Bab 4 Meluruskan Pengaduan Buruk

1563 Words
Iqbal Ramlan, kakek Nina, tengah menjalani rawat inap di Bella Hospital karena sakit jantung. Dia mempelajari draft dokumen penting yang dibikin oleh Julian asistennya. Di kanan bed, sang asisten dan Juan pengacara tuan besar tersebut berdiri, menanti dengan sabar tuan mereka selesai mengevaluasi draft itu. Lantas Nina dan Gandy datang, di mana putri sulung Damar mengetuk daun pintu yang terbuka lebar. Ketukan itu di dengar Iqbal, senyumnya langsung terpancar, karena mengetahui siapa yang mengetuk. Nina, cucu kesayangan beliau, karena si cucu punya gaya khas mengetuk daun pintu ruangannya. Ketukan sang cucu berupa irama gendang ditabuh beberapa kali dengan ketukan pelan secara beruntun. Tam-tam-tam-tam, begitu lah kira-kira suaranya. “Opa!” Nina si gadis slengean itu segera mendekati Iqbal yang sudah mengarahkan pandangan ke dia. Begitu di dekat sang kakek, dia langsung memeluk dan mencium kedua pipi pria ini bergantian, lantas dengan santai duduk disisi kakek ini dengan kedua kaki selonjor ke depan. Satu tangan dia pun menggelendot di lengan sang kakek. Tas slempang dibiarkan di pangkuan dia. “Hehehe.” Iqbal terkekeh, “Udah dewasa, segera bertunangan, masih kolokan.” Dicubit sedikit hidung mancung Nina yang mungil, lantas meletakan draft dokumen penting yang tadi dipelajarinya ke bufet di sebelah bed. Gandy, Julian, dan Juan tersenyum melihat pemandangan tersebut yang selalu sama, menunjukan kuat kasih saying antara kakek dan cucu. Tapi tidak terlihat saat tuan besar dengan Mila cucu pria ini juga. Semua karena si kakek tidak menyukai Karla yang dianggap perusak rumahtangga Damar dan Fitri. “Opa,” Nina memandang kakeknya, “Sampai Nina berusia seratus tahun pun, Nina tetap kolokan ama Opa.” dia tersenyum tulus, “Karena Nina saying Opa!” lantas menyandarkan kepala ke d*** si opa. Iqbal tersenyum haru, merasa bahagia menjadikan Nina sebagai cucu, karena sangat menyayangi dia, Damar, dan Fitri. Kasih saying yang tidak hanya di ucap lisan semata. Namun, dia risau karena ingatan sang cucu di masa lalu tidak juga pulih, apakah mungkin cucunya sudah merasa bahagia bersama mereka, sehingga tidak ingin mengingat masa lalu? Iqbal menegakan badan Nina, dipandang sang cucu. “Ayo, katakan ke Opa, benarkah Kamu menjebak Mila, agar Kamu batal bertunangan sama Eric?” Nina merenggut mendengar ini, “Papa melaporkah ke Opa?” ditatap si opa. “Karla,” sahut Iqbal, “Dia kesal karena Kamu memaksa Damar dan Martin segera menikahkan Mila sama Eric, padahal Kamu menjebak Mila tidur sama Eric agar batal bertunangan sama Eric.” Nina mendengus kesal, “Besar nyali Mama Karla ya, berani mengusik Kakek Aku untuk membela putrinya yang b******k itu.” Digerutui Karla. Dia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas slempang dipangkuannya, diakses sejenak, lantas diberikan ke Iqbal. “Opa, lihat video di ponsel Nina itu.” Iqbal menganggukan kepala, lantas menonton video tersebut. Tidak lama dia memandang Nina dengan kaget. “Nina! Ini maksudmu apa?” tanyanya menunjuk layar ponsel yang masih memperlihatkan adegan panas tersebut. “Mila mengundang Eric ke kamar itu, lantas mereka make love, Opa.” Sahut Nina santai. “Nina tahu itu dari Gandy yang Nina utus mengawasi Mila dan Eric.” “Kok bisa? Mila kan tahu Eric calon tunanganmu.” “Opa, Mila itu dari pertemuan awal, kesemsem sama Eric.” Nina menjelaskan, “Dia mendekati Eric. Terjadilah adegan panas itu.” “Hais!” Si opa berseru lantang, “Ngga benar ini!” menjadi geram, “Adikmu itu kebangetan! Merayu calon tunanganmu.” “Biar saja, Opa. Nina tidak mau bertunangan sama Eric. Nina hanya menghargai usaha Papa dan Mama.” Iqbal memandang Nina, diteliti raut wajah cucunya, tampak tenang, tidak sedih, dan penuh kelegaan. “I see.” Dia pun menjadi paham kenapa si cucu bisa menangkap basah Eric dan Mila, dan berani memperlihatkan ke dia tanpa menangis-nangis. “Oke, Opa minta Papamu menikahkan Mila dengan Eric, biar ulah Mila yang bikin malu keluarga kita dapat ganjaran.” Nina tersenyum, dipeluk saying si opa, “Nina saying Opa!” serunya bahagia karena sang kakek satu pikiran sama dia. “Sudah, sudah,” kekeh Iqbal menegakan badan sang cucu, dikembalikan ponsel ke tangan cucunya ini, lantas memanggil Julian. “Julian!” Julian segera sedikit lebih mendekat, “Saya, Tuan besar.” “Telpon Damar sekarang, Saya harus menyelesaikan kelakuan Mila, karena selama ini Damar membiarkan saja.” “Baik, Tuan Besar.” Julian paham, segera mengambil ponsel milik Iqbal dari saku celana panjangnya, lantas menghubungi Damar dengan panggilan video, “Hallo, Tuan.” “Yes, Julian,” sahut Damar memandang asisten tersebut, feeling pasti Nina sudah sampai di rumah sakit, dan mengatakan tidak mau ditunangkan sama Eric ke Iqbal. “Apa Nina sudah bersama kakeknya?” dia pun langsung bertanya apakah si anak bersama sang kakek. “Sudah, Tuan.” Sahut Julian sedikit tersenyum. “Lantas Papa ingin bicara sama Saya kah?” “Betul, Tuan.” Si asisten jadi tersenyum geli, “Sebentar, Tuan, biar Saya letakan ponsel ke hanging holder, agar Anda bisa ngobrol sama Tuan Besar.” Kekehnya segera ke sisi lain Iqbal, diambil hanging holder sambil dipanjangkan stick alat tersebut, di atur agar terlihat jelas oleh tuan besar, baru diletakan ponsel di sana, “Tuan besar, silahkan, ini putra Anda.” Dia pun mempersilahkan si tuan bicara sama Damar. Damar melihat wajah sang ayah, sedikit menggaruk kening, sebab si ayah terlihat gregetan. “Hai, Papa.” “Sudah, jangan hai, hai aja!” tukas Iqbal keki mendengar sapa si anak, apalagi raut wajah putranya ini grogi. “Dari awal Papa sudah minta Kamu selidiki betul-betul siapa Eric, tidak sekedar tahu dia putra Martin yang berakhlak baik.” Didamprat putranya ini “Untung Nina menyelidiki siapa Eric,” masih berbicara sambil menunjuk ke Nina yang disebelah dia. “Maka, maka, Papa minta Kamu nikahkan Eric itu sama Mila!” “Eric ngga mau, Papa.” Keluh Damar, “Tadi pun dipertemuan keluarga, Martin minta hal sama, langsung Eric menolak.” “Memang Kamu mau Nina bersuami b******n?” “Tentu tidak, Papa.” “Ya sudah berikan saja Eric ke Mila. Anak bungsumu demen pria model Eric jadi suami.” Damar tercekat, merasa tersindir. Ini kesalahan dia, karena menyerahkan Karla mendidik Mila seutuhnya. “Baik, Papa, Damar paham.” Dia pun menyetujui perintah sang ayah, “Apa Nina baik saja, Pa?” “Apa Kamu lihat dia perlu dicemaskan saat dia di pertemuan keluarga menolak Eric?” Damar terkesiap, lantas menghela napas, “Ngga sih, Pa. Dia malah tenang banget.” “Karena dia lega tidak jadi tunangan sama Eric kolang-kaling itu!” Iqbal bicara dengan nada kesal, “Karla keterlaluan menelpon Papa mengatakan Nina menjebak Mila agar batal tunangan sama Eric.” Dilaporkan pula mengenai Karla menelpon dia. “Baik, baik, Pa.” Damar mengalah, terlihat lesu karena istri keduanya berani menelpon Iqbal, menjelekan Nina, “Pa, Damar segera menangani masalah ini ya.” “Harus!” sang ayah menghardik putranya, “Sudah, Papa mau ngobrol sama Nina, bye.” lalu menyentuh ikon mengakhiri panggilan, “Udah tahu si sulung sudah ada idaman hati, masih juga mencarikan jodoh untuk anak itu.” Dia bicara sambil memandang layar ponsel yang berwallpaper dia dan Nina bersama dua anjing kesayangan si nona dengan background laut Osaka. Nina tercekat mendengar ini, dicolek lengan opanya. “Opa, maksud Opa apa?” Si kakek segera meraih tangan kanan cucunya, diperlihatkan gelang rantai kulit dengan satu keping emas di sana. “Kamu menanti bertemu kembali sama Fikar pemilik gelangmu ini kan?” Nina terhenyak mendengarnya, lantas menghela napas. “Mana mungkin, Opa.” Desahnya, “Nina baru sekali bertemu dia, lantas pindah ke Singapura.” “Lantas mengapa selama delapan belas tahun gelang ini setia dipergelangan tanganmu? Opa dan orangtuamu banyak membelikanmu gelang, baik emas, imitasi, sampai model kulit, tidak satu pun Kamu pakai. Hanya gelang dari Fikar yang kamu kenakan.” “Karena Nina suka gelang ini, Opa.” Nina merajuk, “Fikar bilang gelang ini hadiah ulangtahun dari mendiang ayahnya, jadi ketika dia kasih, Nina menjaga baik-baik.” Tuturnya, “Hais Opa, saat itu kami masih bocah, tukaran cinderamata bukan untuk janji akan menikah saat dewasa.” Iqbal menghela napas, dia tahu Nina menyukai Fikar, karena gelang dari si bocah terus dipakai sampai sekarang. Lantas selama ini, Nina memang menjomblo, bukan karena focus sekolah dan mengelola perusahaan, tapi menanti Tuhan kembali mempertemukan dengan Fikar. “Oke,” si opa mengalah, “Semoga Tuhan mengabulkan harapanmu, Kamu dan Fikar bisa kembali bertemu dan berjodoh dalam pernikahan.” “Ish, Opa ini!” Nina manyun, “Opa, mungkin saja dia sudah menikah.” “Iyalah.” Kembali si opa mengalah, “Ah ya!” dia teringat sesuatu, segera mengambil dokumen yang tadi diletakan ke bufet, lantas diberikan ke Nina, “Baca dan pelajari.” Diminta si cucu mempelajari dokumen tersebut. Nina menganggukan kepala, sesaat dipelajari dokumen itu, setelah selesai, dipandang kakeknya. “Opa, mengapa Nina? Papa kan anak semata wayang Opa, lebih berhak menggantikan Opa sebagai presdir di Ramlan Company. Iqbal tersenyum, sudah tahu Nina akan mengatakan hal tersebut. “Nina, Papamu punya perusahaan sendiri, yang diinginkan Karla. Jika Opa memberi dia kursi presdir di Ramlan Company, lantas dimerger perusahaannya ke Ramlan Company, maka keinginan Karla menguasai perusahaan papamu semakin tinggi.” Nina menyimak semua penjelasan sang kakek. Dia tahu ibu tirinya memang berambisi menguasai perusahaan Damar, berharap pula sang ayah menjadi presiden direktur Ramlan Company agar kelak dikuasai pula oleh sang ibu. Maka satu kewajaran jika Iqbal menyerahkan kursi presdir ke Nina, untuk mencegah yang diinginkan Karla terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD