Dalam Balutan Nama Maheswara

1225 Words
Langkah-langkah Kirana terdengar pelan menelusuri koridor panjang yang diterangi cahaya temaram lampu minyak. Rumah besar itu, yang bagi orang lain tampak megah dan sakral, baginya hanyalah penjara dengan dinding penuh kenangan yang bukan miliknya. Sesampainya di kamar, ia menutup pintu perlahan. Bukan takut menimbulkan suara—tapi karena sudah muak dengan semua drama yang ada di dalam rumah. Di sinilah Ayu bisa menjadi dirinya, melamun dan mencoba menerima takdir yang dia terima. Ia berjalan ke serambi kecil di sisi kamar, tempat angin malam berhembus membawa aroma tanah basah dan melati dari halaman belakang. Di sana ia duduk bersila, memandangi langit malam yang hanya diterangi cahaya bulan separuh. Suara jangkrik terdengar bersahutan, mengisi keheningan yang sudah terlalu lama menjadi teman setianya. Tangannya yang melepuh akibat tumpahan teh tadi ia olesi dengan salep seadanya—pemberian Mbok Ratri, pelayan tua yang masih setia pada titah Eyang Adiguna. Salep bening, dingin itu tak cukup menenangkan perih di kulitnya, apalagi di hati. “Kalau bukan karena Eyang Wicaksono dan Eyang Adiguna,” gumamnya lirih, “aku sudah pergi sejak lama.” Ia tersenyum getir, menatap langit-langit malam yang dingin. “Tapi kenapa harus pergi... lawong ini memang sudah jadi rumahku. Jika saya pergi, kesenangan dong Sekar.” Ia mengusap ujung matanya sebelum air mata itu jatuh lebih dahulu. Saat itulah suara langkah kaki terdengar di belakangnya—berat, teratur, namun terasa malas atau mungkin terpaksa. Kirana tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik langkah itu. Raden Arya Maheswara. Ia bersandar pada tiang kayu, wajahnya separuh terlihat dari bayangan. Kemeja putihnya masih melekat lengkap dengan rompi hitamnya, rambutnya sedikit berantakan, namun tatapan itu tetap sama seperti biasa—kelam, keras, tapi malam itu ada sesuatu yang lain. Kegelisahan samar. “Kenapa tidak tidur?” suaranya dalam, dingin, namun tak sekejam biasanya. Tumben? Ada apa? Kirana tetap menatap ke depan. “Sulit tidur,” jawabnya pelan. “Sulit tidur di rumah yang bahkan tak punya ruang untuk istri sah.” Arya menghela napas pendek, seakan tak ingin mendengar keluhan dari istrinya. “Kau terlalu banyak bicara, Raden Ayu.” Kirana menoleh kini, menatap lurus dengan mata yang berani dan jernih, tapi tajam seperti bilah keris. “Dan Raden terlalu banyak membiarkan orang lain bicara terlalu dekat dengan panjenngan.” Keheningan mendadak ada ditengah-tengah mereka. Hanya suara jangkrik dan desir dedaunan yang menjawab mereka. Arya menatapnya lama, lalu berbalik tanpa sepatah kata. Tapi langkahnya sempat terhenti di ambang pintu ketika suara lirih itu menembus punggungnya. “Saya tak butuh cinta njenengan, Raden. Saya hanya ingin tahu... kapan njenegan akan berhenti membenciku.” Tak ada jawaban. Hanya suara pintu yang menutup perlahan. Dan seperti malam-malam sebelumnya, tempat tidur di sisi Ayu tetap kosong. Malam itu menjadi saksi satu hal, satu bulan sejak pernikahan mereka, Raden Arya Maheswara belum pernah menyentuh kamar istrinya. Tak pernah berbaring di sampingnya, tak pernah menyapanya dengan lembut. Ayu menatap sisi ranjang yang tetap rapi dan dingin, lalu tertawa tanpa suara. “Mungkin dia lebih hangat di pelukan masa lalunya,” bisiknya getir. “Silakan, Raden. Aku bukan penjaga cintamu. Aku hanya penggenap perjanjian.” Ia berbaring, menatap langit-langit, sementara pikirannya melayang pada lima bulan yang tersisa. Lima bulan lagi, perjanjian pernikahan yang disusun Eyang Adiguna akan berakhir. Tentu saja tanpa sepengetahuan Eyang. Karena memang hanya Raden Arya dan dirinya. Dan saat itu tiba, ia akan bebas—dari rumah ini, dari nama besar itu, dari lelaki yang bahkan tak tahu cara menghormati wanita yang sah di sisinya. “Lima bulan lagi… Dan aku akan pergi tanpa menoleh.” --- Cahaya matahari pagi, menyelinap malu melalui kisi-kisi jendela kayu jati. Udara masih dingin, disertai aroma dupa yang tercium samar dari ruang tengah. Di meja rias, Raden Ayu Kirana Ratnadewi menatap pantulan dirinya di cermin besar berhias ukiran motif parang rusak. Kebaya ungu tua dengan kancing kecil berderet di bagian depan membalut tubuhnya dengan anggun. Potongan pinggangnya yang ramping menegaskan siluet elegan yang tak butuh perhiasan berlebihan untuk terlihat berwibawa. Kain batik berwarna hitam kelabu berpola bunga klasik melingkari kakinya dengan jatuh sempurna, sementara sanggulnya sederhana — hanya dihiasi tusuk konde emas warisan ibunya. Di wajahnya, tak ada rias berlebih. Hanya ketegasan dan sedikit sorot mata dingin. Ia menarik napas panjang. Pagi ini, ia akan menemui Eyang Adiguna di pendopo utama. Namun baru saja ia melangkah keluar dari kamarnya, suara berat yang sangat dikenalnya terdengar dari arah tangga marmer. “Mau ke mana kamu?” Raden Arya Maheswara berdiri di ambang pintu ruang tengah — dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, celana abu gelap, dan ekspresi yang sukar ditebak. Rambutnya sedikit acak, tapi di mata siapa pun, pria itu tetap memancarkan pesona khas darah campuran Eropa-Jawa. Memiliki rahang tegas, hidung tinggi, dan sorot mata biru yang dinginnya bisa menyelami tatapan lawan. Ayu berhenti, menatapnya sekilas sebelum menjawab datar. “Sejak kapan Raden ingin tahu urusan saya?” Arya mendengus, langkahnya maju beberapa tapak hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal. “Mulutmu makin tak tahu tempat, Raden Ayu. Jangan lupakan siapa yang memberimu atap dan nama keluarga ini.” Kirana tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Arya terhenyak. “Rumah ini bisa saja saya tinggalkan, gelar pun bisa saya serahkan. Tapi saya akan memilih siapa yang pantas menggantikan gelar saya di rumah ini." Tatapan Arya menggelap, rahangnya menegang. “Jangan bertingkah seolah kau korban, Ayu. Kita sepakat sejak awal ini hanya perjodohan. Tanpa cinta, tanpa campur urusan pribadi.” Kirana memiringkan kepala sedikit, seolah menimbang ucapannya sebelum membalas. Senyumnya kini berubah — lebih tajam. “Dan saya menepati perjanjian itu, Raden. Saya tak menuntut cintamu, tak pernah memohon sentuhanmu, bahkan tak pernah menagih statusku sebagai istri.” “Tapi sayangnya…” ia menatap lurus ke mata biru itu, “kau juga berjanji akan menghormatiku. Tapi lihatlah, bahkan peliharaanmu berani menumpahkan teh ke badanku sementara Raden hanya diam. Lalu pagi ini, siapa yang mencampuri urusan siapa, Raden Arya" ucapnya dengan penekanan di kalimat terakhir. Suasana membeku. Arya membuka kembali mulutnya hendak membalas, tapi kata-katanya tertelan oleh tatapan mata itu — mata wanita yang dulu ia kira akan mudah dipatahkan, tapi kini berdiri di depannya dengan keteguhan yang membuat dadanya sesak tanpa alasan. Kirana menunduk sedikit, memberi hormat kecil — hanya ingin cepat pergi dari pria di hadapannya. “Saya mohon izin. Eyang Kakung menunggu.” Lalu ia melangkah melewati Arya dengan langkah ringan namun penuh wibawa. Hembusan angin pagi membawa aroma melati dari tubuhnya, samar namun menancap. Arya sempat menoleh, menatap punggungnya yang menjauh — kebaya ungu itu, lekuk anggun, langkah yang tegap namun lembut. Dan entah kenapa, dadanya terasa aneh. Sesak — tapi bukan karena amarah. “Perempuan keras kepala,” gumamnya rendah. Terselip kekaguman yang tak mau diakui. Sementara di halaman depan, Kirana sudah melangkah naik ke mobil hitam yang sudah menunggunya. Sopir pribadinya, Pak Seno, membukakan pintu dengan sopan. “Ke pendopo utama, Raden Ayu?” “Injih. Eyang Kakung tidak suka menunggu.” Mobil perlahan meninggalkan Pendopo Arga Wening. Dan di balik jendela, Ayu menatap pantulan dirinya — wanita yang dinikahi bukan karena cinta, tapi karena hutang dan kehormatan. “Aku bukan bayanganmu, Raden Arya…” bisiknya lirih. “Dan suatu hari nanti, kau akan tahu apa artinya kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah kau hargai.” Mobil itu melaju menjauh, meninggalkan Raden Arya berdiri di teras pendopo, dengan secangkir teh yang tak sempat ia minum — dan hati yang entah kenapa mulai tak tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD