Naya menegang di tempat, bisa dia lihat saat ini Raka berdiri tegak beberapa langkah di depannya dengan kedua tangannya yang di masukan kedalam saku celana nya, jangan lupakan tatapan tajam pria itu yang mampu membuat siapapun bergedik ngeri.
"R-raka kamu sudah pulang ?" tanya Naya basa-basi.
Bukannya menjawab, Raka justru melangkahkan kakinya maju menghampirinya, membuatnya semakin ketakutan. "Kamu tahu ini jam berapa ?" tanya Raka saat sudah berada tepat di depan istri nya itu.
"Tadi ak-..
"Bukankah aku sudah bilang diam dirumah dan jangan pergi kemana pun ?" ucapnya membuat Naya semakin menunduk takut.
"Kalau aku sedang berbicara tatap aku,Nay!"
"M-maaf, hiks tadi aku pergi ke butik, ada masalah di butik,"
Raka menghela nafas nya panjang, hal yang sangat ia benci adalah ketika melihat Naya menangis, Apalagi itu karena nya. Tapi kali ini Pria itu tak akan luluh, dia sangat marah karena Istrinya itu tak mau mengikuti perkataannya.
"Butik ?" Pria itu tersenyum kecut. "kamu pergi ke butik karena ada masalah atau karena ingin bertemu dengan Bayu ?" lanjutnya membuat Naya terkejut, Bagaimana Raaka tahu dia bertemu Bayu walaupun tak di sengaja?.
"Tidak, aku benar-benar ke butik karena ada masalah, percayalah,"
Lagi dan lagi Raka tersenyum kecut. "Sejak kapan kamu berani berbohong,Nay ? Siapa yang mengajarimu berbohong ? Apa Bayu? Jawab !!!" bentak Nya membuat Naya terkejut dan juga semakin ketakutan. Ini pertama kalinya Raka membentak Istrinya itu.
"Tidak Raka, aku benar benar ke-...
"Lalu ini apa ?!!" Sahut Raka berteriak, Pria itu menunjukkan foto yang ada di dalam ponsel nya. Foto saat Bayu memeluk istrinya, lebih tepatnya saat Bayu menolong Naya tadi.
"R-raka, Ini salah paham aku bisa jelasin ,tad-...
"JELASIN APALAGI ?!!! SEMUANYA SUDAH JELAS ! KAMU PERGI MENEMUI BAYU DAN KALIAN BERPELUKAN !! KURANG JELAS APA LAGI HA ?!!"
BUGHH....
Teriakan Naya menggema begitu keras saat Raka memukul tembok dengan sangat keras membuat punggung tangannya mengeluarkan darah. "Hiks Raka ak-..
"Sudah kubilang jangan temui dia lagi, Tapi kenapa kamu menemuinya ? Kamu suka sama dia ha ?!" tanya Raka sambil mencengkram kedua bahu istrinya.
"Raka sakit hiks,"
"Sakit ? Kamu tak tahu hatiku lebih sakit melihatmu berpelukan dengan pria b******k itu,Nay!!!"
"Raka dia bukan pria b******k,"
"Hah kamu membelanya ? Apa Jangan-Jangan kamu berselingkuh dengannya, iya ? Jawab aku, Nay !!"
Naya menggeleng sambil menahan sakit saat cengkaraman Raka di bahunya semakin kuat "Aku tak ada hubungan apapun dengan Bayu, percayalah hiks,"
Raka menutup matanya sejenak setelah itu melepas cengkraman nya "Baiklah, sekarang aku memaafkanmu, tapi jika kamu berani bertemu dengannya lagi, kamu akan tahu akibatnya,Nay," ucapnya lalu pergi ke kamar, meninggalkan Naya yang sudah tak kuat menopang tubuhnya, Dia menangis.
"Mbak Naya, mbak gapapa ?" tanya bibi.
"Hiks,Bi,"
Bibi langsung memeluk tubuunya "Sstt tenanglah mbak. Mas Raka hanya sedang emosi, Dia tak mungkin menyakiti mbak Naya,"
.
.
"Aarggghhh," teriak Raka frustasi didalam kamar mandi, mengingat apa yang baru saja ia lakukan pada Naya.
"Apa yang sudah kamu lakukan bodoh !! Kamu menyakiti dan membuat orang yang kamu cintai ketakutan ! dasar bodoh !!"
.
.
=FLASHBACK ON=
"Apa ini alamatnya ya ?" gumam Naura setelah tiba di depan sebuah rumah yang cukup mewah, baru dia akan turun dari mobil, dia melihat sebuah mobil keluar dari rumah itu.
"Siapa dia ? Apa dia istri pak Raka ?" gumamnya lagi. Karena penasaran, akhirnya Naura pun mengikuti mobil itu. Setelah beberapa menit mobil yang diikuti Naura berhenti di depan sebuah butik mewah.
"Jadi benar dia istri pak Raka ?" ucap Naura saat melihat seorang perempuan yang tak lain adalah Naya keluar dari mobil itu. Naura bisa mengetahui wajah Naya dari foto yang raka kirimkan tadi saat dia meminta nya dengan alasan agar tak salah orang.
Cukup lama Naura mengintainya, hingga tiba-tiba dia melihat Naya yang didorong oleh seseorang lalu di tangkap oleh seorang laki-laki. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Naura pun langsung memotret kejadian itu.
"Ah nasib baik sedang berada di pihak mu,Naura," gumamnya dengan senyum evil nya setelah mengirim foto tadi ke ponsel Raka. wanita itu mengirim dengan nomor lain agar Raka tak curiga.
=FLASHBACK OFF=
:::
Hari ini Naya akan pergi ke kantor perpajakan untuk menyelesaikan masalahnya agar butik nya bisa kembali di buka. Walaupun Raka sudah melarangnya untuk pergi kemana pun, Dia tetap nekat pergi, toh Raka juga sedang berada di kantor jadi dia tak akan tahu .Namun saat menuruni tangga, Mata Naya membulat kaget melihat Suaminya itu yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu, jangan lupakan pakaian casual nya. Kenapa Raka tidak berangkat ke kantor ? Pikirnya.
Mendengar suara langkah Naya berjalan pelan menuruni tangga membuat Raka langsung menoleh ke arahnya, hingga kini Naya sudah berada tepat di depannya. Raka mengerut keningnya melihat penampilan istrinya yang sudah sangat tapi. "Mau kemana kamu ?" tanyanya dingin namun tidak sedingin semalam.
"K-kamu tidak ke kantor ?" tanya Naya balik.
Raka bangkit dari sofa lalu berjalan menghampirinya , jangan lupakan tatapan tajam nya yang mampu membuat Naya menunduk takut. "Aku bertanya padamu jadi jangan balik bertanya. Kamu mau kemana ?"
"Ah aku mau ke butik. Ada ya-..
"Tidak boleh ! Aku tidak mengizinkan mu pergi kemana pun,"
Naya mendongak "k-kenapa aku hanya ingin pergi ke butik la-..
"Lau bertemu dengan bayu dan kalian berpelukan ? Iya ?"
"Sudah kubilang kamu salah paham, Aku dan Bayu tak ada hubungan apapun, dia hanya menolongku," balas Naya dengan nada tinggi nya.
"Jangan berbicara dengan nada tinggi ke suami mu, Nay !" bentak Raka membuat Naya kembali menunduk takut.
"Kembali ke kamarmu,"
"Tapi rak ak-..
"Aku tak suka di bantah,Nay. kembali ke kamarmu,"
.
.
Raka masih sibuk berkutat di depan layar laptop nya, hari ini dia sengaja tidak pergi ke kantor karena dia tahu pasti Naya akan pergi ketika dia di kantor jadi dia mengerjakan semua pekerjaannya di rumah.
"Maaf mas, mbak Naya belum makan siang. Tadi pagi juga dia tidak sarapan," ucap sang pembantu membuat Raka langsung menghentikan pekerjaannya.
"Iya bi, biar Aku yang menyuruhnya makan,"
"Kalau begitu saya permisi ke dalam lagi mas,"
Raka mengangguk, setelah itu dia berjalan menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar, dia melihat Naya yang sedang tidur di ranjang. Pria itu berjalan pelan, lalu duduk di sisi ranjang. bisa dia lihat bekas air mata yang berada di pipi Naya, itu tandanya tadi wanita itu menangis hingga ketiduran.
Tangan Raka terangkat, membelai pipi istrinya lembut "Maafin aku,Nay. Aku tak bermaksud membuatmu menangis,"
Merasakan pergerakan di pipinya membuat Naya membuka matanya. Raka tersenyum saat melihat istrinya mulai terbangun dari tidurnya. namun senyumnya luntur saat wanita itu merubah posisi tidurnya memunggunginya. Rupa nya Naya masih marah pada nya. "Sudah siang kamu harus makan siang, tadi juga kamu tak sarapan kan ?"
"Aku tidak lapar," balas Naya yang masih memunggunginya.
"Tapi kamu harus tetap makan siang nanti kamu sakit. Kita makan siang bersama,"
"Sudah kubilang aku tidak lapar. Kamu makan saja sendiri,"
"Nay, jangan kekanakan seperti ini,"
Mendengar dirinya di anggap kekanakan membuat Naya langsung bangkit duduk menatap Suaminya itu "kekanakan? Kamu bilang aku kekanakan ? Kamu yang kekanakan Raka !" marahnya.
"Kenapa jadi aku ?"
"Kamu masih bertanya ? Kamu selalu melarangku ini itu, bukan kah itu kekanakan ? Kamu selalu melarangku bertemu dengan pria manapun sekalipun itu adik kamu sendiri, bukan kah itu kekanakan ?"
"Sudah kubilang aku punya alasan melakukan semua itu,Nay,"
"Alasan apa ? Kamu selalu mengekangku, Raka. Aku hanya ingin pergi ke butik tapi kamu melarangku,"
"Karena kamu akan menemui Bayu, itu yang membuatku melarangmu,"
Naya menghela nafasnya "masalah ini lagi ? Bukankah aku sudah bilang ini salah paham ? aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengannya,"
Raka tersenyum sinis "Tidak ada hubungan tapi berpelukan ?"
"Raka !!"
"Jangan membentakku,Nat !! Aku suami mu jadi aku berhak melarangmu,"
"Tapi tidak dengan semuanya. Aku juga butuh kebebasan hiks aku lelah, aku capek dengan semua aturanmu !! Hiks kenapa kamu melakukan semua ini padaku hiks kenapa?" Seketika tangis Naya pun pecah.
Raka menarik Istrinya itu kedalam dekapan nya. Sakit, Itulah yang Ia rasakan saat melihat Naya menangis apalagi itu kerena dirinya. "Jangan menangis, maaf membuatmu seperti ini. Percayalah, aku sangat mencintai mu,Nay. aku takut kamu pergi dariku,"