Aku dan Aga sudah lama tidak menemui Yusuf. Kami menjalankan aktivitas kami masing-masing. Tapi tidak membuat komunikasi kami mati. Hanya saja jarang bertemu. Kalau aku dan Aga masih sering bertemu.
Banyak kabar melalui mulut ke mulut bahwa aku dan Aga bisa menangani orang yang sakit non medis. Beberapa kali mereka meminta kami untuk mengajak Yusuf juga. Bagaimanapun aku dan Aga tidak bisa seenaknya mengobati orang begitu saja. Kami sangat merasa tidak enak hati dan tidak lengkap jika tidak dengan kawalan Yusuf. Sesekali aku ceritakan ini pada Yusuf. Tapi dia tetap masih ingin istirahat dulu. Bahkan dia mempersilahkan kami untuk mengobati orang. Dan dia hanya memberitahu kepada kami agar tetap waspada dan siap terima dengan segala resikonya. Aku dan Aga maju mundur. Kadang mau, kadang tidak. Mau karena ingin membantu orang, dan tidak ingin ada resikonya.
Tak hanya Yusuf, aku dan Aga pun vakum selama beberapa bulan. Tidak mengurusi hal-hal seperti itu lagi. Belagak tidak paham masalah dunia mistis jika ada yang bertanya mengenainya. Pokoknya kami mengacuhkannya. Yang pada akhirnya di kemudian hari, teman kecilku sewaktu SD menemui ku. Dan sangat kebetulan, Aga sedang menginap di rumahku. Temanku yang bernama Hafid ini sedang mencari bantuan. Dia sudah mendengar dari teman-temanku yang lain bahwa aku dan Yusuf sering mengobati orang. Salah satu keluarga dari temanku si Hafid ini mengalami gangguan aneh. Dan sudah di cap bahwa itu adalah ulah dari gangguan makhluk gaib yang jahat. Dia terus memaksaku walau beberapa kali aku menolaknya. Hafid sangat terlihat kecewa. Dan karena aku tidak ingin membuat teman lamaku itu kecewa, maka aku merekomendasikan nya langsung ke guru kami saja yaitu bapak Yusuf, K.H Darhami. Karena percuma jika kami meminta Yusuf untuk menanganinya. Hafid yang merasa serba kecil dan malu tidak ingin datang ke K.H Darhami dengan banyak sekali alasannya. Tapi dia juga dapat rekomendasi lain dari temannya bahwa tepatnya masih satu kecamatan dengan kami ada seorang praktisi yang lumayan handal untuk menangani gangguan hal mistis.
"Kalau begitu antar saja aku ke rumah mang Ahmad." kata Hafid padaku.
"Mang Ahmad mana? Praktisi juga?" tanyaku.
"Iya. Kata barudak mang Ahmad juga lumayan." jawabnya.
Aku dan Aga saling bertatapan muka dengan spontan nya. Kami kemudian ikut dengan Hafid.
Saat kami tiba di sana, ada beberapa tamu yang mungkin juga sedang berobat. Jadi kami hanya menunggu diluar untuk beberapa saat. Setelah cukup lama, para tamu itu pun pulang. Dan digantikan oleh kami.
"Assalamu'alaikum?" salam Hafid.
"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh." jawab mang Ahmad dengan lengkap.
"Mangga-mangga masuk." kata mang Ahmad mempersilahkan kami.
"Dari mana ini?" langsung tanya mang Ahmad.
"Ti kaler mang." jawab Hafid malu-malu.
"Neng bikin kopi lagi nih buat si akang-akang." kata mang Ahmad menyuruh istrinya membuatkan kopi untuk kami.
Seperti biasa percakapan yang dibuka oleh basa-basi. Sebelum Hafid menyampaikan apa maksud tujuannya datang kesini. Malam itu, di sofa yang cukup nyaman dengan hidangan kopi dan makanan-makanan ringan., sembari obrolan-obrolan serius mulai dilontarkan, dadaku terasa sesak, dan seperti ada yang mengusap-usap. Aku dan Aga hanya terdiam. Tiba-tiba mang Ahmad terdiam dan memejamkan matanya. Hafid hanya melongo memperhatikan kami.
"Wah para karuhun dari mana ini?" tanya mang Ahmad yang matanya masih terpejam.
Aku dan Aga tentu paham apa yang dimaksud mang Ahmad. Dia bertanya mengarah pada kami. Namun diantara aku dan Aga tidak ada yang menjawabnya. Dia pun membuka matanya sambil tersenyum.
"Wah si akang berdua ini sudah ada isinya." kata mang Ahmad menunjuk aku dan Aga.
"Isi apa mang?" tanya Aga belagak tidak mengerti.
"Ah pura-pura gak paham si akang mah." kata mang Ahmad memegang halus lutut Aga.
"Puasa apa instan?" tanya mang Ahmad lagi.
"Puasa." jawab kami.
Maksudnya menanyakan puasa dan instan adalah apakah yang sudah kami dapatkan itu dengan cara berpuasa, meditasi, atau dengan cara yang instan, yang langsung memberi mahar kepada seorang praktisi untuk mengisi diri kami dengan hal semacam itu.
Mang Ahmad pun menceritakan profilnya. Dengan pengalaman yang sudah cukup banyak. Apalagi di dunia spiritual. Dia memberitahu kami baik buruknya berkecimpung di dunia seperti ini. Kami pun saling berbagi pengalaman. Pokoknya obrolan malam itu sangat seru. Sampai aku dan Aga bisa masuk ke dalam ceritanya mang Ahmad. Menurut kami mang Ahmad adalah salah satu orang yang fleksibel saat menanggapi pengalaman kami. Dia tidak fanatik. Karena keasyikan, kami sampai lupa kalau Hafid diabaikan.
"Begini kalau sesama praktisi sudah berkumpul." canda mang Ahmad sambil menatapku dan Aga.
"Wah jadi pengen belajar nih." celetuk Hafid.
"Coba sebutkan kakek atau buyut maneh yang masih bersangkutan dengan saudara yang sedang sakit ini." pinta mang Ahmad kepada Hafid.
Hafid pun menyebutkan nya. Mang Ahmad mulai melakukan pengecekan. Dia memejamkan matanya, sambil mulutnya membaca ayat-ayat Qur'an. Di samping itu, wajahnya sedikit demi sedikit memerah. Tangan kanannya terangkat sambil mengepal. Mang Ahmad kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau bisa nanti bawa aja kesini." kata mang Ahmad pada Hafid.
"Gangguannya cukup lumayan." tambahnya.
"Kapan kira-kira waktu kosong mang Ahmad?" tanya Hafid.
"Sabtu malam." jawabnya dengan cepat.
Malam itu kami semua berpamitan kepada mang Ahmad. Kemungkinan jika ada waktu luang aku dan Aga ikut lagi bersama Hafid kesini. Karena memang mang Ahmad pun menyuruh kami untuk datang lagi kesini.
Mang Ahmad juga adalah seorang yang sangat religius. Dia terus memberikan imbauan kepada kami untuk tetap menjaga kewajiban kami sebagai seorang muslim. Pesannya ialah bahwa praktisi harus bisa seimbang. Menurut kami mang Ahmad sejalan dengan paham kami.
Selang 3 hari kemudian, tepat Sabtu malam, nampaknya Aga juga tertarik untuk kembali menemui mang Ahmad. Hafid sudah memberi kabar padaku bahwa dia bersama saudaranya yang sakit sudah berada di rumah mang Ahmad terlebih dahulu. Aku dan Aga menyusulnya.
"Assalamu'alaikum," salam kami.
"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh." seisi rumah menjawab salam kami.
Mang Ahmad mempersilahkan dan menyambut kami dengan caranya yang khas dan ramah.
Di sana si pasien sudah mulai diobati oleh mang Ahmad. Dan mang Ahmad sesekali memintaku dan Aga untuk membantu nya. Tapi kami hanya diam saja. Mang Ahmad terus menerus mengajak kami untuk berkolaborasi. Bukan berarti mang Ahmad tidak mampu menanganinya sendiri. Melainkan dia memberi kesempatan juga kepada kami yang lebih muda sambil tazribah atau melatih apa yang kami punya. Mau tidak mau akhirnya kami turun tangan. Membantu mang Ahmad. Aku dan Aga membaca amalan-amalan, sedangkan mang Ahmad seperti melakukan terapi pada si pasien terus menerus cukup lama. Sampai saat mang Ahmad menekan si pasien dengan telunjuknya sambil dibacakannya ayat-ayat amalan, si pasien akhirnya muntah.
"Biasanya ada gangguan seperti apa." tanya mang Ahmad kepada si pasien.
"Saya diganggu lewat mimpi. Saya dibawa ke sana kemari oleh makhluk gaib." papar saudara si Hafid ini.
Mang Ahmad menjelaskan semuanya. Dan disambung pula dengan obrolan kami yang semalam. Sampai tak terasa waktu sudah larut malam. Si pasien dibekali air oleh mang Ahmad untuk dimandikan nya.
"Kalau nanti masih ada yang aneh-aneh yang terjadi sama kamu kabari lagi aja saya." tawar mang Ahmad kepada si pasien.
Biasanya yang datang ke mang Ahmad untuk diobati tak cukup sekali. Jadi menetralisir makhluk gaib di dalam tubuh si pasien itu butuh beberapa kali.
Keesokan harinya Hafid kembali menemui ku lagi. Dia mengajakku ke rumah mang Ahmad dengan niatan untuk meminta amalan-amalan atau mengijazah amalan yang digunakan mang Ahmad sekaligus ingin berguru padanya. Aku mengantarnya ke sana. Mang Ahmad dengan senang hati menerima Hafid sebagai muridnya. Dengan segala macam syarat dan tugasnya, Hafid siap menerimanya.
Hafid pertama kali diminta untuk melakukan puasa selama satu minggu dengan amalan yang sudah di tentukan. Sebelumnya Hafid juga dimandikan oleh mang Ahmad. Kata mang Ahmad Hafid mesti dibersihkan kembali. Aku, Hafid bahkan Aga sudah semakin erat dengan keluarga mang Ahmad. Rumah mang Ahmad sudah seperti rumah kedua kami. Hampir setiap malam kami ke sana. Dia tidak pernah merasa terganggu. Justru seperti inilah inginnya. Rumahnya selalu hangat, ramai oleh kami. Keharmonisan hubungan kami semua sudah seperti keluarga saja. Tapi walaupun begitu, aku dan Aga masih teguh pada prinsip ajaran guru kami. Bagi kami, setiap praktisi punya cara masing-masing untuk menangani pasiennya. Sedikit perbedaan tidak membatasi silaturahmi kami dengan mang Ahmad. Dia mempunyai cara yang sedikit berbeda dari kami pada saat mengobati si pasien. Contohnya dia harus selalu menyediakan buhur atau apel jin atau sejenis wewangian yang bisa dibakar, kopi pahit, dan bunga tujuh rupa. Seperti itulah media yang digunakan oleh mang Ahmad. Bagi kami, selagi dia menjalankan kewajibannya, shalat lima waktu, puasa ramadhan, dan amalan-amalan sunnah lainnya itu berarti masih sejalan dengan kami.
Semakin hari pasien mang Ahmad semakin bertambah. Banyak juga yang berguru padanya, termasuk teman-temanku. Hanya aku dan Aga saja yang tidak. Bahkan Yusuf sudah mendengar desas-desusnya. Dia mungkin berfikiran bahwa aku dan Aga kini lebih memilih berguru pada mang Ahmad. Padahal kami tidak.
Satu malam saat kami berkumpul di rumah mang Ahmad, memperluas obrolan mengenai dunia mistis, aku mulai tidak nyaman dengan kedatangan orang-orang baru termasuk sebagian temanku yang minta inilah itulah kepada mang Ahmad. Dan yang aku heran, mang Ahmad menuruti saja keinginan mereka. Padahal menurutku permintaan mereka lebih kepada hal yang akan menjadikan mudharat. Tapi terserah lah. Itu urusan mereka dan hak mereka. Hanya saja kurang sepaham denganku. Dan berbeda dengan apa yang kami kaji.
"Mang mau shalat." izinku ke mang Ahmad berharap dipersilahkan tempat.
"Iya di kamar aja. Di tempat mamang biasa." kata mang Ahmad menunjuk ke salah satu kamar yang biasa menjadi tempat nya bermeditasi. Saat ku masuki ruangan itu dan ku tutup pintunya, kurasakan hawanya sangat berbeda dengan di luar. Terasa hambar dan pengap. Padahal terdapat ventilasi di dalamnya. Tentu juga ruangan ini sangat harum. Misik, buhur dan wangi bunga. Sebuah sajadah yang sudah digelar tepat di depannya ada sepasang keris dan golok. Aku segera melakukan shalat isya dengan berusaha sekushyuk mungkin.
Di rakaat kedua saat aku membaca surat Fatihah tiba-tiba pundak kananku ada yang menepuk. Seperti ada seseorang yang ingin menjadi makmum. Pikiranku langsung buyar. Dan bulu kuduk ku naik. Sebab pintunya tadi sudah ku tutup. Otomatis saat ada orang yang masuk pasti terdengar. Aku langsung mengakhiri shalatku. Dengan membaca bismillah dalam hati, ku balikan badanku ke arah belakang. Benar saja, tidak ada satu pun orang di sana, kecuali aku. Merinding semakin kuat. Dengan jantung yang berdebar-debar, bagaimanapun aku harus tetap melaksanakan shalat isya. Dan kemudian aku mengulanginya. Yang kedua ini, saat posisiku di takhiyat akhir dan saat kupalingkan wajahku ke sebelah kanan untuk salam, terlihat olehku di belakang ada sesosok perempuan. Ku balikan lagi badanku tidak ada siapa-siapa. Aku semakin curiga dan penasaran. Pikiranku mulai bertanya-tanya dan berantakan. Ada apa sebenarnya di ruangan yang biasa digunakan mang Ahmad untuk shalat dan bermeditasi ini?
Apa mungkin hanya halusinasi ku saja. Tapi entah dengan yang menepuk pundak ku. Aku terus beristighfar dan meninggalkan ruangan itu. Kulihat semua masih dalam keadaan ngobrol. Dan aku terlihat seperti biasa saja. Tidak ingin menanyakan atau menceritakan apa yang terjadi padaku tadi. Saat itu pikiranku kacau. Yang ada aku ingin cepat pulang. Dengan rasa tidak enak hati, ku ajak Aga untuk pulang lebih dulu. Untungnya Aga mau.
Di setengah perjalanan, Aga berkata padaku.
"Di tadi mang Ahmad bilang bahwa dia pernah didatangi malaikat. Bahkan katanya pernah masuk ke dalam tubuhnya."
Mendengar Aga berkata seperti itu aku melongo saja.
"Menurut aing tidak masuk akal Di." kata Aga lagi.
"Tadi pas ane shalat, ane diganggu." kataku tiba-tiba.
"Diganggu gimana?" tanya Aga penasaran.
"Pas di rakaat kedua pundak ane ada yang nepuk. Terus waktu pas salam ane ngeliat dibelakang ane ada sosok perempuan." jawabku.
"Yang bener?" tanyanya meyakinkan.
"Ngapain aing ngada-ada." jawabku lagi.
Kami keduanya merinding. Aga mempercepat laju sepeda motornya.
Sebentar lagi sampai, di kampung tetangga, di sebuah rumah sedang ramai. Entah apa yang terjadi dengan kerumunan itu. Salah seorang laki-laki paruh baya, seorang Rt yang mengenaliku dan aku juga kenal padanya menghadang kami ke tengah jalan.
"Kang tolong minta bantuannya kang!" pinta pak Rt kepadaku.
"Kunaon pak Rt?" tanyaku.
"Itu si Neng Dewi digigit ular tanah tapi kesurupan." kata pak Rt.
"Udah dirajah sama wa Dudi tapi si makhluknya gak mau keluar." katanya lagi.
Aku dan Aga turun dari motor untuk segera menghampiri kerumunan. Saat kami akan masuk, Si makhluk itu mengetahui maksud kedatangan kami.
"Ngapain kalian kesini?" tanya makhluk itu sambil tertawa.
"Siapa kamu?" tanyaku sambil mendekatinya.
"Aing nininya si Dewi." kata makhluk yang berada di dalam tubuh Dewi.
"Bohong kamu!" kataku. Makhluk itu malah tertawa dan kemudian berkata lagi.
"Kalian jangan sok bisa."
Aga lalu menekan ibu jarinya dengan kuat, meyakinkan bahwa Dewi benar-benar kerasukan. Makhluk jail itu hanya tertawa tebahak-bahak. Kemudian Aga pun menariknya keluar. Dewi tak sadarkan diri. Aku cek berulang kali, makhluk itu memang benar-benar sudah tak ada. Tak lama Dewi pun sadar. Setelah basa-basi sebentar kami pamit.
Sampai depan rumah, Aga pamit langsung pulang. Tidak menginap di rumahku. Dia ke dalam kamarku mengambil laptop dan tasnya. Katanya besok pagi dia harus datang lebih awal ke sekolah karena ada acara mendadak. Walau terus ku paksa untuk menginap dan kutakut-takuti, dia kekeh ingin pulang.
"Hati-hati awas ada yang jegat." candaku.
"Ditabok." jawabnya langsung tancap gas.