Bab 7
Aku mundur satu langkah agak ke belakang, khawatir malah memperkeruh keadaan. Namun, ternyata khayalanku salah.
"Usir laki-laki baji*gan ini, Mah!" cetus papa meskipun sambil memegang dadanya. Mama yang tadi sempat menyalahkan aku atas sakitnya papa pun terlihat kebingungan. Matanya menyipit ke arahku, kedua alisnya ditautkan bagai ulat bulu.
"Mila, ke sinilah!" suruhnya.
Aku menghampiri papa selangkah kembali, tapi papa meminta untuk terus mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa Papa malah memanggil istrimu dan mengusir kamu, Hendra!" cecar mama. Mas Hendra pun mulai mengeluarkan keringat dingin, ia tampak gugup hingga melipat bibirnya ke dalam.
"Mah, usir dia bersama wanita jalang yang bernama Tini, usir Mah!" sentak papa hingga terbatuk-batuk.
"Pah, Papa tenang ya, maafkan Mila, Pah," lirihku pada papa.
"Kamu tak perlu minta maaf, Mila, aku tak sudi memiliki anak pengkhianat," ujar papa masih memegang dadanya.
Mama telah membawa Mas Hendra ke luar, ia menuruti apa perintah papa. Jelas papa marah, ia seorang ayah yang menjunjung tinggi kesetiaan tapi anaknya malah mengkhianati istrinya, entah setan apa yang telah merasukinya.
"Mila, tolong hubungi pengacara papa, ada yang ingin papa bicarakan sebelum papa mengembuskan napas terakhir."
"Pah, Papa janji akan sembuh, jangan bilang seperti itu, nanti siapa yang membela aku dan Ayu?" Sambil menggenggam tangan papa, aku memberikan ia semangat.
"Entahlah, semoga Papa panjang umur, Mila. Meskipun begitu, Papa tidak ingin melihat Hendra bersama dengan wanita lain selain kamu," sahutnya membuatku terharu.
"Iya, Papa sembuh dulu ya, nanti kita bicarakan lagi," ungkapku sambil memberikan ponsel yang papa pinta dihubungi dengan pengacaranya. Lalu papa bicara singkat pada pengacaranya.
"Ferry, tolong hapus nama Hendra dari daftar warisan, semua pindah untuk Ayu, cucuku," ucapnya singkat, lalu dimatikan olehnya.
Tidak lama kemudian, mama datang menghampiri.
"Mah, sudah kamu usir Hendra?" tanya papa.
"Sudah, ada apa sih, Pah?" Mama yang baru saja membuka pintu, menutupnya terlebih dahulu, kemudian melangkahkan kakinya ke arah ranjang tempat papa merebahkan tubuhnya.
"Anakmu berkhianat, Mah, dengan seorang baby sitter pula," ucap papa membuat mama terbelalak. Ia menoleh ke arahku seperti rasa tak percaya.
"Pantas saja, Mama pernah memergoki mereka sedang becanda di rumah ketika kamu sedang ke luar kota, Mila," terang mama. Aku tersenyum tipis dengan mengangkat sedikit bibir ini.
"Apa Mama menyetujuinya?" sindirku.
"Ya nggak lah, kenapa selera Hendra rendah begitu?" tanya mama. Ini juga pertanyaanku yang belum berhasil aku temukan jawabannya.
Setidaknya mertuaku tak merestui hubungan gelap mereka. Di sini aku merasa lega dan seakan akulah pemenangnya.
"Ya, Mah, apakah kita tendang saja Hendra dari keluarga Haris Sudirdja?"
"Jangan seperti itu, Pah. Ada saatnya anak menjadi cobaan orang tuanya, tapi kita harus arahkan ke jalan yang benar," tutur mama. Mas Hendra memang salah jalan, tapi rasanya kesalahan yang teramat fatal ini, tak mudah untuk memaafkannya.
"Mah, tapi Papa ...." ucapannya terputus, ia memegang dadanya kembali. Kami semua panik dan teriak.
"Dokter! Suster!" teriakku dan mama.
Kemudian dokter datang berlarian dan kami disuruhnya menunggu di luar.
Masih ada Mas Hendra dan Tini, juga Ayu yang berada di kursi tunggu.
"Mah, Papa kenapa?" tanya Mas Hendra ketika melihat mamanya menangis.
"Jantung Papa kumat lagi," sahut mama.
Tidak lama kemudian, suster keluar dari ruang tindakan.
"Bu, Pak Haris harus dipindahkan ke ruangan ICU, silahkan urus ke administrasi!" tunjuk suster.
"Saya yang akan mengurusnya, Sus," sahut Mas Hendra.
Kemudian, suster masuk kembali ke dalam ruangan. Aku harap papa baik-baik saja, aku tidak ingin akibat perselingkuhan menjadi petaka untuk keluarga kami.
Aku memeluk Ayu, agar tidak jauh-jauh dariku dan memintanya untuk pulang ke rumah dijemput Mbok Asih.
"Ayu, kamu pulang, tidur dengan Mbok Asih ya," ucapku. Ayu menggelengkan kepalanya.
"Ayu di sini aja, jagain Eyang, kata Kak Tini, nanti kalau Eyang meninggal gimana?" celetuknya membuatku marah.
"Tini! Apa-apaan kamu bicara seperti itu dengan anakku," cetusku.
"Sudah Mila, jangan ribut di rumah sakit!" cegah mama.
"Iya, Mah."
"Tini, saya pinta kamu pergi dari sini!" seru mama.
"Tapi Bu, nanti Ayu sendirian," sahutnya.
"Kamu pergi! Jangan kembali lagi ke rumah anak menantu saya!" tegas mama sekali lagi. Tini pun meraih tasnya, lalu ia pergi dengan cepat.
Wanita yang sudah menghancurkan hubungan rumah tangga orang lain, menurutku dia bukan wanita baik. Jadi, jika dijadikan pengasuh pun tidak akan baik untuk Ayu.
Aku bernapas lega, karena mama sudah mengusir wanita yang sengaja masuk dan hadir di tengah-tengah keluargaku.
"Bu, Ayu saya bawa pulang ya!" celetuk Mbok Asih tiba-tiba. Aku yang sedang melamun terkejut hingga buyar semuanya.
"Silahkan, Mbok. Oh ya, satu lagi, pastikan Tini sudah angkat kaki dari rumah," perintahku pada Mbok Asih.
"Baik, Bu. Saya pastikan, Tini pergi dari rumah," sahut Mbok Asih.
Tidak lama kemudian, datanglah Rika setelah mama mengusir Tini. Saudara sepupu dari adiknya Mama Soraya. Ia datang untuk apa? Merayu mamaku untuk merestui hubungan Tini? Aneh sekali kedua wanita itu. Sampai saat ini, aku masih penasaran motif ia mendukung perselingkuhan Mas Hendra dengan Tini itu apa.
"Bude!"
"Loh, Rika, kamu di sini?" tanya mama heran.
"Iya, Bude, tadi tahu dari Mas Hendra," terang Rika. Aku tahu maksud dari Mas Hendra menghubunginya, pasti untuk memberikan informasi bahwa Tini telah diusir oleh mama.
Tidak lama kemudian, Mas Hendra pun datang, ia sudah mendapatkan ruang ICU untuk papa.
"Loh kamu di sini, Rika?" tanya Mas Hendra. Rika pun terkejut ketika Mas Hendra tanya dan heran ia ada di sini.
"Kata kamu tadi tahu dari Hendra, ini kenapa Hendra jadi tanya keberadaanmu di sini?" tanya mama heran. Alisnya sampai ditautkan karena jawabannya tidak sesuai.
Aku yang berdiri tiga meter dari jarak antara mereka pun tersenyum tipis. Ternyata mama cerdas juga menyikapi ini.
"Oh iya, Hendra lupa, Mah. Tadi memang aku yang memberi tahu Rika," elaknya membuatku enggan menatapnya.
Laki-laki yang berselingkuh, pandai bersilat lidah, ia pandai mengalihkan pembicaraan. Jadi, tidak ada alasan untuk bertahan pada pembohong kelas berat.
Team medis membawa papa ke ruang ICU. Matanya yang terpejam ketika lewat di hadapan mama, membuat mertuaku menangisinya.
"Pah, Papa bangun!" teriak mama.
"Bu, maaf Pak Haris harus dibawa ke ruang ICU," ucap salah seorang petugas. Kemudian mereka membawanya dengan segera. Kami pun turut mengikutinya.
Setibanya di depan ruang ICU. Kami semua hanya melihat papa dari balik kaca. Kami belum bisa menemuinya sekarang, dokter masih menyarankan untuk tidak menemuinya terlebih dahulu.
"Mah, sebaiknya mama istirahat," ucapku pelan. Namun, mama tampak melamun, pandangan matanya kosong ketika aku ajak bicara.
"Seharusnya Pakde tidak berada di sini, Bude," ujar Rika mengejutkanku.
Mama menoleh ke arahnya. Kemudian, pindah menyorotku.
"Maksud kamu, kalau bukan karena Tini, suamiku takkan di ruang ICU?" tukas mama.
"Bude, Tini tidak sepenuhnya bersalah, begitu juga dengan Mas Hendra, mereka hanya tak menyia-nyiakan kesempatan," sanggah Rika memberikan pembelaan. Aku pun menghela napas, kenapa ia ikut campur rumah tangga orang?
"Sudahlah Rika, kamu ngapain ikut campur?" tanyaku.
"Pakde Haris masuk ICU, gara-gara kamu, Mila!" tekan Rika dengan mata membulat. Ia berusaha menghasut mama untuk membenciku, dan menyalahkan aku atas kejadian ini.
Aku tertawa kecil, mendengar penuturan Rika. Ia memutar balikkan fakta agar mama terhasut dengan ucapannya.
"Mah, tadi aku udah jelasin pada mama semuanya, Mama paham itu, kan?" tanyaku. Kemudian, mata mama tak kedip memandang wajahku. Apa jangan-jangan ia sudah termakan hasutan Rika?
Bersambung