L.A.M - 12

1049 Words
Meski sudah berstatus sebagai pasangan nikah, tak bisa dipungkiri bahwa perasaan mereka masih belum bisa menyatu.    Hari demi hari telah terlewati. Suasana rumah baru itu masih sesunyi biasanya. Pasti akan terbilan sepi seterusnya apabila mereka berdua tidak ada perubahan yang signifikan.   Menikah namun sama-sama saling dingin. Sepertinya Kinan juga sudah sedikit menyerah untuk mengambil hati Alan. Lantas mengapa mereka harus menikah kalau Alan memang tak berniat belajar mencintai pernikahan ini? Bahkan mereka sudah saling berjanji di hadapan Tuhan dan keluarga.   Memang perjodohan ini terlihat salah. Namun ketika mengiyakan acara seperti ini sudah menjadi pilihan mereka sendiri. Lantas seharusnya sudah menjadi tanggung jawab mereka, kan?   “Kinan?” panggil Alan setelah mengetuk pintu kamar istrinya.   Setelah mendengar panggilan itu, Kinan langsung membuka pintunya lebar-lebar. “Kenapa, Mas?”   “Aku lapar. Tolong masakin omelet lagi bisa?”   “Nggak ah, Mas. Kamu pesen makan di luar aja? Nanti masakanku keasinan kayak minggu lalu gimana?”   Alan berdeham kecil. “Di luar hujan deras. Nggak ada yang mau ngambil orderanku. Tolong?”   Kinan melangkah keluar kamar perlahan. Sepertinya ia akan mengiyakan permintaan itu.    Dirinya berjalan ke dapur dengan bungkam. Belum menjawab permintaan Alan tadi. Sehingga meninggalkan pertanyaan bagi Alan.   Alan membuntuti Kinan ke dapur.    “Tapi nanti tolong kurangin garamnya sedikit aja, ya?” pinta Alan pelan agar tak menyinggung hati Kinan.   “Hm,” ketus Kinan. Ia pun membuat omelet itu meski dengan berat hati dan rasa takut akan komentar pedas suaminya nanti.   Alan menunggu sembari mengecek ponselnya di kursi makan.   “Aduh laper,” keluhnya pelan. “Kamu nggak laper, Nan?”   “Belum,” singkat Kinan.   Kok Kinan jadi cuek sama aku, sih?! Bukannya biasanya dia yang selalu merusuhiku?   “Ehem! Besok malam minggu … diajak teman kerjaku makan malam mau?” ajak Alan bersuara parau.   “Makan apa? Di mana?” tanya Kinan yang masih berkutat dengan teflon dan kompornya.   Alan semakin memperhatikan Kinan yang sedang memasak. “Ehm kayaknya cuma resto di mall aja, sih?”   “Ya besok kalau aku tidak malas. Kalau aku malas kamu berangkat sendiri aja, ya?”    Kali ini Kinan yang jutek habis!   Alan menggaruk rambutnya. “Oh, iya deh.”   Tuk tuk tuk   Ketukan itu mengganggu telinga Kinan.    “Kamu ngapain sih, Mas? Berisik,” cerca Kinan dengan berani.   “Eh?” Alan terhentak sebab Kinan selama dua hari ini menjadi sangat judes padanya.   Dicerca seperti itu oleh istri sendiri membuatnya menghentikan kegiatan mengetuk-ngetuk meja makan dengan jemarinya.    “Nih,” kata Kinan sembari memberikan omelet yang ia bikin. Ia juga duduk untuk menikmati makan tersebut. Meski ia tahu akan dikomentari oleh Alan pastinya.   Alan masih ragu untuk mengicip masakan Kinan setelah kejadian minggu lalu. Namun apa boleh buat kalau tidak ada ojek yang mengambil orderan makanannya dikala hujan deras seperti ini?   Diambillah potongan omelet tersebut.   “Mmm, enak,” ujar Alan. “Pas kok. Nggak keasinan.”   “Ya udah. Makan aja,” tanggap Kinan yang sedang berwajah judes itu.   Jawaban ketus yang dilontarkan Kinan dari tadi mampu membuat diam suasana dalam ruang makan kecil ini.   Kinan dalam diam menunggu Alan yang hampir selesai makan. Segera ia ambil piring yang ada di meja makan. Ia cuci semuanya setelah selesai.   Setelah mencuci piring, Kinan berjalan di samping Alan serta menunduk kesal. “Kalau kamu nikah cuma mau dibantu masak, cuci-cuci, nemenin di rumah mending kamu cari pembantu aja, Mas.”   BRUK!   Ucapan itu lolos dari bibir Kinan dan ia langsung menutup pintu kamarnya keras-keras.   “Astaga, Kinan kenapa?”    Alan hanya bisa membulatkan bibirnya. Heran melihat Kinan sedang bar-bar ini. Padahal di awal saat sebelum menikah, Kinan tampak tunduk pada Alan. Apa yang membuat Kinan berubah?   ***   Hari Sabtu malam telah tiba. Alan sedang bersantai di depan TV.    Tampak sangat kosong rumah ini, batinnya. Masih belum ada furnitur yang banyak. Setiap sudut ruangan ini masih terlihat sepi.   Kinan sedang bersantai di kursi makan. Dekat dengan ruang TV.   “Beli furnitur, yuk? Sambil nunggu ketemu teman kerjaku nanti.”   “Sekarang?”   “Boleh,” imbuh Alan dengan anggukan.   Tanpa memberi respon seperti kemarin lagi, Kinan beranjak menuju kamarnya.    Ia berdandan di meja riasnya. Kemudian mengambil pakaian dan mengenakannya dengan rapi.   Segera setelah usai berdandan, Kinan langsung menuju ke ruang TV.   “Ayo, Mas?”   “HAH?” Alan terkesiap. “Kok nggak bilang-bilang kalau mau siap-siap?”   “Kenapa emangnya?”   “Ya udah. Tunggu bentar. Aku ganti baju dulu,” ucap Alan terburu-buru.   Saat di kamar, Alan sangat tergesa memakai pakaian. Mana belum mandi sore juga! Tapi kalau misal Alan mandi, nanti Kinan menunggu lama. Nanti Kinan semakin judes!   “Haduh, sudahlah! Pakai parfum sudah cukup!” keluh Alan. Ia memakai beberapa semprot parfum ke celah leher dan lipatan sikunya. Karena di situlah wangi parfum akan bertahan lama.   Alan segera kembali ke depan ruang TV.   “Sudah siap,” ucap Alan.   Kemudian mereka mengunci rumah dan menuju ke garasi.   Kinan sudah berdiri di samping mobil. “Lama banget,” sindir Kinan.   “Astaga, kamu kenapa, sih, Nan!?” Alan sedikit frustasi kali ini. Karena ini bukan kebiasaan Kinan seperti lalu-lalu. “Santai dikit kenapa?”   “Hm,” jawab Kinan jutek.   “Kamu nggak mau keluar? Ya udah, ayo, di rumah aja?”   Kinan sebenarnya masih deg-degan ketika agak menjudesi suaminya seperti ini. Takut kualat!   “Kalau mau ya kita tinggal di rumah aja malam ini. Biarin mereka nanti malam minggu aja,” ucap Alan.   “Nggak usah kayak gitu kalau misal kamu ngomongnya nggak dari hati. Kalau mau keluar ya udah aku temenin,” papar Kinan datar.   “Tau, ah!” Alan sudah tak tahu harus bagaimana menanggapi Kinan yang berubah 180 derajat ini. Ia segera masuk ke dalam mobil.   Kinan juga ikut masuk ke dalam mobil tersebut.   Rumah mereka tanpa pagar sehingga tak perlu menutup pagar terlebih dahulu.   Alan menyetir mobil tersebut dengan kecepatan pelan. Mereka tidak saling bertegur sapa selama di perjalanan.   “Eh, eh?” Alan seketika panik saat mendengar raungan tangis di sebelahnya.   “Mas Alan kapan bisa suka sama aku?! Aku capek dicuekin gini terus! Mending pulangin aku ke rumah aja, Mas?!” tangis Kinan.   Sepertinya Kinan sudah angkat tangan untuk mendapatkan hati Alan. Lantas apa yang akan dilakukan Alan nantinya? Tegakah Alan akan berlaku seolah selalu menyakiti hati Kinan untuk sekarang dan seterusnya? Hingga Kinan berubah drastis daripada saat mereka sebelum menikah?     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD