I'm Out?
"Izinkan aku sedikit mengenal tentang dirimu, yang memberikan setitik kebahagiaan hingga saat ini."
•••
Namanya Dara Khairani Zarita, salah satu dari orang penting yang berperan di dalam sekolah menengah atas terkenal di Ibukota, SMA 84. Masuk jam delapan, pulang jam empat.
Dengan sifat humble nya membuat Dara terpilih menjadi ketua OSIS yang memiliki tanggung jawab besar untuk diembannya tepat diumur ke 17 tahun. Dara pernah bilang bahwa ia adalah tipe orang yang sangat cuek ketika sendirian di kamar, tetapi sifat itu tak belaku ketika dirinya beranjak memasuki pagar sekolah dengan senyuman lebar menyambut angin pagi dan teman-temannya.
Tentunya, Dara tidak merubah sifat dinginnya sendirian. Ia memiliki sahabat-sahabat yang telah bersama-sama sejak memakai popok. Bersama dengan para sahabatnya, Dara tidak pernah tidak merasa bahagia, mereka bagai ayah, ibu, kakak, adik, dan teman baginya yang tinggal jauh dari keluarga.
Walaupun dengan penderitaan yang kadang ia hadapi, Dara tetap bersikap lapang hati menerimanya. Tetapi, bukan tidak mungkin bahwa gadis yang memiliki wajah oval dan bermata bulat tersebut memiliki rasa benci dan tidak suka ketika dirinya sendirian pulang di sore hari bertepatan dengan ekskul basket dan renang.
Dara yang dikenal dengan gadis baik hati dan tidak sombong itu saat ini sedang bersembunyi di belakang tiang pilar yang menjadi pintu pembatas antara ujung koridor dengan lapangan basket yang ramai. Baik kakak kelas, seangkatan, atau adik kelas yang memiliki wajah enak dipandang tersebut mencampur jadi satu.
Ia bersembunyi untuk mengintip objek pencuci mata setiap gadis yang anehnya, kadang hal itu membuat hatinya benci, tidak suka, tetapi ingin terus menikmati pandangan tersebut.
Dara menyembunyikan senyumannya ketika ia secara sengaja melihat ketua basket yang memiliki kadar ketampanan tidak masuk akal berhasil mencetak skor di ring lawan membuat sorakan kemenangan terdengar dari tim nya sendiri.
Tetapi senyumannya sirna saat iris matanya menangkap sepasang mata elang yang sedang mengawasi dirinya dari jarak 10 meter ke samping. Pria yang memakai jersey berwarna putih dan bandana hitam bernama KHALID PACAR MPUS dengan emoticon love lantas membuat Dara menggerutu dalam hati.
Kakak kelasnya yang bernama Khalid Brilian, bucin abad ini sekaligus musuh seperpopokan Dara dan jangan lupakan bahwa pria itu sedang menjadi b***k cinta salah satu sahabat Dara, ia Fuspita Deliana Putri.
Khalid terkekeh sinis sembari mendekati Dara secara perlahan. "Ckck, hari udah semakin sore, ada seseorang yang bersembunyi dan mengintipi anak remaja yang sedang bermain basket. Hmm, apakah motif orang tersebut?" Khalid berujar dengan nada bertanya namun menyindir.
"Drama," gerutu Dara dalam hati. Ia bercakak pinggang menghadap ke arah Khalid dan berkata, "mau lo apa? Ngajak ribut?"
"Mau gue itu lo tanya ke dia, niatnya ngintip-ngintip temen-temen gue itu tuh mau apa? Mau menculik atau ...." Ucapan Khalid menggantung seiring dengan tangannya berisyarat menunjuk ke arah sang kapten yang sedang tertawa lalu Khalid menyilangkan kedua tangannya.
"... hm, atau dia lagi curi-curi pandang?" tanya Khalid sembari menahan tawa melihat ekspresi Dara yang terlihat kesal atas kehadirannya.
"Dua-duanya, puas?!" Dara menjawab dengan berteriak kesal membuat Khalid menyemburkan tawa yang tertahankan lagi.
"Diem deh, Lid!" jerit Dara sembari memukul-mukul lengan Khalid keras ketika suara tawa kakak kelasnya itu kian besar membuat anggota basket menyadari kehadiran mereka.
"Hahahahaha ... ok-o-oke!" jawabnya.
"Udah sana buru pergi lo, ganggu aja nih anak, heran gue," usir Dara sewot lalu mendorong bahu Khalid.
"Oh jadi lo mau gue balik ke lapangan terus bilang ke Kapten kalau ada sepasang mata yang diem-diem ngambil potret memori atas pandangan seksi tanpa izin gitu?" tanya Khalid menantang dengan gaya berlebihan.
"Ya Allah ...." gumam Dara frustasi.
"Sumpah ya, MENGCAPE banget ngomong sama manusia b***k cinta kayak LO," ucap Dara dengan penuh penekanan dan menjeritkan kata 'mengcape' dan 'lo' yang membuat mereka sepenuhnya dilihat oleh anggota basket.
Tanpa membuang waktu mendengarkan jawaban Khalid lagi, Dara berjalan perlahan untuk melewati lapangan basket yang lumayan luas tanpa memandang sekitar lagi.
Baru beberapa langkah, Dara mendengar suara tertawa Khalid yang mengejek dirinya dan menerikkan beberapa kalimat yang tak seberapa ia dengar.
Saat berjalan di tengah-tengah lapangan yang di mana para anggota sedang berkumpul ditambah lagi menatap si ketua osis. Mau tidak mau, Dara tersenyum hangat dan menyapa mereka semua termasuk beberapa pelatih.
"Hallo Kak Dara manis," sapa salah satu anggota yang sepertinya adik kelas Dara.
"Hallo Adik manis," balas Dara sedikit terkekeh.
Yang lain ikut terkekeh, ya, beginilah Dara. Dengan sifat perhatian dan tidak memiliki gengsi tinggi, ia sangat mudah bergaul membuat siapapun tidak segan menyapanya bahkan ketika Dara sendiripun tidak mengingat namanya.
"Baru pulang, Dar? Udah sore ini, loh," ucap salah satu pelatih yang ia kenal sejak dulu, Moza. Pria berusia 19 tahun tersebut merupakan mantan ketua osis sebelum Dara.
"Iya nih, Kak! Kak Moza apa kabar? Udah lama ya Kak gak ketemu kita," ucap Dara riang.
Moza terkekeh singkat dan menjawab, "iya haha. Next time nanti kita reuni deh."
Dara hanya mengangguk setuju dan buru-buru pamit ketika pandangan seseorang yang tak lepas sedari tadi membuat hatinya tidak nyaman lama-lama.
"Ya udah, gue duluan ya, Kak. Samangat latihannya semua," seru Dara sembari mengepalkan salah satu tangannya ke udara memberi tanda semangat.
Dara tersenyum menatap anggota basket, Moza, pelatih lainnya, dan mengangguk singkat kepada si kapten basket yang sedari tadi tidak menimpali ucapannya. Bahkan seperti tidak mempersilakan keberadaanya sejenak menyapa.
"Duluan Kak Suga." Dara tersenyum lebar dan mengangguk singkat kepada pria yang sejak awal menyita atensi mata serta hatinya.
Kakak kelas yang paling tampan tak ada tandingan, ia Suga Adrian Bramasta.
•••
[Berkelahi ✔ ]
[Mengecat rambut ✔]
[Membantah guru ✔]
[Membolos pelajaran ✔]
[Merokok ✔]
[Mengerjai guru ✔ ]
[Memanjat dinding pagar utama ✔]
[Memutuskan kabel CCTV ✔]
[Tidak memakai atribut sekolah ✔]
[Menyogok satpam sekolah ✔ ]
[Tidur di kelas ✔ ]
[Main game di kelas ✔]
Catatan pelanggaran atas nama Suga Adrian Bramasta.
— atas laporan Sekertaris OSIS, Zhafira.
Kesialannya bertambah, saat baru sampai di parkiran, Dara dikejutkan dengan runtutan pesan dan telepon dari seluruh anggota inti osis yang memintanya kembali ke ruang rapat karena ada hal gawat darurat yang ingin dibicarakan.
"Dar, kok ini pelanggaran yang dilakuin Kak Suga semester ini ... surat panggilan orangtua nggak turun ya?" tanya Zhafira, sekertaris osis.
Zhafira menunjukan satu halaman di dalam buku hitam milik Suga yang penuh dengan runtutan pelanggaran. "Lo udah liat?"
Dara menyembunyikan senyumnya dengan sekuat tenaga, ia berdeham singkat dan berkilah, "mana gue tau? Urusan buku hitam kan tugas lo, Fir. Kalau lo laporan tiap bulan ke gue, otomatis SP turun dong."
Mendengar itu, Zhafira terdiam. Dia menunduk kembali melihat catatan tersebut.
"Ya udah, sekarang karena lo udah liat semua pelanggaran yang ada di Zhafira, tulis SP buat Kak Suga Dar," perintah gadis yang duduk di sebelah Dara, Fuspita Deliana Putri, Wakil Ketua Osis.
Dara lantas duduk tegap sembari memelototi Fuspita dengan bibir terbuka, sangat tidak setuju dengan perkataan Fuspita. Baru beberapa menit bersikap seperti itu, Dara kembali berekspresi seperti biasa karena dilihati oleh anggota lainnya.
"Hm, coba lo pikir deh, Fir. Kak Suga banyak banget nyumbangin piala-piala kemenangan untuk sekolah kita, biasa ditebak gak sih reaksi guru-guru sama anak-anak lainnya kalau kita ngeluarin SP?" tanya Dara mencari-cari alasan. Hei, itu tidak benar! Mana ada namanya sang pembuat onar terbebas dari hukuman karena berprestasi?
"Ah? Tapi, dia udah ngelanggar aturan Dar," ucap Zhafira ragu.
Melihat tatapan mencurigakan dari anggota OSIS membuat Dara menghela napasnya lelah sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum. Ia berkata, "ya udah, lo print aja SP nya nanti gue tanda tangan in."
"F*ck this s**t, i'am out," umpat Dara dalam hati setelah mengatakan keputusannya. Perjuangannya sia-sia selama ini untuk menutupi pelanggaran-pelanggaran yang dibuat Suga. Bahkan, daftar yang tertulis saat ini adalah sepertiga dari pelanggaran yang kakak kelasnya itu buat. Dara hanya bisa melakukan sampai sini, biar sisanya diurus oleh Suga sendiri.