Bab 4 - Harus Membeli Obat Pencegah Kehamilan

1011 Words
Azura makin menunduk, tak kuasa untuk mengangkat wajah dan melihat kemarahan pria tersebut. Di luar kendalinya tiba-tiba air mata Azura jatuh. Meski hanya anak angkat namun selama ini Azura selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, tak pernah sekalipun dia mendapatkan makian sekejam yang diucapkan oleh tuan Aditya. Bukan tanpa alasan kenapa Azura membeli s**u dan vitamin yang paling murah, karena Azura merasa tak leluasa ketika menggunakan uang pemberian tuan Aditya. Azura justru berfikir dia harus menghemat-hemat uang itu, tapi ternyata dugaannya salah dan kini membuatnya jadi dihina-hina. "Aku bilang lakukan segala cara agar kamu bisa secepatnya hamil," geram Aditya, "Bahkan jika uangnya kurang Katakan padaku, bukannya malah membeli produk murahan seperti itu!" "Maafkan Saya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu, Saya justru takut menghabiskan uang anda." "Bodoh, orang miskin sepertimu memang tidak bisa berpikir dengan benar!" geram Aditya, segala hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan pada sang istri pertama kini seperti dilampiaskan sepenuhnya pada Azura. Setelah puas memaki Aditya pun meninggalkan dapur tersebut, sementara Azura masih tertinggal di sini. Menatap s**u kotak yang isinya sudah berserakan di lantai, juga botol vitamin yang sudah pecah. Dapur ini jadi terlihat sangat berantakan. "Jangan menangis Azura, jangan menangis. Lebih baik segera beres kan ini semua," ucap Azura, bicara pada dirinya sendiri. Isak tangisnya terdengar dengan jelas, sebelum memunguti semua s**u yang kini jadi sampah Azura lebih dulu menghapus air matanya. Berulang kali menarik dan membuang nafasnya agar tenang. Jika seperti ini keadaannya bagaimana bisa dia tidak menggunakan perasaan? Sulit, sangat sulit untuk Azura lakukan. Terlebih lagi Azura memiliki hati yang lembut. Selesai membereskan kekacauan yang ada di dapur Azura tidak tahu lagi harus ke mana, tiap kali Tuan Aditya datang ke rumah ini Azura jadi merasa tidak leluasa. Ini rumahnya tapi seperti bukan rumahnya lagi, Azura justru memilih hanya duduk di ruang tengah. Menatap televisi di depan sana yang bahkan tidak berani untuk dia hidupkan. Azura meremat ujung hijabnya sampai terlihat kusut, menatap jam di dinding berharap malam ini akan segera berakhir. Namun jam terus bergulir ke kanan sampai waktu menunjukkan nyaris jam 9, tapi tuan Aditya juga tidak memberinya perintah apapun. Ragu-ragu Azura mulai berdiri dan berjalan menuju kamar, pintu itu tidak tertutup rapat. Semakin dekat samar-samar Azura mendengar Tuan Aditya seperti berbicara dengan seseorang di dalam sana. Sungguh, sebenarnya Azura tidak ingin menguping. Tapi ketika langkahnya berhenti di depan pintu dia mampu mendengar dengan jelas semua pembicaraan itu. "Beri aku waktu Siena, Aku juga ingin mengadopsi seorang anak. Tapi bukan sekarang," ucap Aditya dengan suaranya yang terdengar begitu lembut. Azura sampai terkejut sendiri saat mendengar suara tersebut. beberapa saat lalu nada bicara Tuan Aditya begitu tinggi, namun kini tuan Aditya seperti menjelma jadi orang lain. Tak hanya bicara dengan perlahan, tapi terasa pula penuh perhatian. Azura langsung menyadari satu hal, mungkinkah saat ini Tuan Aditya tengah terhubung melalui sambungan telepon dengan sang istri sahnya. 'Kenapa tuan Aditya bicara seperti itu? Adopsi anak?' batin Azura, bingung. Kenapa Tuan Aditya harus mengadopsi anak, sementara saat ini beliau sedang berusaha untuk memiliki anak kandungnya sendiri. 'Apa mungkin istri tuan Aditya juga tidak mengetahui tentang pernikahan ini?' batin Azura lagi, jadi menerka-nerka yang tak pasti. "Sampai kapan aku harus menunggu Mas? kamu selalu sibuk dengan pekerjaan, sementara di rumah aku sendirian. Jika ada anak di rumah ini aku tidak akan kesepian lagi," jawab Seina di ujung sana. Aditya dan Siena sudah menikah selama 6 tahun, tapi selama itu pula mereka belum di karuniai anak. Mereka berdua sudah melakukan pemeriksaan kesehatan dan ternyata yang bermasalah adalah Siena. Namun karena Aditya begitu mencintai istrinya dia merubah hasil pemeriksaan kesehatan tersebut, membuat seolah Aditya yang memiliki masalah. "Beri aku waktu setidaknya satu tahun ini, setelahnya ayo kita cari bayi untuk diadopsi. Ya?" Jawab Aditya membuat penawaran. "Bukankah itu terlalu lama?" "Sayang ... sekarang pekerjaanku di perusahaan sedang banyak-banyaknya. Aku juga ingin ketika kita mengadopsi anak nanti kita mengurusnya berdua." "Benarkah? janji ya, satu tahun ini saja." "Iya, aku janji," balas Aditya. Azura memang hanya mampu mendengarkan dari satu sisi, tapi dia bisa langsung memahami situasi yang terjadi. Tuan Aditya berencana membuat anak kandungnya sendiri bersama Azura, tapi nanti anak itu akan diakui sebagai anak adopsi pada sang istri pertama. 'Ya Allah, kenapa aku harus terikat dalam hubungan yang rumit seperti ini.' batin Azura, dia pikir tuan Aditya akan mengakui anaknya secara terang-terangan. Bukan justru memperkenalkannya pada dunia sebagai anak angkat. Pikiran Azura jadi kembali bimbang, antara haruskah dia hamil atau tidak? Sebab kelak anaknya pun akan hidup sama seperti dia. Dikenal lingkungan hanya sebagai anak angkat yang tak jelas asal usulnya. "Kamu menguping pembicaraanku?" tanya Aditya yang tiba-tiba membuka pintu jadi lebih lebar. Deg! Azura tersentak, namun tak bisa kabur, kedua kakinya seperti diikat rantai. Sibuk dengan pemikirannya sendiri Azura sampai tidak sadar ketika tuan Aditya mengakhiri panggilan teleponnya. "Apa yang sudah kamu dengar?" tanya Aditya, setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan sang istri dia melihat sebuah bayangan di balik pintu. Tak perlu ditanya milik siapa bayangan tersebut, jelas wanita inilah pemiliknya. "Ma-maaf Tuan, sa-saya Baru saja datang ke sini. Saya tidak mendengar apapun." "Jangan bohong." "Tidak," jawab Azura dengan cepat. Aditya terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia kembali buka suara. "Anak yang akan kamu lahirkan nanti memang akan aku perkenalkan sebagai anak adopsi pada istriku," ucap Aditya gamblang. "Apa itu masalah untukmu?" Azura terdiam, lidahnya mendadak kelu. Sedangkan Aditya malah terkekeh pelan melihat wajah Azura yang pias. "Apa kamu berpikir aku akan memperkenalkannya sebagai anak kita berdua. Cih! pemikiranmu benar-benar sudah terlalu jauh Jika seperti itu," kata Aditya. Azura makin tak berkutik. "Memperkenalkannya sebagai anak adopsi justru jauh lebih terhormat daripada memperkenalkannya sebagai anakmu, paham?" tanya Aditya Dan Azura menganggukkan kepalanya di antara ketidakberdayaan ini. 'Ya Allah, Jika seperti ini keadaannya hamba tidak ingin hamil. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah? Hamba mohon, beri hamba petunjuk.' lirih Azura di dalam hati. Salah besar Azura pernah menggantungkan harapan pada tuan Aditya, berharap kelak anaknya akan dilimpahkan kasih sayang. Tapi ternyata justru akan diperkenalkan sebagai anak adopsi. Meskipun benar nanti kasih sayang itu ada, tapi tetap saja status adopsi adalah luka. 'Aku harus membeli obat pencegah kehamilan.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD