Rasa Ini

992 Words
“Tasya!” panggil seorang lelaki. Deg! Jantungnya berpacu lebih cepat, seakan dirinya kekurangan oksigen. Tolong, siapapun tolong Tasya untuk menetralkan jantungnya. Ada rasa senang saat melihat lelaki itu, namun dia menggeleng menghilangkan nama lelaki itu. Ingat Sya! Dia bukan mahrammu. “Sya?” panggilnya lagi. Kali ini dia sudah berada di hadapannya. Mata Tasya mengerjap. Menatap sekilas lelaki yang telah memenuhi hatinya sejak masuk kuliah. “Ehh ...” katanya kikuk. Dia menundukkan kepalanya, sesekali menarik niqob nya agar tidak menutupi matanya. "Kamu ada jadwal bimbingan?" tanya lelaki itu. "I-iiyaa kak, tadi abis bimbingan sama dospem," katanya pelan nyaris tak terdengar. "Hmmm ..." kata lelaki itu menganggukkan kepalanya. "Kakak ngapain ke sini?" "Oh Aku, itu lagi ada urusan sama Dosen, sekalian Silahturahmi sama dosen-dosen. Kangen juga," katanya sambil tersenyum. Dibalik niqob hitamnya, Tasya sebenarnya salah tingkah ketika menghadapi lelaki satu ini. Lelaki yang sejak masuk perkuliahan memenuhi hatinya. Sosok yang banyak mengajarkan dirinya ilmu agama. Dulu, ketika dirinya baru memasuki fase dimana dirinya masih sedang belajar ilmu agama dan sangat minim sekali ilmu tentang keagamaan, dia mengikuti organisasi keislaman di kampusnya kuliah. FSI atau singkatan dari Forum Studi Islam ini diketuai oleh Muhammad Hikam atau yang sering dipanggil Kak Hikam ini, lelaki yang tengah berhadapan dengan Tasya. Awal masuk FSI, Tasya mulai jatuh hati pada sosok Hikam. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, tutur kata yang sopan dan memiliki pengetahuan Agama yang begitu luas. Bahkan, dia melanjutkan kuliah di Yaman. Aktif dalam bidang dakwah, membuat Hikam selalu mendapat panggilan untuk berdakwah. Dan hari ini, tanpa Tasya duga Hikam mendatangi kampusnya. Rasa yang dulu hadir dan sempat ia buang jauh-jauh, kini tumbuh kembali seperti bunga yang bermekaran. "Iya udah Sya, kakak mau ke ruang dosen dulu yah, Assalamualaikum," pamitnya dan lantas dia berjalan. Ya Allah ... Perasaan apalagi ini? Rasa ini kembali hadir, saat seperti waktu pertama kali bertemu. Sadar atas apa yang dia lakukan, Tasya beristighfar dibalik niqob nya. Tak sepantasnya dia memikirkan lelaki yang bukan mahramnya. Dia menggelengkan kepalanya, lantas beranjak dari tempat yang tadi dia duduki. *** Maira sedang memasak untuk makan siang nanti, setelah salat dzuhur ia bergegas untuk memasak untuk anak-anak dan suaminya. Semenjak menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan Maira terasa lebih ringan saat ia kerjakan. Tak sekali pun dia mengeluh akan kecapean dalam mengurus rumah. Baginya, mengurus anak-anak dan suaminya adalah kewajiban. Ya, memang itulah tugas seorang istri. Suara mobil terdengar dari luar, lantas Maira berjalan menuju pintu utama. Setelah melihat siapa yang datang di jendela, ia lantas membukakan pintunya. Ternyata Raihan sudah pulang dari kampus. "Assalamualaikum Sayang," salam Raihan kala melihat istrinya sudah menyambutnya di luar. Salah satu kebiasaan Maira adalah menyambut suami ketika Raihan sudah pulang dari Kantor maupun Kampus. “Waalaikumussalam," jawabnya sambil mencium punggung tangan Raihan. Kemudian, Raihan mencium kening istrinya. Kebiasaan Raihan juga mencium kening istri ketika pergi atau pun pulang kerja. Itu membuat dirinya semangat dalam bekerja. “Anak-anak sudah pulang?" tanya Raihan ketika mereka berjalan ke dalam rumah. “Belum Mas, mungkin sebentar lagi," sahutnya. Raihan duduk di kursi meja makan, disana sudah ada beberapa menu makan siang. Dia menggulung kemejanya hingga siku, dan melonggarkan dasinya. “Iya udah, kalau begitu Mas mau ganti baju sambil nunggu anak-anak," kata Raihan beranjak dari kursi. Maira hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya. Tak lama kemudian, seorang anak lelaki yang berusia delapan belas tahun dengan tas ranselnya memasuki rumah. Muhammad Aidar Firdaus, anak kedua Maira dan Raihan yang tak lain adik dari Tasya. Aidar sedang menduduki bangku sekolah kelas dua belas. Dan keinginannya ketika lulus nanti, dia ingin kuliah di Jakarta. Mungkin kampus yang Ayahnya mengajar disana. "Assalamualaikum Bun," salam Aidar kala menemui bundanya di ruang makan. Menyalami tangan bundanya setelah mendapati jawaban. "Ayah kemana Bun?" tanya Aidar memerhatikan ruangan itu. "Ayah lagi di kamar," sahut Maira yang sedang merapikan makanan. “Assalamualaikum" sapa Tasya ketika memasuki rumah. “Waalaikumsalam" jawab Maira dan Aidar barengan. "Eh ... kakak sudah pulang?" tanya Maira kepada Tasya. Kemudian Tasya menyalami tangan bundanya. “Sudah Bun," jawabnya singkat. "Kok lemes banget?" Maira perhatiin dari matanya, sepertinya ada hal yang Tasya rasakan. Seperti kesal. Mungkin. "Bunda, masa Tasya di suruh revisi ulang skripsi Tasya, padahal kemarin malam sampai Tasya tidak tidur, itu sudah semuanya Tasya revisi, tapi ternyata kata dosen pembimbingnya harus revisi ulang. Kan sebelll ..." katanya kesal. Siapa yang tidak kesal coba, kemarin ketika Tasya menyerahkan skripsinya, dospem nya bilang hanya bagian tiga saja yang harus direvisi. Dan ini, dia harus merevisi ulang bagian dua. Ya Allah ... kenapa kemarin tidak bilang kalau bab dua harus di revisi. Tasya sampai tidak tidur hanya untuk merevisi skripsinya itu. Demi cita-citanya yang ingin lulus cepat, dia rela begadang. Bahkan sampai telat makan. "Padahal kemarin Tasya menyerahkan skripsi itu, hanya bagian tiga saja yang harus di revisi dan ini bagian dua juga harus di revisi," kesalnya lagi. "Ada apa sih kak, kok kayaknya kesal begitu?" tanya Raihan ketika sudah sampai di tangga terakhir. “Ini nih, Yah, anak Ayah kesal sama Dosen pembimbingnya," kata Maira menanggapi pertanyaan Raihan. Raihan menghampiri Tasya yang sedang duduk, dia menarik kursi untuk dekat dengan Tasya. "Kesal kenapa sih kak?" tanyanya lagi pada Tasya. “Ayah, apa Ayah pernah membuat mahasiswa kesal?" tanya Tasya balik. Raihan memerhatikan mata putrinya itu. "Pernah," ujarnya. "Alasannya kenapa?" "Ya, karena waktu itu Ayah menolak skripsi mahasiswa. Lebih tepatnya menyuruh dia untuk revisi ulang," kata Raihan. "Masa Tasya harus revisi ulang lagi, kan keseeeellll..." katanya dengan nada kesalnya. "Kak Tasya pasti dapat dospem killer haha ..." kata Aidar diakhiri tawa. Dan itu membuat Tasya murka kepada adiknya itu. “Awas! Kamu dek, nanti juga kalau kuliah, kakak doain dapat dospem killer jugaa," katanya mendoakan adiknya itu. Dasar. Adik sama kakak gak mau mengalah. "Huh ... Aku mah gak yah," “Aku doain semoga Adikku yang nakal ini dapat dospem killer melebihi dospem Aku. Haha ..." kata Tasya dengan jail. Kemudian dia tertawa dibalik niqob nya. Raihan melerai keduanya. Setelah itu hening. Hanya ada suara sendok yang berdentingan beradu dengan piring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD