Bab 3 Sikap Tegas Sang Nona

1486 Words
Suasana di dalam kamar Nina menjadi panas, karena Eric berkeras tetap melangsungkan acara pertunangan itu, tapi Nina tidak mau. Martin menghela napas, ditegur Damar. “Damar,” tegurnya, “Eric, meski dijebak Nina, tapi sudah meniduri Mila,” ujarnya, “Apa tidak sebaiknya kita nikah kan mereka? Takutnya, Mila mengandung anak Eric.” Eric terkejut mendengar ini, bagaimana bisa sang ayah menyuruh dia menikah dengan Mila? Meski dia tertarik sama adik Nina itu, tapi tidak ada keinginan menikahinya. “Mana mungkin!” serunya spontan, “Eric belum sampai puncak, Nina sudah datang, mana mungkin Mila mengandung anak Eric.” Nina mendengar ini tertawa kecil, tanpa disadari Eric membuka aib sendiri. “Berarti,” Martin memandang putranya, “Kalian melakukan bukan karena dijebak Nina, sebab Kamu sadar belum sampai puncak menggauli Mila?” dipandang si anak dengan tatapan menyelidik. Eric terkesiap, tersadar kelepasan omongan. Wajah dia menjadi kecut berbaur ciut. “Ha eh!” terdengar desahan Nina, “Dia membuka sendiri aibnya,” disindir pria itu dengan wajah santai, “Papa,” segera ditegur Damar sebelum putra Martin tersebut menukas dia, “Lebih baik kumpulkan para undangan, lantas katakan ada perubahan. Eric bertunangan dengan Mila. Kalau perlu langsung umumkan saja mereka menikah.” Eric menjadi kesal, segera berdiri, hendak menarik Nina, tapi terdengar jeritannya. “Akh!” lantas pria ini terjatuh ke lantai, “Nina!” jeritnya memandang Nina yang mencibiri dia, “Kamu melakukan apa ke aku?” tanyanya belum menyadari tertusuk satu jarum akupuntur yang dilempar putri Damar ini ke tulang depan betis dia. Damar menghela napas, tahu mengapa Eric mendadak jatuh ke lantai, dipandang si sulung sambil sedikit mengelus d***. Tidak sia-sia, Iqbal menggodok Nina dalam kungfu, sebab putrinya mampu melindungi diri sendiri. Sinta dan Martin segera menolong Eric yang mengerang kesakitan, karena jarum itu mengenai tulang betisnya. “Nina!” seru Sinta melihat ke Nina yang bersikap santai, seolah semua ini biasa saja, “Kamu lakukan apa ke Eric?” tanyanya. “Dia yang melakukan sesuatu ke Saya, Tante.” Sahut Nina dengan wajah inosen sambil menunjuk Eric, “Dia mau memukul Saya, tapi Tuhan ngga suka, jadi dibikin dia jatuh kesakitan.” Kembali Damar menghela napas, tapi dia tidak bisa menyalahkan yang dikatakan Nina, sebab memang Eric hendak menarik dan memukul putrinya ini. “Sialan Kamu!” terdengar makian Eric. “Tadi pun Kamu membuatku seperti ini!” dia mengadukan nasibnya yang sudah dua kali terkena kehebatan Nina. “Iya kah?” tanya Nina dengan polos, “Sudah, sudah!” seru dia sebelum pria itu menukas, “Aku masih ada urusan lain,” dia memutuskan tidak lebih lama di sini, segera mencium pucuk tangan Damar dan Fitri, lantas melengosin Karla, “Mama Karla!” dia memanggil ibu tiri itu tanpa memandang sedikit ke arah sang ibu, “Lekaslah membuat Mila bersuami, agar kelakuan dia m***m dengan banyak pria bisa hilang, keluarga kita pun terbebas dari malu.” ujarnya tegas, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar ini. Gandy terbirit menyusul nonanya tersebut. Martin dan Sinta mendengar perkataan tersebut, berbarengan memandang Mila. Putri bungsu Damar segera merundukan kepala, sebab Nina membuka aibnya. Dia seperti Eric, petualang ranjang panas. Damar dan Fitri serempak menghela napas, tidak bisa menyalahkan Nina mengatakan prihal tadi ke Karla, sebab perbuatan Mila menjadi sorotan media massa, sehingga membuat malu keluarga Ramlan. Nina pun sangat kesal karena Karla terus menjelekan dia, Damar, Fitri, dan Iqbal. Sedangkan Karla meremat-remat tangan, merasa kesal bukan main Nina berulang kali membuatnya kalah. *** Pintu lift terbuka, lantas Nina keluar dari kotak besi tersebut ditemani Gandy, lalu berjalan menuju pintu basement, hendak menuju Jaguar milik sang nona sulung yang berada di basement. Mobil itu bukan pemberian Iqbal atau Damar, tapi Badan Perdagangan dan Industri atas prestasi Nina di bisnis perminyakan dunia. “Nona.” Gandy membuka pembicaraan, sedari tadi mereka diam membisu, “Baiknya Anda dan Tuan Besar kembali ke Singapura, karena Tuan Eric bukan pria yang mudah menyerah.” Diminta si sulung kembali ke Singapura, sebab sudah lama menetap di sana, bahkan menjadi warga negara pula. Nina hanya menyimak, dia tidak memperdulikan Eric, karena mampu menghadapi pria itu. Dalam pikiran dia saat ini adalah Iqbal yang berada di Bella Hospital, sebab si opa memaksa ke Jakarta untuk menghadiri acara pertunangan dia, padahal masih berstatus pasien rawat inap di Hang Dzu Hospital Singapura. Gandy sedikit menghela napas sebab sang nona tidak menanggapi. Dia langsung tahu harus menambah penjagaan terhadap nona besarnya ini. Saat mereka tiba di depan pintu basement, pintu tersebut didorong dari luar oleh Peter, lantas masuk Steven. Kedua mata pria itu melihat Nina, langsung meraih tangan si nona yang hendak keluar. “Hai!” disapa tuan putri yang terheran sebab tidak jadi keluar, “Masih ingat Aku?” ditanya sambil menunjuk diri sendiri. Nina mendengus, tentu saja ingat, dia belum pikun. Peter dan Gandy terbengong-bengong melihat kedua manusia itu. Nina segera menghentak pegangan tangan Steven, lantas memandang pria itu dengan tatapan berani. “Anda masih ada di hotel ini rupanya,” ujar dia, “Kukira hanya numpang kencing saja.” Dia tidak mengira bertemu lagi sama pria itu. Steven menjadi gemas, diraih pinggang si nona dengan satu tangan, ditarik tubuh ramping itu hingga bertempelan dengannya, ditatap gregetan. “Gadis secantik Anda, jangan bicara sembarangan.” Ditegur si nona agar bicara tidak ceplas-ceplos. “Aku tidak bicara sembarangan,” tukas putri sulung Damar menatap berani Steven, “Aku tidak mengenal siapa saja yang datang ke hotel ini, maka wajar jika kukira Anda kemari hanya numpang kencing.” Steven terkesiap, lantas menghela napas, benar kata nona itu. Maka si nona tidak mengatakan yang sembarangan. “Maaf, Nina.” Dia pun minta maaf, “Ah ya, apa calon tunanganmu masih mengejarmu?” dia segera mengalihkan pembicaraan. “Perlukah kujawab?” tanya Nina melepas tangan pria itu dari pinggangnya, tapi pria itu justru mengeratkan, “Tuan,” dia menegur sang tuan muda, “Terima kasih Anda telah menolong Saya saat itu, maaf baru mengucapkan sekarang.” Dengan pandainya dia mengalihkan pembicaraan sambil diam-diam menarik satu jarum akupuntur yang tersemat di saku depan overall. “Tidak perlu berterima kasih,” sahut Steven tersenyum, “Yang kuperlukan jawaban darimu, apakah calon tunanganmu masih mengejarmu?” “Tidak perlu di jawab, Aku ada urusan penting!” Dia hendak menusukan satu jarum akupuntur ke pundak depan pria ini, tapi ternyata satu tangan CEO duda tersebut dengan gesit menangkapnya. Kedua matanya membesar, tidak menyangka tuan ganteng membaca gerakannya. Tapi dia tidak kehilangan akal, Dilayangkan lutut menendang rudal sang CEO. “Akh!” pekik Steven tidak menduga nona ini cepat melancarkan serangan lain, “Nina!” jeritnya karena putri Damar tersebut segera meraih tangan Gandy dan terbirit keluar dari ruangan ini. “Awas Kamu!” dia mengerang kesakitan memegangi permukaan rudal yang terbungkus celana panjang. Peter tersenyum geli mulai memahami mengapa si bos kesemsem sama putri Damar itu, karena berbeda dari kebanyakan perempuan yang dikenal sang atasan. *** Peter membantu Steven duduk di sofa ruang tengah kamar pria ini. Setelah si bos duduk, kedua kaki diselonjorkan ke depan, baru dilepas sepatu sang CEO, lalu meletakan alas kaki tersebut ke lantai. “Makasih, Pete.” Steven mengucapkan terima kasih, “Kamu duduk di sini.” Diminta sang asisten duduk ditepi sofa tepat dihadapan dia, lantas menghela napas, “Siapa sebenarnya perempuan slengean dan garang itu ya?” dia kembali penasaran siapa Nina. Peter duduk di lantai, lantas dengan ikhlas memijat bergantian kedua kaki si bos. Hari ini sang CEO bukan hanya apes ditendang lutut Nina, tapi menghadapi para pengunjuk rasa di salah satu Pabrik Hebel milik Duarte Company di Bogor. Meski atasannya ini mampu meredam demonstran, tubuh menjadi penat. “Pete,” Steven menegur Peter, “Kamu belum tahu siapa dia kah?” Sang asisten pelan menggelengkan kepala, “Maaf, Tuan, Saya focus membantu Anda menjinakan para pengunjuk rasa itu.” Ujarnya jujur, “Tapi, rasa Saya, Nona Nina putri Tuan Damar Ramlan.” “Nina?!” Steven terkejut, tidak percaya. “Tuan kan cerita Nona Nina tidak mau bertunangan sama Tuan Eric. Lantas saat ini, hotel di buking penuh Tuan Damar Ramlan untuk menyelenggarakan pesta pertunangan putri sulungnya yang bernama Nina Ramlan. Jadi pasti Nona Nina itu Nina Ramlan putrinya Tuan Damar.” Steven memikirkan penjelasan Peter, lantas, “Nina, putri sulung Damar Ramlan presiden direktur Griya Asri Company?” Dia memikirkan dengan serius, “Pete, coba Kamu akses majalah Inspirasional Woman, rasanya ada profil dia di salah satu edisi baru-baru ini.” Diminta sang asisten searching ke situs majalah internasional tersebut. Peter menganggukan kepala, segera mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya, di akses sejenak, setelah itu diberikan ke si bos. Steven segera melihat hasil pencarian tersebut. Dia tertegun karena menemukan foto Nina berbusana formal, kaos tank top dipadu blazer dan rok span A-line, lantas di leher terhias scarf. Rambut panjang si nona di gerai blow acak. Mungkinkah Nina yang slengean adalah Nina putri sulung Damar Ramlan? Dia tidak begitu mengenal keluarga tersebut, sebab Sabina neneknya tidak melibatkan dia dalam kerjasama bisnis dengan keluarga itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD