Bab 9

1333 Words
Bab 9 Aku ambil foto yang berukuran 3R itu, jantungku lemas seketika, ketika melihat sosok wanita yang bersebelahan dengan Tini alias Dini. "Della?" gumanku. Seketika wajah ini membeku melihat foto yang Hermawan berikan. "Apa Bu Mila kenal?" tanya Hermawan. Aku masih syok melihat wajah yang ternyata sudah meninggal akibat bunuh diri. "Itu artinya Dini sedang memainkan peran untuk membalas dendam ke suamiku?" tanyaku pada Hermawan. Ia mulai serius ketika mendengar penuturanku barusan. Kedua telapak tangannya sampai menyanggah di bawah dagu. "Jadi, Della itu suka dengan Pak Hendra? Lalu bunuh diri gara-gara Bu Mila nikah dengan Pak Hendra?" Hermawan mengurutkan dadanya pelan-pelan seraya tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Sama, aku juga masih tak percaya bahwa perselingkuhan ini dibuat dengan sengaja. "Ya, mereka dulu pasangan kekasih, entahlah apa yang membuat mereka putus, setiap kali kutanyakan pada Mas Hendra, tak pernah ia jawab," jelasku pada Hermawan. Laki-laki yang terpaut jauh usianya lebih muda dariku pun mengangguk, seraya paham atas apa yang kuceritakan. "Hanya satu yang ingin kutanyakan, Rika, ia kenapa bersikeras membantu perselingkuhan?" tanya Hermawan. "Kalau mengenai itu, aku pun tak mengerti," jawabku sambil menggelengkan kepala. Berkali-kali aku mencerna segala sesuatu yang pernah terjadi. Namun, masih belum dapat menyimpulkan dengan Rika, untuk apa ia menjadi comblangnya mereka? Masa iya seorang pebisnis melakukan itu hanya karena uang? "Sekarang, kamu cari tahu tentang Rika lebih dalam, aku masih penasaran apa motif ia membantu Dini," suruhku. Hermawan mengangguk tanda memahami apa perintahku. "Bu, ada satu lagi, sebenarnya Tini itu bukan orang dari desa, rumahnya lumayan gedung, punya mobil dan fasilitas lainnya," ucapnya. Aku mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Hermawan. Kalau ini, aku sudah tahu, silsilah Della memang keturunan orang kaya. "Minum, Hermawan!" suruhku. "Terima kasih, Bu," sahut Hermawan. Aku memutar sedotan di dalam gelas minuman sambil memikirkan apa yang akan kulakukan untuk melindungi anakku, Ayu. Ia bisa saja membahayakan anakku, meskipun sudah kuusir, khawatir Dini yang pendendam ini berubah menjadi dirinya sendiri ketika marah mulai melanda. "Ibu baik-baik saja?" tanya Hermawan. Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Kemudian menghela napas dalam-dalam lalu kupejamkan mata ini untuk berpikir jernih. "Aku harus melindungi Ayu lebih dulu, setidaknya Ayu harus aman dari genggaman Dini," cetusku. "Saya sepemikiran, biasanya jika perselingkuhan sudah ketahuan, maka jalan terakhir yang akan jadi korban adalah anak," sahut Hermawan membuatku bergidik. Rasa cemas makin menjadi-jadi ketika ia bicara seperti itu. "Baiklah, aku pulang dulu ke rumah, untuk membawa Ayu ke rumah orang tuaku," kataku sambil mengambil uang untuk membayar minuman yang barusan aku pesan. "Bu, hati-hati ya, jangan terlalu fokus ke satu masalah, fokus saja ke penyelesaiannya," pesan Hermawan. Aku pun mengangguk, lalu bangkit dan berjabat tangan dengannya. Kini aku akan menjemput Ayu dan Mbok Asih, lalu membawanya ke rumah orang tuaku di pondok gede. Agak jauh dari rumahku dan pantauan Dini. Di perjalanan, pikiran ini tak lepas dari wajah Della, bayangan ketika ia hadir dalam pesta pernikahanku dengan tangisan air mata selalu hadir. Namun, aku tidak mengetahui bahwa itu terakhir kalinya bertemu dengan Della. Aku lajukan setir agar cepat sampai di rumah, khawatir terjadi sesuatu dengan Ayu. Cinta memang membuat orang buta, aku yang hanya diperjodohkan oleh orang tua, memang tidak tahu jika Della mencintai Mas Hendra sampai sedalam itu. Aku mengerti apa yang ia rasakan, tergores itu memang perih, tapi itu bukan pertanda akhir dari segalanya. Aku nyalakan klakson dengan kencang, kemudian terus menerus menekannya. Sontak Mbok Asih keluar dari rumah, lalu membuka pintu. Aku buka kaca jendela, lalu bicara hanya dari luar. "Mbok, Tini sudah nggak ada di rumah, kan? Ia sudah pergi dari sini, kan?" tanyaku dengan kepanikan. Mbok Asih mengernyitkan dahi. Seraya ikut keheranan dengan kecemasanku ini. "Bu, kata Tini, ia hari ini terakhir kerja, makanya sedang beres-beres pakaian, di dalam ada sedang dibantu oleh Ayu," cetus Mbok Asih membuatku sontak mematikan mesin mobil. Tanpa bertanya lagi, aku pun mencabut kunci lalu turun dan melihat mereka. Aku langkahkan kaki ini setengah berlari, agar cepat sampai di kamar Tini. Setibanya di depan kamar, aku pun membuka pintunya. Namun, mereka tidak ada di tempat. Mbok Asih yang berada di sampingku pun terheran. "Bu, tadi mereka di sini," ucap Mbok Asih. Aku rasa ia panik juga, karena ia yang ia informasikan salah. "Bantu cari, Mbok," sahutku sambil berlalu. "Ayu!" teriakku kencang. Kemudian, aku pun mencari ke kamarnya, tapi tidak ada. Mbok Asih pun menemui aku dan melaporkan bahwa tidak ada di sudut mana pun. Aku terdiam, mengatur napas agar bisa berpikir jernih. Kemudian, Mas Hendra menghubungiku. "Mila, Ayu ada di rumah sakit," ucapnya membuatku bernapas lega. Apa yang kecemaskan ternyata tidak terjadi. "Iya, Mas. Aku baru saja berniat mau mandi, tapi mencari Ayu tidak ada di tempat, dari tadi mencarinya dengan ketakutan," sahutku sambil mengurutkan d**a. Kemudian, aku duduk karena lutut ini sudah terlampau lemas mencari keberadaan Ayu tadi. "Ia ke sini bersama Tini, nggak apa-apa, kan?" tanyanya. Pendendam yang suatu saat bisa menghancurkan aku dan anakku. Pastinya bukan orang yang aman. "Mas, maaf kalau bisa tolong pecat Tini," pintaku padanya. "Iya, aku akan pecat Tini, tapi tolong jangan meminta cerai padaku," sahutnya membuatku enggan bicara. "Mas, Ayu jangan ke mana-mana lagi sampai aku yang akan membawanya pulang, tolong, Mas. Tini itu wanita berbahaya," lirihku. Namun, telepon tiba-tiba terputus. Akhirnya aku bergegas lagi ke rumah sakit, agar Ayu tidak ikut bersama Tini lagi. Panik rasanya melihat anakku yang ternyata di dekat orang yang penuh dendam. "Mbok, aku ke rumah sakit lagi, tolong jika Ayu pulang, jangan diberikan izin dekat dengan Tini," pesanku sambil berlalu. Kuinjak gas dengan sekencang-kencangnya, kemudian melajukan dengan pikiran tak seimbang. Raga si kecil sedang dalam bahaya. Aku takkan mungkin dapat tinggal diam. "Halo, Mah, tolong amankan Ayu, tunggu aku sampai tiba di rumah sakit," pesanku melalui sambungan telepon. "Iya, Mila. Ayu sedang bersama Mama," ucapnya. Aku lega sekali, apa sekalian saja aku buka jati diri Tini yang ternyata adalah adik dari Della? "Makasih, Mah, aku sedang berada di jalan." Telepon pun aku matikan. Lokasi rumah sakit yang seharusnya dari rumah kutempuh setengah jam, kali ini saking ngebutnya aku dapat menempuh hanya dua puluh menit. Ya, aku sudah tiba di depan rumah sakit. Kemudian, aku berlari hingga napasku tersengal-sengal. Tak lupa sambil mengetik pesan untuk Hermawan. [Tolong kirimkan biodata Tini yang asli berikut fotonya, kamu bisa cari dengan segera.] Setelah mengirimkan pesan untuknya, dan masih posisi setengah berlari, akhirnya aku sampai di lantai 3 tempat mama dan Mas Hendra menunggu papa siuman. Ternyata kepanikanku terlalu berlebihan, Tini sudah tidak berada di sana. Sepertinya memang diusir oleh mama. "Ayu!" teriakku. Napas yang sudah kuatur, kini bertambah tenang ketika melihat anakku dalam keadaan sehat. "Kamu kenapa si?" tanya mama heran. "Nggak apa-apa, Mah. Tini ke mana?" tanyaku. "Sudah mama usir," sahutnya. "Lalu Mas Hendra ke mana?" tanyaku lagi, mama pun menoleh ke arah kursi tapi tidak ada Mas Hendra di situ. Mama menggelengkan kepalanya, kemudian menghela napas dalam-dalam, sepertinya bercampur kesal. "Pasti ngejar wanita jalang itu, anak sudah teracuni wanita," cetusnya. "Nggak, Mah. Aku di sini, tadi ke toilet sebentar!" cetus Mas Hendra dari arah kejauhan. Mama pun memalingkan wajahnya. "Sudah kamu usir wanita itu?" tanya mama dengan nada sinis, matanya tak kerap memandang anaknya dengan tatapan sinis, bibirnya pun sulit untuk tersenyum di hadapannya. "Kan sudah Mama usir, aku tak perlu usir juga dia sudah pergi," sahut Mas Hendra. "Kalau Papa tidak dalam keadaan sakit, Mama sudah usir kamu juga, tak sudi melihatmu di sini," celetuk mama lagi. Kemudian, chat dari Hermawan pun masuk. Sebuah data asli Tini, yang tidak lain adalah Dini. "Mas, Tini itu bukan wanita kampung, ia juga bukan berasal dari keluarga sembarangan, kamu tahu itu atau pura-pura tidak tahu?" tanyaku menyelidik. Mata Mas Hendra seketika melejit ketika mendengar penuturanku. "Ngaco kamu, tanya saja Rika. Ia yang mengenalkan aku, namanya Tini," elak Mas Hendra. "Ini, Mas, foto dan datanya. Kalau kamu ingin tahu siapa Tini sebenarnya, jika kamu sudah tahu, maka kamu akan bergidik sendiri," sahutku. Ia akan mengingat masa lalu bersama Della ketika melihat sosok yang berdiri di samping Tini. Mama pun turut ingin tahu, hingga melirik secara diam-diam ke arah foto dan biodata yang berada dalam ponselku. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD