L.A.M - 13

1080 Words
Sepanjang hari Kinan merasa tak ada harapan. Semua keoptimisannya telah sirna.   Setelah melihat-lihat furnitur, Kinan dan Alan duduk berdua di sebuah restoran Thailand. Di hadapan mereka sudah tertata panci rebus berisi kuah tomyam dan pemanggang. Serta beberapa sayuran dan daging-dagingan yang telah dibumbui.   Aroma kuah itu semerbak. Meski begitu, Kinan seolah tak bernafsu untuk memakannya segera. Reaksinya sangat berbeda saat berada di rumah mertuanya kala itu. Ia sangat semangat untuk mengambil makan.   “Bentar lagi mereka datang,” kata Alan. Namun tak mendapat respon dari Kinan.   Diam seribu bahasa. Itu yang dilakukan Kinan setelah sampai di restoran ini.    “Kamu kenapa diam aja?”   Alan berusaha menghidupkan suasana yang memang sudah tampak mati ini semenjak mereka menikah.   “Nggak apa, Mas.” Entah maksud Kinan memang mengacuhkan Alan atau karena ada sesuatu yang lain. Tapi apa?   Tidak biasanya Kinan begini terhadap Alan. Kalaupun Alan cuek, Kinan selalu menanggapinya dengan sabar.   Tap tap tap   “Lan!”   Seorang pria menyodorkan tangannya pada Alan. Rekan kerja Alan itu juga membawa sang istri.   “Eh, duduk sini.” Alan mempersilakan mereka berdua untuk duduk.   “Wah, pasangan baru ini!”    “Nggak perlu kaget begitu, Ren! Kamu kemarin juga datang ke nikahanku, kali!” Alan menanggapi celotehan Rendy—koleganya. “Ya basa-basi sama istrimu gitu, lho, maksud aku,” canda Rendy. Kemudian menoleh pada istrinya dan terkekeh bersama.   Alan menggeleng. “Yuk makan?”   Suasana meja makan ini sedikit ramai berkat bantuan kedua manusia tersebut. Coba kalau mereka tidak ada? Bisa-bisa Alan dan Kinan seperti patung. Saling membungkam mulut.   Mereka menikmati masakan suki ini.    Saat sudah selesai, Kinan pamit untuk ke toilet.   “Ke toilet dulu, Mas,” pamitnya. Ia segera beranjak dari kursi makannya dan menuju toilet terdekat.   Entah apa yang dirasa, mata Alan sangat ingin melihat Kinan yang berjalan.    “Eh?” celetuknya. Ada apa memangnya? Alan tampak kaget.    Alan segera berlari menyusul Kinan dan melepaskan hem yang ia pakai sebagai outerpakaiannya malam ini.   “Kinan!” panggil Alan saat ia sudah mendekati istrinya.    Dengan tanggap Alan langsung merangkulkan hem berlengannya tadi ke pinggul Kinan.  Ia menalinya.   “Ka-kamu lagi dapet?!”   “Apa?” Kinan memelototkan matanya. Ia tak merasa bahwa dirinya sedang datang bulan.   “Celana kamu … merah,” ucap Alan.   Kinan segera menilik ke pant*tnya. Apakah benar yang diucapkan Alan?   “Mungkin,” jawabnya singkat dan santai.   Lantas istri Rendy menyusul. Mereka berada di pintu keluar restoran ini. “Aku temenin Kinan aja. Aku bawa pembalut, kok,” ucapnya.   Alan mendesah. “Nara, aku minta tolong, ya?”   Lalu ia memandangi Kinan lagi dengan tatapan cemasnya. “Kamu beli celana baru aja. Ini kartuku,” pesan Alan sembari memberi kartu kreditnya.   Namun Kinan menyingkirkan tangan suaminya perlahan. “Aku bayar sendiri aja, Mas.”   Segeralah Kinan membuang muka dan mengajak Nara untuk segera ke toko baju terlebih dahulu baru ke toilet untuk berganti celana.   Alan melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam restoran.   “Ternyata gara-gara mau mens. Dasar wanita,” batin Alan.    Kalau bukan gegera seperti ini, apakah Alan akan mencemaskan Kinan? Tunggu! Cemas? Kenapa Alan harus mencemaskan Kinan kalau tidak menaruh rasa padanya? Atau ini hanya bentuk empatinya sebagai manusia biasa?   “Masalah bulanan cewek ya, Lan?”tanya Rendy.   Alan tersenyum dengan lenguhan cemasnya. “Biasa.”   “Cewek emang gitu, kan!? Itu namanya mood swings ketika PMS!”   “Kok tau?”   “Nara begitu. Sukanya diam, tiba-tiba marah sendiri, nangis sendiri. Ditambah dengan mukanya berubah jadi jelek. Nggak segar kayak hari biasa gitu lah!”   Alan mengangguk paham. “Pantas saja. Wajah Kinan seperti tidak segar dan semangat beberapa hari ini,” bisiknya.   Sementara itu Nara dan Kinan masih berada di toilet setelah membeli celana baru yang mereka dapatkan di sebuah butik. Meski dalam keadaan darurat, Kinan tetap memilih celana yang menurutnya masih bisa dipakai berkelanjutan.   Sesungguhnya Nara adalah orang asing bagi Kinan. Namun ia menghormati Nara karena ia mau menemaninya dalam keadaan seperti ini. Sesama perempuan saling membantu bukan?   Segera setelah keluar dari bilik toilet, Kinan mengusap matanya dengan pancuran air wastafel itu.    Ia merasa ada yang janggal. Ketika Nara tersenyum pahit sambil memerhatikan pantulan wajah ayunya di cermin.   “Apa kurangku?” Nara bermonolog sehingga Kinan terbingungkan olehnya.   “Kamu kenapa, Ra?”   Kinan langsung menoleh saat Nara berbicara sendiri tanpa memanggilnya.   Nara menunduk dan masih menyunggingkan senyumann kecewanya. “Mas Rendy punya wanita lain.”   “Hah?”   “Aku nggak habis pikir. Aku udah mergokin dia berkali-kali. Maaf ya aku curhat,” ucap Nara. Ia sekarang berani memandang Kinan dengan tatapan yang masih sayu itu.   “Dah yuk kita balik,” ajak Nara. Padahal percakapan ini masih rancu. Kinan masih berusaha mencerna ucapannya.   Mereka berjalan kembali ke restoran.   “Nara, kalau kamu cerita sama aku … datang ke rumah aja waktu Mas Alan kerja,” bisiknya saat hampir sampai ke meja makan.   Di situ Kinan melihat Nara menyembunyikan rasa sedihnya. Ia sangat handal dalam berakting. Tadi bisa berkata dengan suara parau sekarang Nara bisa tersenyum seolah kalimat yang diucapkannya di toilet tadi tak ada artinya.   “Makasih ya, Ra,” ucap Alan.   Nara membalas dengan senyuman manis dan tulus.    “Udah. Ajakin Kinan pulang aja? Kasihan. Mungkin perutnya kram tapi dia tahan,” saran Nara.   Alan menoleh pada istrinya. Wajah istrinya masih sama dan belum berubah. Cantik. Namun kali ini tidak sesegar biasanya.   “Yuk pulang?” Alan seketika membawakan tas milik istrinya itu tanpa rasa malu sedikitpun.   Mungkin Alan mulai panik karena Kinan hanya bisa diam.    “Duluan, ya?” Kinan berpamitan dengan pasangan di depannya itu.   Kemudian mereka berdua langsung menuju mobil. Alan menyetir dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu pelan agar segera sampai ke rumah dan Kinan bisa beristirahat.   “Aku antar ke kamar,” ucap Alan.    Tas yang dibawa Alan sudah direbut oleh Kinan perlahan. Ia tak ingin membuat risih suaminya.   “Nggak usah, Mas. Aku bisa jalan kok,” tolak Kinan halus. Ia langsung berjalan menuju kamarnya.   Alan memperhatikan punggung istrinya dari belakang.   “Eh?” Dilihatnya Kinan berjalan semakin membungkuk. Seolah menahan sakit yang ia rasa di perut.   Segera Alan memapah Kinan untuk sampai ke tempat tidur.   “Udah, Mas. Sana masuk ke kamarmu. Aku mau tidur.”   Alan mengangguk.  “GWS, ya,” kata Alan setelah Kinan bisa berbaring di ranjang dengan benar.   Diam-diam ia mencemaskan Kinan dalam hatinya. Entah apa yang merasuki diri Alan, ia merasa bahwa kali ini menjadi momen di mana ia harus mempelajari kebiasaan Kinan. Bukan cinta yang memotivasinya untuk melakukan ini. Masih sama yaitu sisi kemanusiaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD