Karla berjalan mondar-mandir di depan kamar Nina, dinanti anak tirinya datang untuk didamprat, karena berani memfitnah dia ke Iqbal. Semua ini karena Damar menegur dia dengan keras, karena sang suami menilai dia tidak pantas menelpon Iqbal yang sedang sakit untuk mengadu persoalan anak-anak mereka.
Nina dan Gandy pun datang, terheran melihat Karla mondar-mandir depan pintu kamar. Sang asisten segera berbisik ke nonanya.
“Nona, sepertinya Nyonya kedua kena damprat Tuan Damar, jadi menanti Anda.”
“Biar saja.” Sahut Nina, “Dia berani kurangajar ke Saya, pasti kena hukuman Opa.” Segera saja mendekati pintu kamar.
Saat itu Karla melihat dia, langsung mendekati, hendak melayangkan satu tamparan, tapi cepat tangan dia menangkapnya.
“Nina!” pekik Karla kaget, “Anak kurangajar!” dimaki anak tiri itu, “Lepasin tangan Mama!” diminta si anak melepaskan tangannya.
“Sepertinya,” Nina tidak menanggapi, “Mama lupa peraturan dari Opa?”
“Peraturan yang mana?” Karla menjadi heran, “Karena Opa Kamu terlalu banyak bikin peraturan.” Imbuh dia ingat sang mertua memang banyak membuat aturan dalam keluarga mereka.
“Peraturan tidak boleh memukul anak dan istri.” Nina memberi jawaban, “Mama hendak menamparku tadi, Opa tahu, Mama pasti dihukum Opa.”
Karla terkaget, memandang Nina dengan geram, “Dasar anak licik!” kembali dimaki anak tirinya ini.
Saat bersamaan, Steven dan Peter keluar dari kamar mereka yang ternyata dua kamar setelah kamar Nina. Kedua pria itu melihat si nona memegang erat tangan Karla yang teracung ke atas, perlahan menguping.
“Tuan,” Peter bicara pelan ke si bos, “Itu Nona Nina,” dia mengenali sosok Nina, “Rasa Saya, yang bersama beliau itu Nyonya Karla, istri kedua Tuan Damar Ramlan.” Dikenali pula sosok Karla.
“Berarti, Nina benar putrinya Tuan Damar? Apa dari istri kedua itu?”
“Bukan, Tuan. Nona Nina kan anak sulung, berarti dari istri pertama lahirnya.” Peter menjelaskan, “Kan berita Tuan Damar beristri dua ada di Businessman Magazine. Di sana juga ada foto beliau bersama para istri dan kedua anaknya.” Imbuhnya teringat mengapa mengenali sosok Karla.
“I see.” Steven paham, “Sts, kita lihat kelanjutannya saja.” Diputuskan melihat apa yang akan terjadi sama Nina saat ini.
Karla menghentak tangannya hingga lepas dari pegangan Nina, lantas menghela napas, merasa kesal sebab tidak pernah berhasil menjinakan putri tirinya ini.
“Kamu menyebalkan seperti ibumu.” Dimemaki lagi Nina yang dirasa mengesalkan seperti Fitri.
Nina tersenyum mengejek, “Aku lahir dari Mama, tentulah seperti beliau.” Ujarnya, “Mama Karla pantas Kami bikin kesal, karena sikapnya manis tapi mematikan.” Disindir tajam ibu tiri ini.
“Kau!” Karla terkena sindirin itu, “Baik,” dia menahan diri, “Kenapa Kamu mengatakan yang tidak-tidak mengenai Mama sama Mila ke Opa Kamu.”
“Mama yang duluan mengatakan Nina menjebak mereka ke Opa.”
Karla terhenyak, lantas mengepal satu tangan, ingin dilayangkan memukul anak tirinya, tapi ingat peraturan Iqbal tersebut, dia pun menghentak kepalan tersebut ke bawah.
“Mama, Mama,” Nina kembali bersuara sambil memandang sinis ibu tirinya, “Lebih baik Mama sadar, tidak pantas mengadu ke mertua mengenai masalah rumah tangga Mama.”
“Kau!” Karla tersindir lagi, “Awas Kamu ya, Mama pasti memberimu pelajaran karena selalu melawan ke Mama, bahkan mencelakai Mila.”
“Terserah Mama sajalah.” Nina tersenyum tipis.
“Karla!” sejurus kemudian dari arah koridor terdengar suara Damar, lantas tampak pria itu tergesa mendekati sang istri.
Steven dan Peter langsung pura-pura mengobrol, agar tidak tertangkap basah menguping pertengkaran ibu tiri dan anak tiri.
Begitu Damar dihadapan Karla, spontan saja tangannya menampar satu pipi sang istri kedua.
“Akh!” pekik si istri tidak menduga ditampar suaminya, lantas memegangi pipi, “Papa kenapa menampar Mama?” menatap kaget sang suami, “Papa melanggar aturan Papa Iqbal yang mengatakan tidak boleh memukul istri dan anak.”
Siapa yang menghubungi Damar? Sudah tentu Gandy, karena hanya putra Iqbal itu yang bisa menghentikan Karla ribut sama Nina.
Nina tersenyum sinis melihat sang ayah menampar istri kedua ini.
“Kamu itu,” Damar memandang geram sang istri, “Sudah kukatakan jangan pernah mengadu ke mertua atau orangtua mengenai masalah rumah tangga kita, kenapa dilanggar, hmm?”
“Aku minta keadilan dari Papa Iqbal, Pa.” Karla membela diri, “Mila difitnah Nina, lantas dipaksa menikah sama Eric, sedangkan Eric tidak mau.”
“Jangan berkelit, Karla!” Damar menghardik Karla, “Kamu menelpon Papa hanya untuk menjelekan Nina anakku,” tukasnya marah, “Kamu tahu Nina pergi membesuk kakeknya, jadi Kamu segera melaporkan kejadian Mila dan Eric ke Papa, sebelum Nina ditanya kakeknya bagaimana dengan persiapan pertunangan.”
Karla terhenyak mendengar ini apalagi suara Damar sedikit lantang. Dia baru kali ini mendapati sang suami marah ke dia.
Damar lantas beralih ke Nina, “Nina.”
“Ya, Pa?”
“Kamu masuk ke kamarmu, jangan kemana-mana, Papa selesaikan masalah Mila dan Eric, baru kita bicara berdua di kamarmu.”
“Baik, Pa.” Nina paham instruksi sang ayah, dicium saying pipi si ayah, baru masuk ke dalam kamar yang pintunya sudah dibuka oleh Gandy. Tapi dia keluar lagi, bisik di telinga ayahnya, “Papa, tidak boleh kasih kendor Mila dan Eric ya.”
Damar mendengar ini menghela napas, diacak saying kepala putrinya, lantas mendorong si anak masuk ke dalam kamar, baru meraih tangan Karla, dibawa meninggalkan depan kamar ini.
Diam-diam, Nina melihat kepergian kedua orangtua itu, lantas otak cerdik dia mulai bicara, segera berbisik ke telinga Gandy yang disebelah dia.
Steven melihat semua ini tersenyum geli, merasa Nina hebat menghadapi ibu tiri yang sengak, sombong, dan ambisius. Dia menilai Karla punya semua sifat tersebut.
***
Damar memandang keluarga dan tamu yang diminta ke ballroom hotel, hendak menyampaikan perubahan acara. Di antara para tamu ada Steven dan Peter. Nina tidak didatangkan karena Iqbal melarang Damar melakukan hal tersebut. Iqbal tidak mau Nina menonjok Eric, Mila, dan Karla, jika terjadi perdebatan dalam miting ini. Apalagi si opa tahu, Karla baru saja membuat kesal cucunya itu.
“Tuan,” Adam yang berdiri di belakang tuannya menegur, “Silahkan mulai mitingnya.” Diminta tuan ini memulai miting.
“Iya, Adam, iya.” Damar paham, diusap tangan ke kening, berharap bisa tenang menyampaikan perubahan acara ke keluarga dan para undangan. “Baiklah,” dipandang semua orang yang hadir, “Saya langsung saja ya.”
Sementara di dalam kamar, Gandy membisiki sesuatu ke telinga Nina, tidak lama si nona tos tangan dengan asisten tersebut, lantas mengakses ponsel. Wajah dia tampak menyeringai geram.
“Rasakan kalian para pecundang!” desisnya setelah selesai mengakses ponsel.
Kembali ke ballroom, satu televise LCD besar menyala, lantas terlihat video adegan panas Mila dan Eric. Kemudian dari speaker lain terdengar pula percakapan mesra Mila dan Eric.
Damar menepuk kening, dia lupa menyita ponsel Nina, tapi apa lajur, si anak dengan berani memperlihatkan dan memperdengarkan kemesraan Mila dan Eric ke keluarga dan para undangan.
Fitri menghela napas, sudah feeling, cepat atau lambat Nina pasti menyiarkan semua rekaman tersebut ke mereka.
Steven yang pernah melihat video panas itu, tersenyum geli, memuji Nina hebat, tidak takut membuka kebenaran untuk membalas Karla yang tadi mendamprat si nona.
Sinta ibu Eric mengeplak lengan putranya yang tampak geram melihat semua itu.
“Eric!” serunya, “Itu yang Kamu bilang Nina menjebakmu dan Mila demi membatalkan pertunanganmu dengan Nina?” ditunjuk pula video panas tersebut dengan wajah kecewa, malu, dan lain sebagainya.
Pertanyaan sang ibu, membuat semua orang, kecuali Steven, berbarengan memandang Eric dengan terheran-heran. Ada apa sebenarnya?