Kantin

1166 Words
Sedang di fase, lagi sayang sama satu orang dan gak mau kehilangan orang tersebut. ••• Dara meletakkan kepalanya di atas meja kantin yang membuat beberapa pasang mata mencuri lirik-lirik ke arah gadis itu. Ada beberapa dengan tatapan bingungnya, anehnya, dan ada juga yang kagum secara diam-diam. Biasa, Dara adalah gadis impian setiap pemuda di sekolah mereka, di luar sekolah juga sepertinya. Para sahabatnya, Fuspita, Rana, dan Alpiyya juga memandang gadis itu bingung dan aneh. Ada apa gerangan? Padahal tadi, dia baru saja bertemu Suga di UKS. "Lo napa dah, Dar?" tanya Fuspita sembari mencolek pelan lengan Dara. "Mau cabut?" "Bakso mau gue pesenin?" Rana menawarkan makanan kesukaan Dara tapi tidak dipedulikan olehnya. Fuspita dan Rana gagal, mereka menatap Alpiyya agar mengeluarkan jurus andalan agar Dara tidak merajuk lagi. Sedangkan yang ditatap mengerutkan keningnya dalam dengan bingung, dia meringis kecil dan ragu menepuk-nepuk kepala Dara lembut. "Dara, Kak Suga tuh," katanya membuat Dara mendongak dan langsung cemberut saat Alpiyya menipunya. "Is, tipu-tipu!" Dara mengerucutkan bibirnya ke depan dengan kesal. Alpiyya terkekeh pelan. "Hehe, lagian lo kenapa sih? Bikin kita khawatir aja! Kak Suga tadi tidur dan gak mungkin ngusir lo, 'kan?" tanyanya beruntun bingung. Dara memanyunkan bibirnya dan berkata, "nyenye! Gue sedih, hiks." "Kenapa, Dar?" tanya Rana dan Fuspita secara bersamaan. Dara kembali merebahkan kepalanya di atas meja kantin dan berkata lirih, "hmm, tadi kan Kak Suga bobok ya, tapi aura dingin dan gak sukanya ke gue itu masih kerasa kuat. Berasa dia lagi gak tidur." Rana menaikkan alisnya ke atas. "Lah, dia kan pingsan, Dar. Lo yakin banget kalau Kak Suga gak suka sama kehadiran lo tadi?" tanyanya. "He'em, gue yakin seratus persen. Dan, Kak Suga itu seperti membangun dinding untuk membatasi orang lain mendekat ke arahnya. Gue harus gimana, dong?" Dara berkata lirih, sedih sekali terdengar dari nada suaranya yang kecewa terlalu kentara. Rana, Alpiyya, dan Fuspita saling pandang. Pemikiran mereka sama dan paham apa yang harus dilakukan untuk membuat Dara kembali seperti biasa. "Come on, Dara! Lo udah nge-crush in Kak Suga dari kapan coba? Dan, sewaktu udah ada jalan ke arah dia ... lo malah nyerah? Are you crazy, girl?" Fuspita berkata semangat menggebu, berusaha memprovokasi Dara yang masih bergeming di tempatnya. "Ck! Lo tau kan kalau Kak Suga itu manusia kulkas? Kok lo baru pertama kali merasakan bertapa dinginnya di dekat dia udah nyerah, sih? Lo itu Dara yang gue kenal, kan?" tanya Rana dengan nada sinis dan tatapan mata menantang. Alpiyya mengangguk menyetujui. "Ya, Dara pengecut! Katanya ada 1001 cara buat menaklukkan hati doi, belum ada melakukan satu cara udah nyerah? Ah, gak asik lo mah," ketusnya sembari memutar bola matanya kesal. Dara mendongak dan cemberut menatap sahabatnya. "Is, gu—gue itu bukan nyerah! Tapi lagi menyiapkan kekuatan untuk melawan rasa dingin yang mencapai nol derajat celcius punya Kak Suga!" elaknya. Fuspita spontan terkekeh. "Kekeke, astaga Dar! Apa guna doi gue kalau lo punya pikiran kayak gitu, coba?" Dara mengerutkan bibirnya ke depan. "Is, Khalid gak ada tuh ngasih-ngasih info ke gue apa lo. Dia udah berpaling dari hubungan gue!" ketusnya merajuk manja. Rana menggelengkan kepalanya dengan senyuman hangatnya, dia lantas mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu. Setelah selesai, dia kembali menatap Dara yang masih manja. "Daraa, lo kan udah ada tuh cara buat ngedeketin Kak Suga, kasih tau kita dulu dong baru nanti dibantu!" Dara mengedip-ngedipkan matanya lucu. "O iya, ya. Gue lupa, hehe." Belum sempat mereka menuntut jawaban lagi ke Dara, suara Khalid yang heboh sedang menarik lengan Suga menyita perhatian mereka. "Elah, gercep dah Sugaaaa! Ayo ke tempat bebeb gue, gak mau tau!" Khalid berteriak egois sembari berjalan dengan tangan yang menarik Suga dan Nabil untuk menghampiri meja Dara serta sahabat-sahabatnya. "Hai, Ayank!" sapa Khalid sembari menduduki Suga di sebelah Dara yang kosong. Jadi, tempat duduk mereka itu Suga di paling pinggir, di sebelahnya ada Dara, Rana di sebelah gadis itu. Sedangkan Khalid duduk di sebelah Fuspita, Nabil di sebelah Alpiyya. Mereka di barisan hadapan Dara. Suga mendengkus kasar menatap Khalid tak suka, dia ingin beranjak berpindah tempat tapi sudah di pelototi oleh Khalid membuatnya kembali duduk. "Ck!" decaknya malas. Khalid tersenyum lebar dan melirik-lirik Dara yang salah tingkah. "Dah, terima aje lo, Ga!" katanya kepada Suga tetapi tatapan matanya jahil menatap Dara. "Beb, udah pesen makan? Mau aku pesenin?" Khalid mulai membuka percakapan di antara meja tersebut yang canggung, dia mah sedang berpacaran dengan Khalid. Kalau Alpiyya tentu dengan Nabil, yang dipermasalahkan itu adalah Suga yang dingin sekali duduk di sebelah Dara membuat gadis itu kikuk. "Udah beb, aku udah pesenin sesuai pesanan kamu tadi. Kak Nabil sama Kak Suga juga," jawab Fuspita yang diangguki oleh Khalid. Dara merapatkan bibirnya canggung apalagi dengan gerakan kakinya yang gelisah jika duduk sedekat ini dengan Suga, crush idamannya. Rana berusaha menahan kedutan di sudut bibirnya ketika menyadari betapa gugup Dara di sebelahnya. Lantas, dia pun menatap Suga dan Dara secara bergantian sebelum berkata, "kekeke, canggung amat si. Kak Suga ajak ngobrol Dara dong, kasian sahabat gue ini, Kak!" Suga melirik Rana dalam, kerutan di dahinya terlihat. Dengan sebelah alis terangkat ke atas, dia menjawab, "kenapa lo, sih?" Rana tersenyum kecil. "Ah, gak asik deh lo Kak. Dara manis begini masa dianggurin, ya gak Lid?" tanyanya jahil. Khalid tertawa pelan seraya mengangguk. "Yoi, kaku lo bro! Apa bertahun-tahun gak deket cewek bikin lo mati rasa, dah? Lo gak m**o kan?" Plak! Suga menggeplak dahi Khalid menggunakan salah satu sendok di meja. "Ck, anjir lo, Lid. Gue normal, masih suka melon daripada pisang!" "Hahahahaha~" Khalid dan Nabil tertawa bersama mendengarnya. Apalagi dengan Dara yang wajahnya sudah memerah mendengarnya. "Uh, Kak Suga manis banget sih kalau ketawa gitu. Dia sehangat s**u, tapi bisa juga jadi s**u dingin," ucap Dara dalam hati sembari melirik Suga yang sedang berdecak kesal. Pesanan mereka datang membuat percakapan 'menjurus' tadi terhenti. Digantikan dengan ke-alayan pasangan Khalid bucin Mpus yang sudah menebar virus. "Gue ke toilet dulu ya," pamit Rana. Dara menggigit bibir dalamnya menatap punggung Rana lalu mengalihkan tatapannya kepada teman-teman yang sudah sibuk sendiri. Lantas, Dara menatap Suga yang sedang minum dan memberanikan diri menyodorkan saus kecap yang sebenarnya hanya alibinya, membuat Suga menoleh dengan sebelah alisnya terangkat ke atas bingung. "Kak, gue boleh minta tolong gak sama lo?" Dara bertanya pelan, sedikit ragu dan takut-takut. Suga tidak memberikan tanggapan apapun. Mengangguk dan menjawab pun tidak. Dara membasahi bibirnya dan berusaha menatap Suga dengan tatapan memelasnya. Dia berkata, "gue lemah di pelajaran jasmani, nilai kosong, Kak." "Terus?" Suga menatap Dara datar, menjawab dengan dingin dan malas. Mental Dara menciut, namun, sebisa mungkin dia menyengir malah menjadi ringisan seperti kucing sakit. Dia berdeham singkat, "Kak Suga bisa ajarin gue main basket?" Suga menatap Dara lama, dia ingin menggeleng tetapi saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari mejanya dengan isyarat menganggukkan kepala membuat pemuda itu bingung sekali. Suga melirik Khalid yang juga memberi isyarat anggukan kepalanya membuatnya menghela napas pelan dan ikut mengangguk. "Oke." Dara tersenyum manis dan mengalihkan pandangannya. Berusaha menenangkan debaran jantungnya yang bertalu cepat, apalagi dengan pipi merah meronanya. "Makasih Kak," lirihnya. "Hm."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD