Bab 8 Biarkan Berteman Dulu

1412 Words
Iqbal tersenyum, ternyata berita mengenai pertemuan Steven sama Nina sudah diketahui Sabina. Pasti tahu sebab si nyonya selalu mengawasi cucu sulung itu melalui tangan tak terlihat. “Iqbal,” Sabina menegur si kakek, “Maaf, apa Nina sudah ada tambatan hati?” Mendengar pertanyaan tersebut, pria itu terdiam. Teringat gelang dari kulit yang setia dipakai Nina. Entah apa yang membuat si cucu kepicut Fikar di masa lalu, sehingga setia memakai gelang tersebut. Meski dia tahu Fikar menyelamatkan cucunya yang hendak diculik. “Jika,” Sabina mengamati Iqbal, “Dia sudah punya pria idaman hati, Saya ucapkan selamat.” Menebak tepat bahwa Nina sudah ada tambatan hati. Iqbal menghela napas, “Tidak begitu, Sabina.” Dipandang si nyonya, “Dulu, saat Nina masih berusia tujuh tahun, hampir diculik, lantas ada bocah sepantaran dia yang menolong.” Diceritakan apa yang terjadi di masa lalu cucunya, “Selepas kejadian, dia dan si bocah bertukar cinderamata. Sejak itu, Nina hanya focus sekolah, dan kini membantu Saya mengelola Ramlan Company.” Sabina menyimak baik-baik cerita itu, sekelebat teringat dia pernah mengutus orang untuk menemukan Bella cucunya yang hilang itu, lantas orang tersebut menculik Nina karena merasa wajah cucu Iqbal sama persis dengan Bella. Namun, upaya itu gagal, karena Nina diselamatkan bocah pria dan ajudan Damar. Apa mungkin cerita Iqbal itu sama dengan kejadian yang sekelebat muncul dalam benak dia? Namun, dia menampik, Iqbal banyak musuh seperti dia di bisnis internasional, bisa saja Nina nyaris diculik musuh pria itu. “Sabina,” Iqbal menegur sang nyonya, “Mungkin ada baiknya kita biarkan anak-anak itu berteman dulu, saling menyesuaikan diri.” “Berarti Kamu tahu Steven sudah berteman sama Nina?” “Tentu tahu, karena Saya mengawasi Nina.” Sabina tersenyum, “Baik, Aku setuju, kita biarkan mereka berteman agar saling menyesuaikan diri.” *** Di dalam kamar suite hotel, Nina sudah bangun, dan diceritakan mengapa bisa berada di kamar ini oleh Damar dan Fitri. Dari cerita itu pula, sang putri menjadi tahu nama Steven. Selama ini dia tidak mengenal nama CEO tampan tersebut. Sang putri langsung nelangsa, memukul-mukul pelan kepala dengan kepalan tangan kanan, mengapa dia bisa ketiduran saat nangkring di punggung Steven. Dia juga kesal kenapa pria itu tidak membangunkan dia, agar bisa melarikan diri ke kamar Damar dan Fitri. Meski Damar punya dua istri, tapi tidur satu kamar dengan Fitri. Dia hanya mengunjungi Karla di malam jatah berkunjung rohani. Fitri mengambil tangan Nina yang masih memukul-mukul kepala. “Sudah, sudah,” sang Ibu memandang putrinya yang kesal mengapa membiarkan diri ketiduran, hingga Steven membuka kamar baru ini untuk si anak. “Bagus Tuan Steven melakukan semua itu, biar Kamu aman tidak diusik Eric, Mila, atau Karla.” Nina sedikit merentakan bahu, “Mama, Nina malu tauk.” Dia pun menghela napas, “Untung dia tidak di sini saat Nina bangun.” Dia sedikit lega karena saat terbangun tidak menemukan Steven, “Kalau tidak, haduh, muka Nina taruh di mana? Dia tahunya Nina ini galak, mendadak ketiduran dipunggung dia.” Sebenarnya Steven masih di kamar ini, tapi sembunyi di ruang depan. Meski keluarga Nina sudah menemani si gadis, dia tetap menjaga nona cantik tersebut. Steven mendengar percakapan ini tersenyum geli. Damar tidak tahu, sebelum meninggalkan Nina, dia sempat menempelkan chip penyadap di belakang daun telinga si nona. Dia juga berharap chip itu bisa membuatnya mengetahui keberadaan sang gadis, jadi semisal dalam bahaya, bisa segera menolong. Peter melihat sang tuan tersenyum geli mulai curiga, melonggokan kepala ke arah tablet ditangan si bos, lantas geleng-geleng kepala. Di sana terlihat menu Scout atau pengintai. ‘Hais, bos Aku ini,’ bisik batin dia, ‘Sempat aja memasang alat penyadap, biar mendengar percakapan nona sama keluarganya.’ Dia tahu tuannya memasang alat penyadap tersebut dari menu scout itu. Nina menyibak selimut dari badannya, lantas beringsut turun. “Kamu mau kemana?” Damar cepat menegurnya, “Eric masih berkeliaran mencarimu.” “Biarin aja, Pa.” sahut sang anak menyisir lantai di bawah tempat tidur, “Nina mau ke Opa, sampai Papa berhasil menikahkan Eric sama Mila.” tergesa memajukan satu kaki untuk mengambil kedua alas kaki bergantian, lantas mencium pucuk tangan kedua orangtua ini. Damar mau tidak mau tersenyum geli, “Kalau begitu, Kamu pulang ke Singapura saja ya.” “Mana bisa?” tukas si anak memandang ayahnya ini, “Opa kan musti hadir saat pernikahan Eric dan Mila, karena sesepuh keluarga kita. Jadi Nina tidak akan pulang ke Singapura selama Opa di Jakarta. Nina takut Opa diapa-apain Mama Karla karena Nina memaksa Papa menikahkan Mila sama Eric.” Sang ayah tersenyum haru mendengar ini, karena si anak sangat menjaga kakeknya. Tentu saja karena si opa selalu menjaga cucunya itu. Bahkan demi sang cucu, kakek itu bekerja di rumah. Kalau ada miting, si cucu dibawa. “Eee, tunggu dulu!” seru Fitri sebelum Nina melangkah, “Kamu temuilah Tuan Steven, bilang terima kasih.” Diingat sang anak untuk mengucapkan terima kasih ke Steven. “Nantilah, Ma.” “Kok nanti?” “Mama, Nina ilfeel sama dia.” “Kenapa?” Nina terkesiap, teringat saat mereka di toilet pria. Setelah itu dia menghela napas dengan kasar. “Buaya darat!” dimaki Steven, “Kenapa sih Aku ketemu kamu lagi dan lagi?” dia merentakan kedua kaki bergantian di lantai dengan kesal, lantas memandang kedua orangtuanya yang melongo dengan kelakuan dia, “Nina berangkat ya, Pa, Ma!” “Iyalah,” sahut Damar mengalah, padahal penasaran mengapa Nina ilfeel ke Steven, “Gandy!” serunya ke Gandy yang bersama mereka. Adam mengurus perubahan acara ke pihak hotel dan EO. “Temani Nina. Bawa juga semua ajudan dia.” “Baik, Tuan.” Gandy paham, lantas memandang Nina, “Mari Nona.” Diajak si nona pergi. “Kali ini Saya pergi sendiri,” tukas Nina menolak ditemani asisten dan ajudan, “Gandy, kemarikan kunci motor Saya.” Didekati sang asisten sambil menengadahkan telapak tangan kanan. “Motormu?!” Damar terkaget mendengar ini, cepat mendekati si anak, “Kamu bawa motormu kemari?” tanyanya heran. Fitri segera menyeletuk, “Papa, tidak mengapa Nina ke rumah sakit pake motornya, jadi lebih cepet sampai.” Dibujuk sang suami mengizinkan putri mereka ke rumah sakit dengan motor, “Biar Gandy yang mengemudikan deh kalau Papa takut Nina ngebut.” Imbuh dia. “Ish, Mama!” sela Nina kaget, “Emoh Gandy yang mengemudikan. Nina berasa nyewa ojol.” Damar terkesiap mendengar ini, “Memang di Jakarta ini, ada ojol pake D**** pabrikan Los Angeles?” tanyanya polos banget memandang si anak. Pasalnya motor milik Nina dari pabrikan Los Angeles, sebab Iqbal membeli dari sana. Fitri dan Gandy tersenyum geli mendengar pertanyaan Damar. Lha mana ada ojol pake itu untuk ngojek di Jabodetabek ini. Steven mendengar ini tersenyum geli pula, sekaligus penasaran, benarkah Nina bisa mengemudi motor keren itu? *** Wajah Nina terlihat kecut dihadang wartawan yang sudah mengetahui acara pertunangan itu dibatalkan sebelum berlangsung. Dia sedikit merutuki diri terlahir sebagai anak sulung keluarga Ramlan billionaire terkemuka di dunia, sebab acara bertunangan pun diumumkan ke semua linimasa. Steven yang mengutit Nina ditemani Peter, melihat para wartawan tersebut. Pria ini mendecak, bergegas mendekati Nina, dia tidak ingin gadis itu disudutkan. Dia feeling wartawan sudah menemui Eric. Begitu di dekat Nina, satu lengannya dilingkarkan ke belakang pinggang si nona. Peter tersenyum geli melihat aksi si bos kembali menolong tuan putri dari kesulitan. Gandy pun tersenyum, merasa cucu Sabina itu benar ada hati ke putri Damar. “Kamu-!” Pelan Nina menegur Steven, merasa gemas karena pria ini merangkul pinggangnya. “Ngapain sih?” “Stss!” Steven minta Nina tidak bicara, lantas memandang para wartawan, “Maaf semuanya,” mulai bicara dengan tenang berkharisma, “Nona Nina harus menghadiri miting sama Saya.” Dia mengarang cerita, “Maaf, Kami permisi.” Dia segera membawa si nona pergi. Sambil jalan, dia memberi kode dengan tangan ke Peter agar menghadapi wartawan. Gandy bergegas menyusul pasangan itu. Para wartawan melongo, mereka baru melihat Steven CEO Duarte Company menggandeng Nina Ramlan CEO Ramlan Company dengan mesra. Apakah batalnya pertunangan Nina dengan Eric karena si nona pun selingkuh? Mereka saling memandang, lantas hendak mengejar, tapi Peter cepat menghadang. “Pak Peter!” seru Daren lagi, “Maaf, Kami tahu Duarte Company dan Ramlan Company bekerjasama di bisnis perminyakan, tapi baru kali ini kami melihat Tuan Steven menggandeng Nona Nina. Apakah mereka berpacaran?” Peter tersenyum, “Kalian cukup tahu Nona Nina tidak menjebak Tuan Eric agar batal pertunangan.” Dia memandang semua wartawan, “Mengenai yang tadi kalian lihat, tidak perlu dipertanyakan, juga dicari tahu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD