Maaf kalau kemarin gue terlalu mengemis sama lo, sekarang ... gue ekstra berusaha lagi deh.
•••
Dara mendengkus kesal menatap kertas-kertas yang berserakan di atas meja berisikan laporan para siswa di sana. Saat ini sedang waktunya istirahat, tapi Dara sebagai ketua osis di tahan oleh guru BK mereka untuk menggantikan dirinya dalam sesi konseling murid yang telah melanggar aturan.
Dia sangat malas sekali dikarenakan waktu yang harusnya dia gunakan untuk mengunjungi Suga hilang dan dirinya terjebak di ruangan tersebut.
Tok ... tok!
Ketukan pintu berbunyi dan suara gesekan terdengar hingga memunculkan kepala yang gadis itu kenali.
"Assalamualaikum," sapanya sembari membuka lebar pintu ruang BK.
"Waalaikumsalam, masuk!" Dara menyahuti sedikit berteriak.
Dia adalah Hazel, kakak kelasnya yang sudah beberapa tahun tidak naik kelas atau lulus. Saat ini sedang seangkatan dengan Suga, tidak tahu tahun depan apakah mereka akan menjadi teman angkatan. Dia siswa yang mengabdikan dirinya untuk SMA 84.
"Kok lo di situ Dar? Mana Bu Step?" tanya Hazel saat sudah berdiri di hadapan Dara.
"Gue juga ogah, Kak! Gercep ah lo nie buat onar mulu, jan bilang taun depan kita ketemu lagi?" Dara menjawab dengan nada bercanda.
Hazel terkekeh sambil duduk di kursi yang disediakan. "Dih, tumben amat lo di sini. Bu Step mana dah?" tanyanya lagi.
"Entah, lagi pacaran mungkin sama Kak Mark."
Hazel menyeringai kecil. "Terus, lo gak pacaran sama Suga?"
"Mau nya gitu, tapi karena lo ada konseling gue jadi yang kena gantiin Bu Step," kata Dara memanyunkan bibirnya.
"Lah, doi lo gak ada konseling juga hari ini?" Hazel bertanya bingung dengan santai mengangkat dan menyilangkan kedua kakinya ke atas meja.
Dara menggeleng.
"Wah tuh bocah pinter juga taktiknya bisa lolos dari Bu Step," gumam Hazel lagi.
"Apaan? Ada apa dah?"
"Ck, mana lo gak tau sih, Dar?" Hazel bertanya menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Dara kembali menggeleng. "Gak, apa?"
Hazel menunjuk kumpulan kertas di atas meja menggunakan telunjuknya dan berkata, "ada Khalid pasti kan di situ."
Kali ini Dara mengangguk. "Iye ada dia. Apaan sih Kak gue makin bingung!" rutuk Dara sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Ck! Kemarin gue, Khalid, Nabil, dan Suga itu bolos ke perpustakaan dan di sana tiba-tiba ada Bu Step. Terus yang dipanggil cuma gue sama Khalid doang, doi lo sama Nabil kagak. Aneh gak menurut lo?" Hazel menjelaskan panjang kali lebar membuat Dara ber-oh ria dengan mengangguk-angguk mengerti.
"Gue kemarin nyeret Kak Suga ke kantin sebelum Bu Step dateng. Khalid masih tiduran di meja kalau Kak Nabil gatau deh," aku Dara.
"Ck, ternyata lo yang ngelolosin si Suga."
"Ya gitu deh. Dah, sekarang gue mau evaluasi lo dulu Kak." Setelah berkata, Dara kembali membuka kertas yang dia susun atas nama Hazel.
"Gila, lo ketagihan atau candu ngebuat onar sih Kak? Setiap hari ada aja kerjaan yang ngebuat orang darah tinggi," ketus Dara setelah membaca buku hitam milik Hazel.
"Gue candu kekeke," kekeh Hazel.
"Ckck, sampe kapan lo mau terus di sini Kak? Gak niat ngecanduin mahasiswa apa?" Dara bertanya malas dan memutuskan menutup buku yang dibacanya tadi. Dia menatap Hazel sembari menopang pipinya di telapak tangan.
"Tahun ini gue lulus pasti," jawab Hazel yakin.
Dara menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kok lo berasa ada napsu baru ya Kak. Hayo~"
Hazel tertawa pelan. "Crush gue juga lulus tahun ini, maunya kuliah bareng dan ketemu tiap hari sampe mati."
"Heh!"
"Serius gue Dar."
"Jinjja? Who's?"
"Sug—"
Ceklek!
"Ngapain lo di sini?"
Pintu tiba-tiba terbuka tanpa ketukan dan memunculkan Suga dengan nada yang sinis saat bertanya. Pemuda itu menatap tak suka ke arah Hazel.
"Ngapain lo ke sini?" Hazel balik bertanya persis apa yang ditanyakan oleh Suga.
Dia mendengkus kasar sambil berjalan mendekati meja Dara. Lalu Suga menyentak kasar kaki Hazel yang hampir terlempar ke lantai beserta tubuhnya.
"Pergi lo sana Zel."
"Anjer. Ogah, lo aja! Ini sesi gue sat, aturannya lo yang minggat!" Hazel menatap Suga tajam.
"Pergi gak lo?!" ancam Suga sembari mendekati Hazel berniat membisikan sesuatu ke pemuda itu.
Mata Hazel membulat sempurna dan spontan berdiri yang hampir saja membuat kepalanya bertabrakan dengan kepala Suga. Dia menatap Suga kesal dan langsung sedikit berlari meninggalkan ruangan BK tersebut.
Suga terkekeh sinis seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Dara, tepat di sebelah tempat duduk Hazel tadi. Pemuda itu menatap Dara tajam yang membuat gadis itu gugup.
"Lo mau konsultasi."
•••
Dara menundukkan kepalanya dalam-dalam saat merasakan mata elang Suga yang sedari tadi memandanginya sudah sepuluh menit sejak pemuda itu berkata ingin konsultasi padanya.
"Ck, lo niat gak sih?" Suga berdecak kesal.
Dara sedikit mengangkat kepalanya dan melirik Suga singkat. "Apa?"
"Gue mau konsultasi!" cecar Suga dengan menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Dara menghembuskan napasnya yang kian sesak lalu menatap Suga seperti biasanya. "Ok gue bisa. Semangat Dara, jangan salting atau gugup! Ciayo!" serunya dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Ini bukan waktunya lo Kak. Mana Khalid?" tanya Dara dengan nada berusaha ketus.
"Gue tukeran sama dia. Kenapa?"
"Ck, kenapa harus sama lo sih," gumam Dara pelan dengan mencebikkan bibirnya salting.
Suga yang mendengarnya di tengah-tengah ruangan hening tersebut lalu berkata tajam, "lo gak suka ngeliat gue di sini?"
"Suka!"
"Kenapa nyari Khalid?"
"Karena dia harus dihukum! Sekarang!"
Suga menaikkan sebelah alisnya ke atas dengan bingung. "Harus sekarang ngeliat muka Khalid? Gak mau liat muka gue?"
Dara mematung, lidahnya keluh, bibirnya menganga kecil, otaknya buntu, hatinya menjerit-jerit! Dia mengedipkan matanya tak percaya setelah mendengar perkataan Suga yang sangat dia harapkan.
"Eoh?"
"Ya udah," ketus Suga sembari berdiri dan membalikkan badannya sebelum tangan Dara menahan lengannya.
Dara menyengir. "Hehe, jangan pergi dong. Gue butuh asupan gizi buat melanjutkan hari ini."
Suga menahan senyumannya dan kembali duduk. Dia memandang intens setiap wajah Dara apalagi saat pipi gadis itu memerah karena malu. Dia berdecak kecil dan memalingkan wajahnya.
"Emm, Kak," panggil Dara malu-malu.
"Hm?"
"Lo kemarin beneran ngebolos?" tanya Dara penasaran dan sedikit mencairkan suasana ruangan yang membahayakan hatinya.
Suga mengangguk.
"Kenapa?" Dara bertanya lagi.
Suga mengedikkan bahunya pelan. "Alasan mau ketemu lo mungkin?"
Pipi Dara semakin merah, semerah tomat yang berdarah. Dia memalingkan wajahnya ke samping agar Suga tidak bisa menatapnya.
"Kenapa?" Suga balik bertanya dengan nada menggodai Dara.
Dara mengigit bibir bawahnya kuat-kuat dengan mata yang melirik-lirik ke arah Suga. "Kenapa mau ketemu gue?" tanyanya nada mencicit.
"Kangen denger suara cempreng lo."
BRAK!
"OMAYGHOST!"
Suga berjingkat kaget dengan wajah tidak astetiknya saat Dara memukul meja dengan berteriak kegirangan. Dia memegang dadanya yang berdetak lebih kencang karena kaget.
"SUMPAH KAK SUGA KANGEN SAMA GUE? HUE, APA YANG UDAH GUE LAKUIN SEHINGGA DAPAT REJEKI BERLIMPAH INI?" Dara berteriak senang membuat wajah hingga lehernya memerah.
Suga meringis mendengarnya dan diam-diam menutup kedua telinganya saat menyadari bahwa Dara tidak akan berhenti berteriak untuk beberapa menit ke depan.
"MPUS, APA INI TANDA-TANDA KALAU GUE BAKAL MELEPAS STATUS JOMLO INI?"
Tolong tahan Suga untuk tidak menyesal setelah mengatakan semua itu kepada Dara ....