Bab 10
Aku perlihatkan foto sosok dua wanita yang pernah singgah di hati Mas Hendra.
"Ini Della dan Tini? Apa mereka sahabatan?" tanya Mas Hendra keheranan.
"Ini biodata Tini, dia bukan Tini," tegasku. Kemudian, mama merampas foto mereka berdua. Mas Hendra masih fokus menelaah dan mencerna data Tini yang kuberikan.
"Astaga, wanita ini, bukankah yang hadir dalam pernikahanmu hingga nangis-nangis?" tanya mama. Mas Hendra pun terdiam, ia seperti syok ketika membaca biodata Tini alias Dini.
"Dini adik dari Della? Aku tidak pernah tahu tentang ini. Della nggak pernah cerita," sahut Mas Hendra.
"Bukan hanya itu, Della sudah meninggal karena bunuh diri," ucapku membuat mama melempar foto tersebut. Mulutnya ditutup oleh kedua telapak tangannya.
"Apa kamu bilang, Mila? Jangan becanda!" cetus Mas Hendra. Mungkin ia takut sekaligus tidak percaya, karena kini ia malah berhubungan gelap dengan adiknya.
Mas Hendra memilih duduk di sudut kursi, lututnya tiba-tiba lemas ketika ia mendengar ucapanku barusan. Begitu juga dengan mama, ia tampak syok mendengar kenyataan bahwa Della telah meninggal akibat bunuh diri.
"Mah, mama baik-baik saja?" tanyaku sambil menuntun mama ke kursi tunggu. Ada Ayu yang keheranan dengan kami yang tiba-tiba serius.
"Eyang kenapa, Mah? Papa juga! Eyang kakung nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya anakku dengan lengkingan suara yang lemes sekali, usia sedini ini sudah pandai bertanya sesuatu hal yang tak pernah ia lihat dan dengar sebelumnya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Oh ya, kamu tadi naik apa ke sini?" tanyaku pada Ayu.
"Tadi diantar Tante Rika, Mah," sahutnya membuatku terperangah. Jadi Rika tadi sempat pergi bersama Dini.
Mas Hendra yang berada di ujung sana bangkit ketika mendengar Ayu bahwa ia tadi diantar oleh Rika.
"Jadi tadi ada Tante Rika?" tanya Mas Hendra. Ayu mengangguk.
"Mah, sebenarnya Rika itu comblang antara aku dan Tini. Mah, tolong maafkan aku, jangan coret namaku dari daftar alih waris," ungkap Mas Hendra. Mata mama tiba-tiba berkaca-kaca setelah Mas Hendra menebas kata-kata itu. Mungkin sedih mendengar anaknya sudah membicarakan tentang warisan, sementara orang tuanya sedang berjuang dengan maut.
"Keluarga pasien Pak Haris!" teriak suster mengejutkan kami. Akhirnya kami hentikan obrolan ini. Aku dan mama menghampiri susternya.
"Bagaimana, Sus?" tanya mama. Aku ikut mendengarkan apa yang akan suster beritahukan. Sementara Mas Hendra, sengaja memangku Ayu agar tetap di kursi tunggu.
"Kondisi Pak Haris sudah berangsur membaik, sore ini juga Bapak boleh dipindahkan ke ruang rawat inap. Namun, kita masih observasi selama enam jam ke depan, ya Bu. Jadi, untuk sementara, jangan ajak Bapak bicara dulu," ungkap suster memberikan informasi yang membuat kami bernapas lega.
"Terima kasih banyak, Sus."
Ada rasa lega ketika mendengar bahwa papa sudah melewati masa kritisnya. Aku berharap semua baik-baik saja.
Kulihat Mas Hendra menghampiriku, ia membawa tas dan jaket yang dibawanya untuk menginap di sini.
"Aku mau ke luar sebentar, nanti kembali lagi, nanti malam kalian pulang, ya. Biar aku saja yang menemani Papa," pesan Mas Hendra.
"Nggak usah, Hen, Mama yang akan temani Papa, kalian urus Ayu saja," ucapnya.
"Mah, Ayu aku titip ke Mbok Asih saja ya," ucapku, lalu mama mengangguk.
"Aku pergi dulu ya, Mah," pamitnya, tapi respon mama seakan tak peduli dengan ucapan Mas Hendra. Mama begitu dingin pada anaknya sendiri.
???
Pov Hendra
Baby sitter itu adalah selingkuhanku, aku dikenalkan oleh Rika ketika Mila sedang berada di luar kota. Meskipun wanita yang masih belia itu sudah tak per*wan lagi, tapi permainannya sungguh amat menggugah hati. Ia seakan memberikan kenikmatan hingga sampai pada puncaknya.
Tini, wanita yang tiba-tiba masuk dalam rumah tanggaku itu seakan-akan sudah lihai dalam menghadapi pria yang sedang haus dan membuat kepuasan tersendiri.
***
Flashback perkenalan
"Hendra, kenalkan ini Tini, dia baru lulus SMA," ucap Rika mengenalkan wanita yang memakai rok mini baju seksi warna hitam, membuat jantungku seketika berdenyut amat cepat. Terlebih lagi ketika melihat dandanan Tini yang polos, dikunci dua bak gadis desa.
"Kenalkan, nama saya Tini, senang berkenalan dengan Anda," ucapnya semakin membuatku penasaran, suara lembutnya itu pasti membuat laki-laki manapun klepek-klepek.
"Saya, Hendra, apa kamu sudah tahu bahwa aku adalah laki-laki beristri?" tanyaku. Kemudian, gadis itu mengangguk. Perkenalanku sudah diatur oleh Rika ketika itu, bagaimana ia sudah memerintahkan Mbok Asih pergi bersama Ayu bermalam di rumah mertuaku.
Saat itu, hasratku seperti sudah di ujung. Tak tahan rasanya melewati ini semua, karena jantungku semakin berdetak tak karuan.
"Kamu kenapa?" tanya Tini mendekat.
"Aku ...." Baru mengucapkan sepatah kata, aku tak dapat menahannya lagi, kubawa ia ke kamar, dan tak peduli dengan Rika yang masih berada di ruang tamu.
Hingga akhirnya seharian aku di kamar bersamanya. Entahlah kala itu aku seakan tak peduli dengan siapapun.
Malam harinya, aku baru sadar tengah bersama Tini seharian penuh. Rika pun tak tahu setelah itu ke mana.
"Kalau kamu mau setiap saat, aku bisa," cetus Tini sambil merapikan bajunya.
"Bagaimana caranya?"
"Aku bisa dijadikan pembantu," sahutnya. Tapi aku menggelengkan kepala. Sudah ada Mbok Asih, ia tak mungkin dipecat, Mila takkan rela memecatnya.
"Bagaimana jika jadi baby sitter anakmu?" usul Tini.
Akhirnya atas kesepakatan bersama, kami pun melakukan rencana itu. Bayaran untuk Tini hanya lima juta, tapi kadang aku berikan lebih untuknya. Itu juga Tini sering menolak, entah apa yang ia inginkan dariku sebenarnya.
***
Aku tersentak ketika Mila menyebutkan bahwa Tini tidak lain adalah adik dari Della, mantan kekasihku yang sempat frustasi ketika datang di resepsi pernikahanku.
Aku harus bertemu dengan Rika, maksud dia mengenalkan aku dengan Dini yang berganti nama menjadi Tini itu apa? Lalu kenapa ia tidak bilang bahwa ia adalah adik dari Della?
Aku pernah berpacaran dengan Della dua tahun lamanya, tapi kami berdua backstreet, kedua orang tua kami tak merestui karena kami berdua masih duduk di bangku sekolah SMA. Keberadaan adiknya juga kala itu bersekolah di jogja. Makanya, aku tak mengenali siapa adiknya Della. Terlebih lagi ketika putus, aku memang memutuskan untuk tak komunikasi lagi dengannya.
Rika, aku harus bertemu dengannya. Sebaiknya aku temui ia secara mendadak agar ia tak mengelak ketika ditanya.
Kuinjak gas mobil dengan kencang. Berharap menemukan titik terang tujuan dan motif mereka yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan rumah tanggaku.
"Arghhh!" teriakku kesal sembari membanting tanganku ke gagang setir mobil.
Ponselku pun berdering ketika sedang fokus mengendalikan mobil. 'Rika, panjang umur dia, rupanya ia sudah tahu aku akan menemuinya sekarang,' gumamku dalam hati.
Kemudian, aku angkat dengan mengurangi kecepatan.
"Halo, Rika."
"Kamu di mana? Bisa ketemuan?" tanyanya.
"Aku menuju restoran tempat usaha kamu."
"Baiklah, kebetulan sekali, aku tunggu," tutupnya.
Kemudian, aku lajukan mobilku dengan kecepatan sedang, karena sedikit lagi sudah hampir sampai di lokasi.
Kuparkirkan mobil di sembarang tempat. Ini restoran milik Rika yang aku modali dua bulan lalu.
Setibanya di sana. Rika sudah duduk bersama Tini alias Dini. Kebetulan sekali keduanya berada di sini. Akan kutanyakan keduanya secara berbarengan.
"Hai!" sapa Rika dari jauh sambil melambaikan tangannya.
Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapan mereka.
"Duduk di sampingku, Mas!" Wanita yang kuanggap polos itu memintaku duduk di sampingnya. Namun, aku mengelak.
"Di sini saja," sahutku dengan muka datar.
"Aku ingin bicara, tapi duluan kamu saja," seru Rika.
Aku pun membuka percakapan dengan kedua tangan menumpuk di atas meja.
"Kalian ini punya rencana apa?" tanyaku seketika membuat kedua wanita di hadapanku menautkan alisnya.
"Maksudnya?" tanya Tini.
"Ya, tolong jelaskan Dini Tania Nadira!" tekanku membuat kedua wanita di hadapanku terbelalak.
Bersambung