Sahabat Surga

1089 Words
"Kebahagiaan itu saat Aku memiliki sahabat yang selalu mengajakku untuk mengingat pada Akhirat bukan untuk mengajakku berbuat maksiat." ~Anastasya Putri Alisya Firdaus~ ~Muhasabah Cinta~ *** Langit sudah mulai gelap, matahari berganti dengan rembulan yang menerangi bumi. Tasya saat ini sedang berada di Pantai Terengganu, jika pagi tadi dia bersama Aidar, maka kali ini dia seorang diri. Memandang keindahan langit di malam hari, angin malam yang membuat Khimar dan niqob nya beterbangan. Dia sangat menikmati udara malam di pantai ini. Lampu berkelap-kelip membuat Tasya memejamkan matanya, lalu membukanya beberapa detik kemudian. Dia menyukai pantai ini. Dia berjalan diatas pasir putih, lampu yang menerangi pantai ini membuat para pengunjung betah berlama-lama disini. Brukkkkk! Tiba-tiba, Tasya menabrak seseorang. Lagi. Dia lantas melihat siapa yang dia tabrak barusan. "Anti Tasya, bukan?" tanya wanita yang tadi Tasya tabrak. Tasya mengernyit bingung. Kenapa wanita ini mengenalinya? "Iya benar, anti siapa?" Tasya benar-benar tidak ingat dengan wanita yang ada didepannya ini. Wanita dengan niqob berwarna cream nya tersenyum. "Aku Zahira," tutur Zahira membuat Tasya memperhatikan mata gadis itu. "Ya Allah ... Zah, kita ketemu lagi," kata Tasya tidak percaya. Allah mempertemukan dia lagi. "Iya Sya, kamu sendirian disini?" tanya Zahira melihat Tasya hanya seorang diri. "Iya Aku sendiri Zah, Bunda, Ayah sama Adikku lagi di penginapan," Zahira hanya mengangguk. "Kamu tinggal dimana Sya? Apa kamu tinggal di Malaysia?" tanya Zahira penasaran. "Aku dari Jakarta, disini hanya liburan saja," kata Tasya sembari membenarkan niqob nya. "Oh ... sama Aku juga dari Jakarta," kata Zahira, membuat Tasya tak percaya itu. "Beneran kamu tinggal di Jakarta?" "Iya Sya, disini Aku sedang riset naskahku. Alhamdulillah Aku menulis mengenai perkembangan Islam di Malaysia," katanya membuat senyuman Tasya mengembang dibalik niqob nya. Ternyata dugaan Tasya benar, wanita yang berada di museum tadi pagi adalah Zahira. Dan satu hal lagi, Tasya memiliki teman baru yang sama-sama hobi menulis. "Maasyaa Allah ... Hobi kita sama Zah, Aku juga hobi nulis, semoga kita menjadi sahabat yah Zah, Aku senang bisa kenal denganmu," kata Tasya. "Maasyaa Allah Sya, Alhamdulillah ya, Allah mempertemukan kita. Mulai sekarang kita sahabat yah?" "Iya mulai sekarang kita sahabat," lalu Tasya memeluk Zahira erat. Ada suatu kebahagiaan dalam dirinya. Karena mengenal sahabat baik seperti Zahira. Malam telah larut, kini mereka kembali ke tempat penginapan. Selama di perjalanan, baik Tasya maupun Zahira bercerita mengenai awal pertama kali hijrah. Tasya terharu sekali mendengar curahan hati Zahira. Dia sama seperti Tasya memiliki masa lalu kelam. Namun, siapa sangka, Allah telah memberikannya kenikmatan yaitu dengan hijrah dijalan Allah. Bahkan, ketika Tasya pertama kali hijrah, dia tidak ada teman untuk berbagi. Namun, saat dia masuk perkuliahan dan mengenal Kayla dan Kak Hikam, lelaki yang Tasya sukai dalam diam itu pun berbagi banyak hal mengenai Agama Islam. Tasya sangat bersyukur karena Allah masih memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki dirinya. "Allah itu baik yah Zah, Aku yang pendosa ini bisa dikasih kesempatan untuk Hijrah, Aku malu sama Dia," air matanya jatuh membasahi niqob hitamnya. 'Pun juga dengan Zahira yang melihat Tasya mengeluarkan air mata, dia memeluk dan menenangkan sahabatnya itu. "Iya Sya, Allah itu maha baik. Kita yang dulu penuh dengan dosa, tapi Allah kasih kita kenikmatan yang tiada tara, Aku sangat bersyukur lahir dalam keadaan Islam Sya," ucap Zahira masih memeluk Tasya. Kini mereka sadar, bahwa pengampunan Allah itu begitu luas. "Aku juga Zah, insyaa Allah Aku akan memperbaiki karena Allah," Tak lama kemudian mereka telah sampai di Hotel Seri Malaysia. Kebetulan juga Zahira menginap disini bersama keluarganya. "Oh iya, kamu kuliah apa gimana?" tanya Tasya yang memang sedari tadi mereka berbincang, dia belum mengetahui tentang sekolah Zahira. "Insyaa Allah tahun ini mau lanjut kuliah di Kairo Sya," kata Zahira. Sungguh, kebetulan atau bukan. Ini semua rencana Allah. Jadi, Zahira mau kuliah di Kairo sama seperti dirinya. "Yang benar Zah?" tanya Tasya tidak percaya. Zahira mengangguk, " Benar Sya, mau lanjut S2," katanya. "Ya Allah, Aku juga mau S2 disana Zah, Maasyaa Allah banget yah, pertemuan kita tidak hanya disini, tapi nanti di Kairo juga," ucapnya terharu. "Maasyaa Allah, Alhamdulillah Aku jadi ada temannya disana. Gak menyangka yah Sya, kita bisa dekat nanti hehe," mereka sama-sama tidak menyangka akan kuliah bareng di Al Azhar. "Kamu ambil jurusan apa Zah?" tanyanya lagi. Dan sekarang mereka sudah berada di lobi hotel. "Aku ambil Syu'bah Ushuludin jurusan Tafsir dan Ulumul Qur'an," "Aku juga sama Zah, ambil jurusan itu, karena Aku ingin memperdalam pengetahuanku tentang Islam dan Al-Qur'an." *** Matahari nampak malu-malu memperlihatkan senyumannya dibalik tirai, waktu berjalan begitu cepat. Dihari ketiga ini, Tasya akan mengajak Bunda, Ayah dan juga Aidar untuk mengunjungi sebuah Restoran yang dekat dengan hotel seri Malaysia ini. Mereka berjalan di lobi hotel, Maira dan Raihan tampaknya romantis. Menggenggam tangan satu sama lain, bahkan Maira memeluk lengan Raihan. Sedangkan Tasya dia jalan beriringan dengan Aidar. Jomblo bisa apa saat orang tuanya pacaran halal? Sudah biasa melihat keromantisan orang tuanya, Tasya malah senyum dibalik niqobnya. Dia membayangkan bagaimana nanti jika dia memiliki suami. Apakah sama seperti Ayahnya yang romantis? Mengingat jodoh, Tasya jadi ingat dengan lelaki yang sejak awal kuliah memenuhi hatinya. Siapa lagi kalau bukan kak Hikam, ketua BEM di kampusnya dan juga aktif dalam segala organisasi. Termasuk organisasi FSI dulu. Karena Tasya sudah wisuda, dia akan jarang ke kampus bahkan mungkin sudah tidak akan kesana lagi, karena dia akan menetap di Kairo nanti. Jarak antara restoran dan hotel tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit sudah sampai. Mereka berjalan kaki untuk menempuh restoran ini. Kini mereka sudah duduk di kursi empat orang. Mereka memesan makanan khas Malaysia yaitu nasi lemak. "Rasanya sama seperti nasi uduk yah kak," kata Aidar setelah mencicipi nasi lemak itu. "Iya benar, tapi bedanya nasi lemak ini ada ayam bakarnya," Raihan menyuapi Maira, melihat itu Tasya tersenyum. "Ciee ... Bunda sama Ayah romantis banget sih," ucap Tasya sambil melihat Ayah dan Bundanya. "Ayahmu memang romantis Sya ... Idar nanti contoh Ayah yah biar romantis sama istri," kata Maira sambil tersenyum. Walaupun sudah memiliki dua orang anak, namun Maira masih terlihat cantik. Senyumannya tak pernah pudar, sorot matanya yang meneduhkan, membuat Raihan semakin mencinta istrinya itu. Raihan bersyukur karena telah dijodohkan dengan kekasih halalnya ini. "Iya Bunda, Idar pasti romantis kok kalau sudah punya isteri," Kemudian mereka tertawa mendengar perkataan anak keduanya yang polos itu. Pasalnya, Idar itu cuek dengan yang namanya perempuan selain kakak dan bundanya. Bisa dibilang Idar itu tidak mau berdekatan dengan wanita yang bukan mahramnya. Aidar tahu batasan, dia dididik dengan pemahaman agama yang cukup baik oleh Ayah dan Bundanya. Terlebih dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya menanggung beban dosa karena sudah melakukan hal yang Allah larang dengan pacaran. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD