Tasyakuran Keluarga

1054 Words
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah: 5) ~Muhasabah Cinta~ *** Jika kita selalu mengeluh atas kesusahan dalam menjalani kehidupan ini, lalu untuk apa Allah memberikan kesulitan untuk kita? Itu tandanya Allah kasih kita kesulitan melainkan Allah juga kasih kita kemudahan. Dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 5 yang artinya; “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Allah tahu mana yang terbaik untuk seorang hamba-Nya. Dia-lah yang merancang skenario terbaik. Untuk hal ini, pahami arti dari surah Al-Insyirah ini. Bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan. Begitu pun kesedihan. Akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Istiqomah itu memang berat. Apalagi ketika orang-orang terus memaki dan mencaci hijrah kita. Namun, disitulah puncaknya untuk kita menggapai surga-Nya. Kita diberikan ujian oleh Allah untuk menguji seberapa kuatnya kita untuk menghadapinya. Seberapa sabarnya kita dan seberapa besar iman yang kita miliki. Kini, Yang Tasya pikirkan hanyalah masa depan. Dia harus benar-benar Istiqomah dalam menjalani hijrah ini. Tasya yakin, bahwa dibalik kesedihan ini ada sebuah kebahagiaan yang menunggu didepan sana. Innallaha Ma’ashobirin... Berusaha untuk melupakan masa lalu kelamnya, meskipun selalu ada bayang-bayang yang memenuhi pikirannya, namun dia harus bisa melupakan masa lalu itu. Dia sangat menyesal. Menyesal karena dulu dia begitu lupa akan kewajibannya sebagai makhluk Allah dan bahkan sangat jauh dari Allah. Dia bersyukur, karena Allah masih mengizinkannya untuk hijrah. “Assalamualaikum,” ucap seorang yang berada diluar, lantas Tasya membuka pintu. Ya, kemarin Tasya sudah pulang dari Malaysia, dan beberapa hari lagi dia akan pergi ke Kairo untuk menuntut ilmu disana. Bersama dengan Zahira sahabat yang bertemu di Malaysia dua hari yang lalu. Maira dan Raihan mengundang Nenek, Kakek, Oma, Opa dan seluruh keluarga Raihan maupun Maira untuk datang ke rumah untuk syukuran atas wisuda Tasya dan syukuran untuk keselamatan Tasya saat pergi ke Kairo nanti. “Waalaikumussalam, Eh... Kakek sama Nenek sudah datang, ayo masuk ,” kata Tasya menyalami tangan mereka dan mempersilakan nenek dan kakeknya masuk. Nenek Maryam dan Kakek Zakaria selaku orang tua Maira sudah datang bersama dengan Zakiy juga Yasmin. Jangan lupakan anak lelaki mereka yang kini sudah seperti Tasya, namun berbeda beberapa bulan saja. Tak lama kemudian, Oma Annisa dan Opa Yusuf dan juga Andira bersama suami juga anaknya. Lengkap sudah dua keluarga ini. Mereka tengah berada di ruang keluarga. Sedangkan Maira menyiapkan untuk makan malam nanti, dibantu oleh Yasmin--kakak ipar Maira. “Sya, nanti kamu jauh dong sama keluarga?” tanya Rifanggi—anak Zakiy yang pertama. Rifanggi ini hanya berbeda tiga tahun, akan tetapi, Tasya memanggilnya dengan sebutan 'kakak' pada Rifanggi. "Iya kak, tapi karena Cita-cita Tasya ingin kuliah S2 disana, yah Tasya akan berusaha untuk mandiri disana," kata Tasya menjawab pertanyaan Rifanggi. "Oh iya, nanti kamu disana sama siapa Sya?" tanya Zakiy pada Tasya. Zakiy adalah Omnya Tasya, kakak dari Maira. "Alhamdulillah Om dua hari yang lalu, Tasya bertemu dengan Zahira yang juga kuliah di Kairo, jadi Tasya tidak sendirian disana," jawabnya sembari tersenyum dibalik niqob. Dia memakai niqob karena memang setiap kumpul keluarga dia menginginkan untuk memakai niqob nya dengan alasan agar menjaga dari yang bukan mahram. Seperti Rifanggi, dia bukan mahram melainkan kakak sepupu. Menurut nasabnya, memang Rifanggi kakak sepupu dari pihak perempuan, namun untuk menjaganya Tasya akan memakainya. Beberapa jam kemudian, Maira dan Yasmin telah menyelesaikan masakannya. Kemudian mereka menata makanan diatas meja makan. "Yaudah, waktunya makan malam. Maira sama kak Yasmin sudah siapkan makanannya di meja makan," kata Maira menghampiri mereka. Semuanya mengangguk setuju dan akhirnya mereka menyantap makan malam dengan hening. Tak ada suara hanya ada suara dentingan sendok yang beradu pada piring. Setelah selesai, mereka kumpul kembali di ruang keluarga. "Sya, nanti disana jaga kesehatannya nak, Nenek sama Kakek pasti akan rindu sama cucu nenek yang cantik ini," kata Maryam—Umi Maira. "Insyaa Allah Nek, Tasya akan jaga kesehatan disana," jawabnya sambil tersenyum. "Oma juga bakalan kangen nih, Sya..." kata Annisa—Mama Raihan. "Tasya juga pasti akan selalu rindu sama kalian, doain Tasya yah, semoga Tasya mendapat ilmu yang bermanfaat disana," "Aamiin..." serentak keluarga mengucap kata 'Aamiin'. *** Setelah keluarga pamit untuk pulang ke rumah masing-masing, kini hanya tinggal mereka berempat di ruang keluarga. Raihan meminum teh buatan Maira, sedangkan Maira duduk disamping Raihan dengan manja. Aidar yang sibuk dengan ponselnya, dan Tasya sedang memandang kedua orang tuanya. Pasti dia akan selalu merindukan suasana seperti ini. "Ayah, Bunda?" panggil Tasya lalu Maira dan Raihan menoleh kearah Tasya. "Kenapa Kak?" tanya Raihan yang melihat sorot mata Tasya terlihat sedih. Jelas Tasya sedih, karena beberapa hari lagi dia akan pergi untuk menuntut ilmu di Negara Piramid itu. Mungkin minggu depan dia tidak bisa berkumpul seperti ini bersama keluarganya. "Tasya akan selalu merindukan suasana seperti ini Yah, Bun," kata Tasya sambil memeluk bundanya. "Tasya janji yah sama Bunda, nanti disana Tasya akan selalu hubungi Bunda sama Ayah, yah" kata Maira mengelus pundak Tasya yang tertutupi jilbab panjangnya. Tasya kemudian tersenyum dibalik niqob nya. "Iya Bun, Tasya janji," katanya. "Kak Tasya, juga janji sama Idar yah setelah pulang dari Kairo bawakan oleh-oleh khas Mesir, dan Idar juga ingin dibawakan Al-Quran dari Mesir langsung," kata Idar. Lalu Tasya tertawa melihat adiknya itu. Padahal belum berangkat ke Mesir tapi sudah memesan titipannya. Dasar Aidar! "Insyaa Allah Dek, nanti kakak belikan yah," kata Tasya mengiyakan. "Iyaudah Bunda, Ayah, Tasya ke kamar duluan yah," Raihan dan Maira hanya mengangguk menyetujui perkataan Tasya. Tasya menaiki anak tangga satu persatu, sesampainya didepan kamar, ia membuka kamarnya. Kamar dengan bercatkan dominan warna putih itu akan Tasya tinggalkan beberapa hari lagi. Dia akan selalu merindukan kamar ini. Kamar yang begitu banyak mengisi kenangan. Mulai dari kenangan pahit hingga manis dia tumpahkan disini. Saat dia sedang sedih, dia akan menangis disini sendirian dan mengunci pintunya. Tak ada yang tahu jika Tasya menangis dibalik kamar ini. Tasya mengambil sebuah buku yang selalu menemaninya kemana pun dia pergi. Mungkin nanti akan dia bawa saat dia berangkat ke Kairo. Tasya menuliskan kata-kata disana. 16 April 2020 Dear Diary ... Beberapa hari ke depan Aku akan meninggalkan kota sejuta kenangan ini. Kota yang banyak kenangan-kenangan indah juga buruk ini akan Aku tinggalkan beberapa hari lagi. Aku bersyukur, karena Allah telah mengizinkanku untuk hijrah di jalan-Nya. Dan juga, Aku akan meninggalkan keluarga yang amat sangat Aku sayangi dan Aku cintai. Ya Allah, jagakan mereka jika nanti Aku telah benar-benar pergi dari Kota ini. Pergi untuk menuntut ilmu. Aku akan sangat merindukan Bunda, Ayah, Aidar dan juga seluruh keluargaku... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD