Lelaki berhati kelam tempat jiwa sebelumnya berada -
...
Kursi roda memang mencirikan kebangsawanan. Hanya bangsawan yang mampu membeli kursi yang bisa dinaiki ke mana-mana, dengan bantalan empuk yang membuat mereka terlelap saat dua pelayan mendorongnya.
Namun kursi roda milik Daniel Garrick hanya boleh didorong oleh satu pelayan, dan tentu saja itu membuat Jose berkeringat. Sepanjang jalan, sang Majikan hanya memaki Jose dan mengancam akan menggantungnya. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka hanya menunduk dalam memberi hormat pada Daniel sembari melirik Jose iba. Nasibnya sungguh sial mendapat majikan pemarah berlisan kasar.
“Di mana ayahku?”
Seorang pelayan perempuan menjadi sasaran. Daniel menarik lengan bajunya dengan kasar, membuatnya ketakutan.
“Di … di depan. Bersama ibunda Tuan,” ucap pelayan wanita itu yang segera berlalu begitu Daniel melepaskan lengannya.
“Sialan! Sudah kubilang, jangan pergi. Jangan pergi. Begini berkuda dan beberapa pelayan yang melayani seorang wanita bangsawan yang tergeletak lemah di sebuah kursi panjang.
“Ibu …” panggil Daniel nyaris berteriak, membuat semua orang menoleh padanya dan memberi jalan untuk kursi rodanya.
Sebelum Daniel sampai di kursi panjang tempat ibunya sedang dikipasi dan dibalur minyak hangat, dia menoleh ke arah beberapa meja yang disusun di ruangan dekat pintu masuk. Darah mengotori lantai dan tak seorang pun pelayan diijinkan mendekat. Ada Sir William, dokter pribadi keluarga bersama beberapa pekerjanya. Mereka mengelilingi meja. Entah apa yang sedang mereka perbuat pada jenazah Lord Garrick.
Daniel mengurungkan niat mendekati ibunya.
“Bawa aku ke sana!” perintah Daniel pada Jose. Namun sebelum Jose memutar kursi roda majikannya, sebuah tangan kekar menahannya. Tuan Amstrong menggantikannya mendorong kursi roda ke arah ibunda Daniel Garrick yang perlahan berusaha duduk dibantu seorang pelayan.
“Daniel …” panggil Trea Natasha Garrick, seorang wanita yang kini telah menjanda dan tampak depresi, namun berusaha tampak elegan menghadapi situasi.
“Sebaiknya Tuan Daniel mendampingi Nyonya Garrick. Beliau dalam sedang bersedih dan memerlukan anda.”
Entah kenapa, Daniel tidak membantah ucapan Tuan Amstrong, Sang Kepala Pelayan. Padahal semua pelayan di ruangan itu sudah mengerutkan badan, ketakutan melihat majikan muda mereka akan mengamuk melihat kondisi mayat ayahnya yang mengerikan.
“Aku mau melihat ayah,” ucap Daniel begitu berada di hadapan ibunya dan wanita itu meraih bahu anaknya dalam dekapan. “Sudah kukatakan padanya, jangan ke hutan Corndall. Dia akan terbunuh saat malam purnama.”
“Tidak, Daniel. Ayahmu harus menegakkan nama baiknya,” bisik Trea. “Dia pahlawan Corndall. Lord of Corndall.”
“Tapi dia mati sia-sia, karena Gammond tak akan percaya pada siapapun yang membantahnya.”
Sir William mendekat sembari mendehem dan mengangguk hormat. “Mohon maaf Lady Garrick dan Tuan Garrick. Saya harus membawa jenazah Lord of Corndall ke rumah saya untuk melakukan otopsi penyebab kematiannya.”
“Tidak usah,” sergah Daniel. “Gammond memakan jantungnya, ya kan?”
Sir William tercekat, tidak menyangka Daniel Garrick bisa mengatakan hal yang hanya dia yang mengetahuinya setelah melihat kondisi mayat Lord Garrick. Semua orang di ruangan, menatap Daniel Garrick tak percaya. Padahal lelaki itu belum melihat kondisi ayahnya.
“Daniel, jaga ucapanmu! Kau jangan menuduh siapapun!” sergah Trea sembari membekap mulutnya. Kepergian suaminya menuju hutan Corndall dua hari yang lalu memang dalam rangka sebuah pertemuan dengan Jenderal Gammond, tangan kanan Pangeran Jacques. Akhir-akhir ini, Pangeran Jacques banyak melakukan gerakan untuk menginterogasi para bangsawan yang diduga melakukan praktek sihir yang dilarang kerajaan.
“Bukankah dia yang mengirim surat panggilan untuk menghadap Pangeran Jacques?” bantah Daniel.
Trea menangkup kedua tangan di pipi anaknya. “Itu untuk menjelaskan bahwa ayahmu sama sekali tidak bersentuhan dengan sihir, Daniel.”
“Tidak! Ayah ke sana untuk menyerahkan nyawanya, demi melindungi nyawa kita semua di sini! Atau semuanya menjadi tumbal Raja James!” Daniel menghempas tangan ibunya dan sekuat tenaga mendorong rodanya hingga kursinya menjauh.
“Daniel!”
Trea Garrick berusaha menjangkau putranya, menghentikannya berkata-kata lebih kasar lagi. Ada prajurit polisi di ruangan ini, kata-kata itu bisa sampai di telinga Pangeran Jacques dan tak akan ada ampun bagi siapapun di Corndall bila dia murka.
Tuan Amstrong menarik tangan Jose dan berdua mereka mendorong kursi roda Daniel keluar dari ruangan. Lelaki di kursi roda itu berteriak-teriak memaki-maki dan minta dikembalikan untuk melihat kondisi ayahnya. Dia meronta-ronta bahkan melompat dari kursi rodanya. Dengan sigap, Jose dan Tuan Amstrong membopongnya dan membawanya ke dalam kamar.
Dibantu beberapa pelayan, mereka mengikat majikan muda yang tak henti-henti mengeluarkan makian pada Pangeran Jacques, Jenderal Gammond dan Raja James--di atas ranjangnya.
“Bekap mulutnya!” perintah Tuan Amstrong. “Aku tidak ingin dia bicara sampai urusan jenazah Lord Garrick selesai.”
Seorang pelayan perempuan menghulurkan secarik kain. Daniel mendelik melihat kain itu berpindah tangan ke Jose, pelayannya sendiri.
“Jangan berani-berani mengikatku, Amush! Kau akan kugantung!”
Jose tak peduli. Kali ini dia dengan senang hati akan menyumpal mulut kasar majikannya. Dia mendekat ke majikannya yang masih berusaha meronta meski tangan dan kakinya sudah diikat di ranjang. Sembari menarik sudut bibir, Jose mendekatkan wajahnya.
Cuh!
Daniel Garrick meludahi muka Jose, membuat Tuan Amstrong tertegun. Dia hendak menarik tangan Jose, namun tindakan balasan Jose membuatnya terperangah. Jose mengambil ludah Daniel dari keningnya dan memasukkannya lagi ke mulut Daniel. Lalu dengan cepat menyumpal dan mengikat mulut Daniel dengan kain di tangannya.
Daniel semakin murka, sepasang matanya mendelik nyalang dan kedua tangannya berusaha melepaskan diri dari ikatan, tapi sia-sia.
“Tuan Amstrong?”
Sir William sudah berada di dalam kamar Daniel. Tuan Amstrong menyuruh semua pelayan keluar kamar, karena Sir William sepertinya akan menyampaikan sesuatu yang tidak berhak diketahui kecuali oleh keluarga Lord Garrick. Jose melihat situasi itu berpura-pura membereskan kamar yang berantakan sembari menajamkan pendengarannya. Dia perlu banyak tahu tentang situasi yang sedang dia hadapi. Dan dalam posisi pelayan, tidak mudah mendapatkan semuanya kecuali dengan menguping.
“Bagaimana Sir?” bisik Tuan Amstrong sembari menyilakan Sir William keluar kamar majikan muda mereka.
Dua orang itu berjalan bersisian menuju pintu yang terbuka, Jose mengendap perlahan di belakang mereka. Daniel Garrick yang melihat tingkah pelayannya sontak menghentikan aksi memberontaknya. Dia heran melihat seorang pelayan yang bertingkah seolah penyelidik.
“Aku tidak tahu, bagaimana Tuan Daniel Garrick bisa mengetahui kondisi mayat ayahnya, padahal dia belum melihatnya. Jangan sampai Pangeran Jacques mendengarnya, atau dia akan dituduh sebagai penyihir seperti Lord Garrick.”
Tuan Amstrong menatap Sir William, dokter keluarga kepercayaan Lord Garrick dan sudah mengurus kesehatan keluarga bangsawan ini turun temurun. “Memangnya, bagaimana kondisinya?”
“Ini benar-benar keji. Aku tidak yakin ini perbuatan Jenderal Gammond. Karena eksekusi penyihir bukan seperti itu.”
“Lord Garrick bukan penyihir,” bantah Tuan Amstrong yang disambut endikan bahu Sir William. Siapa saja bisa mengaku bukan penyihir, tapi yang menentukan iya atau tidaknya adalah Pangeran Jacques. Dia mendapat mandat sepenuhnya dari Raja James, kakak kandungnya untuk membasmi semua penyihir di seluruh kerajaan. Tidak ada satupun bangsawan apalagi rakyat jelata yang bisa membantah apalagi memberontak, bila tuduhan sebagai penyihir sudah disahkan oleh Pangeran Jacques.
“Jantungnya dikeluarkan dari dadanya dalam keadaan hidup,” bisik Sir William. “Lalu, siapapun pelakunya, menggigit dan memakannya--separuh.”
Jose Juguetona yang mendengar kalimat itu begitu jelas, sontak merasa ada yang bergolak di perutnya. Dia bergegas menuju sudut kamar dan meraih tirai jendela untuk membekap mulutnya. Dia tidak mau muntah, tapi kalimat yang didengarnya itu benar-benar membuatnya tak bisa menahan isi perutnya untuk keluar.
Cahaya matahari dari ufuk timur sudah mengoranye, menerpa wajahnya. Dia tak peduli pada Daniel Garrick yang kembali memberontak, kali ini dengan energi yang lebih kuat dari sebelumnya. Hingga ranjangnya sedikit terangkat. Sepertinya dia murka karena Jose sudah memuntahi tirai sutra jendelanya.
“Jenderal Gammond … dia memakan jantung Lord Garrick? Separuh, dalam keadaan hidup?” teriak Jose dalam hati dan dia kembali muntah. Jose merasa kepalanya berdenyar dan berputar. Tangannya mencengkeram kusen jendela dan berusaha menghirup udara segar untuk menenangkan perutnya.
Gammond. Gammond.
Nama itu begitu familiar, dan dia merasa ada sesuatu dari nama itu yang melekat di jiwanya. Tapi memakan jantung dalam keadaan hidup? Itu bukan jiwanya.
Perlahan denyar di kepalanya berkurang setelah cahaya matahari mulai menghangati wajahnya. Dia kembali menekankan jempolnya di bawah rahang. Cekungan itu semakin dangkal, dan dia belum berhasil mengingat apapun selain dia terlahir kembali tanpa ingatan apapun. Nama Gammond bertalu-talu di kepalanya.
Suara geraman Daniel Garrick membuatnya menoleh pada lelaki yang sepertinya masih saja punya tenaga untuk berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Dia menatap nyalang ke arah Jose.
“Daniel Garrick, dia sudah mengetahui kalau ayahnya akan mati, dengan jantung dimakan? Siapa dia sebenarnya?”
Sir William dan Tuan Amstrong sudah tidak kelihatan. Jose perlahan mendekati Daniel Garrick, duduk di sebelahnya layaknya seorang ibu akan membangunkan anaknya. Ditatapnya wajah Daniel yang tampak sudah melunak, lebih tepatnya terheran dengan sikapnya yang tampak tenang di situasi segawat ini--padahal hanya seorang pelayan.
“Siapa Jenderal Gammond?” tanya Jose dengan suara nyaris tak terdengar, berbisik di telinga majikannya.
Pandangan keduanya bertaut beberapa detik, lalu Jose perlahan membuka sumpalan mulut Daniel. Dia sudah bersiap menerima ludahan lagi, namun ternyata Daniel tidak melakukannya.
“Siapa kamu?” tanya Daniel balik bertanya dengan tatapan penuh selidik. “Jangan bilang kau anak buah Gammond yang menyusup ke rumahku.”
Jose menghela napas. “Aku Jose Juguetona.”
Daniel mengerut kening mendengar nama yang berbeda. Sepekan yang lalu, Tuan Amstrong menyodorkannya seorang pelayan lelaki selepas dia keluar dari rumah perawatan Sir William. Kuda sialan yang menjatuhkannya sudah digantung atas perintahnya, meski itu semua tidak membuatnya bisa berjalan dalam waktu dekat.
“Amush, katakan padaku siapa kau sebenarnya dan kau tidak akan kugantung.”
Jose menggeleng. “Anda tetap akan menggantungku.”
Daniel mengendus. “Kau sudah mendengar ucapan Sir William kan? Tentang jantung yang dimakan Gammond. Kau tidak penasaran?”
Jose menggeleng, membuat Daniel Garrick menelan ludah. Pelayan di depannya memiliki sorot mata yang berbeda dengan kemarin. Kemarin dia adalah lelaki lugu, begitu tunduk dan takut padanya. Kini sorot mata rakyat rendahan di hadapannya ini begitu tajam, seolah menunjukkan dia sudah hidup ribuan tahun dengan pengalaman hidup tak terbilang seperti bintang di langit.
“Aku hanya ingin tahu siapa Jenderal Gammond?”
Jose menatap lekat majikannya, sebuah tingkah kurang ajar pelayan yang seharusnya tidak termaafkan. Namun kali ini, bagi Daniel, Jose seperti salah satu jawaban yang dicarinya. Dia harus menjalin hubungan baik dengan lelaki yang tak tahu bahwa menyebut nama Jenderal Gammond membuat gentar semua bangsawan di negeri ini. Jenderal Gammond, lelaki berhati kelam, sekelam matanya.
“Kau tak ingin bertemu dengannya, sebagaimana ayahku. Tapi ayahku, dia meneguhkan hati menemuinya.”
Jose terdiam. Dia menekan jempolnya sekali lagi ke cekungan di bawah rahangnya, bersamaan dengan sebuah ingatan yang menjelas di kepalanya. Derap kuda yang menerbangkan debu, tebasan pedang pada leher-leher yang menjerit memilukan dan kilauan keping-keping emas dalam sebuah peti. Juga sebuah buku tebal dengan sebuah nama tertera jelas di halaman terakhirnya.
Jenderal Gammond, lelaki yang sebelumnya menjadi tempat jiwanya bersemayam.