Bab 6 Kemenangan Mutlak

1948 Words
Mila merapat disisi Karla, merasa sangat malu ulahnya dilihat semua orang yang ada dalam ballroom. Rencana dia dan Eric gagal. Karla meremas-remas tangan, sangat geram, ternyata Mila dan Eric bukan dijebak Nina. Mau taruh dimana muka dia saat ini, terutama ke Iqbal, Damar, Fitri, dan para undangan. Ingin dia mengecek-gecek Nina begitu berani membuka aib Mila. Salah dia sendiri mengapa mendamprat Nina, memfitnah dia ke Iqbal. Nina sangat tidak suka hal itu. Lantas, sang kakek sedang sakit, tidak seharusnya dibebani pengaduan masalah rumahtangga. “Mama.” pelan terdengar suara Mila, “Mila tidak melakukan itu.” rengeknya berusaha membela diri, “Semua ini jebakan Nina.” Kembali menyalahkan Nina. Eric menggeprakan tangan ke meja, lantas memandang semua orang yang terkaget dengan ulah dia. “Kalian jangan percaya dengan semua itu!” ditunjuk televise sambil berdiri, “Semua ini rekayasa Nina Ramlan yang tidak mau ditunangkan sama Saya.” “Tuan Eric!” Steven cepat menyela, “Bagaimana bisa Anda mengatakan itu rekayasa?” ditunjuk televisi yang mengulang-ulang video panas tersebut, “Dalam video itu tampak jelas Anda dan Mila melakukan karena suka sama suka.” menjelaskan video tersebut asli. Eric terkaget, dipandang Steven, mengapa pria ini begitu berani menentang alibi dia? “Anda ini siapa?” “Tidak perlu Anda tahu siapa Saya, Tuan.” Sahut CEO ganteng ini dengan wajah tenang, “Sudahlah, tidak perlu membuat alibi, bukti sudah berbicara.” Diminta Eric tidak terus membela diri demi mendapatkan Nina, “Lagipula, Mila lumayan modelnya.” ditunjuk Mila yang kian merapat disisi Karla, “Anda nikahin saja dia.” “Kau!” jerit Eric tersinggung, hendak menghampiri Steven, tapi cepat Damar menghalangi, “Minggir, Om!” dihardik ayah Nina ini, “Pria itu mengatakan kebohongan! Jelas-jelas Nina menjebak Eric, mengapa dikatakan Eric melakukan itu karena suka sama suka?” disemburkan kemarahan dia. “Jaga sikap, Anda,” Damar menyabar-sabarkan diri, padahal ingin ditonjok karena playboy. “Kita selesaikan masalah ini, oke?” dihadapkan wajah Eric agar melihat dia, “Ayo, Eric.” didudukan pria itu ke kursi. Sementara di kamar, Nina berjoget senang, berhasil menggemparkan miting. Gandy melihat ini tersenyum geli, mengakui sang atasan bukan hanya pemberani, tapi menyenangkan. “Rasakan kalian!” Nina berseru riang, “Rasakan kalian! Ini balasan dariku karena mengusik Opaku!” dia sangat puas membalas Karla yang mengusik Iqbal. Kembali ke ballroom, Steven tersenyum geli karena Damar dan Martin sepakat melangsungkan pernikahan Eric dan Mila di hotel ini. Acara pertunangan Nina dan Eric dibatalkan. Dia segera berdiri, melangkah pergi ditemani Peter, langsung ke lift. Dia mau menemui Nina, melaporkan kejadian tadi. “Tuan,” Peter yang menjajari langkah si tuan, “Rasa Saya, Nona Nina cocok menjadi istri Anda.” Steven terkesiap mendengar ini sampai berhenti melangkah, dipandang asisten dia yang juga menghentikan langkah. “Apa maksudmu?” “Tuan, Anda kan duda, perlu istri baru.” Peter mulai memberi jawaban, “Saya menilai Nona Nina sesuai dengan kriteria Anda, karena beliau cantik, cerdas, CEO Ramlan Company dan pemberani melawan musuh.” “Peter, Saya ada Keith. Apa anak itu mau punya ibu baru?” “Nah!” seru Peter lantang, “Anda mengaku kepicut Nona Nina kan? Ngaku aja deh, Tuan.” Kekehnya sedikit menyenggol lengan si bos. “Jadi Kamu mengatakan semua itu untuk menjebak Saya?” Steven tampak gregetan ke asisten ini. “Ngga juga, Tuan.” Peter mengelak, “Saya tahu Anda kepicut Nona Nina, maka saya merasa apa yang ada dalam diri beliau memang sesuai kriteria Anda mencari istri baru.” Steven menyimak semua ini bertambah gemas, dijitak kening asisten ini. “Sotoy!” wajah dia sedikit memerah, “Siapa yang mau sama Nona slengean itu?” dia memungkiri hati sendiri yang padahal kepicut mencintai si nona. “Ah sudahlah!” seru dia sebab melihat Peter cengegesan, “Saya mau,” perkataan dia terhenti karena melihat Eric tergesa ke lift, dibelakang pria itu tampak Damar, Fitri, Karla, Mila, Martin, dan Sinta mengejar. Dia cepat menarik Peter ke sudut koridor, lantas mengawasi para manusia itu, “Sepertinya,” dia bicara pelan ke asisten, “Nina dapat masalah.” “Anda lekas bantu dia.” *** Eric begitu di kamar langsung berseru lantang penuh kemarahan, ingin mendamprat Nina yang berani membuka aibnya saat miting. “Nina!” Nina yang berada di ruang depan, sedang menyeruput air teh dari cangkir ditangan terkejut, spontan menyemburkan air dalam mulut ke depan akibat mendengar suara seruan lantang pria itu.. “Akh!” lantas terdengar pekikan Eric. Salah dia sendiri, akibat marah, main menghampiri Nina dengan cepat hendak menarik si nona berdiri, tapi apes malah kena sembur air dalam mulut sang nona, “Ish!” dia mengibas-kibaskan tangan ke bajunya yang basah, “Nina!” jeritnya sesekali melihat ke Nina yang terheran melihat kelakuan dia, “Kamu memang perempuan liar, main menyemburkan isi mulutmu!” dimaki si nona. Damar, Fitri, dan Gandy, tersenyum geli melihat adegan ini. Seperti halnya Steven dan Peter yang melihat dari sisi kusen pintu kamar. Martin dan Sinta berbarengan menghela napas, mengapa putra mereka emosian. Sedangkan Karla gregetan karena Eric kena apes, dan Mila melihat dengan kaget pria selingkuhannya. “Ish!” decak Nina meletakan cangkir ke meja, “Kamu datang main teriak, aku kan kaget.” dipandang iba Eric yang masih sibuk mengeringkan kemeja, “Menyemburlah air teh dalam mulutku. Mana kutahu air itu mengenai kamu.” Dia menyilangkan kedua tangan ke d*** sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa. “Kamu-!” Eric memandang geram Nona ini. “Kamu, kenapa menyiarkan rekaman palsu di miting rencana pertunangan kita?” Nina tersenyum sinis, sedikit mendecak, “Ckckck-! Rencana pertunangan sudah batal, yang ada memprogram pernikahanmu sama Mila.” “Kamu yang inginkan pertunangan itu batal dengan menjebakku meniduri adikmu!” “Ckckck-!” Nina kembali mendecak, “Tidak tahu malu pria ini, ya?” dipandang jijik Eric, “Apa selama ini, tiap selesai meniduri perempuan, Kamu mengatakan dijebak perempuan itu?” dibuka aib pria ini lebih jauh. Eric tergelegap kaget, “Kapan apa meniduri perempuan?” mengelak mengakui sebagai playboy. “Aku baru meniduri adikmu.” Sekali lagi dia mengakui perbuatan meniduri Mila, “Itu pun karena dia menggodaku lebih dulu.” Nina tersenyum geli karena Eric membuka penyebab meniduri Mila. Mila terperangah, tidak menyangka pria ini mengatakan mengapa tidur sama dia. Martin menghela napas, “Hais-! Ternyata rekaman video dan percakapan telpon itu original.” Dia kini yakin rekaman dan percakapan yang dipampang saat miting adalah asli. Eric terhenyak mendengar perkataan sang ayah, lantas merutuki Nina yang pandai memancing dia mengatakan kebenaran. Dia menjadi geram, segera menerjang Nina, tapi gadis itu cepat berdiri dan melompat ke belakang sofa. Bruk, pria itu nyungsep di permukaan dudukan sofa. Damar, Fitri, Gandy, Steven, dan Peter kembali tersenyum geli melihat adegan tadi. Orangtua Eric berbarengan menghela napas, mengapa Eric gegabah mengumbar emosi, bikin anak mereka celaka sendiri. “Ya ampun!” seru si nona memandang iba pria itu, “Udah tahu depanmu sofa, main terjang saja!” diledek putra Martin tersebut yang sedikit mengerang kesal. “Nina!” seru Karla cepat, “Kamu memang tidak punya perasaan!” dimaki putri tiri ini, “Eric nyungsep malah Kamu ketawain!” dia mengoreksi sikap sang anak. “Mama,” sahut putri Damar memandang si ibu dengan inosen, “Mana Nina ketawa saat Eric nyungsep?” ditanya sang ibu, “Ckckck!” decakan dia pun terdengar, “Eric ceroboh banget, Mama. Sudah tahu di depannya sofa, main diterjang.” Eric segera berdiri, bermaksud melompati sandaran sofa, tapi sekali lagi dia apes, satu kakinya terhantuk sandaran sofa berakibat dia terjungkal, dan menyungsep lagi, kali ini di ubin kayu lantai. “Aduh!” pekik dia mengerang sebab kening membentur ubin, “Nina!” jeritnya kesal bukan main gagal lagi menangkap Nina. Nina terkekeh geli disisi Damar. Eric belum menyerah, cepat berdiri, lantas hendak mengejar si nona, tapi dihalangi Damar. Cucu Iqbal tersebut dengan gesit keluar kamar, lantas terkaget sebab lengan dia ditarik seseorang, kemudian disembunyikan di belakang orang tersebut. “Anda?” Nina terkaget saat orang itu melihat sedikit ke dia. “Stss!” desis Steven yang menarik sang nona, “Kamu berlindung di belakangku.” Dilirik punggungnya. “Nina!” dari dalam kamar terdengar jeritan Eric, “Jangan lari Kamu!” Nina terkaget, bukannya melarikan diri, segera bersembunyi di punggung Steven. “Kamu tolong Aku ya.” Direngekin pula pria itu yang menghela napas, “Aku terpaksa tidak melarikan diri gegara Kamu.” imbuh dia seasalnya. Tuing, Steven terkesiap mendengar ini, lantas sedikit menjitak kening sang gadis. “Konyol!” diomelin pelan, lantas menarik Peter agar merapat ke dia, biar Eric yang segera keluar dari kamar tidak menemukan Nina di belakang mereka. Tidak lama dia merasa Nina nangkring di punggung dia dengan badan merungkuk seperti kodok. Kedua lutut si nona menjepit sisi-sisi pinggang dia dan jemari tangan menempel di belakang pundaknya. Peter melihat aksi si nona, pelan berbisik di telinga si bos. “Berkah ini, Tuan.” “Apanya yang berkah?” tanya Steven tidak paham bisikan itu. “Nona nempel di punggung Anda.” Kekeh Peter pelan. Steven menjadi gemas, dijitak sedikit kening asisten ini yang bisa-bisanya mengatakan aksi Nina berkah untuk dia. Lantas otak dia mulai memikirkan perkataan itu, lalu melirik Nina yang meringkuk dipunggung dia. ‘Pete benar,’ kekeh hati dia, ‘Berkah buatku karena gadis cantik ini menempel ke punggungku.’ Dia mulai membenarkan perkataan si asisten. Eric yang sudah berada di luar, meluaskan pandangan mencari Nina. “Ish!” decaknya kesal, “Kemana lagi gadis itu?” dia tidak melihat sosok tuan putri, lantas melihat ke Steven, “Hei Kamu! Apa melihat Nina?” tanyanya dengan wajah preman. “Siapa, Nina?” sang CEO pura-pura tidak mengenal Nina, kedua tangannya menutupi permukaan lutut si nona. “Ish!” Eric merentakan satu kaki di ubin, “Nina itu calon tunanganku. Dia baru saja keluar dari kamar ini.” Mulut Steven membentuk huruf O, paham penjelasan Eric, lantas menunjuk ke arah jalur evakuasi yang ada di sebelah lift, itu berarti Nina ke sana. Eric mendengus kasar, segera melesat ke arah yang ditunjuk cucu Sabina tersebut. Tidak lama dari kamar melesat lari Martin, Sinta, Mila, dan Karla. Mereka mengejar Eric. Steven perlahan menggeser-geser langkah sambil membawa Nina yang masih nangkring dipunggung kekar dia. “Kamu mau kemana?” Nina tersadar dibawa pergi, “Apa Eric sudah pergi?” tanyanya sambil sedikit mengangkat kepala agar melihat ke Steven. “Stss!” sang CEO cepat membenamkan kepala itu dengan satu tangan, “Jangan muncul dulu, situasi belum aman.” bisiknya tersenyum geli si nona kesal dibenamkan seperti itu. “Lantas Aku mau dibawa kemana?” “Tempat aman lah.” Ternyata aksi kedua manusia konyol itu dilihat Fitri yang keluar dari kamar bersama Damar, Adam, dan Gandy. Sang ibu tersenyum geli melihat putrinya nangkring dipunggung Steven, lantas pria itu dengan hati-hati membawa si anak pergi. Dia cepat mencolek lengan suaminya yang mana hendak menyusul tim pengejar Eric. “Ada apa, Ma?” Damar terpaksa mengalihkan pandangan ke sang istri, “Aku harus mengejar Eric, agar Nina tidak menonjokin anak itu.” Fitri mengulurkan jari telunjuk tangan kanan ke arah Steven yang masih membopong Nina dikawal Peter. Sang suami melihat ke sana, lantas terkesiap melihat si sulung nangkring dipunggung cucu Sabina, tidak lama menepuk keningnya. Dia hendak menghampiri anaknya, tapi Fitri memegang lengan dia. “Mama,” bisik dia, “Papa harus ambil Nina dari Tuan Steven. Ngga banget dia nangkring dipunggung pria selain Papa, Adam, atau Gandy.” “Hais,” Fitri sedikit menepuk d*** sang suami dengan tangan lain, “Biar saja begitu, siapa tahu mereka kelak berjodoh.” Dia tidak setuju suaminya mengambil Nina yang terlihat nyaman dibawa pergi sama Steven. Karena putrinya menyandarkan kepala di punggung pria itu. Damar tercengang, apa telinganya bermasalah saat ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD