“Langkah awal menuju kesuksesan, sudah Aku tapakkan kaki di kota Piramid ini. Ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari kesuksesan.”
~Anastasya Putri Alisya Firdaus-
~Muhasabah Cinta~
***
Mesir merupakan Negara Islam yang besar dan berpengaruh di belahan Benua Afrika. Negara ini berada pada posisi disebelah timur laut Benua Afrika yang merupakan pertemuan dua daratan, yakni Benua Asia dan Benua Afrika. Selain itu, posisinya juga dibelah oleh dua lautan yaitu laut tengah dan laut merah. Negeri beribu kota di Kairo ini memiliki luas wilayah sekitar 10.001.400 km persegi. Persentase pemeluk Agama Islam di Mesir mencapai 94%. Kota Mesir ini dikenal dengan kota Piramida. Ada banyak piramida-piramida yang berjejeran di kota Kairo, Mesir ini.
Mesir juga merupakan negara yang memiliki jasa besar bagi perkembangan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai perguruan tinggi, dan yang tertua adalah Universitas Al-Azhar di Kairo yang didirikan oleh Jauhar Al-Khatib As Saqili pada tanggal 17 Ramadan 359 H (970 M).
Awalnya, Al-Azhar hanyalah sebuah Masjid. Akan tetapi, Masjid Al-Azhar menerima status sebagai Universitas dan merubah namanya menjadi Universitas Al-Azhar pada tahun 1930 M.
Disini Tasya dan Zahira, berada di kota Kairo. Selama 12 jam perjalanan dari Jakarta menuju Kairo ini, akhirnya mereka telah sampai di Asrama.
Musim di Kairo saat ini adalah musim dingin. Selain musim dingin, Kairo juga memiliki musim panas. Dan kedua musim inilah yang menjadi hambatan para masisir untuk malas keluar rumah ataupun asrama. Namun, mereka harus tetap keluar demi mengejar cita-cita. Mungkin Tasya dan Zahira baru merasakan bagaimana dinginnya kota Kairo saat musim dingin. Suhunya mencapai 21 derajat Celcius. Sangat dingin bukan? Tapi tidak sampai mengeluarkan salju.
"Sya ... Kita harus terbiasa sama musim dingin dan panas deh," ucap Zahira yang kedinginan. Dia merapatkan jaket tebalnya. Sedangkan Tasya, dia juga menggigil kedinginan karena hawa dingin yang menusuk tubuhnya. Mungkin hari ini mereka akan beristirahat dulu, sebelum mengikuti Ormaba di kampus Al-Azhar.
"Iya Zah, kita harus terbiasa nih," jawabnya tak kalah menggigil dari Zahira.
Satu lagi. Mereka juga harus terbiasa dengan berdesakkan saat menaiki angkutan umum. Biasanya di Kairo hanya ada beberapa mobil pribadi, kebanyakan disini hanya ada angkutan umum. Seperti Bus, tremco (semacam Angkot) dan Metro (kereta bawah tanah).
Tasya maupun Zahira membereskan baju-bajunya dan ada beberapa mahasiswa yang berasal dari Indonesia di kamar asrama ini.
***
Orang-orang berlalu lalang, memenuhi kota Kairo ini. Banyak para turis yang berkunjung ke Kota Piramid. Dengan bahasa yang berbeda-beda, Tasya maupun Zahira harus terbiasa menggunakan bahasa Arab nasional Mesir ini yang disebut bahasa Arab Ameyyah. Mahasiswa Mesir diharuskan untuk belajar dua bahasa Arab. Bahasa Arab nasional dan Internasional. Sulit memang, namun apapun kesulitannya, Tasya akan tetap berusaha untuk belajar.
Dirinya yakin, perjuangan ini tak akan pernah sia-sia. Dan jika dia lulus nanti, ilmunya akan dia manfaatkan sebaik mungkin.
"Zah, kayaknya kita harus ke pasar deh, untuk bahan-bahan masak kita nanti, soalnya kalau beli di restoran agak mahal, jadi kita hemat aja yah," kata Tasya mengingat tidak ada bahan makanan di asramanya.
Sebenarnya, Tasya ingin menyewa rumah saja. Namun, mengingat dirinya mendapati beasiswa dia harus tinggal di asrama.
"Iya Sya, nanti kita belanja bareng yah," jawab Zahira.
Semenjak pertemuan di Malaysia, Tasya dan Zahira semakin akrab. Bahkan mereka sudah seperti adik-kakak.
Bicara tentang pasar. Pasar tradisional Mesir ini terkenal dengan murahnya harga bahan-bahan seperti sayuran, buahan dan makanan. Enaknya jika tinggal di Mesir, kita dapat hidup murah dan hemat jika dibandingkan dengan Indonesia.
Disinilah Tasya dan Zahira, mereka tengah memilih sayuran di salah satu toko di Mesir.
"Khadhrawat An idznak, ana Ayiz,"( permisi, saya ingin sayuran) ujar Tasya sopan. Dia membenarkan cadarnya yang hampir menutupi matanya.
"Khadhrawat eih?"(kamu mau sayuran apa?). Jawab pedagang tua Sambil melihat Tasya dan Zahira.
"Andak bashal, tum, batha-tis, we filfil ahmar," (Ada bawang merah, bawang putih, kentang dan cabe merah?). Ujar Tasya sambil menunjuk sayuran yang dia sebutkan tadi.
"Ohh ... maugud, Ayiz kam kilu?" (Ada, kamu mau berapa kilo?). Tanya penjual itu.
"Kullu wahid kilu," (masing-masing satu kilo). Jawab Tasya.
"Hagah tani?" (Ada lagi?). Tanya pedagang itu lagi setelah memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik.
"Fi thama-thim we khiyar?" (Ada tomat dan mentimun?). Tasya menanyakan lagi, dia akan belanja untuk satu bulan, agar tidak setiap hari keluar asrama hanya untuk membeli sayuran. Dia akan menyetok untuk satu bulan ke depan.
"'Ayiz kam kilu?" (Mau berapa kilo?).
"Thama-tim kilu we khiyar itnein kilu" (tomat satu kilo dan mentimunnya dua kilo). Ucap Tasya lagi.
"Hagah tani?" (Ada lagi). Tanya pedagang lagi.
"La, khalas, Syukran, kemil hisab?" (Cukup, terima kasih, berapa semuanya?). Kemudian Tasya mengeluarkan dompet panjangnya.
"Kullu batamnta 'asyar" (semuanya 18 pound). Kata pedagang itu sambil menyodorkan belanjaannya.
“Syukron,”
Setelah membeli bahan-bahan dapur, akhirnya Tasya dan Zahira mengelilingi pasar. Mereka ingin membeli buah-buahan.
"Bikam el burtu-al?" (Jeruk berapa sekilonya?). Tanyanya kepada pedagang buah.
"Bi Khamsah gineih el kilu," (sekilonya lima pound). Kata pedagang tua itu. Tasya dan Zahira memilih buah jeruk, dia memasukkan kedalam kantong plastik dan setelah sudah selesai dia memberikannya pada pedagang itu. Lalu ditimbang berat jeruk itu.
"Wel kumetra' bikam?" (Kalau buah pir berapa?). Tasya memilih buah pir.
"Bi ‘asyrah el kilu" (sepuluh pound per kilogram). Jawab pedagang itu lalu menyodorkan buah jeruk yang tadi sudah ditimbang.
"Wahid kilu," (satu kilo). Tasya memberikan buah pir itu kepada pedagangnya dan setelah selesai ditimbang dia memberikan uang senilai 15 pound.
Setelah selesai belanja di Pasar, mereka kembali ke asrama. Walaupun Tasya pertama kalinya bicara berbahasa arab Ameyyah, tapi dia selalu belajar sebelum berangkat kesini. Dia selalu menghafalnya.
Tasya membanting badannya diatas kasur, membuang nafasnya gusar dan menatap langit-langit kamar. Lelah seharian belanja, berdesakkan dan ditambah musim dingin. Tapi, Tasya akan menghilangkan rasa malas ini. Dia harus tetap semangat, apapun rintangannya. Sekali pun nanti harus berdesakkan dengan angkutan umum ketika pergi ke kampusnya. Dia bisa. Pasti bisa. Karena inilah cita-citanya.
Walaupun di Jakarta dia selalu memakai mobil pribadinya, Tasya akan membiasakan diri untuk naik angkutan umum. Dulu, ketika kecil dia selalu dimanja oleh Ayah dan Bunda. Minta apapun selalu dituruti, apapun itu. Dulu itu Tasya sangat manja sekali kepada orang tuanya. Dia jadi rindu sama Bunda dan Ayahnya. Juga adiknya. Ini baru awal Sya, masih ada hari-hari yang kamu lalui disini... harus semangat demi masa depan dan cita-cita
***