"Apa pintunya sudah benar?" tanya Aditya ketika dia tidak lagi mendengar suara yang mengganggu berasal dari pintu tua ini. Malam ini Aditya pulang lebih larut daripada malam-malam sebelumnya, Azura yang menunggu sampai merasa mengantuk di ruang tengah. Belum lagi baju yang Azura gunakan sangat tidak nyaman, membuatnya merasa kedinginan. "Iya Tuan, sudah benar." Aditya kemudian ingat bahwa pagi tadi dia kembali membanting pintu tersebut, harusnya saat ini pintunya jadi rusak semakin parah tapi kenapa malah jadi benar? "Siapa yang membenarkannya, kamu?" "Bukan, saya meminta tolong mas Fahri. Pagi tadi pintunya sudah tidak bisa ditutup." Aditya terdiam, mendengar nama asing dari mulut Azura tapi tidak membuatnya merasa tertarik sedikitpun. Terserah Fahri siapa, terserah Azura ingin mi

