Bab 9 Protes

1413 Words
Nina cepat melepas rangkulan Steven saat tiba di depan motornya, lantas dikeplak tangan pria itu dengan raut wajah gemas. “Kamu ngapain ngikutin Aku terus?” Dia merasa pria itu terus mengikutinya. Steven terhenyak, lantas, “Siapa yang ngikutin Kamu?” elaknya memasang wajah jutek, “Kebetulan aja Aku ngeliat Kamu dihadang wartawan pas mau ke mobilku.” Nina manyun, merasa sang CEO berbohong. Masa kebetulan sering banget ya? “Ngga usah ge er,” Steven sedikit menjitak kening Nina, “Aku tidak minat mengikuti Kamu yang slengean dan garang.” Dia jual mahal, “Udah kutolong, tapi Kamu judesin mulu, bahkan tega membuatku jadi patung di toilet dan menendang rudalku pula.” Nina ternganga, diinjak sekali kaki Steven dengan gemas. “Aduhh!!” Sang CEO mengaduh, “Tuh kan!” dipandang kesal Nina yang melipat kedua tangan ke d***, “Kamu bener slengean dan garang!” dipegang kakinya yang terbungkus sepatu pantovel. Gandy mengulum senyum geli, Steven selalu kena dislengein Nina bosnya. Namun, pria itu tetap mengikuti sang putri, dan pasti menolong saat nona ini mendapat kesulitan. “Biarin!” Nina masam wajahnya, “Untuk pria m***m macam Kamu, Aku memang garang!” dibesarkan kedua mata memandang Steven. “Enak aja bilang Aku m***m!” Steven tidak terima dikatain Nina, “Kamu kali yang m***m!” dibalas mengatai si nona. “Ee, sembarangan ya!” Nina menjadi sewot, “Kapan Aku m***m, hmm?” “Ish, lupa!” sang CEO melipat kedua tangan ke d***, “Saat Kamu dikejar Eric, Kamu menarikku ke bilik urinoir, lalu memelukku kan? Setelah itu, demi melarikan diri dari Eric, Kamu nangkring dipunggungku kan? Mana kemudian Kamu tertidur nyender dipunggungku pula.” Dibeberkan semua tingkah laku si nona yang dirasa m***m. Nina menggigit sedikit bibirnya, hendak menginjak kaki lain Steven, tapi pria ini cepat menarik ke belakang kaki itu. Gerakan ini diluar dugaan si nona, sehingga terhuyung ke depan, dan landing dipelukan sang CEO. Sejenak dia menatap pria itu, lantas hendak didorong ke belakang, tapi cucu Sabina tersebut meraih tekuknya, dan menempelkan bibir ke bibir dia. Alamak! Kedua mata Nina terbelalak, untuk kedua kali dicium tuan muda ini. Jantungnya menjadi berdegup merasai manis kuluman bibir sang CEO. Apalagi tubuh dia dipeluk erat pula. Gandy tersenyum haru melihat semuanya. Tidak sia-sia Nina membatalkan pertunangan sama Eric, karena langsung dicantol Steven. Kemudian datang Peter, hendak mendekati tuan muda, tertegun melihat si bos ciuman, langsung tersenyum geli. ‘Nyonya Sabina,’ bisik hati asisten ini, ‘Cucu Anda seperti Singa jantan ngebet kawin lagi.’ Dia menilai Steven berubah menjadi singa jantan ngebet kawin. Segera dia keluarkan ponsel, direkam adegan si bos, lalu dikirim ke Darian. ‘Hehehe, biar Nyonya Sabina meminang Nona Nina ke Tuan Damar untuk cucunya itu.’ Kekehnya buru-buru menyimpan kembali ponsel ke saku celana panjangnya. Steven melepas ciuman, ditatap Nina memandangi dia dengan sorot mata kebingungan. Pelan diusap wajah cantik ini. “Maaf,” dia minta maaf, “Aku tadi tidak bermaksud membuatmu kesal dengan mengataimu m***m.” dijelaskan mengapa mencium Nina, merasa telah membuat gadis itu kesal dikatai m***m. Sang gadis mendengus sambil menjitak kening pria ini, dan satu kaki menginjak kuat-kuat kaki tuan muda. “Aduh!” Steven kembali mengerang, “Nina-!” tidak menduga si nona melakukan ini, “Aku kan sudah minta maaf, kenapa masih galak sih?” keluhnya karena kaki dia masih diinjak nona itu. “Minta maaf ngga perlu nyosor bibirku, tauk!” “Lha, kamu nubruk Aku duluan!” “Terus bisa menyosor bibirku, hmm?” Peter sudah disisi Gandy, mereka tersenyum geli melihat pasangan ini yang berantem mulu. Herannya, Steven terus mengikuti si nona. Padahal sebagai CEO perusahaan terkemuka, tidak akan mau berdekatan sama putri Damar yang slengean dan galak itu. “Iyalah!” Steven mengalah, “Aku memang menyosor bibirmu!” diakui sudah salah mencium bibir Nina, “Siapa suruh Kamu cantik dan menggemaskanku?” tanpa sadar mengungkapkan isi hati ke nona. Nina bertambah gemas, diperkuat menginjak kaki tuan muda. “Adududu!” pekik Steven, “Nina-! Mau kucium lagi, hmm?” dia menjadi berkeinginan mencium si nona, karena hanya gadis tersebut yang berani menginjak kuat kakinya. Lantas tampak wajah geram putri Damar itu menggemaskan dia. Diacungkan tangan, siap menarik tekuk sang gadis. Melihat gerakan itu, Nina buru-buru melepas injakannya sambil mendorong kuat tubuh tuan muda ke belakang, lantas menyambar helm dari tangan Gandy, melompat ke atas sadel motor, baru tancap gas. “Nina!” Steven mengejar gadis ini, “Nina! Nina!” Nina tidak memperdulikan, terus melaju meninggalkan basement parkiran. Hati dia tidak karuan saat ini. Steven berhenti mengejar, mengatur napas yang ngos-ngosan. “Dasar gadis slengean!” dirutuki Nina, “Aku harus segera menyusulnya!” dia tidak bisa membiarkan si nona pergi dalam suasana hati tidak karuan. Saat bicara, melesat cepat motor yang dikemudikan Gandy. “Tuan Muda!” Kemudian disusul seruan lantang Peter dari jip sang CEO yang mendekati pria itu. Steven melihat ini bergegas naik ke jip. “Gas, Peter!” seru dia menyuruh si asisten tancap gas, “Saya ngga mau Nina celaka di jalan gegara saya cium bibirnya!” imbuh dia dengan raut wajah cemas. “Beres, Tuan!” Peter menarik tuas rem tangan, lantas ngegas melajukan jip untuk mengejar Nina dan Gandy. *** Mobil Sabina meluncur menuju Zahara Hotel, karena sang nyonya selepas membesuk Iqbal bermaksud mengunjungi Steven. Si nyonya tersenyum haru menonton video kiriman Peter, merasa bahagia karena Steven benar jatuh cinta ke Nina. Tahu-tahu beberapa mobil menyalip di depan mobil sang nyonya, membuat Karto terpaksa menghentikan laju kereta besi ini. “Nyonya,” Darian melihat dari semua mobil penghadang turun banyak pria berpakaian hitam dan bersenjata pula, “Anda tetap di dalam mobil ya, biar Saya dan para ajudan mengatasi mereka.” diminta Sabina tetap di mobil. “Tidak, Darian.” tukas si nyonya tidak takut dihadang seperti ini, “Saya yakin mereka disuruh Mike.” feeling semua pria itu utusan Mike cucu kandung dia, “Anak itu sama kayak ibunya, sudah Saya bebaskan dari penjara, malah menyuruh orang menghabisi saya.” Dia segera membuka pintu mobil, lantas keluar. Darian terbirit keluar, begitu juga para ajudan, langsung memagari si nyonya. Lantas dari dalam mobil jip di depan, turun pria gagah memakai stelan kemeja polos, celana panjang hitam, dan berkacamata hitam. Pria itu adalah Mike Duarte. Sebelumnya dia dijebloskan Steven ke penjara karena berani meledakan pesawat jet pribadi milik Sabina, di mana nenek mereka berada di dalam pesawat itu. Dua minggu lalu, Melda merengek-rengek ke Sabina, minta dibantu membebaskan Mike yang dikabari mengalami sesak napas. Dengan berat sang nenek membebaskan cucunya itu. Tapi apa dikata si cucu tidak tahu diri. Sabina mengenali Mike, menghela napas, dan ketika mereka berhadapan. “Sepertinya,” terdengar suara si nenek lebih dulu, “Kamu cepat pulih ya.” Disindir si cucu, karena bisa menghadang dia, padahal sepengetahuan dia masih dirawat di rumah sakit. “Maaf, membuat Oma kecewa,” sahut Mike melepas kacamatanya, dipandang si nenek, “Selama Oma tidak mengenyahkan Steven cucu angkat itu dari Duarte Company, dan Oma menyerahkan kursi presdir ke Mike, maka Mike akan melakukan apa pun untuk meraih kedua hal tersebut.” Sabina tersenyum sinis, “Silahkan Kamu lakukan, karena selama ini Kamu dan ibumu mengalami kegagalan.” “Shut up, Oma!” Mike menghardik si nenek, cepat ditarik keluar belati dari sarungnya yang dipasang pada ikat pinggang, lantas dilayangkan ke arah jantung si nenek. Namun, Sabina dengan gesit sling ke arah lain sambil memutar badan dan memukul telak punggung cucunya ini. Perempuan ini sedari muda dilatih kungfu sama sang ayah, jadi tidak gentar menghadapi musuh berbahaya sekali pun. Menit berikut terjadi baku hantam di jalan raya ini. “Nyonya!” jerit Darian sekonyong-konyong sebab melihat salah satu bahu Sabina tertusuk belati Mike, tapi nyonyanya ini menendang keras rudal si cucu, mereka kemudian mental ke belakang. Dia cepat mengakhiri hidup Manuel asisten Mike dengan belati, berlari cepat ke Sabina yang tersuruk ke atas aspal. “Tuhanku!” jeritnya melihat sebilah belati melayang cepat mengarah ke kepala sang nyonya. Namun saat bersamaan, sebuah cambuk menangkap belati itu, dan melempar ke pemiliknya, hingga tepat mengenai jantung, tewas jatuh di aspal. Darian langsung menyisir ke sekitar mencari siapa yang menolong Sabina. Tidak lama dia melongo melihat seorang perempuan dengan gesit berlari, sling, dan salto menyikat semua anak buah Mike dengan kungfu dan helm ditangan. Perempuan itu menggenakan overall jeans celana pendek dilapisi jaket kulit, dan sepatu kets. Sabina juga melihat aksi tersebut, yang kemudian dibantu seorang pria seumur Peter. Dia juga terkejut sebab profil wajah perempuan itu persis Ivander putranya yang sudah meninggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD