Lisa berjalan pelan, mendekati kapal yang akan membawa Riko dan Vian pergi. Kakinya gemetar seperti tidak sanggup lagi untuk berdiri. Lisa tahu Vian tengah menatapnya dari atas kapal, tatapan mereka tidak lepas sedikit pun sampai kapal itu berlayar menjauh. Untuk pertama kalinya Vian meneteskan air mata. Rasa sakit membuatnya lemah, cinta telah menguasai diri sepenuhnya. “Lisa benar-benar mencintai kamu. Setiap sore dia selalu nungguin kamu di pantai,. Itu dia lakukan setiap hari. Walau dia tau kamu tidak akan datang setiap kali ia menunggu,” kata Riko membuat d**a Vian semakin sesak. “Hentikan. Jangan katakan apa pun lagi,” kata Vian yang kini bersimpuh sembari meremas dadanya. Vian menunduk, menyembunyikan air mata yang mengalir. Dia tidak mau dianggap cengeng tapi hatinya tidak bisa b

