Bab 5

1614 Words
Pov Mila Aku mengeluarkan tangisan di hadapan Mas Hendra. Sehingga membuat Hendra panik dan cemas melihat kondisiku saat ini. Kulepaskan dekapannya, kemudian kuambil secarik kertas sebelum membuka laptop yang kepegang, dengan hentakan kaki pelan, aku meletakkan kertas dan pulpen di atas pahanya. "Apa ini?" tanya Mas Hendra. Kedua alisnya ia tautkan ketika melihat aku memberikan secarik kertas. "Baca saja!" sahutku. Kemudian matanya mulai menatap dan membacanya dari atas ke bawah. Setelah membaca dengan teliti, ia menghela napas dalam-dalam. Kemudian, memejamkan matanya sejenak. Lalu bicara berhadapan denganku. "Kenapa semua aset minta dipindah atas namamu?" tanyanya pelan. "Wajar, aku istri sah kamu, dan Ayu darah dagingmu," sahutku sambil terisak. "Alasannya apa? Kalau aku tidak mau, kamu minta cerai?" tanyanya. Kemudian, aku membuka laptop yang berisikan rekaman CCTV-nya ketika melakukan hubungan gelap dengan Tini. Mata Mas Hendra membulat, bola matanya seakan ingin ke luar dari kelopak matanya. Kemudian, bibirnya ia gigit seraya orang yang sedang ketakutan. Tangannya tiba-tiba ingin meraih laptop yang aku pegang, tapi aku tepis dengan tangan kiriku. "Sini!" sentaknya. "Mau tanda tangan, atau aku putar sambil siaran langsung di sosial media?" ejekku. Matanya memerah, ia tampak marah diancam olehku. "Arghh!" teriaknya. Ia tampak kesal melihatku matanya tak kedip memandang wajah istrinya yang selama ini dibodohi. Saat ini, aku hanya ingin ia menandatangani surat dari notaris, yang siang tadi kuperintahkan untuk membuatnya dengan segera. *** Flashback siang tadi "Halo, Pak. Sibuk nggak?" tanyaku ketika berada di luar kota. "Nggak, Bu Mila, ada apa?" tanyanya. "Tolong buatkan saya surat tanda serah terima balik nama kepemilikan rumah," ucapku melalui sambungan telepon. "Bisa dikirim persyaratannya melalui email saya, Bu?" tanyanya. "Bisa, Pak. Nanti segera saya kirimkan," sahutku. "Ya sudah, nanti hasilnya saya kirim via email, Bu Mila bisa langsung print saja, kalau sudah ada tanda tangannya, segera kirim ke kantor, agar saya proses balik namanya." Kemudian telepon pun terputus. Aku sudah siapkan itu dari tadi malam, di ponsel sudah kusimpan semua syaratnya. Segera kukirim ke Pak Jordi. Agar ia segera mengerjakannya. *** Aku tersenyum tipis melihat suamiku ternyata sangat kecewa dengan kecepatanku. Ia seperti orang kebakaran jenggot, menyesali kebodohannya. "Maafkan aku," ucapnya. Aku pun tertawa renyah sambil menutup mulut ini. "Untuk apa? Agar aku tidak menyebar video ini? Atau agar aku tidak memindahkan aset atas namaku?" Mas Hendra menundukkan wajahnya. Kemudian, ia raih pulpen dan kertas yang tadi sudah diletakkan di atas kasur. Tanpa pikir panjang, ia pun menandatangani kertas itu. Lalu aku ambil dan menyimpannya di tempat aman. "Sudah, kan? Bisa kamu hapus videonya?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala, lalu meraih ponselku dan mencari kontak papa mertua. "Untuk apa nelpon Papa?" tanyanya dengan nada tinggi. "Aku ingin Papa tahu tentang anaknya. Ia kan laki-laki, pasti bisa memantaskan apakah perbuatan anaknya ini layak atau tidak? Terlebih lagi, selingkuhannya adalah seorang baby sitter," sindirku. "Jangan! Mila, kamu jangan bilang Papa, pasti ia akan mencabut namaku dari keluarga," lirih Mas Hendra. Aku pun tetap melaksanakan niatku untuk menghubungi papa. "Mila, aku sudah turuti apa yang kamu mau, rumah ini sudah ditandatangani balik namanya. Tolong jangan adukan pada Papa," lirihnya lagi, tapi aku tak peduli. Marahnya orang sabar itu lebih menyeramkan ketimbang marahnya orang yang biasa marah-marah. Aku tipikal wanita diam, nurut apa kata suami, tapi diamku ternyata dijdikan setir olehnya. Aku pun sudah tak bisa tinggal diam, harus berontak pada laki-laki yang sudah mulai menginjak harga diriku. "Halo, Pah," "Ya, Mila, ada apa?" "Apa kita bisa ketemu," pintaku. "Kapan?" tanyanya. "Sekarang," jawabku. "Boleh, setengah jam lagi di Cafe Coffee Kita, ya," usulnya. "Baik, Pah, aku sendiri, ya." "Loh, Hendra ke mana?" tanyanya. "Ada, sedang sibuk bersama ...." Ponselku tiba-tiba diambil Mas Hendra. Ia memutuskan sambungan teleponnya. Aku bangkit, lalu Mas Hendra menarik lenganku paksa. "Mila, ini bisa dibicarakan. Aku akan pecat Tini, tapi tolong jangan bilang Papa," lirihnya lagi. "Mas, sudah terlambat," bisikku pelan tepat di telingaku. Kemudian, aku langkahkan laki ini menuju mobil, dengan membawa laptop yang berisikan video m***m suamiku. Tak lupa aku bawa berkas pemindahan nama sebagai pemilik rumah juga. Sekalian nanti ke kantor Pak Jordi, agar segera ia kerjakan semuanya. Mas Hendra mengejarku sampai pintu mobil. Ia terus menerus mengetuk pintu mobil dengan kerasnya. Aku tetap menyalakan mesinnya. Namun, tiba-tiba ia nekat berdiri di depan mobil yang kukendarai. "Mas! Minggir!" teriakku dari dalam. "Nggak, tabrak aku saja kalau nekat ingin ke luar!" sahutnya dari luar sambil membentangkan kedua tangannya. 'Astaga, laki-laki ini maunya apa sih? Kenapa sampai nekat seperti itu? Apa aku tabrak saja sekalian agar lebih puas?' gumamku dalam hati. Pov Mila Tin ... tin .... Aku terus menerus menyalakan klakson mobil, karena Mas Hendra tak mau minggir. "Papa!" teriak Ayu yang tiba-tiba ke luar dari rumah. Ia melangkah ke depan mobilku juga. Lalu bicara pada Mas Hendra, papanya. Kulihat di ujung pintu, ada pelakor yang sedang berdiri tengah menyaksikan pertengkaran kami berdua. Kemudian, terpaksa aku turun, untuk menenangkan anakku lebih dulu. Tak lupa mengunci pintu mobil, agar tidak ada yang masuk dan mengambil semua bukti yang telah aku pegang. Aku dengar celotehan Ayu yang sangat menggemaskan. Ia menanyakan semua yang ingin diketahuinya. Kenapa Mas Hendra tidak berpikir sebelum selingkuh, ada Ayu yang akan kehilangan mama dan papanya secara utuh. Aku sudah tidak mungkin menyatukan hati yang sudah hancur. Baginya mungkin ini sebuah kesalahan kecil, tapi tidak untukku. Semua perselingkuhan adalah kejahatan, selingkuh itu ibarat menorehkan luka sayatan, bisa sembuh tapi tetap membekas. "Ayu, kamu mau ikut Mama?" tanyaku pada Ayu. Tidak mungkin aku meninggalkan ia di rumah, apalagi bersama pelakor yang sudah menghancurkan rumah tanggaku. "Mah, tapi Papa ikut, ya!" pinta Ayu. Aku tak dapat mengelak, tapi ini sangat kebetulan, akan tetap kupertontonkan di hadapan Papa nanti. Ayu pun akan menjadi senjata di sana. Papa yang amat menyayangi Ayu, pasti lebih memihakku. "Baiklah, kamu yang nyupir, Mas," pintaku padanya. "Pak, Bu, saya ikut, ya!" teriak Tini yang tidak tahu malu itu. Wanita usia belia, tapi pikirannya picik bagai orang yang sudah matang. Aku menatapnya sinis, ada Mas Hendra yang ketakutan juga ketika ia meminta ikut. Sepertinya ini peluang bagus, bagaimana bila papa melihat anaknya berselingkuh dengan wanita yang dibawa oleh Mas Hendra dari kampung ini, hingga rela dijadikan baby sitter plus-plus hanya untuk mencukupi semua kebutuhannya. Pantas saja Mas Hendra berani membayar gaji seorang baby sitter sebesar 6 juta rupiah perbulannya. Itu nominal yang lumayan besar untuk profesi tersebut. Aku pikir, gaji besar karena melalui yayasan dan harus bagi hasil dengan yayasan tersebut. Namun, kenyataannya, nama Tini tak ada di dalam daftar yayasan yang Mas Hendra sebutkan. Itu artinya gaji full untuknya, padahal hanya merawat Ayu yang sudah pandai tanpa harus capek mengaturnya. "Bagaimana, Bu? Apa aku boleh ikut?" tanyanya sekali lagi. "Jangan!" teriak Mas Hendra. "Pah, biarin Kak Tini ikut, kan jagain aku!" pinta bocah kecil yang terbiasa diikuti olehnya. "Silahkan kamu ikut, tapi ganti pakaian yang sopan," sahutku dengan muka datar. Ada hati yang hancur di dalamnya, mau tersenyum tapi tak bisa. "Kenapa diajak?" tanya Mas Hendra. "Biasanya diajak, kenapa sekarang nggak!" pungkasku sambil membuka kunci mobil, kemudian aku masuk dan mendekap laptopku agar ia tak dapat macam-macam. Sekitar lima belas menit Tini mengganti pakaiannya, kemudian ia muncul dengan berdandan seperti mencari perhatian. Aku meliriknya. Agak heran dengan selera Mas Hendra, kenapa ia bisa memilih Tini, padahal banyak wanita lain yang lebih menarik. Sepanjang jalan, kami tak ada obrolan, hening, hanya suara musik di dalam mobil yang terdengar. Namun, sedikit-sedikit ada celotehan Ayu yang membuatku gemas. "Mah, kok diam aja? Jangan berantem dong, Mah sama Papa. Baikan ya!" ucap Ayu. Aku hanya melirik ke arah Ayu lalu tersenyum di depannya. "Ayu, jangan ajak Mama bicara dulu, ya. Kita nyanyi saja yuk!" ajak Tini. Kemudian, tangan Mas Hendra mendekati tanganku. Lalu ia genggam tangan ini sambil memintaku tersenyum. "Mah, senyum dong, jangan marah lagi, ya!" rayu Mas Hendra. Kulihat dari kaca spion wajah wanita muda itu dilipat empat. Sepertinya ia cemburu, bahkan kepanasan. Aku berusaha untuk diam, tak menjawab apa pun yang Mas Hendra bicarakan. Tidak layak untuk dijawab, anggap saja tak mendengar segala ucapannya. "Mah, Papa sudah minta maaf, baikan ya!" pinta Ayu sambil meraih tanganku lalu ditumpukkan di atas tangan Mas Hendra. Aku lihat wajah Tini semakin memerah, sepertinya ia terbakar api cemburu. "Nah, gitu dong, senyum juga dong Mah, nanti cantiknya hila," rayu Ayu. Bocah sekecil ini sudah sering meluluhkan hati orang tuanya. Tak terasa ada butiran air mata di sudut netraku. Tidak lama kemudian, kami tiba di cafe yang telah papa tentukan. Aku mencari tempat yang telah papa pesan. Ternyata ia sudah duduk di ujung. Kami datang menghampirinya, tak lupa aku bawa bukti yang berada di dalam laptop ini. "Mila, katanya sendiri, ini ramai sekali!" ucap papa terkejut. "Eyang, Ayu minta ikut, soalnya Mama Papa tadi berantem," celetuk Ayu mengejutkan kami semua terutama Papa. "Kamu duduk di ujung sana ya, ada play ground di sana!" seru Papa sambil menunjukkan arah tempat aneka permainan. "Baiklah, ayo Kak Tini, kita ke sana," sahutnya sembari menarik lengan Tini. Ia pun agak ragu untuk melangkah, arah bola matanya tak lepas dari mata Mas Hendra. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Mila? Kalian ada apa? Bertengkar karena apa?" tanya papa dengan sederet pertanyaan. "Pah, aku ingin yang menjadi alih waris perusahaan tolong Ayu saja, jangan Mas Hendra!" ucapku tanpa basa basi. Wajah papa seketika bingung, alisnya menyatu saat aku mengatakan hal itu. "Tidak bisa, turun ke Hendra dulu, baru setelah itu Hendra turunkan pada Ayu, itu juga kalau kamu memiliki anak laki-laki setelah Ayu, pasti akan jatuh ke anak laki-laki," ucap papa membuatku menghela napas. Baiklah, kalau cara halus tidak bisa, aku akan keluarkan cara kasar. Laptop yang telah kusiapkan, kini terbuka lebar. Mata Mas Hendra tak henti-hentinya menatapku seraya memohon untuk tidak memberikan video tersebut pada papanya. "Ini, Pah. Tolong tonton video durasi lima belas menit ini," ujarku dengan mata tetap menyorot Mas Hendra. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD