Hari yang ditunggu oleh kedua pasangan orang tua itu pun akhirnya tiba. Rencana matang ini tidak akan berjalan mulus kalau bukan karena wedding organizer yang membantu. Karena memang waktu persiapan yang terbilang singkat.
Wanita yang masih memakai gaun bak putri kerajaan itu sedang melamun di samping es berbentuk angsa yang terpampang dekat pintu masuk gedung pernikahan ini. Ia berdiri di situ setelah menyalami semua tamu yang hendak pulang.
“Kinan, ayo?” ajak Rita pada Kinan agar segera naik ke lantai dua. Di mana ada beberapa kamar khusus untuk keluarga.
Kinan mengikuti mamanya untuk masuk ke dalam kamar keluarganya.
“Malam ini kamu pindah ke kamar dengan Alan, ya?”
“Lho? Kenapa, Ma?”
Rita berdecak. “Kamu lupa sudah bersuami sekarang?”
Kinan menggaruk kepalanya. “Oh, iya. Tapi tolong bantuin lepasin gaunku dulu ya, Ma?”
“Ya mama bantu. Nanti bersihkan make-up nya sendiri ya?”
Kemudian dengan berhati-hati Rita membantu Kinan melepaskan gaun putih besar itu di kamar mandi.
“Nih pakai handuk kimono aja dulu buat ke kamar? Soalnya barang-barangmu udah di kamar sana,” pesan Rita.
Tentu saja Kinan terperanjat. Bagaimana nanti dia berhadapan dengan Alan hanya memakai kimono putih tebal ini?
Setelah keluar dari kamar mandi di dalam kamar tidur ini, Kinan merasa saudara-saudara sepupunya ingin segera tidur setelah lelah di acara pesta tadi.
“Mmm ya udah, Ma? Kinan tidur dulu ya? Cipika cipiki,” kata Kinan sambil saling mengecupkan pipi pada mamanya. Sejak kecil ia melakukan hal tersebut pada mama dan papanya.
Kinan mengendap menuju kamar yang sudah disiapkan khusus untuknya dan Alan.
Dok dok dok
“Mas?”panggil Kinan berkali-kali.
Ia pun membuka pintu sendiri karena Alan tak hendak membukakan pintu.
Kinan akhirnya melihat kamar berukuran super itu kosong. Hanya ada dirinya dan barang-barang furnitur lainnya yang bernuansa emas dan putih itu.
Ia sudah tak tahan ingin membersihkan make-up yang menempel lekat di wajahnya itu.
Ciiit
Sepertinya itu suara pintu digeser. Kinan menengok. “Astaga!” jeritnya sambil menutup mata.
“Astaga kenapa?!”
“Mas tolong pakai bajunya! Jangan cuma pakai handuk lagi!”
“Lebay banget! Kamu juga pernah lihat aku begini kan satu bulan lalu waktu di rumah?!”
Kinan masih enggan menyingkirkan tangan dari mukanya sendiri.
“Paham, Mas! Tapi aku nggak mau lihat lagi!”resah Kinan.
“Kan kita udah suami istri! Lagian beberapa tahun kedepan juga kamu bakal terbiasa dengan ini,” imbuh Alan.
“Tapi kan kita belum saling cinta!”
“Ya udah! Aku pakai baju.” Alan pun segera memakai bajunya.
Kinan segera membuka mata saat Alan sudah memberitahunya begitu.
Ia kembali fokus untuk membereskan area kepalanya di depan cermin.
“Aduh!” keluh Kinan.
Alan yang sudah terbaring di kasur sambil bermain ponsel merespon keluhan Kinan. “Kenapa, sih?!”
“Mmm ini … jepit rambutnya nusuk! Susah lepasnya,” racau Kinan lagi.
Alan memasang wajah kesal dan segera bangun untuk membantu Kinan. Agar dirinya tak terganggu lagi dan ingin tidur cepat. Dirinya sudah lelah dengan drama pernikahan satu hari tadi. Mulai dari pemberkatan gereja hingga ke resepsi.
“Ah sakit! Pelan-pelan ih, Mas!”
“Iya bentar nyangkut!”
Setelah itu, semua jepit yang ada di rambut Kinan yang lengket karena hair spray itu lepas.
***
“Ya ampun! Anakku kalau main bar-bar juga ternyata!” Vina berdecak.
“Terlalu besar untuk anakku kali, ya, Vin?”
Mereka kemudian terkekeh kecil agar tak terdengar kedua mempelai baru itu.
Rupanya duo emak ini sedang menguping di depan pintu.
“Dah! Tinggal aja mereka berdua. Semoga lancar dan langsung jadi anak kicik nanti!”
“Oke! Ssst!” Rita membungkan mulutnya sendiri dan pergi dari depan kamar pengantin tersebut.
***
“Mas?”
“Apa lagi, sih?!” Alan mulai kesal dengan Kinan yang selalu memanggilnya.
“Aku tidur mana?”
Alan mengusik rambutnya saking sebal dengan Kinan. “Di sofa itu!”
Kinan menggigit jari telunjuknya dan menengok ke sofa kecil yang mungkin memang cukup untuknya. Asalkan dia harus tidur meringkuk seperti bayi.
“Kecil lho, Mas?”
“Hih! Ribet banget! Kalau mau ya tidur di kasur sini!”
Posisi lampu utama sudah mati. Hanya nyala lampu dari nakas yang berwarna putih kekuningan yang menyinari ruangan ini.
Sehingga setiap kali Kinan melihat Alan, bayangan di wajahnya cukup jelas.
“Aku mau tidur! Jangan ganggu lagi,” suruh Alan agar Kinan diam.
Kinan mengambil napas panjang. Ia paham ia ternyata sedang grogi.
Ia pun menyelipkan tubuhnya di bawah selimut nan tebal itu.
“Ehem!” Kinan berdeham.
Seperti biasa, ia tak bisa memaksa dirinya untuk tidur di ruangan asing lagi.
Setelah beberapa menit berkeluh dalam hati, ia pun mendapat ucapan dari Alan.
“Tuh! Ada s**u di koperku! Ambil aja.”
“Serius?”
“Hm.”
Kinan secepat kilat mengambil s**u tersebut dan meminumnya. Ia kemudian kembali ke dalam selimut seperti kepompong.
Setengah jam berlangsung dan Kinan masih bergelut dengan matanya sendiri.
Ia menoleh ke sebelah kanannya. Mengecek apakah Alan sudah tidur atau belum.
“Mas?” Kinan memanggil pria yang sudah menjadi suaminya itu perlahan. Sembari menjawilnya dengan jari telunjuk.
“Apa, sih, Nan?!! Astagaaa!” Alan rupanya juga belum tidur pulas.
“Kenapa? Kamu grogi!?”sindir Alan lagi.
“Eh?”
Alan kemudian berbalik menghadap pada istrinya.
“Kamu mau aku ngapain kamu???”
“Ng-nggak kok, Mas. Aku nggak minta apa-apa,” ucap Kinan gemataran. Ia menarik selimutnya hingga sebatas leher.
Alan malah semakin mendekatkan kepalanya pada Kinan. “Kamu mau malam pertama seperti pasangan pada umumnya?” tanyanya.
***
Tunggu dulu ya kalau mau update! Kira-kira kalian nge-ship Andrew & Lea atau Alan & Kinan, nih?