Bab 6
"Pah, jangan lihat video itu," rayu Mas Hendra. Aku pun meliriknya, lalu menarik bibirku yang sebelah, agar terlihat sinis dan tegar di hadapan Mas Hendra, padahal hati ini rapuh ingin teriak sekencang-kencangnya.
"Eyang ... Ayu pingin jus melon," ucap Ayu yang tiba-tiba datang meminta jus, aku rasa ini hasutan Tini, tidak mungkin Ayu meminta pada Eyangnya sambil merengek seperti itu.
"Ayu, Sayang, kamu main dulu, ya. Mama adalah urusan, nanti jus nya diantar oleh pelayan," sahutku pelan. Ayu pun mengangguk dan kembali ke tempat arena bermain.
Sedangkan aku kembali fokus pada video yang sudah kusimpan di laptop.
Aku scroll bagian video durasi lima belas menit, tapi kucari sudah tidak ada, apa dihapus oleh Mas Hendra ketika Ayu merengek minta jus?
Aku menoleh ke arah Mas Hendra, kemudian melihat ia tersenyum tipis ke arahku. Lalu ia berbisik tepat di telingaku, "Kamu kalah, Sayang."
Memang aku wanita yang sudah dikalahkan oleh seorang Tini. Namun, aku tidak bodoh seperti apa yang Mas Hendra bisikkan.
"Mana videonya?" tanya papa mertuaku. Aku menutup laptop yang tadi sudah kubuka.
"Ada yang hapus, Pah," celetukku membiarkan Mas Hendra tertawa.
"Memang video apa? Penting nggak?" tanyanya lagi. Kemudian, Mas Hendra pamit untuk mengambilkan jus untuk Ayu. Memang itu yang aku harapkan.
"Aku mau pesan jus melon untuk Ayu," ujarnya sembari bernapas lega.
Kemudian ia ayunkan kakinya ke arah pelayan, dan setelah itu, ia menghampiri Ayu dan baby sitter plus-plus itu. Dari kejauhan, terlihat mereka saling membenturkan telapak tangannya, seraya sedang merayakan kesuksesannya telah menghapus video itu.
"Mila, kamu bengong? Ada yang ingin dibicarakan lagi tidak?" tanya papa sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Ini, Pah, aku sudah backup di ponsel, hanya saja menunggu Mas Hendra menjauh terlebih dahulu," terangku sambil menyodorkan ponsel yang sudah kusiapkan masuk ke galeri. Kuperhatikan dua insan yang berada di ujung sana berdiri, terlihat wajah cemas mereka seperti menghantui.
"Coba sini Papa lihat, penasaran apa sih yang ingin kamu kasih tahu Papa," sahutnya sembari memperhatikan video yang sudah kutekan tombol on nya.
Selang beberapa menit, papa memegang dadanya. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Pah, Papa baik-baik saja, kan?" tanyaku penasaran. Sebab, setelah menyaksikan video itu papa selalu memegang dadanya.
"Anak kurang ajar!" tekan papa sembari meremas dadanya. Astaga, apa penyakit jantung papa kumat?
"Pah, aku matikan ya," ucapku sembari meraih kembali ponsel itu.
Papa masih bernapas, sebaiknya aku bawa papa ke rumah sakit terdekat. Lima menit ada di sekitar sini.
"Pah, tahan, ya. Maafkan aku," ucapku sembari mencoba menuntunnya.
"Pah, Mila, mau ke mana?" tanya Mas Hendra membuat papa tiba-tiba semakin sesak.
"Di-diam kamu anak bodoh!" tekan papa sambil menggigit bibirnya seraya menahan sakit di d**a. Tidak lama kemudian, ia pun pingsan tak sadarkan diri.
"Pah!" teriakku.
"Pah!" susul Mas Hendra. Kupegang denyut nadinya ia masih berdenyut. Akhirnya Mas Hendra membopongnya dengan tergopoh-gopoh ke mobil papa.
"Kamu nggak usah ikut!" sentak Mas Hendra padaku. Kemudian, ia membawanya pergi ke rumah sakit.
Aku berusaha mengejar mereka, Ayu dan Tini pun ikut bersamaku. Tak ada air mata yang tumpah ketika aku duduk memegang setir, yang ada hanya darah yang semakin mendidih, karena bentakkan Mas Hendra tadi di hadapan semua orang.
"Mah, Eyang kenapa?" tanya Ayu.
"Sakit, Sayang. Kamu doakan Eyang ya," ucapku.
Kulihat mobil papa yang dikemudikan oleh Mas Hendra belok ke sebuah rumah sakit. Lalu dibawanya ke UGD.
Kami semua cemas menunggu tindakan dokter, aku khawatir terjadi sesuatu pada papa, jika itu terjadi, mama pasti membenciku.
Aku duduk di kursi tunggu. Mas Hendra duduk bersebelahan dengan wanita itu yang sengaja memangku Ayu. Kemudian, ia merogoh ponsel, lalu menelepon seseorang, sepertinya menghubungi mama.
Aku menghela napas, berharap nanti Mas Hendra tidak berbohong pada mama.
Sudah hampir sepuluh menit, dokter yang menangani papa belum juga keluar dari ruang tindakan. Sampai akhirnya, mama yang sudah sampai terlebih dahulu ke rumah sakit yang kebetulan dekat dari rumah.
"Ada apa ini, Hendra? Kenapa kalian bisa kumpul?" tanya mama menyelidik.
"Aku nggak tahu, Papa bicara dengan Mila empat mata, Hendra jaga Ayu tadi, Mah," sahut Mas Hendra.
"Mila, ada apa ini? Apa kamu telah memancing emosi Papa?" tanya mama penasaran. Ia bicara padaku dari jarak dua meter lebih. Kemudian, aku tak menjawab pertanyaan mama, ia pun menghampiriku.
"Tadi Mama menemukan kertas ini di bawah pintu mobil kamu! Apa ini penyebab jantung Papa kumat? Jawab Mila!" sentak mama sambil memperlihatkan secarik kertas.
Aku menautkan kedua alis, kertas apa yang mama temukan? Apakah kertas surat perjanjian pemindahan alih waris perusahaan yang belum sempat ditandatangani oleh papa?
Aku meraih secarik kertas yang berisikan pemindahan aset perusahaan atas nama Ayu. Ada rasa gemetar ketika mama menuduhku yang bukan-bukan. Ya, aku akui kesalahan yang sangat gegabah dalam mengambil tindakan. Seharusnya, aku bicarakan ini ketika berhadapan dengan mama juga.
Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin bisa diulang kembali. Aku tetap mengakui kesalahan yang membuat papa terkena serangan jantung.
"Mah, maaf ya, tapi bukan ini penyebabnya," sahutku sambil menyeka air mata yang sudah mengembun di sudut netraku.
"Lalu apa?" tanyanya dengan mata membulat. Tiba-tiba Mas Hendra datang sambil menggendong Ayu.
"Kamu tahu apa yang telah dibicarakan Mila, Hendra?" Mas Hendra seketika tercengang sambil menelan salivanya, terlihat dari kerongkongannya yang bergerak.
Kemudian, baby sitter yang sangat cari perhatian itu menghampiri juga.
"Ayu, ikut kakak, yuk!" pinta Tini.
"Kamu sudah tidak peduli dengan anakmu, Mila? Sampai-sampai yang punya inisiatif untuk menggantikan gendongan baby sitternya," sungut mama. Aku pun menghela napas, membiarkan mama bicara apapun tentang diri ini.
"Keluarga Pak Haris Sudirdja!" teriak suster. Kami semua yang menunggu menghampiri susternya. Namun, mama melarangku.
"Kamu diam di sini!" sentaknya sambil menunjukkan kursi tunggu. Di sana ada Tini dan Ayu.
Aku pun menuruti keinginannya sambil berdoa agar semua baik-baik saja, dan aku akan segera membalas rasa sakit hati ini pada Tini.
Ketika aku berada di sampingnya, Tini pun memangku Ayu. Lalu aku ambil anak yang sangat kusayangi.
"Ayu, sini duduk di pangkuan mama," ajakku.
Tini pun melepaskan Ayu dan memberikannya padaku. Rasanya ingin menghempaskan wanita yang sepantasnya menjadi adik dari suamiku, bukan selingkuhannya. Namun, aku juga belum tahu semua sebenarnya motif Tini itu apa?
"Bu, saya mau ke toilet dulu," pamitnya. Kemudian ia jalan dengan hentakan kaki bak model. Jalannya sengaja dilenggak-lenggokkan.
"Ayu, doakan Eyang, ya," ucapku sembari mengecup rambutnya.
"Iya, Mah. Memang Eyang sakit apa?" tanya Ayu.
"Jantung, Sayang. Doakan Eyang ya," pintaku lagi. Ia pun mengangguk dengan disertai senyuman.
"Mah, kok Mama nggak boleh masuk sama Eyang Uti?" tanya Ayu lagi.
"Eyang Uti hanya khawatir kalau kamu berduaan dengan Tini, jadi Mama disuruh temani kamu," jawabku.
Tiba-tiba ada suara telepon berdering, ternyata ponsel Tini ketinggalan di kursi. Kulihat kontak yang memanggil adalah Rika. Mau apa sepupu Mas Hendra itu?
Aku mau angkat telepon, tapi nanti ketahuan, jadi kubiarkan saja ponsel itu berdering hingga mati.
Tidak lama kemudian, ponsel kembali bergetar, suara chat dari seseorang. Aku tengok di layar pushup nya, ternyata Rika juga. Rasa penasaran sangat menggebu-gebu, akhirnya tanpa sepengetahuan Ayu yang sedang aku pangku, coba k****a sedikit pesannya.
[Tini, angkat teleponnya, rumah yang kamu nego dengan Hendra sudah laku, nanti aku coba carikan lagi. Jangan lupa ya aku jatah untukku.]
Begitulah pesan yang Rika kirim, aku mengelus d**a, sudah kubeli rumah yang tadinya ingin dibeli mereka, ternyata Rika masih saja ingin mencari gantinya.
***
Flashback
Ketika aku membaca chat Mas Hendra dengan Rika, saat itulah aku mulai mencari tahu tentang Rika. Kusewa mata-mata untuk mengikuti ke manapun Rika pergi.
[Kamu ikuti ke mana pun ia pergi, Hermawan!] perintahku sambil memberikan foto Rika melalui pesan w******p.
[Baik, Bu.]
Setelah seharian ia mengikuti dan mencari tahu apa yang ia lakukan. Hermawan menghubungiku.
"Bu, katanya Bu Rika sedang mencarikan rumah untuk Tini dan Pak Hendra."
"Baiklah, kalau begitu, aku yang akan membeli rumah itu, tolong minta nomer telepon yang punya rumah."
"Baik, Bu."
Aku segera menghubungi pemilik rumah yang diinginkan mereka, lalu membelinya dengan harga di atas yang mereka tawar.
***
"Mila!" teriak Mas Hendra membuyarkan lamunanku.
"Kenapa?" teriakku dari kejauhan. Ia tak sopan aku pun melakukan hal yang sama.
"Disuruh masuk oleh Mama!" perintahnya.
Aku pun bangkit, tapi masih bingung dengan Ayu. Bagaimana jika aku tinggal? Aku menoleh ke arah Mas Hendra.
"Tolong jaga Ayu!" teriakku lagi. Ia pun menghampiri dan menemani Ayu.
Kenapa ia tidak ketakutan? Apa papa belum sadarkan diri? Kalau iya, pasti mama ingin memarahiku.
Aku langkahkan kaki ini perlahan, lalu menghampiri mama yang sedang menyeka air matanya. Astaga, apa jangan-jangan papa ....
Kemudian, aku duduk di samping mama. Ada rasa takut dimarahi atas kecerobohanku ini.
"Dokter bilang apa, Mah?" tanyaku memberanikan diri.
Mama terdiam, ia tak menjawab pertanyaanku. Lalu kuambilkan tisyu untuknya.
"Nggak usah sok baik!" tegas mama.
"Mah, aku ...."
"Apa? Kamu ingin merebut semua harta suamiku?" tukasnya dengan tangisan yang pecah.
"Mah, tidak begitu, Mama salah paham," elakku. Aku memang bersalah atas sakit jantungnya papa, tapi aku tidak terima jika disangkutpautkan dengan merebut harta mertuaku sendiri.
"Mah, justru aku ingin menyelamatkan harta Papa dari jeratan wanita jalang," cetusku dengan nada pelan, khawatir kondisi papa menurun jika mendengarkan suara keras.
Tiba-tiba jari papa bergerak, lalu matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"Mah, Papa sadar, Mah!" teriakku dengan penuh kebahagiaan.
"Kamu keluar! Nanti Papa syok melihat kamu di sini!" sentak mama. Aku pun membalikkan badan, dan menuruti perintah mama. Namun, tiba-tiba mulut papa menyebut namaku meskipun pelan.
"Mila, tunggu," celetuknya pelan. Aku pun berbalik badan lagi dengan tersenyum.
"Pah, Papa sudah siuman?" tanya mama.
"Mila," panggil papa lagi.
"Ya, Pah."
"Pah, kamu sakit karena Mila, kenapa kamu malah panggil dia!" sentak mama lagi.
Aku hanya terdiam, menunggu papa bicara sebenarnya.
"Kamu salah paham, Mila tidak bersalah," sahut papa membuat mama tercengang.
Tiba-tiba Mas Hendra muncul, dan ia pun terkejut melihat papa yang sudah sadarkan diri. Mata papa membulat memandang wajah Mas Hendra. Sepertinya, nasib Mas Hendra sudah ada di ujung kuku.
Bersambung