Bab 3 - Apa Kamu Bodoh?

1026 Words
Azura jadi tertegun ketika mendengar ucapan tuan Aditya. Bagaimana bisa dia tidak melibatkan perasaan dalam hubungan yang begitu rumit seperti ini. Hatinya pasti terganggu, pikirannya pasti tidak tenang. Bagaimana caranya agar membuat hati ini mati rasa? Jika bisa, Azura juga ingin melakukannya. "Aku akan pergi sekarang, tapi malam nanti aku akan kembali. Jadi persiapkan dirimu dengan baik," ucap Aditya seraya bangkit dari duduknya. "Aku tidak ingin kejadian seperti semalam kembali terulang, seolah aku sedang memperrkosa mu," katanya lagi tanpa ada tedeng aling-aling. Lihatlah ... kata-kata itu saja sudah berhasil membuat hati Azura berdenyut nyeri. Pernikahan ini memang hanya sementara, hanya sebuah kesepakatan. Tapi tidak bisakah sedikit saja Azura dihargai. Pantaskah kata memperkossa disebutkan dalam keadaan seperti ini? Disaat inti tubuhnya bahkan masih terasa sakit. Namun Azura bukalah seorang wanita yang berani mengungkapkan isi hati, segala perasaan yang tak nyaman sudah terbiasa dia pendam sendirian. Jika mengadu, mungkin hanya berani Azura lakukan pada sang kuasa. Azura lantas mengangkat wajahnya ketika merasakan tuan Aditya akhirnya keluar dari dalam kamar. Secara perlahan Azura juga membuang nafasnya dengan perlahan, sejak kemarin baru saat ini Azura bisa bernafas dengan lega. "Ya Allah," ucap Azura, seperti tengah membuang semua perasaan yang mengganjal di dalam hati. Ketika terdengar suara mobil milik Tuan Aditya mulai berbunyi, Azura berjalan mendekati jendela kamarnya. Berdiri di sini dia bisa melihat dengan jelas ketika mobil itu akhirnya meninggalkan halaman rumah. Sungguh, Azura tidak tahu informasi apapun tentang pria itu. Di mana rumahnya, siapa istrinya dan di mana tempat kerjanya. Berjalan ke arah ranjang, Azura melihat sejumlah uang yang tuan Aditya tinggalkan. Banyak sekali, saat dia ambil dan hitung ternyata ada 10 juta. "Mas Hilman dan mas Yuda tidak perlu tahu tentang pernikahan ini, aku akan menghubungi mereka setelah berhasil mendapatkan rumah ini kembali," ucap Azura dengan yakin. Masih saja Azura terpikir tentang kedua kakaknya tersebut, padahal kedua kakaknya lah yang sudah menjual rumah ini. Yang menempatkannya di posisi sesulit ini. Namun Azura selalu mampu berpikir baik jika menyangkut keluarganya. Kata mas Hilman beliau butuh uang untuk menambah dana usaha, begitupun mas Yuda. Jadi rumah ini harus dijual. Menjelang siang setelah membereskan rumah Azura akhirnya pergi ke sebuah toko. Jaraknya cukup jauh dari rumah, dia pergi dengan mengemudikan motor. "Azura, bukankah rumah mendiang kedua orang tuamu sudah dijual? Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya penjaga toko tersebut. Kabar ini memang telah simpang siur beberapa hari ini. Bahkan ada kabar pula yang mengatakan bahwa rumah itu telah dibeli oleh seorang pengusaha dari kota. Azura tersenyum hambar, "Iya Bu, rumah itu memang sudah dijual. Tapi pemiliknya masih memberiku kesempatan untuk tinggal di sana." "Oh ya ampun, tapi pasti hanya sementara kan. Lalu apa rencanamu nanti?" "Sedang aku pikirkan," jawab Azura, lantas urung niatnya untuk membeli s**u program hamil dan vitamin di toko ini. Apa kata orang-orang nanti ketika mengetahui dia membeli dua benda tersebut, sementara pernikahannya masih serupa rahasia. Yang orang-orang tahu dia adalah gadis single. Alhasil Azura hanya mengambil sebuah pasta gigi dan segera membayarnya. "Hanya beli ini saja?" tanyanya dengan dahi berkerut, berpikir mungkin saja Azura sudah tidak memiliki uang lagi. "Iya Bu." "Lebih baik sekarang kamu mulai cari pekerjaan Azura, tidak selamanya kamu bisa bergantung dengan kedua kakakmu." Azura mengangguk, hanya bisa mengangguk. Keluar dari toko itu Azura pergi ke toko yang lebih jauh. Berbelanja di tempat orang-orang yang tidak mengetahui tentang kehidupannya. Ketika sudah pulang Azura tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia lebih dulu berdiri di halaman dan menyaksikan rumah sederhana ini. Bibirnya tersenyum kala teringat semua kenangan indah yang ada di sini. Ketika Azura dan sang ayah menanam bunga, ibu datang dengan membawa pisang goreng. Lagi-lagi bibir Azura tersenyum, dia tidak akan mendapatkan semua kenangan indah itu andai kedua orang tuanya tidak mengadopsinya dari panti asuhan.  "1 tahun ya Allah, hamba mohon satu tahun saja untuk menyelesaikan semua masalah ini. Hamba mohon," pinta Azura. Sebelum tuan Aditya datang, Azura menyempatkan diri untuk merapikan tanaman bunga di halaman. Ada beberapa pot yang bunganya sudah layu bahkan mati. "Nanti rumah ini akan jadi milik kita lagi, jadi Aku akan terus merawatnya diri sekarang," ucap Azura, mulai bisa riang ketika mengurus rumah tersebut. Azura saat ini masih berusia 21 tahun, setelah lulus SMA tugasnya hanya merawat kedua orang tuanya yang mulai sering sakit. Azura tak pernah bekerja, tak tahu seperti apa dunia kerja itu. Dulu segala kebutuhan rumah ini ditanggung oleh kedua kakak laki-lakinya dan sekarang Azura masih belum tahu harus bagaimana. Ketika Matahari mulai beranjak turun, Azura masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuh. Mungkin sebentar lagi Tuan Aditya akan tiba dari kota. "Jangan menggunakan perasaanmu Azura, jangan terpengaruh apapun oleh pria itu. Kata-katanya ataupun tatapannya," ucap Azura, mulai membentengi diri agar tidak merasa sakit hati. Sekitar jam 8 malam Azura akhirnya mendengar suara mobil yang mulai memasuki halaman rumah. Reflek Azura berlari untuk membuka pintu utama, takut membuat tuan Aditya menunggu dan membuatnya marah. Ini adalah pertemuan kedua setelah banyak hal yang terjadi, namun bagi Azura rasanya masih tetap mencekam. Azura masih tidak berani mengangkat wajahnya ketika berhadapan dengan pria tersebut. "Tutup pintunya," titah Aditya. 'Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,' jawab Azura, pria di hadapannya ini benar-benar tidak tahu sopan santun bukannya mengucapkan salam tapi malah langsung memberi perintah. Entah kehidupan seperti apa yang dijalani oleh tuan Aditya di kota sana, Azura juga tidak ingin tahu. "Kamu sudah membeli apa yang Aku perintahkan tadi?" "Sudah, Tuan." "Mana?" "Ada di dapur." "Aku ingin memeriksanya," balas Aditya, Dia berjalan menuju dapur yang ada di rumah ini dan Azura mengikutinya seperti anak itik. "Tunjukan padaku." "Ini, Tuan," jawab Azura, buru-buru membuka sebuah laci dan mengeluarkan s**u dan vitamin yang telah dia beli. "Tadi saya sudah meminumnya_" BRAK!! Aditya justru membuang semua benda itu ke lantai, sebab yang Azura beli sangat murahan. Selama ini istri pertamanya selalu mengkonsumsi s**u dan vitamin yang terbaik, namun belum juga membuahkan hasil. Apalagi s**u dan vitamin murahan seperti ini, seolah Azura berniat untuk menghianati kesepakatan yang telah mereka perbuat. Azura tak ingin hamil dan hanya membuang-buang waktunya dalam pernikahan ini. Padahal sungguh, Azura tidak tahu apapun tentang pemikirannya tersebut. Kini Azura justru menciut, kembali dipeluk oleh rasa takut. "Aku memberimu uang 10 juta dan kamu membeli s**u dan vitamin murahan seperti itu ... Apa kamu bodoh?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD