Chapter 5

1136 Words
Beberapa hari kemudian, Naya masih marah dengan Raka. dia terus saja mendiami suaminya itu. Seperti sekarang mereka sedang makan malam di rumah namun suasana sangat hening . "Lusa aku akan pergi ke bali untuk memantau pembangunan proyek baru," ucap Raka mencoba memecah keheningan namun Naya tetap diam tak merespon. Menghela nafasnya panjang Raka benar benar sudah bingung harus berbuat apa agar istrinya itu tak mendiami nya lagi. "Mungkin aku akan disana sekitar 1 minggu," lanjutnya berharap ada respon dari Naya. "Aku sudah selesai makan, nanti kalau sudah selesai letakkan piring kotornya di dapur biar aku yang cuci, kasihan bibi sudah seharian bekerja," ucap Naya lalu beranjak ke dapur membawa piring kotor nya. Raka hanya bisa memejamkan matanya sekejap sambil menghela nafas, ingin rasanya dia menahan istrinya itu, namun niatnya ia urungkan, ia takut akan terpancing emosi dan berujung pertengkaran yang membuat masalah semakin panas. :::: Naya masih duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tv, ah lebih tepatnya tv yang menontonnta karena sedari tadi dia hanya diam melamun. "Apa aku sudah keterlaluan pada Raka karena mendiaminya beberapa hari?" gumamnta sedikit merasa bersalah. Hingga tiba tiba ponselnya berdering, Nama Jeni tertera di layar ponselnya. Dengan cepat Wanita itu langsung mengangkatnya. Mungkin Jeni bisa membantunya menyelesaikan masalahnya ini. Naya : "Halo, Jen," Jeni : "Nay!" Naya : "Ada apa, Jen? Tumben menghubungi ku malam-malam ? Apa ada perkembangan soal butik ?" Jeni : "Tidak, Bukan itu. Belum ada perkembangan sama sekali," Naya : "Ah begitu rupanya," Jeni : "Apa kamu baik-baik saja ? Aku rasa beberapa hari ini kamu jarang mengirimiku pesan. Kamu sedang tidak ada masalah kan ?" Naya : "Bukankah kita sedang ada masalah di butik ?" Jeni : "Maksudku masalah lain. Hmm kamu tidak bertengkar dengan Raka kan ? Daniel bilang, di kantor Raka sering murung," Naya : "Hmm ,Jen. ada yang ingin aku tanyakan padamu," Jeni : " Kenapa? Tanya saja apa ini ada kaitannya dengan Raka ?" Naya : "Hmm. Beberapa hari yang lalu kami bertengkar.seperti biasa, masalah sifat possessive nya. Dan beberapa hari juga aku mendiaminya, aku merasa bersalah karena mendiaminya, tapi aku juga marah karena dia selalu melarangku ini itu. Aku lelah,Jen," Jeni : "Aku tidak bisa ikut campur masalah rumah tanggamu terlalu dalam,Nay. Tapi coba tanyakan baik-baik alasan dia melarangmu ini itu. Mungkin dia ada alasan lain kenapa melakukan ini padamu. Mendiami suami kita selama berhari-hari itu tak baik,Nay. walau bagaimanapun kamu adalah istri Raka, tugasmu melayani dan mengurus suamimu bukan malah mendiami nya," Naya : "Aku tahu,Jen. Aku juga merasa bersalah, tapi alasan dia itu benar-benar tak bisa aku terima. Dia bilang karena tak mau aku meninggalkannya, bukankah dengan sifatnya seperti ini malah membuatku semakin kurang nyaman dan akhirnya meninggal kan nya ?" Jeni : "Aku rasa Raka ada alasan lain. Coba kamu tanyakan baik-baik dan selesaikan maslah kalian," Naya : "Hmm oke. Makasih Jen, kamu memang sahabat terbaikku," Jeni : "Sudah kewajibanku sebagai sahabat,Nay. yasudah, udah malam kamu tidur sana, Ingat jangan sedih sedih lagi, kalau ada masalah cerita padaku aku Pasti akan mendengar dan membantumu," Naya mengangguk sebelum akhirnya memutuskan panggilan tlp dari sahabatnya itu. "Benar kata Jeni, Aku tak bisa terus terusan mendiami Raka seperti ini. aku harus selesaikan masalah ini baik-baik,". Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Naya memutuskan untuk menghampiri Raka di kamar. Saat sampai di kamar, Dia melihat Suaminya itu sibuk mamasukan beberapa bajunya kedalam koper, dia takut besok tak sempat packing jadinya sekarang dia packing. Menyadari kedatangan Naya membuat Raka menghentikan aktifitas nya. Naya berjalan menghampirinya lalu duduk di tepi ranjang sebelah kopernya. "Aku bantu," ucap Naya mengambil alih pekerjaan suaminya itu. Dengan telaten Naya memasukkan baju baju yang akan Raka bawa. Sedangkan Raka, dia hanya bisa diam melihat kegiatan istrinya. "Kamu sudah tak marah lagi denganku ?" tanya Raka disela kegiatan istrinya. Naya diam tak menjawab, hingga beberapa saat kemudian dia selesai memasukkan semua baju dan barang-barang Raka ke koper. "Maaf," lirihnya sambil menunduk. "Maaf, Seharusnya aku tak bersikap seperti ini .maafkan aku hiks," Mendengar Naya terisak, Raka langsung menarik tubuh istrinya itu kedalam dekapannya dan mengusap lembut rambutnya. "Stt, Jangan menangis. kamu tidak salah, Aku yang salah, maafkan aku. Maaf aku sudah membuatmu kurang nyaman dan merasa terkekang karena semua aturan ku, Tapi percayalah aku melakukan semua ini karena tak mau kehilanganmu. Maafkan aku,kamu mau memaafkan ku kan ?" Naya mengangguk dalam dekapan Raka hingga beberapa saat kemudian raka melepas pelukannya. "Sudah jangan menangis nanti tambah jelek," ucap Raka sambil menghapus air mata istrinya "akh," rintih Raka kemudian saat Naya memukul lengannya. "Jahat bilang aku jelek," kesalnya mampu membuat Raka terkekeh gemas. "Aku bercanda sayang. Sudah dong jangan marah lagi ya," Naya hanya mengangguk. "Hmm kamu beneran mau ke bali ?". Raka mengangguk. "Berapa lama ?" "Mungkin 1 minggu. Kenapa ?" "Kenapa lama sekali ? Apa tidak bisa di percepat ?" Raka mengerutkan kening nya mendengar pertanyaan istrinya itu "kenapa ? Ah kamu takut merindukanku ya ? Padahal aku belum berangkat tapi kamu sudah merindukanku," "Siapa yang merindukanmu ? Aku hanya bertanya," "Yakin ? Aku tak percaya," "Kamu memang tak pernah percaya padaku," "Eh ? Sudahlah nanti kita bertengkar lagi kita baru saja baikan," "Kamu sih yang mulai," "Iya iya aku salah. hmm nay ?" "apa ?" "Kamu tidak mau memberiku sesuatu gitu ? Sebelum aku ke bali," "Kamu mau apa ? Mau makan lagi ? Bukannya kamu baru saja makan ?" "Tidak , bukan itu , tapi..... "Tapi apa ?" Raka tersenyum smirk membuat Naya mengerutkan keningnya bingung. " jangan tersenyum seperti itu ! Kamu membuatku takut," "Hehehe hmm kamu sudah lama mendiamiku dan kita juga sudah lama tak melakukan itu," "Melakukan apa ? Bertengkar ? Bukankah kita habis bertengkar ?" "Raka sakit!" Pekik Naya Saat suaminya itu menjitak keningnya. "Bukan itu,Naya sayang. tapi melakukan itu. Yang biasa suami istri lakukan eheheh," Naya yang baru saja paham maksud suaminya itu langsung mundur beberapa langkah. "Kenapa ?" tanya Raka bingung. "Hmm apa tak ada yang lain saja yg kamu inginkan ?" Raka menggeleng "ayolah aku sudah rindu denganmu. Ya ya ?" "Hmm t-tapi.. "yasudah kalo kamu tak mau," Sahut Raka cepat dengan wajah kecewanya. "Hmm bukan bgtu , hanya saja... Naya menjeda ucapannya. "Baiklah aku mau!" lanjutnya karena tak mau mengecewakan suaminya itu. seketika mata raka langsung berbinar "beneran ?" "Hmmm," "Ok ayo !" Teriaknya yang langsung menggendong istrinya. ::: "Jadi kamu akan pergi ke bali dengan bos barumu itu ?" tanya yeri, teman Naura. "Iya, bukankah ini kesempatan baik untukku ? Dengan begitu aku bisa mendekati Raka," "Aku penasaran dengan wajah istri bos mu itu. apa dia lebih cantik darimu ?" "Tidak. tentu saja aku jauh lebih cantik darinya," "Pede sekali kamu," "Kamu tak percaya ? Akan aku tunjukan foto nya," Saat Naura ingin menunjukkan foto Naya pada Yeri, tiba tiba ponsel nya mati "ah batre nya lowbat," "Hahaha itu tandanya dia jauh lebih cantik darimu," "s****n kau Yer !!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD