Sebaik-baiknya manusia

1033 Words
"Siapa yang ingin menyucikan hatinya, maka jadikan Allah sebagai tujuan yang diinginkannya." – Ibnu Qayyim ~Muhasabah Cinta~ Sudah seminggu Tasya bolak-balik ke kampus hanya untuk bimbingan Skripsinya. Dia sangat bersyukur saat tugas akhirnya di acc oleh dosen pembimbing. Butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsinya. Selama enam bulan, dia membuat skripsi dan akhirnya tibalah waktu yang di impikan Tasya. Wisuda dengan cepat. Hari ini, dia akan melakukan sidang. Jangan tanya bagaimana hatinya. Dag-dig-dug, senang, bahagia. Campur aduklah, pokoknya. Deg-degan jika nanti dia berhadapan dengan dewan penguji atau dosen penguji. Karena nanti disana dia hanya seorang diri dan ada beberapa orang dewan penguji. Sungguh, hatinya saat ini hanya bisa berdzikir. Dengan nama-nama Allah, dia selalu berdzikir. Agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada dewan penguji. “Bissmillahirrahmanirrahim ..." ucapnya saat berada di pintu 'ruang sidang'. Kali ini dia hanya ditemani sahabatnya, Kayla Assadiyyah Zahra. Sahabat yang sejak dia hijrah selalu menemaninya. Kemana pun dia akan selalu bersama Kayla. “Semangat yah Sya, kamu pasti bisa. Tunjukkan kalau kamu bisa cepat wisuda," kata Kayla menyemangati Tasya. Tasya tersenyum dibalik niqob nya. "Insyaa Allah Kay, Aku selalu berdoa untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti," katanya. "Iya sudah, kamu masuk gih, nanti dewan pengujinya nunggu kamu," kata Kayla sambil mendorong pelan lengan Tasya. Dengan hati yang bergetar, Tasya mengetuk pintu ruangan itu. Dan masuk. Kayla yang berada diluar merasa ikut deg-degan, karena sahabatnya ini sedang sidang. Semoga saja, Tasya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dewan penguji, kata Kayla dalam hati. Beberapa jam kemudian, Tasya membuka pintu dan menghampiri Kayla yang sedang duduk dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. "Kay ..." ucap Tasya lirih. Memperlihatkan mata sedihnya. "Sya, lolos?" tanya Kayla sambil berdiri dan menghadap kearah Tasya. Sedari tadi, Kayla cemas kepada sahabatnya. Takut jika Tasya tak bisa menjawab pertanyaan. Namun, Tasya tersenyum dibalik niqob nya. Kemudian dia mengangguk, "Alhamdulillah Kay, minggu depan Aku bisa wisuda," katanya memeluk Kayla. "Maasyaa Allah, selamat Anastasya Putri Alisya Firdaus, anaknya Om Raihan yang tampan dan tante Maira yang cantik, huh ... Aku senang banget akhirnya, kamu bisa wisuda sesuai keinginan kamu," katanya memuji. Kayla sangat senang ketika mendengar itu, sungguh dia ikut bahagia. "Hemmmm ... Terima Kasih Kayla Assadiyah Zahra yang cantik," balas Tasya. *** Malam ini keluarga Raihan sedang berada di meja makan. Mereka berempat sedang makan malam. Hari ini, Tasya ingin memberi kabar bahagia kepada kedua orang tuanya dan adiknya. Bahwa dia akan wisuda minggu depan. "Bun, Yah ... Tasya akan wisuda minggu depan," katanya sambil tersenyum. Sebuah kebahagiaan bagi Raihan dan Maira. Mereka berhasil mendidik anak perempuannya untuk cepat di wisuda karena keinginan Tasya saat kecil, dia ingin bisa lulus kuliah dengan cepat. Raihan dan Maira bangga kepada putrinya ini. "Maasyaa Allah ... Barakallahu sayang, semoga lancar wisudanya yah," kata Maira sambil mengelus jilbab Tasya yang duduk di sampingnya. Tasya tersenyum lebar, dia tidak sedang memakai niqob ketika berada di dalam rumah. Namun, ketika ada tamu atau orang lain, dia akan memakainya. "Selamat yah, sayang, Ayah bangga sama kamu," kata Raihan. "Iya Yah, Bun Makasih," katanya. "Congrats yah Kak," kata Aidar mengucapkan itu. "Iya, Makasih adikku yang gantenggggg, haha..." ucapnya diakhiri tawa. Kemudian, Aidar ikut tertawa. Raihan dan Maira juga ikut tertawa kala melihat anak-anaknya yang selalu kompak. Ya, walaupun kadang juga mereka sering berdebat, entah berdebat karena apa. Yang pasti Maira sangat bahagia memiliki mereka berdua. Satu hal yang Maira ingin utarakan, dia sedih jika nanti Tasya akan melanjutkan kuliahnya di Kairo. Ada rasa takut meliputi hatinya. Sebab, Tasya itu perempuan, dia takut anaknya kenapa-napa saat berada disana. Namun, dia menghapus semua pikiran buruknya. Maira yakin, jika anaknya akan baik-baik saja. Terlebih disana ada Ayla, sahabatnya. Dulu, ketika Maira menginginkan untuk melanjutkan kuliah, dia terhalang oleh penyakitnya. Dan ketika penyakit itu sudah tiada. Dia hamil anak pertama yang tak lain Tasya, putri pertamanya. Saat itu, Maira benar-benar tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Dia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang Solehah dan fokus mengurus anaknya. Sekarang, dia mengizinkan Tasya untuk menuntut ilmu. Dia tidak mau jika Tasya seperti dirinya yang hanya lulusan SMA. Dalam hati Tasya, dia akan merindukan suasana ketika sedang kumpul bersama keluarganya. Namun, dia juga ingin mengejar cita-citanya. "Ayah, Bunda, benarkan mengizinkan Tasya untuk lanjut S2 di Mesir?" tanya Tasya saat Maira dan Raihan sedang melahap makanannya. Raihan menyimpan sendok, begitu juga dengan Maira dia menghampiri Tasya. Kemudian mengelus lengannya. “Bunda mengizinkan Tasya untuk lanjut kuliah disana, Bunda akan selalu mendukung anak-anak bunda jika memang untuk sebuah pendidikan. Jika dulu Bunda hanya bisa menamatkan sekolah SMA, Bunda juga tidak mau kalian seperti Bunda, yang hanya sekolah SMA. Pokoknya, anak-anak Bunda harus menjadi orang yang sukses dunia akhirat yah, Nak. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi banyak orang. Karena Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, at Daruquthni, Hadist ini dihasankan oleh al Albani di dalam Shohihul Jami' no:3289) Ingat selalu pesan bunda yah, sayang,” lanjut Maira memberi pesan kepada anak-anaknya. Kemudian Tasya memeluk bundanya, mengucapkan terima kasih. Karena selama ini, Maira begitu mendukung apapun keputusan Tasya. Tasya bahagia memiliki Bunda dan Ayah seperti Raihan dan Maira. Dia sangat bahagia, walaupun dulu dia begitu durhaka kepada mereka, namun Raihan dan Maira mendidiknya dengan sabar. Menasehati putrinya kala berada dijalan yang salah. Selalu begitu. Namun, lama-kelamaan Tasya menyadari bahwa apa yang dia lakukan memang salah besar. Beruntung Tasya memiliki orang tua yang selalu mengutamakan akhirat ketimbang duniawi. Kebahagiaan yang kini dia rasakan, mungkin hanya akan menjadi kenangan saat dirinya pergi ke Kairo untuk melanjutkan studinya. Raihan memandang kedua wanita yang berharga dalam hidupnya. Sedangkan Aidar, dia juga sedih akan kepergian kakaknya nanti. Dia akan sendirian, tidak ada teman untuk bercanda, berdebat dan kakak yang selalu memberinya motivasi dikala sedang down. "Ayah juga akan mendukung sepenuhnya, jika kakak mau melanjutkan studinya, Ayah selalu mendoakan anak-anak Ayah, semoga sukses dunia akhirat, Aamiin" kata Raihan, kemudian berjalan ke arah Tasya dan Maira. Memeluknya bersamaan. Melihat itu, Aidar ikut berdiri dan bergabung disana. Mereka berempat berpelukan, saling memberi semangat satu sama lain. Sungguh, keluarga yang harmonis yang selalu diinginkan oleh keluarga lainnya. Anugerah terindah dalam hidup adalah memiliki keluarga. Memiliki orang tua dan juga adik yang selalu memberikan support untuknya, membuat Tasya semangat dalam menjalani hidupnya. Terlebih ketika dia sudah hijrah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD