"Sekarang masuk, saat ini sampai satu minggu ke depan kita akan terus berhubungan badan," titah Aditya, tawa merendahkan Azura kini telah hilang dari bibirnya. Sekarang diganti dengan wajah datar dan sorot mata yang dingin,
Aditya juga tidak memiliki banyak waktu, secepat yang dia bisa Aditya harus membuat Azura hamil. Demi sang istri yang sangat dia cintai apapun akan Aditya lakukan.
Termasuk menikahi gadis kampungan ini demi mendapatkan keturunan yang sah keluarga Darmawan.
Bagi Aditya mungkin kalimatnya terdengar biasa saja, tapi bagi Azura kalimat itu sampai mampu membuat tubuhnya merinding ngeri.
Sebelum tangannya di tarik kasar seperti semalam, dengan terpaksa Azura menuruti keinginan pria tersebut. Masuk ke dalam kamar yang saat ini hawanya sudah berubah.
Bukan lagi kenyamanan yang Azura rasakan, melainkan perasaan takut dan hina yang menjadi satu.
'Bagaimana caranya agar aku tidak merasa serendah ini?' batin Azura, dia memberanikan diri berbalik ke arah tuan Aditya ketika telah tiba di samping ranjang.
'Dia suamiku, ya ... Aku harus berpikir seperti ini,' batin Azura lagi. Meski hanya pernikahan sementara tapi waktunya cukup lama.
Azura tidak ingin selalu merasa dilecehkan, tak ingin merasa tubuhnya kotor jika menganggap Tuan Aditya adalah orang asing. Satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh agar merasa wajar dengan Ini semua adalah menganggap Tuan Aditya sebagai suaminya.
'Tuan Aditya adalah suamiku, tuan Aditya adalah suamiku, tuan Aditya adalah suamiku.'
"Lepas."
"Iya Tuan," jawab Azura patuh, meski hanya satu kata tapi dia langsung paham apa maksudnya. Tuan Aditya ingin Azura melepas hijab dan bajunya seperti tadi malam.
"Kenapa kamu selalu menggunakan hijab meski berada di rumah?" tanya Aditya, dia yang melihat saja rasanya begitu panas. Sekujur tubuh Azura ditutup rapat, membuatnya sulit untuk mendapatkan gairah.
"Tidak apa-apa Tuan, sejak kecil saya sudah terbiasa seperti ini," balas Azura, sekarang hijabnya mulai terlepas ... Azura meletakkannya dengan rapi di atas meja rias. Meja yang berada tepat di samping ranjang Azura.
"Bisakah menggunakan baju yang lebih terbuka? di rumah ini tidak ada siapapun kecuali aku."
Azura terdiam, bingung harus menjawab bagaimana. Lebih tepatnya Azura tidak tahu harus menjawab apa. Memang benar, karena ijab kabul yang diucapkan tuan Aditya waktu itu membuatnya berhak atas tubuhnya saat ini.
Tapi masalahnya Azura tidak memiliki baju yang dimaksud oleh tuan Aditya, semua bajunya adalah gamis, bahkan untuk baju tidurnya juga.
"Kenapa malah diam?"
"Maaf Tuan, tapi saya tidak memiliki baju yang anda maksud. Semua baju yang saya miliki seperti ini, hanya berbeda warnanya saja," jelas Azura, tutur katanya selalu saja terdengar lemah lembut.
"Benar-benar kampungan," balas Aditya. "Tapi apa kamu tahu, penampilanmu yang seperti ini tidak membuatku b*******h sedikitpun."
'Ya Allah, Tuan Aditya adalah suamiku. Tuan Aditya adalah suamiku, haknya untuk bicara seperti ini, bukan untuk merendahkan,' batin Azura.
Sementara Aditya menghela nafas kasar, rasanya tak pernah puas tentang Azura. Selalu saja ada hal yang membuatnya ingin marah.
Andai sedikit saja Azura memiliki sikap seperti Siena, mungkin semuanya akan berjalan dengan baik.
Tapi sayangnya Siena terlalu sempurna untuk disandingkan dengan gadis kampungan ini. Sampai kapanpun Azura tak akan pernah memiliki sedikitpun sikap yang dimiliki oleh sang istri.
Selesai menanggalkan semua bajunya, Azura duduk di tepi ranjang. Memejamkan mata saat tuan Aditya mulai menjamahnya dengan lembut.
"Jangan sampai aku melihat air matamu."
"Tidak Tuan, malam ini saya tidak akan menangis."
"Bagus ... Jangan merasa kamu yang paling teraniaya. Pernikahan ini tidak akan terjadi tanpa kesepakatan kita berdua."
"Iya Tuan, Ah!" pekik Azura sebab penyatuan yang dilakukan oleh Aditya begitu tiba-tiba. Membuat Azura terkejut dan sontak memejamkan mata.
Saat Aditya mulai berpacu maju mundur Azura terus bicara di dalam hatinya, 'Tuan Aditya adalah suamiku, tuan Aditya adalah suamiku.'
Terus bicara seperti itu sampai semuanya berakhir.
'Ya Allah, kenapa aku masih merasa hina juga. Padahal aku sudah menganggap tuan Aditya sebagai suamiku,' batin Azura lirih.
Di mata Aditya, Azura serupa gadis bisu yang tidak bisa bicara. Dia mana tahu jika sebenarnya Azura selalu membatin.
Banyak sekali hal yang Azura ucapkan di dalam hati, entah itu bicara pada diri sendiri atau bicara pada sang kuasa. Semuanya Azura curahkan, meski tidak diketahui oleh siapapun.
"Kamu belum tidur?" tanya Aditya dengar suaranya yang terdengar terengah. Belum habis sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia dapatkan.
Mendengar pertanyaan itu Azura langsung memejamkan mata, tidak menjawab dan pura-pura terlelap.
Saat pagi datang Azura kembali bangun lebih dulu. Tapi kali ini tuan Aditya seolah tidur lebih lelap dari kemarin.
ketika Azura keluar dari dalam kamar mandi dilihatnya pria itu masih tidur juga, bahkan sedikitpun tidak ada tanda-tanda bahwa sebentar lagi akan bangun.
Azura akhirnya memutuskan untuk shalat subuh di kamar mendiang kedua orang tuanya. Sungguh, Azura sedikitpun tidak ingin mengganggu tidur pria tersebut.
Bukan apa-apa, lebih baik Aditya tetap tidur agar Azura bisa merasakan ketenangan di rumah ini. Karena di saat pria itu membuka mata pasti akan ada saja hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku akan pergi sekarang, ingat untuk membeli s**u dan vitamin dengan kualitas yang paling bagus. Bila perlu datangi seorang dokter ternama dan dapatkan resep," ucap Aditya, dia meletakkan sebuah kartu ATM di atas meja dapur.
Saat ini Azura tengah memasak untuk sarapan, namun tiba-tiba Aditya datang dengan penampilannya yang sudah rapi. Sontak saja Azura menghentikan semua aktivitas.
Jika ada tuan Aditya di hadapannya maka Azura hanya boleh fokus pada pria tersebut. Dan meskipun tidak menatap wajahnya, tapi Azura masih bisa melihat tubuh tegap sang suami.
Sungguh, Azura tak tahu ke mana suaminya ini akan pergi. Kenapa tuan Aditya tidak pernah membawa bajunya pulang ke rumah ini. Tiap hendak pergi begini, tuan Aditya masih menggunakan bajunya yang kemarin sore.
Seolah rumah ini seperti hanya singgahan semata, bukan rumah yang sesungguhnya bagi pria tersebut.
"Passwordnya 123456, ada 250 juta di dalam ATM ini, gunakan sesukamu asal bisa secepatnya hamil."
Azura mengangguk. 'Ya Allah, banyak sekali uangnya. Harusnya 350 juta tidak berarti apa-apa untuk tuan Aditya, harusnya dia bersedia menjadikan uang itu sebagai hutang ku, bukannya malah mengajukan perjanjian pra nikah.' keluh Azura.
'Ya ampun, apa yang aku pikirkan. Tentu saja dia melemparkan surat perjanjian itu. Karena yang dia inginkan adalah anak, bukan uang ataupun rumah ini,' batin Azura lagi.
"Apa kamu bisu?" tanya Aditya sinis, sebab Azura hanya diam.