lantai semen.
“Fiuh!” sang CEO lega tidak terjun ke bawah, lantas menemukan si nona tengkurap dihadapan dia, “Apa Kamu bisa berhati-hati sedikit, hmm?” ditegur nona ini, “Kamu main melepas tambang, bikin aku merosot lagi ke bawah.”
“Kamu suruh Aku nelpon kan, jadi aku mau ambil ponselku dalam saku celanaku.”
“Kan bisa mengambilnya dengan satu tangan.”
Ish, ish, mereka jadi bertengkar. Ampun dah ini, seperti tokoh kartun Tom and Jerry. Sebentar akur, lantas berantem.
“Iya, maaf, maafin Aku,” Nina mengalah, “Semua memang salahku. Aku mendorongmu tadi, jadi Kamu sekarang tergantung-gantung di udara, dan aku tengkurap depanmu pegang kedua tanganmu.” Dituturkan penyebab kejadian ini.
Sementara di dalam gedung, tepat depan ICU, Damar mencari-cari Nina, karena Iqbal minta bertemu cucunya itu. Tapi dia tidak melihat putrinya, segera mendekati Gandy yang sedang berusaha menelpon seseorang.
“Gandy.” Ditegur asisten sang anak, “Mana Nina? Opa mencari dia.”
“Ini Saya sedang menelpon Nona, Tuan.” Sahut Gandy memperlihatkan ponsel, sebab Nina pergi sudah terlalu lama, dia menjadi cemas, “Tapi dari tadi tidak dijawab Nona.” Dia melaporkan bahwa panggilan telpon dia belum juga disahutin sang bos cantik.
“Memang Nina kemana?”
“Sejam lalu ke menara, Tuan.”
“Menara mana?”
“Menara gedung ini.” Gandy menunjuk ke plafon sebagai tanda menara gedung.
“Astaga!” Damar terkejut, segera dikeluarkan ponsel, mencoba menghubungi alat komunikasi sang anak, tapi tidak disahutin.
Lantas datang Peter, mendekati Gandy.
“Pak Gandy,” ditegurnya dengan wajah cemas, “Anda lihat Tuan Steven?” tanyanya saat sang asisten melihat ke dia.
“Memang tuanmu kemana?” sela Damar cepat karena melihat roman wajah Peter cemas.
“Tadi kata beliau kemari, mau menemani Nona Nina.” Sahut asisten ini, “Tapi dah sejam tidak kembali ke kamar Nyonya Sabina. Nyonya menjadi cemas, Saya disuruh nyamperin Tuan muda.”
“Tadi sih memang Tuan Steven kemari,” sela Gandy, “Menanyakan di mana Nona. Saya bilang Nona di menara menenangkan diri. Lantas beliau tergesa ke sana.”
“Menara mana, Pak Gandy?”
“Gedung ini.”
Damar mendengar semua percakapan ini, merasa hatinya tidak enak.
“Kalian ikut Saya.”
Dia memutuskan ke menara mencari pasangan konyol itu, lantas jalan lebih dulu dengan langkah cepat dan wajah diselimuti kecemasan, “Tuhanku! Tuhanku!” dia sebut nama Tuhan, “Semoga anak-anak itu tidak bertengkar di menara! Bahaya, Tuhanku, bahaya, bertengkar di sana.” Dia komat-kamit berharap Nina dan Steven tidak sedang bertengkar di menara yang bisa membuat salah satu dari mereka terjatuh dari sana.
Karena Damar tergesa pergi bersama Gandy dan Peter, Julian bergegas menyuruh empat ajudan menyusul ketiganya. Ini pun karena dia mendengar percakapan tadi.
Di Menara, Steven mengajak Nina mengobrol, karena mereka tidak bisa melakukan apa pun. Keduanya pun takut melepas genggaman tangan mereka.
“Nina.”
“Emm?” si Nona sedikit lunak ke tuan muda.
“Aku pernah mendengar kabar, Kamu tidak menaruh minat ke percintaan, padahal banyak pria menginginkan cintamu.”
Nina terkesiap, kali ini dia tidak menanggapi dengan judes, tapi helaan napas.
“Aku mencintai seseorang Steven.”
“Boleh kutahu siapa pria beruntung itu?”
Nina terdiam, teringat Fikar di masa lalunya, lantas mengusap-usap lembut gelang ditangan. Steven melihatnya, tampak lega, karena si nona mencintai dia.
“Sudahlah,” terdengar desahan sang nona, “Dia mungkin sudah melupakanku.” dia merasa Fikar melupakan dia.
Steven tercenung, lantas membatin, ‘Ish, Aku tidak melupakanmu!’ tukasnya, tapi kemudian, ‘Tapi memang sih Aku ada khilap melupakanmu karena menikahi Emma.’ Imbuh dia ingat memang melupakan Nina karena menikahi Emma, ‘Tapi setelah itu Aku ingat Kamu lagi, lantas menutup hatiku dari cinta baru.’ Dia pun membuat alibi sendiri.
Nina memandang Steven, “Kamu sendiri gimana?”
“Gimana apa?” Steven meremas sedikit tangan Nina.
“Kamu sepertinya masih jomblo.”
Steven terkesiap, lantas menghela napas, “Aku duda, Nina.”
Nina terkesiap, “Kamu duda?”
“Iya.” Steven menatap serius si nona, “Kenapa? Kamu ilfeel sama duda?”
“Kamu yang bilang itu loh. Kamu tidak terlihat seorang duda. Usiamu kutaksir tua dua tahun dariku.”
“Apa karena Aku ganteng ya?” Steven melirik wajahnya, “Jadi Kamu kira aku jomblo?”
Nina manyun, “Lebay!” dicibiri sang CEO, “Memuji diri mulu!”
Steven tertawa kecil mendengar ini.
Tidak lama rombongan Damar tiba, langsung kedua mata sang ayah menyisir ke sekitar mencari pasangan konyol tersebut.
“Astaga!” pekiknya menemukan Nina dan Steven di tepi menara, “Tuhanku!” segera saja dia melesat ke sana.
Rombongan pun terbirit menyusul.
“Nina!” serunya saat tiba, “Steven!” wajah pria ini cemas luar biasa melihat kedua manusia konyol tersebut di tepi menara.
Pasangan itu berbarengan melihat ke sang ayah.
“Papa!” Nina menjadi lega, “Papa, bantuin Nina narik Steven ke menara!” langsung merengekin sang ayah, “Tadi Nina tidak sengaja mendorong dia hingga kayak gini keadaan dia.”
Damar menepuk kening, “Tuhanku, yang kutakutkan kejadian!” ucapnya merasa yang difeelingkan kedua manusia itu bertengkar kejadian.
“Tuan,” sela Gandy cepat, “Baiknya cepat kita angkat mereka ke menara.” dengan hati-hati memindahkan tangan Steven ke tangannya, sedangkan Peter meraih tangan lain tuan muda, lantas Damar menarik Nina bangun.
Para ajudan cepat membantu Gandy dan Peter, agar bisa bersama-sama menarik Steven ke menara. Nina mengawasi dengan wajah penuh doa dan harapan.
Tidak lama mereka berhasil membuat kedua kaki tuan muda menjejak di lantai semen menara.
“Steven!” seru Nina merasa lega, dan entah kenapa langsung berlari dan memeluk pria ini. “Steven! Syukurlah Kamu selamat!” air mata kelegaan meleleh ke wajah dia.
Steven tercenung karena dipeluk si nona judes binti slengean itu.
Damar dan yang lain melongo, kenapa pasangan ini seolah pacaran? Kapan jadiannya?
“Sudah, sudah.” Steven mengusap-usap lembut punggung Nina, “Kita berdua selamat.” Dia mengatakan mereka selamat, lantas melepas pelukan, dipegang kedua sisi lengan gadis cantik itu, “Jangan cemas lagi ya.” Satu tangan dia pun menyeka lembut air mata di wajah sang nona.
Damar dan rombongan melongo lagi, kenapa pasangan ini jadi mesra? Padahal kemarin Tom and Jerry.
Nina menganggukan kepala, lantas, “Steve, Aku lapar.” Tahu-tahu mengeluh lapar.
“Kamu lapar?” Steven terkesiap, kenapa kelanjutan drama ini ke arah perut sih?
“Iya, lapar.” Nina memasang wajah mewek, “Ayo cari makanan.” Rengeknya menatap Steven dengan memelas.
Steven tersenyum geli, “Kamu pengen makan apa, hmm? Aku traktir kamu.”
“Memang Kamu yang bayar nanti kok.”
Tuing, sang CEO terkesiap, lantas sedikit tertawa kecil, dijawil saying hidung si nona.
“Oke, oke.” Ujarnya, “Kamu mau makan?”
“Nasi Padang depan rumah sakit ini. Masakan Padangnya sangat enak.”
Steven tersenyum lagi, “Oke, kita makan di sana.” dirangkul pinggang si nona dari belakang, baru mereka pergi.
Hais, mereka melupakan para penolong ini.
“Gandy!” Damar memanggil Gandy, “Peter.” Dipanggil pula Peter.
“Hadir, Tuan!” sahut kedua asisten itu berbarengan.
“Sepertinya anak-anak itu melupakan kita.” Tuan ini mengamati kepergian Nina dan Steven, mana cucu Sabina merangkul pinggang belakang si nona, lantas mereka tampak akur dan mesra.
“Tuan,” Gandy bersuara, “Bukan melupakan, kata pepatah, saat berduaan, dunia milik bersama, yang lain mengontrak.”
“Betul itu,” sahut Peter, “Semoga mereka tetap akur dan mesra.” Dia menghaturkan doa, “Takutnya mereka kembali jadi Tom and Jerry.”
“Apa perlu Saya menikahkan mereka ya?” Damar terpikir menikahkan pasangan tersebut, “Jadi kalau mereka kembali jadi Tom and Jerry, berantemnya di kamar, lantas pindah ke ranjang, berakhir Saya dikasih cucu sama mereka.”