Keesokan harinya di sekolah, pada jam istirahat, aku mendapatkan pesan w******p dari Yusuf.
"Di nanti malem pergi ke Ciheurit yah. Disuruh sama abah. Jangan lupa ajak Aga." katanya yang langsung ku balas pesannya.
"Sama ente juga kan?" tanyaku.
Tak lama dia membalas lagi.
"Gak. Kalian aja berdua."
Pikirku mana mungkin K.H Darhami menyuruh kami mengobati orang tanpa Yusuf juga. Namun Yusuf malah mengalihkan kepada kami.
"Ok insya Allah nanti ane kabari Aga dulu." kataku.
Ku chatting Aga ponsel nya sedang offline. Ku telpon biasa tidak diangkat juga. Kutunggu dia mengabari balik saja.
Sepulang mengajar dari sekolah, aku tidur sejenak. Menghilangkan sedikit rasa penat. Dan bangun tepat pada waktu Ashar. Kulihat di bawah ranjangku, Aga sedang terlentang. Nampaknya dia sudah sedari tadi tidur bersamaku. Ku bangunkan dia walau agak sedikit lama.
"Di kita yakin ke Ciheurit?" Aga meyakinkanku.
"Ya mau gimana lagi. Kata Yusuf kita disuruh langsung sama abah haji." jawabku yang padahal sudah kepikiran begini begitu.
Jadi Ciheurit adalah nama kampung yang masih berada satu kecamatan dengan kampung ku yang cukup terkenal dengan angker nya. Posisinya yang berada di pedalaman dan masih dilingkari hutan tentu kesannya menyeramkan. Sebelum menelusuri kampung Ciheurit, kami akan melewati kebun karet sejauh beberapa kilo.
"Bismillah saja." semangatku pada Aga.
"Bismillah." katanya juga.
Sebelum berangkat kami memberi Yusuf terlebih dahulu. Dia memberikan arahan pada kami. Dan adik si pasien yang akan kami tangani di Ciheurit ini sudah mengabari beberapa kali, bahwa kami harus segera ke sana.
Dengan yakin yang dibulatkan, kami berangkat tepat setelah shalat Maghrib.
Hawa-hawa mistis mulai kami rasakan. Sepeda motor melaju dengan sedang. Tidak ngebut tidak juga pelan. Aku dan Aga saling merasakan aura-aura negatif yang mulai mengganggu kami. Belum apa-apa kami di perjalanan sudah di cegat ular belang. Cukup besar dan panjang. Aga membunyikan klakson beberapa kali. Tapi ular itu tetap di tempatnya saja. Tak lama ku lempar ular itu dengan garam kasar. Yang sengaja ku bawa untuk jaga-jaga di jalan. Perlahan ularnya bergerak dan masuk ke dalam semak. Aku dan Aga melanjutkan perjalanan.
Pas sekali, tepatlah saat kami memasuki perkebunan karet itu yang banyak orang bilang bahwa sudah puluhan kali di sini warga melihat penampakan, lampu motor kami tiba-tiba mati. Kami berhenti, Aga menepuk-nepuk kepala motornya. Dan lampunya pun hidup kembali. Kami teruskan perjalanan sampai saatnya tiba di rumah si pasien.
"Assalamu'alaikum?" salam kami.
"Waalaikum Salam Warohmatulohi wabarakatuh." terdengar jawaban salam dari dalam.
"Kang Adi sama kang Aga ya?" tanya si pemuda yang membuka pintu. Kami mengangguk kan kepala.
"Mangga silahkan masuk kang." ajak si pemuda.
Si pasien kali ini adalah seorang perempuan uang sudah mempunyai dua anak. Sedangkan yang membuka pintu tadi adalah adiknya. Ada ibu dan bapaknya juga di sana yang ikut menyambut kami. Tapi suaminya sedang tidak ada. Karena belum bisa pulang dari Sulawesi yang masih bekerja. Kami sangat iba melihat nya. Katup matanya terlihat hitam karena efek kurang dari tidur. Dan yang membuat kami bingung untuk mengobatinya adalah sekujur tubuhnya bau busuk yang menyengat. Pantas saja kami lihat semuanya sedang menggunakan masker. Aku dan Aga mengajak si adik pasien itu keluar rumah sejenak.
"Sudah pernah di obati sebelumnya?" tanyaku pada adik si pasien.
"Sudah kang. Ke dokter sudah ke orang pinter juga udah beberapa kali." keluhnya.
"Kata dokter gimana?" giliran Aga bertanya.
"Bukan medis kang. Semuanya sudah di cek oleh dokter. dan hasil nya normal." jawab si pemuda.
"Ke orang pinter kemana aja?" tanyaku lagi.
"Banyak kang. Pokoknya terakhir kami di bawa ke tempat mang Ahmad." katanya.
Aku dan Aga saling tatap muka.
"Terus kata mang Ahmad gimana? " tanya Aga selanjutnya.
"Suruh di bawa lagi ke sana kang katanya. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan juga. Sudah empat kali di bawa ke sana. Kalau di bawa bulak-balik kasihan ke teteh saya nya kang" jawab si pemuda.
Tak sengaja dengan reflek kepalaku mengarah ke atas. Tepat di depan rumah si pasien ada sebuah pohon kelapa yang daun-daunnya sudah habis dimakan ulat. Aku ingat bahwa K.H Darhamj pernah berkata jika ada di sebuah pohon yang daunnya habis semua dimakan ulat, itu tandanya ada seseorang yang memiliki ilmu hitam dan akan melakukan perbuatan jahat. Aku ingin memberitahu Yusuf lagi. Tapi karena posisi kampung yang berada di pedalaman maka sinyal pun susah untuk di dapatkan. Aku dan Aga melangsungkan pengobatan. Dengan konsentrasi yang sedikit terganggu akibat baunya tubuh si perempuan yang busuk itu, kami terus berusaha semaksimal mungkin. Setelah kami bacakan beberapa kali amalan, si teteh itu mulai tak sadarkan diri. Kami diam sejenak setelah mendengar suara benda yang bergoyang. Tak lama kemudian gempa tiba dengan cukup kencang. Rumah yang 90 persen bermaterial kayu ini justru sangat terasa sekali jika ada guncangan yang cukup lumayan. Si ibu dan bapak lari keluar membawa anak si teteh itu. Sedangkan kami masih di dalam. sambil membaca amalan dan zikiran.
Saat mereka berada diluar, mereka melihat tetangga-tetangganya yang lain tidak ada yang keluar. Gempa sekencang itu tidak mungkin akan diam saja di dalam rumah. Setelah di telaah ternyata memang benar hanya rumah ini saja yang diguncang. Itu tandanya tidak sewajar. Pasti efek dari gangguan sihir itu. Dan guncangan reda dengan sendirinya. Tak sampai disitu, tiba-tiba suara gerangan terdengar di arah atap. Kami semua mengarahkan mata kami ke sana. Naudzubillah Min dzalik. Ada sosok makhluk besar yang menempel di langit-langit rumah. Matanya merah dan sekujur tubuhnya dipenuhi oleh bulu. Tapi makhluk itu hanya terlihat olehku dan Aga. Yang lainnya sama sekali tidak bisa melihatnya. Badanku mulai sangat terasa berat seperti ada tekanan dari makhluk itu. Aga membacakan amalan-amalan sambil menunjuknya. Perlahan makhluk itu pindah posisi. Dia menunju dapur. Aga menyusul nya. Sedangkan kedua kaki ku tidak bisa melangkah.
"Ga tunggu kaki ane gak bisa jalan." kataku dengan panik.
Dia terus melawan makhluk itu."
"Bismillah hirrohman nirrohim." kemudian k****a kan amalanku dan kakiku kini bisa bergerak. Ku susul Aga ke dapur tapi tidak ada siapa-siapa.
"Ga...Aga ku panggil dia berulang kali tapi tidak ada sahutan. Ku cari Aga ke sekeliling rumah tapi tak ada. Aku semakin panik saja. Segera kubuka ponselku berharap sinyal sudah ada. Tapi nyatanya masih saja kosong. Ingin ku beritahu Yusuf dan meminta bantuan nya. Sebab Aga menghilang begitu saja. Emosiku mulai terpancing, aku tantang makhluk itu karena dia pasti yang membawa Aga. Si Pasien mengamuk kerasukan. Dia menyebut namaku dan nama Aga berulang kali. Aku segera menghampirinya.
"Dimana Aga?" tanyaku pada si teteh yang sedang kerasukan itu.
Dia hanya terdiam saja. Karena keadaanku sudah marah, aku mencekik si teteh itu dan berkata lagi.
"Cepat katakan dimana Aga"
Si makhluk itu masih tertawa dan tak ingin menjawab ku. Wajahku tiba-tiba diludahi nya.
"Bismillahil malikil haqil mubin. Syahida Allahu annahu lailaha illa waulul ilmi qoiman bilqisti. Lailaha illa huwal azizul hakim. Inna dinna ingdallahil islam. Allahu nurus samawati wal ard." aku membaca kalimat itu sambil ku tempel kan telunjuk ku di jidatnya. Dan dia menjerit kesakitan.
"Cepat kasih tau dimana Aga." kataku sambil bernada tinggi.
"Dia berada di belakang rumah." katanya sambil memelototiku.
Dengan ditemani sebuah senter hp, aku segera ke sana. Ku panggil terus nama Aga namun masih tidak ada. Aku kembali ke dalam untuk menemui si pasien yang masih dalam kondisi kerasukan.
"Kau ingin mempermainkan ku?" tanyaku marah pada makhluk itu.
"Ayo berbuat sesuatu." ajakku kepada adik sj pasien.
"Aku tadi sudah berusaha mau ngabari kang Yusuf. Tapi sinyal masih jelek." jawabnya.
Kemudian dia malah menangis, ibu dan bapaknya serta anak si teteh entah kemana. Aku semakin bingung.
"Cepat baca Qur'an." pintaku pada si wanita itu dan dia segera melakukan perintah ku.
"Hey kalau masih tidak mau memberi tahu dimana Aga, dengan izin Allah akan ku hancurkan kau." kataku.
Sudah hampir kehabisan cara. Dibacakannya ini dan itu tidak mempan. Akan tetapi syir hatiku tiba-tiba ingin adzan. Mungkin dengan adzan makhluk jahat itu akan takluk. Berkumandanglah adzan dengan lantang. Aku menangis dengan spontan. Pasrah berharap pertolongan dari Allah.
"Kang kang ada suara kang Aga di belakang." kata si pemuda yang sedang mengaji. Sementara si teteh masih dalam keadaan kerasukan. Akhirnya ku tarik makhluk yang ada di tubuh si teteh itu. Langsung ku kepal dan membawanya ke arah belakang rumah. Ku leburkan makhluk itu. Kulihat Aga sedang berada di semak-semak pisang. Badannya tersender di pohon. Dia sudah dengan kondisi lemas dan segera ku gotong ke dalam rumah. Ku buang energi-energi negatif di tubuhnya. Aga menunjuk leherku. Bermaksud ingin memberitahu sesuatu.
"Masya Allah kang." kata si pemuda melihat leherku.
Tentu aku sangat penasaran. Aku segera memeriksa nya ke cermin lemari. Sangat kontras, ada 3 garis cakaran di leherku yang membuat kulitku seperti bekas terbakar, gosong, hitam dan lecet. Tapi sama sekali tidak terasa apapun.
"Terus gimana?" tanyaku pada Aga yang masih terkapar lemas.
"Ane udah gak kuat Di.?" keluhnya.
"Ya udah kita pulang aja." ajakku pada Aga.
"Kang gimana teteh saya?" tanya si pemuda.
"Malam ini kami akhiri sampai sini saja. Nanti saya coba tanya ke kang Yusuf." jawabku terburu-buru.
"Tapi kang... " kata si pemuda yang berharap kepada kami agar tidak meninggalkan nya.
Saat itu sekitaran jam sebelas aku dan Aga pamit. Meninggalkan si perempuan itu bersama kakak perempuan nya yang masih tak sadarkan diri. Ibu dan bapaknya entah kemana. Sebenarnya sangat berat bagiku untuk meninggalkan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus segera membawa Aga pulang.
Karena menurutku serangan gaib di sana begitu kuat. Hati dan pikiranku terus bertabrakan. Kepikiran si pasien. Tidak konsentrasi.
Sudah di perjalanan arah pulang, ku putuskan untuk putar balik lagi ke rumah tadi. Ku standarkan motorku. Ku rangkul Aga dan ku ajaknya masuk kembali. Ternyata si ibu dan bapak tadi mencari orang pintar. Kini mereka sudah berada di sana. Dan orang pintar itu segera mengatasi si pasien dengan tenangnya. Sambil dibacakannya sesuatu ke telinga si teteh anak dua itu.
"Kenapa kang balik lagi?" tanya si pemuda.
"Kami masih khawatir kalau kalian berdua saja tadi. Untungnya ibu dan bapak sudah kembali." jawabku dengan perasaan yang sedikit lega.
Ditambah setelah melihat si teteh sadar dan dia terus membaca istighfar. Keadaan kini sedikit tenang.
"Kalian bukannya tanggung jawab malah di tinggalkan." kata si orang pintar mengarah penglihatannya kepada kami.
Aku sangat tersinggung dan tidak enak hati.
"Serangan nya sangat kuat wa." kataku dengan hati-hati membalas ucapan orang pintar tadi.
"Kalau memang sudah tau jangan dipaksa." katanya lagi dengan wajah yang kecut.
Sekali lagi aku sangat sakit hati terhadap ucapan orang pintar itu. Si orang pintar itu masih berasal dari kampung Ciheurit. Namun dia biasa tinggal di sebuah saung kecil di area pemakaman keramat. Dia adalah seorang kuncen. Badannya tinggi kurus dan rambutnya sudah di penuhi oleh uban. Sangat menyesal sekali rasanya aku kembali ke rumah itu. Mereka akhirnya seolah-olah mengacuhkan kami. Lebih fokus pada obrolan si orang pintar. Kami tak lagi ditanya apapun. Dengan segala rasa frustasi aku dan Aga segera pamit. Saat ku starter motorku, si pemuda menyusul kami dan memberikan uang.
"Ini kang hanya bisa ngasi buat bensin." kata si pemuda itu sambil menyodorkan uang 50 ribu.
"Sudah tidak usah." tolak ku.
"Ini ambil aja kang." paksa nya sekaligus memasukan uang itu ke saku bajuku.
Sampai rumah ku ketuk pintu dan salam beberapa kali. Pasti ibu bapak dan kakakku sudah tidur. Tak lama dibukakan nya pintu oleh ibuku. Karena Aga masih dalam keadaan ku rangkul, ibu tiriku langsung panik.
"Kunaon Di?" sambil terlihat wajahnya yang kaget setelah kebangun dari tidurnya.
"Abis ngobatin mak." kataku sambil menggandeng Aga ke kursi. Aku kemudian memasukan motorku ke dalam. Ibuku langsung membangunkan bapakku. Karena dia juga melihat bekas cakaran makhluk gaib yang gosong di leherku. Ibuku membuatkan kami air hangat. Saat bapakku melihat kami, aku segera dimarahinya. Bapak memarahiku karena aku yakin dia sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Dan dia juga tahu resikonya seperti apa kalau sudah berurusan dengan yang gaib. Apalagi melawan ilmu hitam. Suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumahku. Ibu tiriku segera menengoknya dibalik jendela. Ternyata itu Yusuf.
"Assalamu'alaikum." salam Yusuf.
"Waalaikum salam." jawab kami.
"Kok ente tau kami sudah pulang?" tanyaku.
"Tadi yang dari Ciheurit ngasih kabar ke ane bahwa ente berdua kena serangan." jawab Yusuf sembari salaman kepada orangtuaku.
Kami pun dinetralkan oleh Yusuf. Sampai-sampai Aga muntah darah. Aku menceritakan semuanya di hadapan mereka. Sampai Yusuf malam itu rela menginap di rumahku. Karena dia khawatir jika aku dan Aga masih dibuntuti oleh makhluk bermata merah dan berbulu itu.