L.A.M - 10

946 Words
Kinan membuka matanya lebar-lebar. Segera menilik ke dalam selimut. Ia sudah tak lagi memakai pakaian apapun.    “Astaga! Semalam aku sama Mas Alan mmm main!?” Ia pun membatin. Lalu ia kembali mendekap selimut tebal tersebut. Tangan Alan juga masih memeluknya.   Sepertinya ini akan menjadi kenangan manis untuk Kinan. Betapa lembutnya cara Alan memperlakukannya di ranjang.   KRIIIIING   “HAH!” Kinan tersentak oleh bunyi yang sangat memekakkan telinganya. Dirinya langsung duduk tegak di atas tempat tidur nan empuk itu.   Mengingat kejadian tadi, Kinan meraba d*danya. Apakah selimut itu masih menutupi bagian tersebut dengan rapat?   Kinan langsung menunduk. Memastikan dirinya sendiri. “Oh! Aku masih pakai baju,” ucapnya pelan.   Setelah merasa tenang Kinan menoleh untuk mematikan alarm ponselnya dan mencari Alan. Suaminya masih terbaring di sebelahnya dan berjauhan.   “Untung gulingnya masih di tengah,” bisiknya.   Kemudian Alan merasa ada yang sedang memperhatikannya saat tidur. Ia membuka matanya yang masih lengket itu, merentangkan keduanya tangannya lebar, dan menoleh pada Kinan.   “Kok udah bangun?” tanya Alan. Kali ini ia menggunakan nada yang lembut seperti sedang berbicara pada kekasih yang ia cintai.   Mungkin Alan belum sadarkan diri.   “Tadi alarm bunyi. Kamu nggak denger?”   “Nggak. Sini peluk,” pinta Alan seiring merentangkan tangannya.   Beneran belum bangun kayaknya!   “Hah?” Itu cukup membuat Kinan menganga.   “Hah?!” Alan semakin membuka matanya lebar. Menyadari apa yang sudah dilakukan dan diucapkannya. “Ehem! Maaf kayaknya aku masih ngimpi.”   Kinan mengerucutkan bibirnya. “Oh, mimpi.”   Mimpiin siapa ya? Kok sampai minta peluk begitu?   “Bukan mimpiin kamu pastinya,” tegas Alan.   “Eh? Kok tau? Kan aku belum tanya, Mas,” imbuh Kinan.   “Hmm,” jawab Alan singkat.  “Ini masih jam lima. Kamu ngapain pasang alarm jam segitu? Paling biasanya juga bangun siang, kan?” cercanya kemudian.   “Lupa matiin. Itu alarm kemarin. Butuh bangun pagi kan kemarin,” balas Kinan balik.   Kinan menunduk dan menggigit bibirnya. “Mau ke kamar mandi dulu,” katanya.   Saat Kinan sudah beranjak dari kasur menuju kamar mandi, Alan memandangi Kinan dari belakang.    Ia sempat menelan ludahnya kasar. Seolah tenggorokannya kering.   “Kaki Kinan bagus juga,” batinnya saat memandangi istrinya yang sedang berjalan pelan tersebut.   Ciiit   Pintu geser itu tertutup sesaat setelah Kinan masuk ke kamar mandi.   “Tuhan, aku salah tidak ya kalau membayangkan yang nggak-nggak sama istriku?!” keluhnya seiring mengusap wajah. Ia ucapkan dalam hati.   “Apalagi kalau pagi-pagi begini adikku bangun terus. Mana sekarang ada seorang wanita di kamar ini,” batinnya lagi.   Ratusan adegan terskenario dalam benaknya. Matanya masih tertuju pada pintu kamar mandi berkaca abstrak itu.   “EH!” Alan langsung kembali membaringkan kepalanya ke bantal lagi setelah melihat Kinan membuka pintu itu.   “Kenapa, Mas?”   “Ng-nggak kenapa-napa, ada apa emang!?”   “Kamu kayak salting gitu?”   “Hah? Nggak kok! Kenapa coba?!”   Kinan membentuk bibir bebeknya. “Kirain.”   Lantas karena ini masih sangat pagi, Kinan kembali duduk di ranjang. “Aku mau ngapain ya?”   Sedangkan Alan memejamkan matanya kembali.    “Aku boleh tanya?”   Kinan menoleh. “Apa, Mas?”   “K-kalau misalkan akuu ngapa-ngapain kamu … reaksi kamu gimana?”   “A-aku marah,” jawab Kinan tenang.   “Kenapa gitu? Bukannya itu hak ku sebagai suami ya?”   Sejenak Kinan berpikir. “Tapi itu bukan kesadaranku, Mas.”   Setelah itu Alan membuka matanya dan melirik Kinan yang ada di belakangnya. Masih duduk manis di situ.   “Oh, oke.”   Kinan berkata, “kalaupun suami istri, misalkan aku dalam keadaan mabuk. Kamunya sadar dan kamu pegang-pegang aku … bukankah itu termasuk mencuri?”   Alan menelan ludahnya. “Iya iya. Aku kan cuma tanya. MISALKAN.”   “Ya aku juga cuma berpendapat.”   “Sana sana. Kamu beres-beres aja? Check-out jam sebelas, kan?!”   Kinan bergegas menuju kopernya yang tergeletak di samping nakas dekat lemari.    “Terus kamu tidur lagi, Mas?”   “Iya lah! Capek!”   “Dih! Enak banget! Bajumu kamu rapihin sendiri ya!” Kinan merasa diperbudak namun ia merasa berani melawan kali ini. Ia tertawa dalam hatinya.   Setelah bebersih dan mandi, Kinan duduk di ranjang. Bersandar pada dipan kasur tersebut sembari bermain ponselnya.   Selama ini pula ia menunggu jam delapan. Hingga ia bosan berada di dalam kamar pengap bersama suami abal-abalnya ini.   Ia pun memutuskan untuk keluar kamar. Hendak mengambil sarapan yang disediakan gedung ini di lobby untuk keluarga pengantin.   Kinan membuka pintu kamarnya.    Belum ada lima detik, Kinan langsung disambut oleh Vina. Kinan dipeluk olehnya.   “Ahh, mama nggak sabar punya cucu!”   “Eh, Ma? Selamat pagi,” ucap Kinan ragu. Mencoba melepaskan pelukan singkat itu.   “Gimana? Semalem sama Alan berapa ronde?!” Vina dengan ceria memperhatikan Kinan dari ujung kaki ke ujung kepala.   Kok Kinan baik-baik saja? Masih normal? Tidak mengeluh pegal sama sekali? Ah, mungkin mereka mainnya lembut!   “Apanya, Ma? Kita nggak main kartu, kok!”   Vina menarik kepalanya sedikit. “Ah, nggak usah malu sama mama! Kalian kan habis malam pertama!” bisiknya.   Kinan menggaruk kepalanya di balik rambutnya yang sudah tersisir rapi itu. “Ki-kita tidur sampai pagi, Ma,” tawa Kinan terpaksa.   “TIDUR, kan, maksud kamu?”   “Tidur, Ma. Iya, tidur. Tidur dan bermimpi,” jelas Kinan. Padahal pipinya sudah merona saat ditanya seperti ini.   Belum apa-apa sudah ditodong cucu. Haduh!   “Beneran tidur?!”   Kinan mengangguk perlahan.   “Yah, padahal mama udah ngarep mau gendong bayi,” keluh Vina. “Nanti mama mau marahin Alan pokoknya! Masa tidur sama cewek cantik begini di sia-siakan, sih!?”   Kenapa emaknya Alan ngebet banget minta cucu? Padahal agak mustahil kalau sekali coblos langsung jadi juga, Mak!   ***   Temenan sama kalian di Fesbuk kayaknya seru deh! Ayo add author!   Love,   Velvet    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD