Santet Wetan

2738 Words
Satu minggu setelah kejadian itu, Yusuf memberi kabar padaku dan Aga, kalau kami akan diajak ke Bandung untuk mengobati pasien. Tentu aku dan Aga siap siaga. Kemanapun kami diajak, kami akan ikut. Kecuali ada hal yang sangat penting yang tidak bisa membuat kami menemaninya. Kebetulan sekolah juga sudah libur panjang. Jadi kegiatan ku dan Aga masing-masing tidak terganggu. "Di bawa bekal baju saja. Dikhawatirkan kita menginap beberapa hari di sana. Siap-siap hari ini. Nanti ane ke rumah ente. Terus kita jemput Aga dan langsung berangkat." Kata Yusuf melalui chating w******p. Aku segera packing. Dan tak lupa bilang kepada kedua orang tuaku. "Naik apa ke sana Di?" tanya bapakku. "Mobil bah." Jawabku. "Bertiga aja, sama Yusuf dan Aga?" tanyanya lagi. "Iya bah. Adi minta doanya aja," kataku sembari salaman kepada mereka. "Hati-hati. Ni uang buat bekal." Kata ibu tiri ku yang kemudian menyodorkan uang padaku. "Gak usah mak, Adi juga punya," kataku. "Ih sudah bawa saja. Buat tambah-tambah." Katanya yang langsung memasukan itu ke sakuku. Tak lama kemudian Yusuf datang. Klakson dibunyikannya. Aku dan kedua orang tuaku keluar. Yusuf tak sempat turun dari mobil. Ia hanya pamitan saja ke bapakku. "Bah kami semua berangkat ya. Minta doanya," kata Yusuf. "Iya hati-hati Suf." Kata bapakku. Mobil pun melaju dengan mulus. "Kok ente yang disuruh ke sana ? biasanya kan pasien yang datang ke abah haji?" tanyaku. "Katanya lagi gak bisa dateng ke sini. Jadi si pasien ini masih anak buahnya abah," jawab Yusuf. "Biasanya kalau yang dikirim ke jauh untuk menangani pasien kan mang Bule?" tanyaku lagi. "Di rumah abah juga lagi banyak pasien. Mang Bule sama yang lain lagi bantu abah," kata Yusuf. Jadi mang Bule adalah murid kesayangan K.H. Darhami. Dia setia membantu keluarga Yusuf. Selain sebagai seorang murid, mang Bule sudah dianggap anak sendiri oleh K.H Darhami. Karena dari sejak kecil mang Bule diurus dan diasuh oleh keluarga Yusuf. Hidupnya dari kecil di lingkungan pesantren. Dan dia adalah seorang yatim piatu. Sampai di depan rumah Aga, dia sudah menunggu kami selama beberapa menit yang lalu. "Wih lama banget," celetuk Aga yang melangkah ke dalam mobil. "Kaya rumah ente deket aja," balasku. "Udah tinggal di padepokan aja Ga, biar gak bulak-balik terus," kata Yusuf yang menyandainya. "Mau sih. Apalagi kalau dicariin buat istrinya juga," celetuknya lagi. "Enak sekali." Kataku memelototinya. Di perjalanan kami mengobrol ke sana kemari. Supaya waktu terasa lebih sebentar. Maklum, jarak dari Banten menuju Bandung cukup jauh. Setengahnya perjalanan perutku mulai keroncongan. Aku merengek pada Yusuf untuk berhenti sejenak. Mengisi perut dulu yang sudah miscall sedari tadi. Diam-diam rupanya Aga juga terasa lapar. Yusuf menepikan mobilnya di salah satu rumah makan. Kami pun istirahat dan menikmati santapan. Beberapa menit kemudian handphone Yusuf berdering. Pak Uung yang meminta Yusuf ke sana itu memberi tahu bahwa istrinya kumat lagi. Dan yang ini semakin tidak karuan. Mengamuk-amuk tak sewajarnya. Setelah selesai makan, kami segera melanjutkan perjalanan. Yusuf menambah laju kecepatan mobilnya. Alhamdulillah sekitaran jam 5 sore kami sampai tujuan dengan selamat. Tanpa ada hambatan. Mobil sudah masuk garasi. Kami segera disambut dengan baik. Dituntun oleh pembantu pak Uung. Aku dan Aga melihat sekeliling rumahnya yang cukup besar. Namun kami sudah merasakan aura yang tidak baik. Rumah sebesar itu kesannya sangat horor sekali. Mungkin karena terkontraminasi oleh aura-aura negatif makhluk gaib. Menurut kami, wajarlah banyak yang ingin menjatuhkan seorang pak Uung. Banyak yang iri dengki padanya. Karena beliau adalah orang terpandang dan salah satu pengusaha sukses di daerahnya. Saat kami berada di dalam, istri pak Uung sudah tidak dalam kondisi kerasukan lagi. Dia hanya terbaring lemah. Matanya menandakan bahwa dia sangat merasakan kelelahan. Kami bertiga shalat Ashar berjamaah di sebuah mushala kecil, yang sengaja dibangun pak Uung di dalam rumah untuk para tamu yang datang ke rumahnya. Yusuf berencana akan memulai pengobatan ini setelah Maghrib nanti. Aku dan Aga diminta untuk mempersiapkan diri. Dengan membaca zikir-zikir dan amalan-amalan kami masing-masing. Yusuf bilang bahwa makhluk yang sedang mengganggu istri pak Uung ini sangat kuat. Ada beberapa orang yang syirik kepada pak Uung bekerja sama untuk menjatuhkannya. Namun yang kena imbasnya malah istrinya. Mungkin karena pondasi bentengan diri pak Uung lumayan kuat, sebab beliau adalah salah satu murid K.H Darhami. "Kemarin udah bilang ke abah haji. Bapak ingin tau asalnya penyakit ini datang dari mana dan dari siapa. Tapi kata abah haji biar Yusuf aja yang menjelaskannya." Kata pak Uung kepada Yusuf. Tapi Yusuf tidak memberi tahu secara detail siapa saja orang yang telah melakukan perbuatan jahat ini. Yusuf hanya memberi satu nama lokasi saja. Dan dia takut kalau semuanya hanyalah tipu daya setan. Dan nantinya hanya akan menjadi fitnah. "Ga coba ente cek dulu. Dari mana penyakit ini dikirim!" pinta Yusuf pada Aga. "Audzubillahi minasyaiton nirrojim," Aga memejamkan matanya. Tak lama dia menyebut kata Kuningan. Tepat dengan apa yang sudah dibaca Yusuf. "Saya pernah punya konflik dengan orang sana. Dan konfliknya lumayan cukup besar," kata pak Uung setelah mengetahui bahwa kiriman penyakit itu asalnya ada yang dari sana. "Yang penting kita ingin istri pak Uung sehat kembali. Dan dihilangkan penyakit yang tak sewajarnya ini oleh Allah," papar Yusuf. "Iya kang amin. Saya serahkan semuanya sama Allah." Kata pak Uung dengan yakinnya. Adzan maghrib telah tiba. Kami shalat berjamaah. Dan Yusuf memintaku untuk menjadi imamnya. Setelah selesai zikir dan amalan, kami semua segera menghampiri istri pak Uung yang sedang ditemani pembantunya. Aga mulai membaca beberapa surat Al-qur'an. Dan aku membantu Yusuf untuk membuang sedikit demi sedikit makhluk yang ada di tubuh istri pak Uung. Masya Allah, makhluk yang saat ini bersarang di tubuhnya istri pak Uung itu cukup banyak, bukan satu dua. Sehingga kami sedikit kewalahan. Di tengah membaca Al-qur'an, tepatnya di permulaan surat Al-Jin, dengan posisi duduk sila, Aga tak sengaja menjatuhkan Al-qur'an nya. Dan kedua tangannya berpangku kepada kedua lututnya. Dengan badan yang sedikit membungkuk, dan wajah yang meringis, Aga terus mengucap takbir. "Allahu akbar," berulang kali dengan suara yang seperti ditahan. Dengan refleknya Yusuf segera melakukan tindakan. Dia menarik makhluk yang sedang menyerang Aga. Tak lama kemudian terdengar suara seperti ledakan di atas rumah, tepatnya di lantai atas. Suara itu begitu keras. Sehingga kami semua mendengarnya. Istri pak Uung tiba-tiba terperanjat dari tidurnya. Dia terbangun dengan mata melotot, mengarah ke depan, tepat kepada Yusuf dan Aga. Dan pembantu pak Uung yang sedang berada di sebelahnya pun kerasukan. Dengan wajah tersenyum sambil melenggak-lenggokkan kepalanya. Dia pun kemudian berdiri dan mengayunkan tangannya, terus menari-nari. Kondisi di rumah ini kian semakin kacau. Pak Uung terus mengucap kalimat takbir. Sedangkan aku segera menghampiri pembantu pak Uung. "Keluar kau. Dia tidak ada urusannya denganmu," kataku kepada si pembantu yang sedang kerasukan itu. Si makhluk itu malah menertawakan ku sambil terus melenggak-lenggokan tubuhnya. "Bismillah hirrohman nirrohim. Ti ujung masriq wal maghrib. Maroh al madad, Ya sayyidina syeh Abdul Qadir Jaelani, ya sayyidina syeh Ahmad Kabiri Rifai," aku membacanya sambil menunjuk makhluk yang ada di tubuh si pembantu. Tak lama kemudian si pembantu tergeletak pingsan. Pak Uung segera membantuku dan menyadarkannya. Aga sudah kembali normal. Dan Yusuf mulai interaksi dengan makhluk yang ada di tubuh istri pak Uung. Aga kembali membaca Al-qur'an. Dan aku membantu Yusuf melawan makhluk itu. Di sini cukup lama Yusuf berduel dengan sosok yang sangat kuat yang menempel di tubuh istri pak Uung. Aku menghadapkan telapak tangan dalam ku padanya. Tak lama badanku bergetar dan terasa panas. Dan tiba-tiba keluarlah darah dari hidungku. Yusuf telah merasakan ada serangan makhluk lain kepada diriku. Dia pun menangkisnya. Dan dia menyuruhku untuk berhenti melawannya. Yusuf menanganinya seorang diri. Dia berdiri sambil menghela nafas yang dalam. "Lailaha Illa Allahu Muhammadarasulullah. Idza zulzilatil ardu zilzalaha. Wa akhrozatil ardu atskolaha," kata Yusuf sambil menepuk kan tangan nya ke lantai. Dan akhirnya istri pak Uung tergeletak tak sadarkan diri. Kami semua sangat kacau kala itu. Dengan membaca kalimat Lailaha illa Allahu masing-masing, kami berharap semua bisa pulih. Keadaan masih dalam suasana yang menegangkan. Yusuf segera mengeluarkan sebotol air dari tas kecilnya dan menyuruh kami semua untuk meminumnya. Dan dikalungkan nya sebuah tasbih ke istri pak Uung. Kami semua istirahat sejenak. Satu persatu bergantian shalat Isya. Malam itu pengobatan belum tuntas. Kami juga masih menunggu istri pak Uung siuman. Sembari menunggunya, Yusuf dan Aga menetralkan kondisi rumah. Mereka memagar gaib rumah pak Uung. Selang beberapa menit istri pak Uung sadar dari pingsannya. Kemudian Yusuf memberikan air untuk diminumnya. Malam itu pun tidak ada gangguan lagi. Istri pak Uung sudah bisa menyapa kami. Kami bertiga segera diminta ke ruang makan. Karena si bibi yang satunya sudah mempersiapkan hidangan makan malam. Kami makan malam bersama dengan pak Uung. Kecuali istrinya yang hanya disuapi bubur oleh si bibi karena kondisi tubuhnya masih lemas. "Waduh, mohon maaf ya kang, kalau penyajiannya kurang memuaskan," kata pak Uung sembari menikmati makan malamnya. Dalam hatiku hidangan sebanyak ini masih dibilang kurang memuaskan. Mungkin itu hanya basa-basi pak Uung. "Hatur nuhun kepada semuanya kang. Sudah mau membantu keluarga saya. Khususnya istri saya. Sebelumnya istri saya bicara pun gak mau. Alhamdulillah malam ini saya sangat terharu bisa melihatnya bicara," kata pak Uung dengan wajah yang sumringah. "Alhamdulillah sedikit demi sedikit, makhluk yang jail dan jahat itu sudah kami buang pak," kata Yusuf. "Alhamdulillah kang," kata pak Uung lagi. "Itu kang Adi teu kunanaon kang?" tanya pak Uung yang mengetahui saat hidungku keluar darah. "Insya Allah gak pak." Jawabku. "Terus kumaha kang, apa sudah kelar?" tanya pak Uung pada Yusuf. "Belum pak. Nanti kita tunggu sampai besok." Jawab Yusuf. Setelah selesai makan dan menikmati kopi sembari merokok, kami dipersilahkan untuk segera beristirahat. Yah, kami bertiga sudah sangat capek. Dari Banten menuju Bandung langsung tempur dengan makhluk gaib. Dengan kamar yang cukup besar dan fasilitas yang sangat memadai, kami tidur dengan sangat nyenyak. Handphoneku berdering dengan nyaring. Tepat pada pukul 05.00 pagi. Sengaja ku aktifkan alarm sedari malam. Agar shalat Subuh tidak kesiangan. Kulihat di sebelahku Yusuf sudah tidak ada. Mungkin ia sudah ke mushala duluan. Hanya ada Aga yang masih mendengkur. Ku bangunkan dia susah sekali. Wajar, dia mungkin sangat capek. Tapi terus ku paksa untuk bangun. Dengan langkah yang masih tertatih-tatih, aku menuju ke kamar mandi. Kulihat Yusuf sedang keliling sambil mencipratkan air ke setiap sudut rumah. Sebenarnya hawa semalam masih sangat terasa. Dan di Bandung inilah salah satu pengalaman kami yang cukup menegangkan. Semoga semuanya baik-baik saja. Karena perjuangan kami belum usai. Sekitar jam setengah delapan, saat kami sedang menikmati sarapan, istri pak Uung bilang kepada suaminya bahwa dia ingin keluar rumah. Jalan-jalan keliling Cimahi. Menghirup udara segar. Karena rasanya suntuk sekali sudah lama terbaring di kasur, tidak merasakan hangatnya sang surya. Pak Uung bukan tidak ingin menurutinya, tapi kondisinya masih lemas. Istri pak Uung tetap memaksa. Akhirnya dengan berat hati pak Uung menurutinya. Kami bertiga pun diajak keliling kota Cimahi. Melihat alam sekitar, sambil dikenalkannya tempat-tempa tertentu oleh pak Uung kepada kami. Beliau juga mengajak kami ke salah satu distro. Membelikan kami masing-masing baju dan kaos kasual. Disuruh memilih sesuka kami. Dengan situasi seperti itu, enak tidak enak hati. Pak Uung akan marah jika tawarannya kami tolak. Lama juga kami keliling kota, dengan membawa belanjaan yang cukup banyak. Istri pak Uung sudah merasa puas. Kami kembali ke rumah. Saat sebentar lagi akan sampai, istri pak Uung menggaruk-garuk kepalanya. Katanya gatalnya tidak biasa. Dia tidak kuat menahannya. "Astagfirullah," ujar Yusuf. "Kunaon kang?" tanya pak Uung dan kami semua melihat Yusuf. "Ada yang menyerang lagi," kata Yusuf sambil memejamkan matanya. Kami semua membaca ayat-ayat Qur'an. Mobil segera masuk garasi. Pak Uung segera menuntun istrinya ke dalam. Yusuf memberi tahuku dan Aga bahwa serangan kali ini juga tak kalah kuatnya. Dibaringkannya istri pak Uung ke kasur. Kemudian pak Uung memanggil-manggil si bibi. Namun si bibi tidak juga menghampiri. Pak Uung mencarinya ke dapur. Tak lama kemudian pak Uung berteriak memanggil kami. Yusuf menyuruhku dan Aga untuk segera menemuinya. Kulihat di sana, kondisi dapur sudah berantakan tak karuan. Dan pak Uung segera menyeret tanganku mengarah kamar mandi. Naudzubillah min dzalik. Kulihat si bibi sedang memakan ayam mentah. Dan darah berantakan di sekitar kamar mandi. Si bibi sudah tak sadarkan diri, dia sudah dikuasai oleh roh jahat. "Audzu bikalimatillahi tammati ming sarri ma kholaq." Aga terus mengulang bacaan itu sambil menunjukan jarinya ke arah si bibi. Makhluk yang ada di tubuh si bibi terasa terganggu. Dia marah. Dan melemparkan ayam itu kepada kami. Dia menghampiri kami sembari kepalanya mengangguk-angguk. "Allahumma Bihaqi Yusuf, wa bihaqi Daud, wa bihaqi Musa, wa bihaqi Isa, wa bihaqi Jibril, wa bihaqi Mikail, wa bihaqi Israfil, wa bihaqi Izrail, wa bihaqi Adam, wa bihaqi Muhammad Saw, Al-fatihah," aku dan Aga membacanya bersamaan. Tinggal beberapa senti lagi menuju kami, si bibi terjatuh. Roh jahat itu telah keluar. Pak Uung segera memberi tahu pembantunya yang lain agar bergegas kemari. Kami menggotong si bibi ke kamarnya. Sedangkan istri pak Uung terus menerus menggaruk-garuk kepalanya yang malah semakin tambah parah gatalnya. Yusuf meminta izin kepada pak Uung untuk melihat kepala istrinya. Tentu pak Uung mempersilahkannya. "Kang Yusuf, sudah potong saja rambut saya," tiba-tiba istri pak Uung meminta Yusuf untuk memotong rambutnya. "Bagaimana pak?" izin Yusuf pada pak Uung. "Iya kang gak kenapa-napa." Jawab pak Uung dengan kemudian meneteskan air matanya. Kami semua membaca takbir. Saat sedikit demi sedikit rambut istri pak Uung dipotong, ulat pun berjatuhan. Sebelumnya istri pak Uung diminta untuk memejamkan matanya saat rambutnya dipotong. Aku dan Aga segera memungut ulat-ulat itu satu persatu dan memasukannya ke dalam kantung plastik. Semua karena kuasa Allah. Semakin rambut istri pak Uung pendek, maka ulat-ulat itu pun semakin berkurang. "Malam ini harus segera kita tuntaskan pak," kata Yusuf. "Kalau bisa cari 10 santri pak untuk ngaji di sini!" tambahnya. Pak Uung segera menelpon anak buahnya untuk mencarikan santri. Tentu dengan silaturahmi yang erat kepada para sepuh, pak Uung tidak kesulitan mendatangkan santri. Tidak seperti kemarin, kali ini istri pak Uung tidak disertai dengan kerasukan makhluk gaib. Akan tetapi roh-roh jahat itu menjalankan serangannya dengan cara lain. Kasihan sekali melihat kondisi istri pak Uung. Baru saja dia merasa agak enakan semalam, kali ini dia diuji lagi. Apalagi sampai dia harus merelakan rambutnya dipotong demi membersihkan ulat-ulat itu. Wajahnya masih terlihat pucat dan badannya sangat lemah. Datanglah sepuluh santri itu ke rumah pak Uung. Saudara-saudara pak Uung juga malam ini sebagian datang. Kami menyambut para santri dengan rasa hormat. Mempersilahkan mereka semua duduk. Tak lama kemudian dengan tidak mengurangi rasa hormatnya, Yusuf meminta setiap satu orang santri membaca satu surat Al-qur'an yang berbeda-beda, yang sudah ditentukan. Itu semua ternyata atas instruksi K.H Darhami, karena sebelum akan dimulainya penuntasan, Yusuf menelpon bapaknya terlebih dahulu. Gemuruh lah suara para santri di ruangan itu. Aku, Yusuf dan Aga sudah bersiap-siap. Tenaga batin dan tenaga luar sudah kami kendalikan. Beberapa menit sudah kami melakukannya, namun masih belum ada reaksi apapun terhadap istri pak Uung. Dan kurang lebih setengah jam, istri pak Uung mulai memegang dadanya. Dia meringis kesakitan. Para santri masih terus mengaji. Dan saatnya bagi kami untuk menghancurkan roh jahat itu. Dengan kode menganggukkan kepala, Yusuf memerintahkan aku dan Aga agar segera berdiri. Kami mulai membaca amalan yang bersamaan, sambil menghadap mengarah istri pak Uung. "Allahumma bihaqi Yusuf, wa bihaqi Daud, wa bihaqi Musa, wa bihaqi Isa, wa bihaqi Jibril, wa bihaqi Mikail, wa bihaqi Isrofil, wa bihaqi Izroil, wa bihaqi Adam, wa bihaqi Muhammad Saw, Al-fatihah ..." "Ya laknatullah, keluarlah kau!" tambah Yusuf. Setelah tiga kali balikan kami membacanya, istri pak Uung pun muntah, menyemburkan cairan hitam dari dalam mulutnya. Kami semua dalam keadaan tegang. Tapi Yusuf meyakinkan pada kami bahwa istri pak Uung tidak akan apa-apa. Alhamdulillah semuanya sampai terasa reda. Kami semua terus membaca shalawat, sampai pada akhirnya istri pak Uung merasa lebih tenang. Tuntas lah sudah. Aura rumah kini tidak seperti sebelumnya. Sudah tidak ada hal-hal yang negatif lagi. Tak lupa kami juga sangat berterima kasih kepada para santri yang sudah merelakan waktunya demi membantu kami. Peneteralan pun sudah kami tuntaskan sampai keesokan harinya. Semoga dengan kejadian ini, keluarga pak Uung bisa mengambil hikmahnya. Pak Uung mengadakan selamatan kecil-kecilan sebagai rasa syukurnya atas kesembuhan istrinya. Dan semoga kejadian ini tidak akan pernah menimpa keluarga pak Uung lagi. Hari keempat kami di sana, kondisi istri pak Uung semakin membaik saja. Sudah bisa beraktifitas secara normal. Kami diajak keliling kota Cimahi lagi. Pak Uung sangat berterima kasih kepada kami, khususnya Yusuf. Karena kami juga tidak akan bisa apa-apa tanpa Yusuf dan bapaknya. Keesokan harinya kami pulang. Pak Uung membekali banyak sekali bawaan. Mulai dari oleh-oleh makanan khas Bandung, pakaian, dan bahkan diberi uang. Bagi pak Uung ini semuanya tidak akan terbayar. Pak Uung memberi kami sebanyak ini hanya seperti peribahasa di kami, yaitu ubar pamali. Tak lupa beliau juga menitipkan salamnya untuk gurunya, K.H Darhami
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD