“Oi!”
Sebuah hentakan mengejutkan Kinan. Seseorang telah menepuk pundaknya dari belakang.
“Astaga, Stevi!”
Stevi tersenyum tidak jelas. Seolah menggoda temannya yang statusnya baru saja berubah menjadi istri orang.
“Cie hari pertama jadi sepupuku,” goda Stevi. “Gimana malam pertamanya?”
Alan langsung meletakkan kembali alat makannya mendengar sepupunya sudah keterlaluan.
“Stev!” bentak Alan saat mereka sedang makan bersama di meja makan.
Tadi Alan langsung menyusul keluar kamar sebab saat ia meraba sebelahnya, Kinan tak ada di situ.
“Ya, iya! Aku diam,” ucap Stevi memelas. Dilihatnya Kinan sedang menunduk malu.
Sepertinya semua orang mengharapkan sesuatu terjadi malam lalu. Namun harapan mereka hanyalah sebuah ekspektasi yang tak menjadi nyata.
“Santai aja! Aku masih perawan,” bisik Kinan pada Stevi.
“Sumpah!?” Stevi pun terkejut mendengar bisikan dari Kinan itu.
“Kenapa lagi ini?!” Alan semakin naik pitam mendengar percakapan kecil antara dua perempuan bersahabat itu.
Ya ampun! Pria ini sensitif sekali! Bisa-bisanya Kinan jatuh cinta dengan pria seperti ini.
Alan sudah menyelesaikan sarapannya. “Kenapa kalian berdua harus sahabatan, sih!?”
“Protes, Mas?!” Stevi memberikan nada tinggi pada sepupunya.
“HIH!”
Mereka berdua selalu tak pernah akur sejak kecil. Tak hanya sering berantem, Stevi dan Alan sama-sama pintar hingga mereka kadang bersaing dalam hal akademik.
Stevi dahulu tidak pernah mengalahkan prestasi Alan. Sehingga Alan yang selalu dipuji setiap pertemuan keluarga besar. Namun tak bisa dipungkiri bahwa otak mereka sama-sama cerdas.
Stevi tertawa melihat Alan risih dan menjauh dari ruang makan ini. “Akhirnya aku bisa ngalahin Mas Alan, Nan! Dia kalah bab percintaan sekarang! Pasti dia malu deh akhirnya menikah sama sahabat sepupunya sendiri! Kan aku jadi bisa sering gangguin!”
Kinan terkekeh kecil. “Kalian dari dulu kalau di rumah begini terus emangnya?”
“JELAS! Aku kan sering mengeluh ke kamu!”
“Aku pikir nggak sering, lhoh?!”
“Apalagi kita satu sekolah terus! Apa nggak muak tuh ketemu mas menyebalkan kayak dia!?”
Kinan tersenyum.
“Eh! Maaf, Nan! Kan dia sekarang suamimu! Aduh, mulutku! Yahhh, udah nggak bisa ngegosipin Mas Alan sering-sering, nih!” Stevi tersadar.
Meski berbicara dengan Stevi namun pandangan Kinan dari tadi tak bisa jauh dari Alan yang sedang berjalan ke kamar. Benar-benar penglihatan Kinan rupanya tak bisa jauh dari suaminya itu.
“Santai aja! Emang dajjal kok Alan tuh!” balas Kinan tenang. Pernyataan Stevi yang menyinggung namun benar adanya.
“Eh, bentar ya, Stev!” Kinan pamit untuk masuk ke kamarnya lagi.
“Bucin dasar! Ya udah, sampai ketemu nanti ya!” Diteguknya teh madu yang ia buat barusan. Seiring menilapkan sahabatnya.
Dok dok dok
Bukannya tidak berani langsung masuk ke kamar. Namun alangkah baiknya Kinan mengetuk pintu. Tidak lucu, kan, kalau tiba-tiba Alan kaget dan sedang tak memakai pakaian?
“Masuk aja kali,” jawab Alan dari dalam kamar.
Terbukalah pintu tersebut. Kepala Kinan menongol terlebih dahulu.
“Oh? Lagi telpon! Maaf, Mas,” ucap Kinan sesaat setelah badannya terhempas masuk ke dalam kamar.
“Nggak. Udah selesai.”
Entah apa yang Kinan rasakan tetapi menyebabkan pintu kamar tidak ditutup olehnya. Hal yang membuat risih Alan.
“Pintunya ditutup dulu, dong!?” ketus Alan.
“Iya, Massss.”
Alan sedikit mendekati Kinan. “Nanti sore kita ke rumah Jogja aja, ya? Besok aku mau langsung masuk kerja aja.”
“Hah?”
“Kenapa kaget?”
“Mmm, nggak kok,” imbuh Kinan dengan wajah sedihnya.
Mereka menghabiskan waktu pagi ini dengan saling berdiam. Tidak ada basa-basi di antara mereka. Berbicara hanya jika diperlukan saja.
***
Saatnya kedua kaki Kinan menapak di ubin garasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Hal yang ia dapatkan adalah satu gang lebar berpaving dengan beberapa rumah bertema industrial.
“Ngapain?! Ayo masuk,” ajak Alan. Ia sudah selesai membawa kopernya masuk ke dalam rumah.
Setelah terdiam dalam lamunan dan mengapresiasi perumahan ini, Kinan mengatupkan bibirnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sesuai arahan Alan.
Tap tap tap
“Kamarmu di situ,” papar Alan sembari menunjuk kamar di belakang ruang keluarga.
Rumah ini tak terlalu besar seperti perumahan mewah. Namun bagi Kinan ini sudah sangat leluasa.
Selesai membatin betapa sangat kekinian rumah ini, Kinan melihat ekspresi Alan yang terlihat lesu.
Wah, Alan benar-benar nggak ada rasa sama aku. Sepertinya dia juga nggak mau berusaha punya rasa sama aku.
Seperti diusir dari hadapan Alan, Kinan berinisiatif untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ia beristirahat sejenak. Mengistirahatkan pikiran negatifnya mengenai Alan juga. Tak mau mengotori otaknya sendiri dengan berbagai prasangka buruk.
“Aduh,” keluhnya saat berbaring di ranjang. Berpindah rumah sangat melelahkan rupanya. Hingga lambung Kinan terasa terkuras semua isinya.
“Makan malam apa ya?” batinnya.
Tidak mungkin juga Kinan melupakan Alan dan pergi makan sendiri di luar. Meskipun ia sangat sangat sangat bisa melakukannya.
Ia pun membuka ponselnya. Mencari resep untuk makan malam yang sangat sederhana. Mengingat peralatan masak di rumah ini juga minim sekali.
Kinan pergi ke warung depan gang perumahan ini yang dilihatnya. Membeli beberapa bahan makanan ringkas untuk dua hari ke depan.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia kembali ke rumah dan langsung menuju dapur.
Saat ia sudah selesai memasakan makan malam, Kinan duduk di ruang makan sembari menunggu Alan keluar dari kamarnya.
Ternyata rumah ini sangat sepi karena hanya ditinggali oleh dua orang yang tak familiar satu sama lain.
Tap tap tap
Langkah kaki itu langsung memikat respon Kinan.
“Mas, ayo makan?”
“Oh, kamu masak?”
Kinan tersenyum dan mengangguk.
“Emang bisa? Eh? Aku coba langsung aja deh, ya! Laper banget,” ujar Alan dengan mengelus perutnya.
Ia pun duduk dan mengicip masakan sederhana tersebut. Omelet mie.
“Anjir asin banget!” Alan sontak terhuyung atas rasa masakan istrinya itu.
“Hah? Asin mas?”
Alan menegaskan ucapannya lagi. “Iya! Asin banget! Aku mau pesen delivery aja!”
Saat ingin berdiri, Alan juga mengambil piringnya lagi. Ia bawa ke depan TV layar datar yang baru ia beli tempo lalu. “Tenang. Aku makan kok.”
Meski Alan terlihat mau memakan omelet itu, hati Kinan merasa rendah diri lagi. Merasa bahwa dirinya tidak becus menjadi perempuan. Memasak omelet saja keasinan. Bagaimana memasak yang lain nanti?