Bab 7 - Baju

1049 Words
Selama ini Azura adalah gadis yang jujur, sekalipun dia tidak pernah berbohong kepada kedua orang tuanya. Apalagi sampai menyimpan sebuah rahasia besar. Jadi ketika menyembunyikan sesuatu yang sangat beresiko begini, Azura jadi terus merasa gugup dan was-was. Diam-diam Azura tidak ingin hamil dan menghianati kesepakatan yang telah dia buat dalam surat perjanjian pranikah, padahal sekarang Azura juga tahu bahwa tuan Aditya hanya memiliki kesempatan selama satu tahun untuk mendapatkan anak. Seperti janjinya pada sang istri, setelah satu tahun tuan Aditya tersedia untuk mencari bayi untuk diadopsi dan bayi itu adalah bayi yang harusnya Azura lahirkan. Kembali mengingat tentang hal itu membuat hati yang sudah semakin tidak tenang. Bahkan ketika menunggu Aditya pulang, Azura berulang kali meremat kedua tangannya sendiri. "Ya Allah, tenangkan aku, aku tidak boleh terlihat gugup di hadapan tuan Aditya." "Tenang Azura, tenaaaang," ucapnya malah geregetan sendiri. Sama seperti malam kemarin Aditya baru tiba di rumah saat malam sudah menjelang dan ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumah Azura langsung buru-buru membuka pintu. Secara alami kini Azura jadi selalu menunggu kepulangan pria berwajah dingin dan kaku tersebut, jadi kebiasaan yang dia lakukan beberapa hari ini. Saat Azura membuka pintu terdengar suara Krek yang sangat jelas, pintu itu seperti sedang menunjukkan diri bahwa usianya sudah lansia. "Kemarin pintu Ini masih baik-baik saja kenapa sekarang sampai ada bunyinya seperti itu?" tanya Aditya, dahinya sampai berkerut karena merasa tidak nyaman. Aditya merasa seperti tinggal di zaman kuno. Harusnya rumah ini dia hancurkan dan diubah jadi villa. 'Apa tidak bisa sebelum mengajukan pertanyaan lebih dulu mengucapkan salam?' balas Azura di dalam hati. "Jangan hanya diam, jawab pertanyaanku." "Maaf Tuan, kemarin pintu ini memang baik-baik saja tapi tadi pagi anda membantingnya jadi sekarang sedikit rusak." "Kamu menyalahkan aku? Rumah ini saja yang terlalu tua." Aditya kemudian coba untuk menutup pintu tersebut dan ternyata masih saja ada bunyinya. Suara yang sangat mengganggu telinga. 'Aku tidak menyalahkan, aku hanya menjawab pertanyaan Anda apa adanya,' balas Azura di dalam hati. Saat Aditya mulai masuk, Azura mengikuti. "Ambilkan aku minum," titah Aditya, dia pilih untuk duduk di ruang tengah. Merasakan sofa yang dimatanya sudah berpuluh-puluh tahun tidak diganti. "Baik, Tuan." Azura bergegas ke dapur dan mengambil segelas minuman. 'Tuan Aditya adalah suamiku, sudah selayaknya aku melayaninya seperti ini,' batin Azura. Semakin lama Azura juga semakin sadar bahwa pernikahannya sah di mata agama, terlepas tentang Perjanjian mengenai anak tapi Azura akan memperlakukan Tuan Aditya dengan baik. Bahkan tadi pagi sebenarnya Azura berniat pula menyiapkan sarapan untuk tuan Aditya, tapi sepertinya pria itu enggan untuk makan di sini. Malam ini juga sama, sebenarnya di atas meja makan sudah tersedia makanan hangat andai sewaktu-waktu tuan Aditya tersedia memakannya. "Kamu datang hanya membawa segelas air putih itu saja?" tanya Aditya, setelah Azura kembali ke hadapannya. Salah satu tangan wanita itu memegang gelas yang nampak kuno. Bagi Aditya semua hal yang ada di rumah ini benar-benar kampungan, karena itulah Aditya tak sudi berlama-lama berada di sini, apalagi sampai memindahkan baju-bajunya juga. Selama ini Aditya tinggal di sebuah hotel, tidak pulang ke rumah utama karena masih memiliki pekerjaan di daerah sini. Tujuannya datang ke sini hanya ingin membuat Azura segera hamil, selebihnya tak ada lagi. 'Ya Allah, Apa aku salah lagi? harusnya katakan saja aku harus bagaimana Jadi tidak bingung seperti ini.' batin Azura. "Maaf Tuan, Anda ingin apalagi?" tanya Azura, bicaranya terdengar jelas jika ragu-ragu. "Letakkan gelas itu di atas meja, lalu ambil s**u dan vitamin yang sudah kamu beli hari ini." "Baik," jawab Azura, dia pikir tuan Aditya ingin disajikan makanan ringan juga tapi ternyata pria itu lagi-lagi membahas tentang s**u dan vitamin. Setelah dari dapur, kini Azura meletakkan s**u dan vitamin di atas meja. Aditya mengangguk sebagai tanda setuju pada dua barang yang dibeli oleh Azura. Dulu Siena juga mengkonsumsi s**u dan vitamin itu, tapi memang kandungan Siena yang tidak subur jadi apapun s**u dan vitamin yang diminum tetap saja tidak membuahkan hasil. Mungkin sekarang jika Azura yang meminumnya akan memberikan dampak yang baik. Melihat tuan Aditya yang tidak marah-marah Azura reflek menghela nafasnya lega, seperti baru saja terhindar dari marabahaya. "Keluarlah, di mobil ada beberapa barang belanjaan untukmu," titah Aditya kemudian. "Di mobil?" "Ini kuncinya dan ambillah." Azura jadi bingung sendiri, tapi jika banyak bertanya takut dimarah. Alhasil Azura mengambil kunci mobil tersebut dan keluar. "Aduh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagimana caranya membuka mobil ini?" tanya Azura bingung. Bukannya tidak tahu sedikitpun tentang mobil, tapi mobil milik tuan Aditya ini sangat berbeda dengan banyaknya mobil yang diketahui oleh Azura. Bagaimana tidak, mobil milik Aditya ini adalah mobil mewah. Azura kemudian beranikan diri untuk menekan salah satu tombol di kunci mobil tersebut, sampai mobil berbunyi Tit dan membuatnya kaget. "Astaghfirullahaladzim," ucap Azura reflek, lalu coba membuka salah satu pintu dan ternyata bisa. tapi di dalam mobil itu tidak ada apa-apa. "Mana? katanya ada barang belanjaan?" Azura jadi bingung lagi. Terlebih pencahayaan di sini sedikit kurang, hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu kecil yang ada di halaman rumah. Sebagai rumah satu-satunya di area ini, suasana jadi terasa sangat sepi. Malam jadi terasa lebih gelap daripada tempat lain. Yang paling mencolok di sana hanyalah suara katak dan jangkrik yang seolah saling bersahut-sahutan. "Apa mungkin barangnya ada di bagasi ya?" gumam Azura, kemudian dia kembali menutup pintu dan menuju arah belakang mobil, melihat bagasi tapi bingung bagaimana cara membukanya. Baik orangnya ataupun mobilnya selalu saja berhasil membuat Azura kebingungan seperti ini. "Astaga, Kenapa kamu lama sekali!" pekik Aditya dari ambang pintu sana. Jika menyangkut tentang Azura dia selalu saja merasa tidak sabaran seperti ini, jadi bukannya tetap menunggu di ruang tengah Aditya akhirnya memutuskan untuk keluar. Melangkah dengan kaki lebar seolah ingin memangsa targetnya di depan sana. Azura yang melihat langkah kaki itu sampai pelan-pelan berjalan mundur karena takut. "Ma-maaf Tuan, saya tidak bisa membuka bagasinya," ucap Azura, bicara lebih dulu ketika tuan Aditya sudah berdiri di hadapannya. Sebelum dicaci maki Azura langsung mengaku seperti ini. "Jika tidak tahu makanya bertanya, Jangan hanya diam saja mulutmu itu!" dengan kasar Aditya kemudian membuka pintu bagasi mobilnya, hingga Azura melihat sudah banyak kantong belanjaan di dalam sana. "Bawa semua ini masuk!" "Baik, Tuan." Azura megambil semua paper bag tersebut. Karena di sini cukup gelap jadi Azura tidak tahu apa isi di dalamnya. Namun ketika sudah tiba di ruang tengah dan Azura meletakkannya di atas meja akhirnya Azura bisa melihat sedikit Apa isinya. 'Baju.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD