Bab 4
Kemudian, Mila berusaha meredam amarahnya. Ia teringat bahwa keluarga Hendra harus mengetahui kebusukan anaknya. Ini agar Tini segera mendapatkan sanksi dari keluarga.
Begitu juga dengan Hendra, ia harus diberikan pelajaran terlebih dahulu.
"Sudahlah, Mas. Jangan bahas lagi, aku capek!" tutup Mila kemudian naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya.
Mila memastikan malam ini mereka takkan bersama, karena sebelum bergegas ke kamar, ia sudah memerintahkan Tini tidur bersama dengan Ayu di kamar anaknya.
"Nih kamu minum dulu," ucap Hendra, sepertinya ia memberikan obat tidur lagi ke dalam minuman Mila. Namun, Mila telah mengetahuinya.
Wanita itu lebih peka, meskipun sudah tertipu sekali, itu takkan mungkin terjadi yang kedua kalinya.
"Iya, aku minum, tapi kamu duluan, biar lebih romantis," sahut Mila. Wajah Hendra berubah kebingungan. Ia meletakkan kembali minuman yang sudah dibuatnya susah payah.
"Tapi aku bikin teh ini untukmu, dari tadi ini sudah dingin," elaknya. Mila pun tetap bersikeras agar suaminya mau meminumnya.
"Mas, kamu duluan yang minum, nanti aku mau deh penuhi keinginanmu," ucap Mila meyakinkan.
"Tapi, Sayang, kalau memang kamu mau, langsung saja nggak usah minum teh," sahut Hendra.
"Itukan teh sudah dingin, minumlah, aku pun nanti akan minum," sahut Mila lagi.
Kemudian, Hendra berhasil dirayu untuk meminumnya. Ia pun menenggak minuman yang bercampur dengan obat tidur. Akhirnya ia meminum minuman yang telah dibuatkan khusus mengelabui istrinya. Namun, kali ini tidak berhasil.
Mila hendak memejamkan mata, setelah melihat suaminya tertidur pulas hingga terdengar dengkurannya. Namun, tiba-tiba ponsel Hendra bergetar, rasa ingin tahunya Mila pun mulai muncul. Ia duduk lalu meraih ponsel yang berada di sebelahnya.
Sebuah pesan singkat dari adik sepupunya, Rika namanya. Kemudian, Mila membacanya melalui layar push up.
[Gimana sama Tini? Kapan mau disahkan?]
Mila mengernyitkan dahi, ia keheranan kenapa Rika ngechat suaminya seperti itu.
Kemudian, Mila teringat sesuatu, ketika arisan keluarga lima bulan yang lalu.
***
Flashback lima bulan yang lalu
"Mbak Mila ke mana?" tanya Rika, padahal ketika ia menanyakan keberadaan Mila, ia ada di belakangnya ngambil minuman.
"Nggak tahu, lagi momong Ayu kayaknya," ucap Hendra. Ia pun sama, tak melihat keberadaan Mila yang tertutup bunga ucapan semoga sukses.
Hari itu adalah pembukaan usaha yang dikelola oleh Rika. Sepupu Hendra yang jago dalam bidang usaha.
"Mas, aku tuh kurang sreg sama Mbak Mila, kayaknya ngatur-ngatur kamu gitu," sindir Rika. Ada rasa kesal kala itu ketika Mila mendengar celotehan dari mulut Rika.
"Kenapa memang? Dia istriku, wajarlah ngatur-ngatur," sahut Hendra.
"Makanya Mas cari istri yang dari kampung aja, jangan dari kota, jadi pinteran istrinya dari pada suami," ejek Rita membuat Mila geram, kemudian ia ke luar dari persembunyiannya.
"Ehem." Mila mengejutkan Rika yang sedari tadi membicarakannya.
"Eh Mbak Mila, sudah lama di belakang?"
"Baru, tapi aku dengar sedikit tadi." Mila menyindirnya.
Kemudian, Rika pun pergi entah ke mana. Ia menundukkan wajahnya ketika meninggalkan Hendra dan Mila.
Selang seminggu, Rika datang ke rumah Mila. Silaturahmi bersama suaminya.
Ketika itu, memang Rika banyak ngobrol berdua dengan Hendra lebih serius.
***
'Apa jangan-jangan, Tini adalah ....' gumam Mila dalam hati. Ia menduga bahwa Tini ini kenal juga dengan Rika.
Mila bergegas ke kamar Tini. Mumpung ia sedang berada di kamar Ayu, saatnya Mila mencari tahu siapa sebenarnya Tini. Yang pertama Mila lakukan adalah mencari tanda pengenalnya. Ia cari di dalam tas yang dibawa saat datang ke sini.
Mila mencatat alamat yang tertera di KTP. Setelah itu, ia simpan alamat tersebut.
Tidak lama kemudian, ada foto terselip di tas tersebut. Foto wanita yang sepertinya Mila kenal.
Jantung Mila bergetar hebat, ketika foto yang ia temukan adalah foto Della, mantan kekasih suaminya. Apa hubungannya Tini dengan Della? Mila menautkan kedua alisnya. Ia menerka-nerka siapa sebenarnya Tini.
Alamat sudah ia pegang, foto wanita yang ia ingat pun menjadi titik terang perselingkuhan ini. Mila mulai yakin, bahwa suaminya selingkuh sudah lama sebelum Tini tinggal di sini.
Mila hendak kembali ke kamar, tapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Tini di hadapannya ketika membuka pintu kamar.
"Bu Mila ngapain?" tanya Mila menyelidik. Wajahnya yang lebih muda lima tahun dariku, membuat Tini masih bersikap sopan.
Mila terdiam, memutar matanya mencari alasan apa pada Tini. Sebenarnya tak perlu mencari alasan, rumah itu adalah rumah Mila. Itu hak Mila untuk keluar masuk kamar pembantu atau pun baby sitternya. Namun, Mila harus tetap terlihat bijaksana dan memberikan hak privasi pada pesuruhnya di rumah.
"Ngapain, Bu?" tanya Tini sekali lagi.
"Aku ingin mencari bukti, lagi pula, ini rumahku, memang kamu ada hak ngatur-ngatur majikan?" ejek Mila pada Tini. Dadanya sontak bergemuruh, ingin marah pada saat Mila mengolok-oloknya. Namun, ia tahan karena Tini sadar bahwa ia bukan siapa-siapa.
"Permisi, saya mau masuk," cetus Tini.
Kemudian, Tini pun menghela napas dalam-dalam, ia masuk tanpa menanyakan lagi pada Mila untuk apa masuk ke kamarnya.
Mila pun tersenyum tipis, ia kembali ke kamarnya. Setelah masuk dan merebahkan tubuhnya. Mila pun memikirkan terus menerus hubungan antara Rika, Della dan Tini.
Ia mencoba mencari sosial media milik Rika, kebetulan ia berteman dengannya. Setelah itu, ia cari di pertemanan yang bernama Della dan Tini.
Ada banyak nama yang mirip, akhirnya ia klik satu persatu. Ketika ia klik profil Della, ternyata di wall pribadi ada foto bersama Tini.
Mila mengernyitkan dahinya, penasaran ada apa sebenarnya ini? Apakah mereka ini komplotan?
Jam dinding menunjukkan pukul 00:00. Sudah tengah malam, sepertinya Mila memutuskan untuk memejamkan matanya. Sebab, besok ia harus urus keberangkatannya ke luar kota.
***
Pagi ini, ada senyuman semringah di wajah Hendra. Jelas terlihat bahagia, ia akan bebas kembali bolak-balik ke kamar Tini.
Berbeda dengan Mila, ia cemas dan khawatir mengenai hubungan gelap suaminya. Mila mencemaskan harta yang akan disetir oleh Tini. Sebab, ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Semua masih atas nama Hendra. Belum dipindah alihkan olehnya.
"Kamu bengong?" tanya Hendra ketika melihat istrinya mengelus roti dengan selai coklat hingga belepotan.
"Hah, nggak!" ucapnya terkejut. Tidak lama kemudian, Ayu datang bersama Tini. Ia menyiapkan sarapan anaknya Mila. Namun, Mila melarangnya.
"Kamu bantu Mbok Asih saja!" suruhku. Tini terdiam, belum beranjak dari duduknya yang berada tepat di hadapan Mila.
"Kenapa Mah? Biasanya Kak Tini kan memang sarapan dengan kita?" tanya Ayu, bocah kecil yang ceriwis selalu mencari tahu apa yang ia lihat dan dengar.
Mila memandang wajahnya, betapa kasihannya anak usia Ayu, harus menerima kenyataan bahwa papa dan mamanya bertengkar.
"Nggak apa Ayu, Kakak ke dapur dulu, ya!" ungkap Tini. Kemudian, ia bangkit lalu bergegas ke dapur.
***
Mila bergegas ke kantor, ia tidak bersama suaminya. Sebab, kantor mereka beda arah.
Setibanya di kantor, ia pun dikejutkan dengan surat jalan yang ternyata mendadak maju pukul sepuluh pagi.
"Mila, kamu sudah persiapkan baju?" tanya bos PT. Anjani Kosmetik.
"Siap nggak siap, aku sudah siap," jawab Mila sambil tertawa.
Kemudian, ia menghubungi suaminya. Tanpa pulang lagi ia langsung berangkat ke Jawa Tengah.
[Mas, aku langsung berangkat, dimajuin ke luar kotanya.] Pesan yang dikirim Mila pada Hendra. Tidak lama kemudian, suaminya pun membalas.
[Kamu hati-hati, ya.]
Sementara itu, ia juga mengecek CCTV-nya melalui ponsel. Dia cek masih on dan aman terkendali.
Mila sudah tiba di bandara, kali ini ia berangkat pagi pulang malam. Ketika ia pulang nanti, ia akan memberikan surprise untuk suaminya.
Selang 2 jam, Mila sudah tiba di tempat ia akan meeting bersama kliennya. Namun, ketika hendak menaiki taksi online di sana, ia pun menerima panggilan telepon dari Mbok Asih.
"Bu, Mbok mau beri kabar, Pak Hendra pulang dari kantor, katanya sih mau makan siang di rumah, tapi kok setelah makan siang, ia malah ke kamar Tini!" ungkap Mbok Asih.
"Makasih, Mbok," tutup Mila. Kemudian, telepon pun terputus.
Dengan tangan gemetar, ia pun mencoba membuka laptop yang ia bawa. Ada rasa sakit hati tapi lebih mengarah ke emosi. Mila terus mencoba mengelus-elus dadanya.
Kemudian, ia fokus pada laptopnya. Benar ucapan Mbok tadi, ia masuk ke dalam kamar Tini. Mila sesak seketika, air matanya mengalir tanpa terasa. Namun, ia tepis dengan kedua telapak tangannya.
Mila menyaksikan kenyataan pahit di depan laptop, suara dimatikan olehnya, khawatir supir taksi online mendengar ketika suaminya sedang memadu kasih bersama selingkuhannya.
Tak kuat menyaksikan kejadian Itu melalui laptopnya, ia terpaksa tutup lalu memikirkan cara bagaimana bisa ia memindahkan semua aset atas namanya.
Konsentrasi kerja pun buyar ketika ia teringat cara suaminya memperlakukan wanita itu. Sesak yang ia rasakan berubah menjadi api dendam.
***
Mila memutuskan lebih cepat pulang, ia sudah menghubungi bos nya untuk mencarikan penggantinya. Sebab, ia merasakan tidak enak dengan badannya.
Kemudian, ia bergegas untuk pulang menemui suaminya. Ingin rasanya ia memaki laki-laki yang bermulut manis di hadapannya.
Setibanya di rumah, mobil Hendra pun sudah tidak ada. Ia sudah bergegas ke kantor. Ada perasaan kesal ketika Mila mengetahui bahwa suaminya telah pergi tanpa ia memergokinya.
"Bu Mila sudah pulang? Katanya ke luar kota!" ucap Tini seperti tanpa dosa. Rambutnya yang basah membuat Mila semakin tak ingin menjawab pertanyaannya.
"Ayu!" teriak Mila.
"Mbok Asih!" teriak Mila kencang.
Mereka berdua menghampiri, kemudian Mila memeluk erat anaknya sambil menangis tersedu-sedu.
"Bu ...." potong Tini dari belakang.
"Ngapain kamu panggil-panggil saya!" sentak Mila.
"Ibu kenapa baru pulang marah-marah? Kalau saya ada salah, maaf ya Bu," ucap Tini membuat Mila semakin kesal. Kemudian, Mila melangkah ke dalam kamar sambil menghentakkan kakinya. Sementara Tini, ia masih belum merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan.
Lalu Mila meraih ponselnya, dan menghubungi Hendra. Ia ingin bertemu sekarang juga.
"Mas, aku ingin ketemu, sekarang!" sentak Mila.
"Loh, kamu bukannya masih di luar kota?" tanyanya.
"Mas, pulang ...." isak Mila.
"Kamu kok nangis?" tanya Hendra lagi kemudian telepon pun terputus.
Mila akan memperlihatkan video yang telah ia rekam melalui CCTV yang ada di kamar Tini. Laptop itu dipeluknya sambil menangis. Mungkin semua wanita yang diselingkuhi suaminya, mengalami hal yang sama dengan Mila, sakit yang mendalam. Luka yang ditorehkan suaminya takkan pernah hilang meskipun laki-laki itu telah meminta maaf.
Hendra pun bergegas pulang, ia khawatir ada apa-apa dengan istrinya. Sebab, terakhir menghubunginya dalam keadaan menangis. Ia cemas pada Mila, hanya cemas ia sakit dan takkan bisa selingkuh lagi.
Setibanya di rumah, Hendra pun bergegas masuk ke kamar.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Hendra sambil memeluk tubuh Mila yang sedang memeluk laptopnya.
Bersambung