Bab 8
"Aku percaya pada Mila, ketimbang kamu, Rika," ucap mama masih dengan tatapan nanar. Namun, ucapannya barusan membuatku bernapas lega. Jantungku yang tadi berdegup sangat kencang mulai normal kembali.
"Mah, terima kasih telah mempercayaiku lagi," sahutku sambil mengelus-ngelus punggungnya.
Kemudian, mama mengajakku duduk di sudut kursi tunggu. Kami melewati Mas Hendra yang sedang duduk menunggu kabar kondisi papa juga. Ia bangkit ketika kami lewat.
"Mah, mau ke mana?" tanya Mas Hendra, tapi mama terdiam, tak menjawab pertanyaan Mas Hendra.
"Bude, aku pamit ya," ucap Rika menghampiri. Aku rasa ini karena mama tak percaya ucapannya tadi.
Rika mengecup punggung tangan mama, tapi tak ada respon senyuman yang terpancar di wajah mama untuk Rika.
"Mas, aku balik ya, semoga Pakde lekas sembuh," sambung Rika.
"Makasih, Rika," sahut Mas Hendra.
Tanganku ditarik mama ke sudut kursi, sepertinya ia ingin bicara sesuatu padaku.
"Bagaimana caranya kamu mengetahui perselingkuhan Hendra?" tanya mama dengan mata tetap mengarah ke depan. Tatapannya kosong, ia sepertinya syok melihat keadaan papa saat ini.
"Awalnya, aku menemukan sebuah alat kontrasepsi, Mah. Kemudian, mendengar ucapan Ayu tentang perbuatan mereka. Lalu aku inisiatif untuk menyuruh Mbok Asih menggangu hubungan mereka. Mas Hendra terang-terangan mengkhianatiku saat aku di rumah, dengan memberikan obat tidur ke dalam minuman yang ia buatkan untukku."
Mama menoleh ke arahku, kemudian menyeka air matanya.
"Sehina itu perbuatannya, mama tidak menyangka," celetuk mama kecewa.
"Setelah itu, aku pasang CCTV, untuk tetap mengintai hubungan mereka ketika aku ke luar kota," jelasku lagi. Mama makin terisak mendengar penuturanku.
"Papanya tidak pernah selingkuh, mama kaget melihat kelakuan anak mama seperti itu," isaknya.
"Aku juga nggak percaya, tapi inilah kenyataannya," ungkapku.
Mama mengangguk, perasaan kecewa dan sedih melebur jadi satu. Terlebih lagi kesehatan papa semakin memburuk sejak aku memberikan kabar ini.
"Rika, kenapa ia bersikeras membela Hendra?" tanya mama.
"Entahlah, tapi yang aku tahu, Rika lah mak comblang mereka," ucapku.
"Jadi, Tini itu kenal dengan Rika?" tanya mama. Aku pun mengangguk.
Tidak lama kemudian, Mas Hendra menghampiri kami.
"Mah, Mila, maafkan aku, jangan hukum aku seperti ini," lirihnya.
Mama terdiam, ia tidak menjawab apa pun yang Mas Hendra ucapkan.
"Mama mohon, pergi dari sini!" sentak mama. Mas Hendra pun mundur lalu menuruti apa keinginan mama.
"Baiklah, Mah. Jika untuk saat ini, hanya itu yang bisa membuat mama tenang, aku akan menjauh dari mama. Semoga dengan begitu, mama bisa memaafkan aku," ucap Mas Hendra sambil mundur ke belakang. Mama tetap tak menjawab, rasa sayang sudah enyah bersama kepercayaan.
Sakit tentunya, mendidik anak untuk setia terhadap pasangan, tapi ia malah mengkhianatinya. Terlebih lagi, ia tak pernah mencontohkan untuk seperti itu.
Aku tahu betul seperti apa orang tua Mas Hendra, mereka penyayang, baik pada Mas Hendra maupun padaku.
"Mama dan papa paling benci perselingkuhan, kami berdua trauma dengan kedua orang tua kami, jadi wajar jika penyakit papa kambuh setelah melihat video perselingkuhan Hendra, mungkin papa teringat orang tuanya," lirih mama. Perasaan bersalah mulai muncul seketika.
Tidak lama kemudian, setelah Mas Hendra pergi. Aku mendapatkan telepon dari Hermawan, mata-mata yang telah kusewa.
"Mah, aku angkat telepon dulu," pamitku. Kemudian, bangkit dan melipir agak menjauh.
"Halo, ada apa?" tanyaku dengan suara agak pelan. Khawatir mama tak menyukai tindakan aku yang nekat ini.
"Bu, ternyata Tini itu bukan nama asli," terangnya membuatku terkejut.
"Apa?" Tangan kiriku kini pindah ke pelipis kening, rasanya kenyataan yang mulai memberikanku titik terang.
"Iya, Bu. Nama asli Tini adalah Dini Tania Nadira." Aku makin tersentak mendengar nama asli yang disebutkan oleh Hermawan.
"Kamu dapat dari mana informasi ini?" tanyaku menyelidik.
"Dari lingkungan sekitar, setelah memberikan fotonya," ucap Hermawan.
"Baiklah, besok kita ketemu di cafe biasa ya, aku ingin tahu semuanya, kalau cerita di telepon, khawatir memakan waktu lama," jelasku sambil menutup teleponnya.
Aku tutup telepon, lalu kembali duduk bersama mama mertua.
"Dari siapa?"
"Teman, Mah," sahutku.
"Oh ya, Mama ingin ceritakan tentang keluarga Rika juga. Usaha mereka sukses belakangan ini, itu karena modal dari Papa."
"Mah, Rika itu sepupu Mas Hendra, kan?" tanyaku. Kemudian mama mengangguk.
"Iya, tapi mereka dekat, dari kecil sering main bareng," ucapnya.
"Mah, kita tidur dulu, siapa tahu besok ada perubahan dengan kondisi Papa," ajakku ketika melihat kantong mata yang terpancar di wajah mama. Sedari tadi ia menangisi papa, sehingga kantong matanya membesar.
Mama pun mengangguk, kami tidur di depan ruangan tempat papa diberikan perawatan intensif.
Aku berharap besok Hermawan memberikan informasi lebih tentang Rika juga. Bukan hanya Tini yang mendapatkan balasan, Rika pun harus mendapatkannya. Sebab, awal mulanya pasti dari dia.
Aku dan mama memejamkan mata, agar kami dapat melihat perkembangan kondisi papa esok hari.
***
"Mah, bangun, sudah pagi," bisikku di telinga mama yang menyandar di pundakku.
"Mila, apa suster sudah memberikan informasi?" tanya mama.
"Aku belum dengar, Mah. Semoga saja setelah ini ya, Mama mau makan apa?" tanyaku ingin membelikan ia sarapan. Namun, tiba-tiba Mas Hendra datang.
"Ini sarapan untuk kalian," ucapnya sembari memberikan dua kantong plastik yang berisikan styrofoam.
"Terima kasih," ucapku lalu membuka isinya, yang ternyata bubur ayam kesukaan mama.
"Mah, makan yuk. Aku suapin ya," imbuhku sambil membuka dan mulai menyuapinya. Kemudian, Mas Hendra juga membawakan teh manis hangat untuk mama dan aku.
"Kalian harus tetap sehat," ujar Mas Hendra menyemangati.
Namun, mama tak begitu peduli dengan kedatangan Mas Hendra. Ia makan pun tanpa mengucapkan terima kasih padanya. Usai makan, aku rapikan sampahnya.
"Mah, aku izin ke luar dulu, nanti kalau ada kabar, tolong telepon aku ya," pamitku padanya.
"Jangan lama-lama, Mila. Mama tidak mau ditemani Hendra di sini," pesan mama iba. Aku pun mengangguk, berjanji takkan lama-lama pergi.
Tanpa pamit pada Mas Hendra, aku melangkah ke luar rumah sakit. Melewati lorong rumah sakit dengan banyak memikirkan apa yang akan dibicarakan Hermawan nanti. Pasti banyak yang ia temukan.
***
Tepat pukul sembilan pagi, aku sudah tiba di lokasi. Cafe yang memang buka dari pagi hingga petang saja, aku menunggu sambil memesan minuman untukku dan Hermawan.
Sekitar lima belas menit setelah aku menunggu, akhirnya ia datang dengan suara tersengal-sengal.
"Loh, kamu ada apa? Napasmu seperti buru-buru gitu?" tanyaku penasaran. Kemudian, aku berikan minuman yang telah aku pesan untuknya. Setelah meneguk segelas es teh manis, barulah ia mulai tenang.
"Tadi sebelum ke sini, saya mendapati Rika dan Tini atau Dini itu bertemu," ucapnya sambil mengatur napas.
"Terus ketahuan?" tanyaku cemas. Mataku menyipit ketika mengetahui bahwa mereka tahu pengintaianku ini.
"Untungnya nggak, Bu," ucapnya membuatku bernapas lega. Aku pikir ketahuan dan urusannya bisa beda jika mereka tahu aku ini sedang memata-matai mereka.
"Kamu tarik napas dulu, lalu buang, setelah itu, ceritakan semua yang kamu dapatkan," suruhku.
Kemudian Hermawan melakukan apa yang kuperintahkan. Setelah itu, ia mulai bercerita.
"Semalam saya sudah bilang, bahwa nama Tini ternyata palsu, ia bernama Dini. Tinggal di Jl. Dumay 10."
Aku mengernyitkan dahi, sepertinya pernah dengar alamat ini, tapi dengar di mana aku pun lupa.
Aku mulai tegang, tubuhku agak maju ke depan karena agar lebih serius bicara dengan Hermawan.
"Menurut warga, Dini ini tertutup, tak pernah keluar rumah sebelumnya. Ia memiliki seorang kakak wanita, tapi sayangnya sudah meninggal," ungkap Hermawan membuatku semakin penasaran.
"Lalu, apa hubungannya dengan kakaknya Tini alias Dini?" tanyaku lagi.
"Itu dia, menurut pengakuan seorang warga, Tini alias Dini ini menjadi wanita pendendam semenjak kakaknya meninggal, jadi ia dendam dengan laki-laki yang telah menyakiti kakaknya hingga berakhir kematian," sambung Hermawan seketika membuatku bergidik.
"Maksudnya? Kakaknya itu mati karena bunuh diri?" tanyaku agak sedikit takut.
Hermawan pun mengangguk sambil merogoh tas yang ia bawa. Lalu memberikan foto kakak dari Tini alias Dini yang mati bunuh diri itu.
Bersambung