Bab 6 - Berbuat Curang

1022 Words
"Tidak bisakah mulutmu bicara?" tanya Aditya dengan nada geram, belum lagi tatapannya begitu intens ke arah Azura yang menunduk. "Dan satu lagi, setiap kali bicara denganku kenapa kamu selalu menunduk seperti itu? apa Aku sedang bicara dengan seorang patung?" tanya Aditya. Banyak sekali pertanyaannya sampai Azura tidak tahu harus menjawab yang mana dulu. Tapi dari semua pertanyaan itu tidak ada satupun yang terdengar enak di telinga Azura. Bahkan membuat Azura semakin bingung harus bersikap bagaimana, karena merasa apapun yang dia lakukan selalu salah di mata pria ini. "Dasar bisu," Maki Aditya, tak pernah tertahan amarahnya jika berhadapan dengan Azura. Meski itu bentuk makian selalu dilontarkan dengan gamblang. Bahkan setelahnya Aditya pilih langsung pergi meninggalkan dapur. Sejak tadi Aditya sudah menjelaskan panjang lebar, ini dan itu. Tapi tanggapan Azura hanya diam dan mengangguk kecil. Sebagai seorang pebisnis selama ini Aditya selalu mendapatkan respon dari lawan bicaranya, bahkan tak jarang melakukan kontak mata sebagai salah satu bentuk komunikasi. Tapi berhadapan dengan Azura benar-benar membuat kesabarannya memuncak sampai ke ubun-ubun. Wanita itu hanya diam saja, sementara Aditya harus menjelaskan semuanya. Pagi ini Aditya meninggalkan rumah dengan perasaan yang kesal, ketika menutup pintu Dia banting. BRAK!! suara kerasnya sampai terdengar hingga dapur, Azura yang masih berdiri di tempat sama dibuatnya berjangkit kaget. "Astaghfirullahaladzim," ucap Azura, dia sampai menyentuh dadanya yang berdegup. "Ya Allah, Kenapa Tuan Aditya membanting pintu seperti itu. Bagaimana jika pintunya rusak." Azura segera mencuci tangannya yang baru saja mengiris cabe, dia meninggalkan begitu saja kartu ATM yang diberikan oleh Aditya untuk berlari lebih dulu memeriksa pintu rumahnya. Rumah peninggalan kedua orang tua angkat Azura adalah rumah tua yang membutuhkan perawatan lebih, Jika dibanting-banting seperti itu bisa saja langsung mengalami kerusakan. "Tuh kan, ini jadi kendor," ucap Azura nelangsa, engsel pintunya jadi terlihat sedikit tidak rapat. Namun saat Azura mencoba menutup pintu untungnya masih bisa. Tapi jika tuan Aditya kembali membanting pintu ini, Azura yakin tidak akan bisa tertutup lagi. "Harusnya aku buat tulisan Jangan dibanting," ucap Azura, lalu menghela nafas kasar. Ini adalah rumah yang sangat dia sayangi. "Tapi jika membuat tulisan seperti itu nanti tuan Aditya tersinggung. Sekarang rumah ini bukan milikku lagi tapi milik tuan Aditya." Puas menatapi pintu utama rumah ini akhirnya Azura kembali lagi ke dapur dan melanjutkan aktivitasnya yang terjeda. Tapi ketika hendak mulai memasak akhirnya Azura melihat kartu ATM yang ditinggalkan oleh sang suami. "Passwordnya 123456, mudah sekali untuk dihafal. Berarti dia yang bodoh bukan aku," ucap Azura. Jika tidak ada pria berwajah dingin dan kaku itu Azura banyak bicara seperti ini, tapi entah kenapa ketika sudah berhadapan dengan Aditya mendadak mulutnya membisu. Aura yang dimiliki oleh Aditya selalu membuat Azura merasa terintimidasi, sedikitpun tidak ada kenyamanan. Mungkin sekitar jam sembilan barulah Azura pergi meninggalkan rumah. Kali ini Azura mendatangi sebuah pusat perbelanjaan yang lebih besar daripada kemarin. Meski tempatnya lebih jauh lagi tapi Azura tidak merasa keberatan sedikitpun, lebih baik dia merasa kelelahan daripada harus mendapatkan kemarahan Aditya . Azura bahkan langsung bertanya pada pihak kasir tentang produk s**u program hamil dan vitamin yang paling bagus dan mahal harganya. Namun penampilan sederhana Azura membuatnya di pandang sebelah mata. "Yang paling mahal dan bagus?" tanya sang kasir, sampai mempertanyakan kembali takut pelanggannya kali ini tidak bisa membayar. "Iya Mbak, yang paling mahal dan bagus," jawab Azura tanpa merasa ragu sedikitpun, di dalam dompetnya sudah ada kartu ATM yang diberikan oleh tuan Aditya. "Untuk s**u program hamil yang paling bagus ada di kisaran harga 2 juta, sedangkan vitaminnya bisa sampai 4 juta lebih. Anda yakin ingin membelinya?" "Iya, saya beli yang itu saja. bagian mana saya harus ambil ya Mbak?" "Anda tunggu di sini saja tidak apa-apa, biar teman saya yang ambilkan," jawab kasir tersebut, di sana memang tidak hanya dijaga oleh satu orang tapi ada tiga dan salah satunya langsung pergi untuk mengambil s**u serta vitamin yang akan dibeli oleh Azura. "Apa masih ada yang ingin anda cari?" "Tidak Mbak, s**u dan vitamin untuk program hamil itu saja," jawab Azura. "Oh satu lagi mbak, apa di sini juga ada obat pencegah kehamilan?" tanya Azura, mendadak teringat tentang hal ini dan langsung dia tanyakan. Namun mempertanyakan obat pencegah kehamilan tersebut tiba-tiba kedua tangan Azura penuh dengan keringat dingin, entah kenapa rasanya sangat beresiko ketika dia mengkonsumsi obat tersebut. Seolah kemarahan Tuan Aditya sudah ada di depan mata. Tapi sekarang Azura benar-benar bingung harus bagaimana. Memang benar bahwa rumah itu adalah hal yang paling berharga di dalam hidupnya, tapi Azura juga tidak ingin jika kalak anaknya hidup menanggung beban yang sama seperti dia. Hanya dikenal sebagai anak adopsi, padahal ibu dan ayahnya masih hidup dengan sehat. Tahu betapa sulitnya hidup dengan menanggung status tersebut Azura tak ingin mewariskannya pada sang anak. Daripada memberikan beban seperti itu lebih baik Azura tidak memiliki anak saja. Sementara sang kasir kembali dibuat bingung dengan pelanggannya satu ini, tadi membeli s**u untuk program hamil dan sekarang tiba-tiba mempertanyakan obat pencegah kehamilan. Sebenarnya siapa yang akan mengkonsumsi semua barang ini? "Ada, Apa Anda juga ingin membeli obat mencegah kehamilan?" "Iya," jawab Azura singkat. "Baiklah, kalau begitu langsung saya hitung ya? Apa ada lagi yang ingin Anda beli?" "Tidak, sudah cukup itu saja," balas Azura. Selesai berbelanja Azura langsung pulang ke rumah. Karena perjalanan cukup jauh jadi Azura tiba di rumah saat waktu sudah dzuhur. "s**u dan vitaminnya harus aku letakkan di dapur, tapi di mana aku harus menyimpan obat pencegahan kehamilan ini," gumam Azura bingung. Terus berpikir di dalam benak jangan sampai Tuan Aditya mengetahui tentang obat pencegah kehamilan yang dia beli. Kelak alih-alih meminum vitamin, Azura akan membuangnya ke wastafel dan menggantinya dengan obat pencegah kehamilan. Sementara susunya, Azura hanya akan pura-pura meminumnya. "Ya Allah, semoga jalan yang aku pilih ini sudah benar," ucap Azura, meskipun hatinya merasa takut sekali, tapi Azura terus memberanikan diri untuk berbuat curang. Pada akhirnya Azura benar-benar mengkonsumsi obat pencegah kehamilan tersebut, lalu menuju kamar dan menyimpannya di lemari pakaian miliknya sendiri. Tempat yang baginya tidak akan mungkin disentuh oleh tuan Aditya. Setelahnya Azura kembali ke dapur dan membuka s**u serta vitamin. Satu vitamin dia buang ke wastafel, sementara susunya hanya Azura buka seolah dia telah meminumnya. "Ya Allah, aku mohon jangan sampai tuan Aditya tahu tentang kecuranganku ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD