Terbiasa bekerja keras membuat tubuh Vian ingin terus bergerak. Berbaring di tempat tidur rumah sakit membuat seluruh badanya terasa remuk. Terlebih ia tidak tahu rumah sakit ini ada di mana. Apakah dia sudah ada di Jakarta atau masih di Padang? Vian mengacak rambutnya. Ia semakin pusing dengan bayang-bayang masa lalu. Rasa penasaran membuatnya gelisah. Vian duduk di atas tempat tidur, menatap meja yang dipenuhi dengan buah dan bunga. Seketika Vian teringat dengan Mande Rubayah yang selalu menyayanginya. Tidak sedikit pun rasa sepi menghampirinya walau hari-hari yang ia lewati sangat berat. Pintu ruangan Vian terbuka lebar, seorang wanita cantik memasuki ruang inapnya. Tika datang membawa parcel buah dan sebuket bunga mawar. Vian tahu siapa yang membawa buah dan bunga setiap hari untukn

