"Islam itu Agama yang sempurna. Mengenai larangan-larangan dan perintah-perintah yang sudah tertulis dalam kitab suci yakni Al-Qur'an supaya manusia sadar, betapa mulianya Islam. Sebab, menyuruh kita untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Dan menjauhi maksiat yang menjerumus pada dosa."
~Muhasabah Cinta~
***
Hamparan laut yang sangat luas, awan yang begitu cerah nampak memperlihatkan keindahannya. Terik mentari yang membuat hangat tubuh, angin sepoi membuat Khimar serta niqob Tasya terbang. Sesekali ia memejamkan matanya, berada di tengah hamparan pasir, didepannya laut berwarna biru. Membuat mata terpesona akan keindahannya.
Setelah salat Dhuha dan meminta izin, ia memutuskan untuk melihat laut bersama Aidar. Mereka tengah duduk diatas pasir. Memandang ke arah depan, banyak orang yang berlalu lalang hanya untuk menikmati keindahan pantai perhentian kecil, Terengganu.
Pantai di Perhentian kecil merupakan diantara pantai tercantik di Malaysia.
"Kak, Idar bersyukur karena Allah memberikan kakak seperti kak Tasya," ucapan Idar membuat Tasya menoleh ke arahnya. Lantas Tasya tersenyum dibalik niqob nya.
"Kakak juga bersyukur memiliki adik seperti Idar," kata Tasya mengelus rambut Idar.
Jika diingat, begitu banyak kenangan yang mereka lalui. Perdebatan yang unfaedah sampai yang berfaedah pun sudah mereka lalui. Pernah dulu ketika Tasya belum hijrah dari masa jahiliahnya, sekitar umur 16 tahun dan Idar 13 tahun, dia menyuruh adiknya untuk berbohong kepada Bunda dan Ayahnya. Dulu Tasya menyuruh Idar untuk bilang kepada orang tuanya bahwa Tasya sedang bermain bersama teman perempuannya. Namun, saat itu dia sedang bermain dengan pacarnya. Dia berbohong.
"Maafin kakak ya, karena dulu pernah menyuruh Idar bohong," katanya dengan nada menyesal.
"It's okay, Kak" kata Idar tersenyum.
***
"Malaysia merupakan jalur perdagangan dunia yang menghubungkan kawasan-kawasan di Arab dan India dengan wilayah China. Wilayah Malaysia juga dijadikan tempat persinggahan sekaligus pusat perdagangan yang amat penting. Oleh karena itu, wilayah ini juga menjadi pusat bertemunya bermacam-macam keyakinan dan agama yang berinteraksi secara luas.
Agama Islam masuk ke wilayah Malaysia pada abad pertama Hijrah dibawa oleh para pedagang India, Persia, dan juga Arab yang mayoritas beragama Islam. Agama Islam disebarkan melalui suatu proses damai dan secara cepat diterima oleh masyarakat karena mampu berbaur dengan adat dan kebudayaan masyarakat yang didatangi" penjelasan mengenai awal mula masuknya Islam di Malaysia sedang berlangsung saat ini, di ruangan yang tidak sempit dan memuat ratusan pengunjung yang ingin memasukinya. Disinilah Tasya dan Idar berada, di Museum Kesenian Islam yang terletak tidak jauh dari hotelnya menginap. Seorang yang berasal dari Indonesia yang menetap di Malaysia sedang menjelaskan bagaimana masuknya Islam di negara Malaysia ini.
Tasya memang belum tahu banyak mengenai sejarah-sejarah Islam di negara Malaysia, namun saat berkunjung ke Museum ini, dia jadi lebih tahu banyak hal.
“Tuan, Apa saja bukti-bukti sejarah dalam perkembangan di Malaysia?” pertanyaan itu terlontar oleh seorang wisatawan yang Tasya yakini bukan dari Malaysia melainkan Indonesia. Mendengar penuturannya yang fase sekali berbahasa Indonesia membuat dirinya yakin bahwa perempuan itu berasal dari Malaysia.
"Untuk membuktikan perkembangan Islam di Malaysia dapat ditemukan sesudah abad ke sepuluh, pada abad ke-15 misalnya dan ketika itu Brunei masih bergabung dengan Malaysia, salah satu sumber dari cina menyebutkan ada enam masjid di Malaysia dan ditemukan batu nisan silsilah keturunan raja-raja Brunei. Sultan Brunei ketika itu adalah Abdul Djalil Jabar tahun 1660, istrinya adalah putri sultan Sukadana dari Sambas. Kemudian pada tahun 1852 ada masjid jami dibangun di daerah Kucing, pada tahun 1917 dibangun madrasah di Malaysia yang disebut Malaysia Madrasah Al-Mursyidah. Bukti-bukti sejarah ini mengisyaratkan bahwa Islam di Malaysia terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam." Penjelasan panjang lebar itu membuat semua pengunjung paham tentang Islam yang ada di Malaysia ini, termasuk Tasya dan Idar.
Setelah selesai mengunjungi Museum, Tasya dan Idar kembali ke Hotel. Selama di perjalanan, mereka melihat ada banyak turis yang berasal dari berbagai negara salah satunya orang Inggris.
Beberapa jam menaiki mobil yang disewanya, dia turun lalu berjalan menuju kamar hotelnya.
Namun ditengah jalan dia menabrak seorang wanita sama seperti dirinya yang mengenakan cadar juga.
"Afwan Ukhty!" kata wanita itu meminta maaf.
"Saya yang seharusnya minta maaf Ukh, Ana tadi tidak sengaja menabrak anti, maaf yah Ukhty" kata Tasya sambil membenarkan niqob nya.
“Tidak masalah, kenalkan Ana Zahira Ijatunnisa, salam Ukhuwah Fillah, Ukhty" katanya sambil mengulurkan tangannya yang terbalut handsock hitamnya.
"Salam Ukhuwah Fillah, Ana Anastasya Putri Alisya Firdaus, panggil aja Tasya," kata Tasya sambil menerima uluran tangannya.
"Semoga kita bisa bersahabat yah," kata Zahira tersenyum dibalik niqob nya.
"Insyaa Allah, lain kali bisa bertemu, Ana permisi dulu yah Zah," setelah mengatakan itu, Tasya pamit kepada Zahira.
"Ayo Idar!" ajak Tasya kepada Idar. Lalu Idar hanya mengangguk sebagai jawaban.
Selama perjalanan menuju kamar hotelnya, Idar terus bertanya kepada kakaknya mengenai wanita yang mereka temukan di lobi hotel tadi. Wanita itu tampaknya tinggal di sini atau hanya sekedar liburan seperti Tasya.
"Kak tadi itu siapa sih?" tanya Idar saat mereka sudah memasuki lift.
"Kakak mengenalnya baru saja, tapi dia begitu ramah yah,"
"Iya kak, dia terlihat baik sekali,"
"Insyaa Allah, jika Allah berkehendak kita akan bertemu lagi," tutur Tasya sambil tersenyum dibalik niqob.
Ting!
Pintu lift terbuka, Tasya maupun Aidar keluar dan berjalan menuju kamar penginapannya. Mereka berpisah karena kamar Tasya di sebelah kanan sedangkan Aidar sebelah kiri. Tak jauh, hanya terhalang satu kamar saja.
Tasya merebahkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini mengunjungi tempat wisata di Malaysia ini.
Mengingat pertemuannya dengan Zahira, dia sangat ingin bersahabat dengannya. Zahira gadis yang ramah sekaligus cepat akrab dalam berteman. Tasya menyukai sifat Zahira.
14 April 2020
Dear Diary ...
Setelah mengelilingi tempat wisata, Aku kembali ke hotel penginapan. Tak disangka Aku menemukan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal, namun dia begitu asik saat diajak bicara. Namanya Zahira Ijatunnisa, Maasyaa Allah... Salihah sekali orangnya. Tuturnya lembut, Aku ingin bersahabat dengannya.
Setelah menuliskan kejadian tadi di buku Diary miliknya, ia lantas menutup buku itu dan meletakkannya di atas nakas. Buku itu selalu dibawa kemana pun dirinya pergi.
Semoga Allah mempertemukan kita lagi yah, Zahira...
***