Kembalinya Yusuf

1485 Words
Hampir setengah tahun sudah Yusuf tidak bergelut dengan dunia gaib. Kini dia kembali. K.H Darhami lah yang menyuruhnya untuk terus meneruskan perjalanan bapaknya itu. Sebab dari enam anaknya hanya Yusuf yang punya cikal bakal ilmu seperti beliau. Dua orang kakaknya ada yang menjadi pegawai negeri, yang dua selanjutnya adalah dosen dan satu kakaknya yang laki-laki lagi adalah seorang qiroat. Selama Yusuf break dari dunia spiritual dan membantu orang, dia sudah beberapa kali dinasehati oleh K.H Darhami. Terus dibekalinya ilmu-ilmu akidah dan ilmu pengkajian diri. Ilmu spiritual yang sepaham. Cara mengobati orang seperti apa dan masih banyak lagi bekal yang diberikan oleh beliau. Karena K.H Darhami tidak ingin anaknya melenceng dan merusak akidahnya karena sebab dunia spiritual. Banyak sekali macamnya orang-orang yang terjun dan berkecimpung di dunia gaib. Ada yang mesti dibalut dengan penampilan religius yang meyakinkan, mencirikan bahwa dirinya adalah seorang praktisi dalam bidangnya dan kemampuannya memang terbukti, begitupun ada yang sebaliknya. Ada juga yang tidak mencirikan sama sekali. Dia adalah seorang praktisi dan dia menyembunyikannya. Berpenampilan biasa saja. Justru kadang compang-camping. Tetapi ilmu spiritual nya tinggi. Pokoknya ada beberapa tipe praktisi yang semacam itu. Yang jelas ilmu seperti ini ada dua bagian, ilmu yang putih dan yang hitam. Dan pemiliknya beragam manusia. Terkadang ilmu putih pun di salah gunakan oleh beberapa oknum dengan alasan yang bermacam-macam. Oleh orang yang belum mengkaji lebih dalam ilmu gaib. Jangan pernah kita pandang hanya dengan melihat penampilannya. Alangkah baiknya kita telusuri dulu kesehariannya. Walaupun tetap saja, isi hati manusia tidak akan pernah ada yang tahu kecuali sang penciptanya. Kadang dengan caranya ada beberapa ahli yang memanggil dan memasukan khodam para ulama seenaknya hanya untuk diperlihatkan nya kepada orang yang awam. Mungkin bisa dibilang parah ada juga yang ketika melakukan mediumisasi si ahli akan mengaku bahwa dirinya adalah wali bahkan nabi, naudzu billah. Akhirnya ilmu yang mulanya putih malah menjadi mudharat saat si praktisi tidak bisa mengupas, terus mempelajari, dan membentengi akidah mereka masing-masing. Ilmu gaib atau ilmu spiritual dan ilmu dimensi diluar nalar manusia juga datang kepada seseorang dengan berbagai macam cara. Ada yang mendapatkannya dengan cara instan, ada yang harus belajar menguasainya dengan pengawasan seorang guru yang telah mengijazahkannya, seperti halnya diawali dengan puasa ditambah amalan-amalan khusus, bermeditasi dan melakukan tazribah. Ada yang datang dengan sendirinya, ilmu yang turun temurun dari garis keturunan nya, dari kakek atau buyutnya yang biasa disebut terah. Biasanya orang yang sudah memiliki terah ini dengan sejalan nya akan meningkat bila terus mematangkan diri di dunia spiritual. Semuanya tergantung pada diri kita masing-masing. Dan kuat pada pedoman syariat agama kita, berpegang teguh kepada hadis dan Al-qur'an bagi orang-orang muslim. Begitupun dengan perjalanan spiritual mang Ahmad. Kami semata-mata tidak pernah mengungkitnya bahkan menceritakan pada siapapun tentang aibnya. Ini semua akan kami jadikan pelajaran, bahkan menjadi rem untuk kami. Karena semakin lama kita bergelut di dunia seperti ini maka godaannya pun semakin naik. Jadi setelah banyak muridnya, mang Ahmad juga memiliki banyak pasien. Mulai dari mulut ke mulut banyak orang yang mengenalnya. Sudah beberapa bulan aku dan Aga tidak mengunjungi rumah mang Ahmad, kami dikejutkan dengan kabar yang sangat tidak kami sangka. Mendengar semua itu adalah bak hari yang cerah tiba-tiba suara petir menggelegar. Saat Yusuf sudah mulai mengobati orang lagi, kebetulan si pasien yang perempuan ini pernah diobati oleh mang Ahmad. Si pasien menceritakan semuanya kepada kami tentang satu kejadian yang menyangkut mang Ahmad. Di satu malam, saat si pasien akan dilakukan pengisian khodam, seperti biasa mang Ahmad mengajaknya ke ruangan khusus tempat bermeditasi. Saat berada di dalam ruangan, sebuah ruangan yang mana beberapa bulan lalu aku juga pernah merasakan keanehan, si pasien diminta untuk memejamkan matanya selama dia akan diisi. Si pasien yang kini ingin membuang kembali isian gaib dalam tubuhnya itu sangat terkejut, saat mang Ahmad melakukan hal yang tak senonoh. Si pasien ini sambil menangis menceritakan kejadiannya pada kami. Bahwa dia diciumi dan sebagian tubuhnya yang vital diraba-raba. Kami semua hanya terdiam seribu bahasa setelah mendengar aduan si pasien. Bahkan yang lebih mengejutkan ialah bukan hanya si pasien yang saat ini bersama kami, ada tiga temannya lagi yang diperlakukan sama seperti si pasien. Sejak itulah aku dan Aga mengurungkan niat ke sana lagi. Dengan tidak mengurangi silaturahmi padanya. Paling tidak jika berpapasan kami biasa saling tegur. Satu hari Yusuf memberi kabar padaku dan Aga, bahwa kami akan diajak pergi lagi. Kali ini kami akan mengunjungi kota Lampung untuk mengobati orang. Tapi tidak dalam waktu cepat. Karena aku dan Aga harus menunggu beberapa hari ke depan untuk libur sekolah. Begitupun pihak keluarga si pasien di Lampung tidak menyuruh kami untuk buru-buru. Sempatkan waktu senggang jika bisa hubungi mereka. Yusuf tentu tidak akan berangkat jika tanpa ada kami. Pasien kali ini adalah seorang pria berumur sekitar 38 tahun yang memiliki gangguan jiwa. Mulanya dia normal, sehat jasmani dan rohaninya. Beberapa tahun kebelakang dirinya berguru pada seseorang yang masih bersangkutan dengan dunia spiritual. Namun sanad si guru itu tidak jelas. Dia hanya memerintahkan si pria yang kini tak waras itu untuk melakukan meditasi dan membaca mantra yang dia berikan dengan janji akan tercapai bila mengikuti perintahnya. Seiringnya waktu sudah lama sekali si pria ini diperintah dan hanya diperintah oleh gurunya yang tak dikenal, dia tak kunjung mendapatkan apa yang dia inginkan. Yaitu menjadi praktisi dan bahkan menguasai ilmu apapun yang berhubungan dengan ilmu gaib. Namun si guru itu hilang entah kemana. Dan pada akhirnya si pria ini banyak melamun dan berkhayal yang tidak-tidak yang menjadikannya kini tak waras. Dia kadang berbicara sendiri mengenai ilmu gaib sambil membaca mantra-mantra yang bukan bersumber Al-qur'an. Kadang dia juga memperagakan suatu jurus. Tapi sebenarnya dia tidak mutlak gila. Nanti kadang kala sewaktu-waktu dia normal. Sadar seperti biasa. Dan dia sendiri sebenarnya merasa bahwa dirinya kadang-kadang diluar kesadarannya. Mungkin karena ini semua awal dari niat yang terlalu berambisi dan tentunya nafsu untuk mendapatkan ilmu spiritual. Tepat pada hari Sabtu awal libur sekolah, aku dan Aga siap pergi bersama Yusuf. Kami segera packing semua persediaan. Terios putih yang sudah dicuci bersih siap melaju menuju pelabuhan Merak. Kami mesti menyebrangi laut. Mobil segera memasuki kapal dan kapal siap berlayar. Kami sampai Lampung sekitar Isya. Istirahat sejenak, shalat Isya berjamaah di salah satu masjid terdekat dan melanjutkan perjalanan ke rumah si pasien. Kedatangan kami ke sana sangat ditunggu dan di sambut baik. Seperti biasa kami tidak langsung melakukan pengobatan. Diawali dengan obrolan yang menyangkut awal mulai si pasien menjadi seperti sekarang. Memang saat sampai di sana, si pasien yang bernama Wira ini sedang kumat. Walau kami sedang berkumpul ngobrol, dia hanya bulak balik sambil bicara tak jelas. Setelah beberapa lama, Yusuf mulai mengajak Wira berkomunikasi. Sedikit demi sedikit kami mencoba merayu Wira duduk diantara kami. Dan dia mulai bisa diajak ngobrol secara baik-baik. "Kang Wira kenalkan saya Yusuf." kata Yusuf sambil mengulurkan tangannya ke Wira. Dan Wira hanya mengangguk. "Kang Wira pernah meditasi dimana?" tanya Yusuf. "Di hutan." dia menjawabnya sekaligus menyebutkan nama sebuah tempat yang menjadi tempatnya bersemedi. "Kang Wira selama bersemedi pernah mengalami gangguan apa saja?" tanya Yusuf lagi. "Saya didatangi kuntilanak, pocong dan ular besar." jawab Wira sambil tertawa dengan kencang yang membuat kami kaget sekaligus merinding. "Coba kamu minum air ini nanti kamu bisa lihat kuntilanak." kata Wira mengambil segelas air dan kemudian dia membacakan mantra dan memberikannya padaku. "Ayo minum." dia memaksaku untuk meminumnya. Kemudian air itu ku minum dan mengiyakan apa katanya tadi. Kami semua sangat iba melihatnya. Terutama ibunya yang sedari tadi menangis melihat kondisi anaknya yang sekarang. Kang Wira belum menikah. Tapi sebelumnya dia mempunyai pacar yang satu kampung dengannya. Namun setelah kondisi Wira seperti ini, pacarnya pergi meninggalkan nya. Bukan karena pacarnya tidak cinta padanya, namun orangtuanya lah yang menyuruhnya mengakhiri hubungan mereka. Dan kemungkinan besar juga kaum hawa tidak akan ada yang mau pada Wira. Padahal Wira berpengawakan bagus, tinggi tegap dan wajahnya tampan. Aku dan Aga mulai membacakan amalan-amalan dan dzikiran tertentu. Dengan beralaskan sajadah dan tikar di lantai. Sedangkan Yusuf terus mengajaknya berkomunikasi. Sampai akhirnya tersadar. Wira menangis dan mengucap nama ibu dan bapaknya. Tak lepas juga dia terus mengucap asma Allah. Keesokan harinya kami terus berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kang Wira. Dan hari berikutnya pun sama. Pada hari ketiga akhirnya Yusuf memutuskan untuk meminta keluarga Wira. Agar Wira sebaiknya dibawa saja ke Banten ke padepokan bapak Yusuf. Di sana Wira akan diurus dan dibimbing oleh mang Bule. Setelah berfikir panjang, akhirnya keluarga Wira termasuk ibunya pun mengikhlaskannya. Wira diantar oleh pamannya ke Banten, beserta kami dalam satu mobil. Di sini mesti butuh waktu untuk memulihkan pemikiran Wira. Pamannya pulang lagi ke Lampung. Setelah satu hari menginap di Banten di padepokan K.H Darhami. Dengan berjalannya waktu, atas izin Allah, Wira sedikit demi sedikit mulai pulih. Dia sangat berterima kasih kepada keluarga Yusuf. Sebenarnya Wira sudah sangat merasa nyaman dan betah di Banten, tapi dia mesti pulang dulu. Suatu saat mungkin bisa kembali lagi ke padepokan Yusuf dan bertemu dengan kami lagi. Wira selama di padepokan lebih rajin beribadah. Selalu ceria dan saling berbagi bersama kami. Sudah seperti keluarga sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD