Pesan dari Sesepuh.

1301 Words
Ayu sampai di pelataran Pendopo Utama Arga Maheswara. Udara masih berembun, dedaunan jati bergoyang ringan dihembus angin yang menurunkan aroma tanah basah. Dengan siluetnya yang tampak berwibawa dan anggun setiap gerakannya. Begitu sampai di serambi pendopo, Ayu menunduk dalam, lalu mengatupkan kedua tangannya. “Selamat pagi, Eyang Kakung,” ucapnya lirih, penuh takzim. Raden Adiguna Maheswara, lelaki sepuh berwajah teduh namun sorot matanya tajam seperti elang, menoleh perlahan dari kursi kayu jati tempatnya biasa duduk menikmati teh pagi. Rambut putihnya tersisir rapi, tertutup oleh belangkon dengan sorot bijak yang selalu mampu membuat siapa pun menunduk hormat. “Cah ayu…” suara beliau berat tapi lembut, “Kamu semakin cantik saja setiap harinya." Ayu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat, membungkuk, dan mencium punggung tangan sang kakek mertua dengan penuh hormat. “Injih, Eyang Kakung. Matur nuwun,” sahutnya sopan. Eyang menatapnya lama, seolah menembus lapisan topeng tenang yang selalu dipakai cucu mantunya itu. “Bagaimana kabarmu, cah ayu? Begitu juga dengan suamimu, Arya?” tanyanya dengan nada yang tampak biasa, tapi ada makna lain. "Kemana dia, kok ndak ikut ke sini?" Ayu menunduk sebentar, lalu duduk bersimpuh di hadapan beliau. “Alhamdulillah, injih Eyang… kulo sae. Raden Arya juga baik. Raden masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda Eyang, Ngapunten." Jawabannya sempurna — tenang, terukur, tanpa cela. Namun Raden Adiguna hanya menghela napas pendek, pelan, tapi mengandung berat yang tak terucap. “Cah ayu…” beliau menatap jauh, ke arah kolam di halaman. “Sudah, tidak usah bohong Cah Ayu,? Karena Eyang tau, yang tenabg belum tentu tenang. Seberaoa kamu menyimpannya. Eyang tau Cah ayu." Ayu terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi wajahnya tetap datar. Ia tahu, Eyang Kakung bukan orang sembarangan. Lelaki itu dulunya raja di balik layar bisnis dan politik, dan kini, bahkan di usia senjanya, beliau masih punya mata dan telinga di mana-mana. “Injih, Eyang,” katanya lirih. “Saya hanya berusaha menjadi istri yang tidak mengeluh. Semua ada waktunya.” Raden Adiguna tersenyum tipis — senyum seorang pria yang seakan tau makna dari apa yang hendak dia ucapkan. “Ngapunten, cah ayu. Eyang tahu Arya bukan pria yang mudah diatur. Tapi sabarlah dulu. Ada hal-hal yang belum saatnya kamu ketahui.” Ayu mengangkat pandangannya perlahan. Ada keraguan di sana, tapi juga keanggunan yang tak bisa disembunyikan. “Injih, Eyang Kakung… tetapi terkadang saya ingin tahu. Mengapa Eyang tidak menikahkan Raden Arya dengan Sekar saja? Saya yakin, cintanya ada di sana, bukan pada saya.” Pertanyaan itu hanya terucap samar dan lirih, jika tak benar-benar fokus, bisikan itu hanya mampu terbawa angin. Namun Raden Adiguna tetap mendengarnya. Beliau hanya tersenyum samar, mengalihkan pandang ke secangkir teh di meja batu. “Kadang cinta bukan hanya salah satu alasan untuk menikah, nduk. Kadang… perjanjian dan keseimbanganlah yang menjaga semuanya tetap bisa berdiri sejajar." Ayu menunduk lagi. Ia tak berani membahasnya lebih jauh. Ada sesuatu di balik perjodohan ini, sesuatu yang lebih besar daripada perasaan dua manusia yang terikat paksa. “Sudah, cah ayu,” ujar Eyang lembut. “Sekarang kamu menginap di sini saja. Pendopo ini sepi kalau hanya Eyang dan Mbok Darmi. Eyang senang kalau ada teman mengobrol, seperti sampean di sini.” “Injih, Eyang Kakung… kulo manut,” jawabnya pelan, kali ini dengan nada tulus. Beberapa menit kemudian, Ayu bangkit untuk berdiri. Dilihatnya meja kecil di sisi Eyang, ia mendekati meja itu, lalu mengambil cangkir obat dan air putih. “Waktunya minum obat, Eyang. Biar saya bantu, ya?” ujarnya lembut. Raden Adiguna tersenyum lebar, rasa sayang memancar jelas dari keriput wajahnya. “Syukurlah, cah ayu. Kamu ini bukan hanya cantik, tapi juga lembut hatinya. Pantas saja Gusti Allah memberi kamu kekuatan dan kesabaran. ” Ayu tersenyum tipis, lalu menyuapkan obat dengan hati-hati. Setelah itu, ia turun ke pawon (dapur) yang saat itu juga ada beberapa pembantu dan menyiapkan masakan kesukaan Eyang — sayur lodeh labu dan sambal terasi. Tangannya yang sempat melepuh kini membungkus sendok dengan sapu tangan agar tak terasa perih, tapi ia tetap menanak nasi sendiri, mengiris bahan dengan telaten. Raden Adiguna memperhatikannya dari jauh, mata tuanya berbinar penuh bangga bercampur iba. “Cah ayu ini… kalau saja bukan jadi istrinya Arya, mungkin hidupnya akan jauh lebih bahagia,” gumamnya pelan. Namun Ayu hanya tersenyum samar tanpa menoleh. “Injih, Eyang Kakung,” katanya lembut sambil mengaduk masakan. “Saya tidak mengejar kebahagiaan, Eyang. Saya hanya berusaha tidak menjadi beban bagi siapa pun.” Dan di sela aroma rempah yang menari di udara pendopo utama yang lebih besar itu, Raden Adiguna tahu satu hal pasti — cucu mantunya itu bukan sekadar cucu yang cantik baginya. Ia adalah bara yang diam, tapi suatu saat, bara itu akan menyala dan membakar segala yang menindasnya. ---- Raden Arya berdiri di depan cermin besar di sudut kamarnya, jari-jarinya membenarkan lipatan beskap berwarna hitam legam yang baru saja ia kenakan. Kain batik parang barong terbalut rapi di pinggangnya, sementara keris berukir naga diselipkan di punggung, menambah wibawa sekaligus kesan dingin yang sering membuat para abdi enggan menatap terlalu lama. Namun di balik ketegasan garis wajahnya, ada gurat kegelisahan. Panggilan mendadak dari sang Eyang Kakung tak pernah datang tanpa sebab. Biasanya, ada hal besar yang tengah bergolak di dalam pendopo utama. Suara langkah ringan memecah keheningan itu. Sekar sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan dress hijau lembut yang menonjolkan keanggunan sekaligus pesonanya yang licik. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya di kusen, matanya menelusuri sosok Raden Arya dari kepala hingga kaki, senyumnya samar namun jelas ada niat lain. “Baru pulang kerja, sudah rapi sekali, Mas. Mau ke pendopo?” tanyanya lembut, mengubah panggilan jika hanya ada dirinya da Arya. Arya hanya mengangguk tanpa menoleh. “Baru saja Eyang Kakung memanggil. Katanya, ada hal penting yang harus dibicarakan.” “Hal penting?” Sekar melangkah mendekat, jemarinya yang lentik mulai bermain di d**a Arya, memperbaiki kancing beskap yang sebenarnya sudah sempurna. “Apa Jangan-jangan… Raden Ayu sudah mengatakan hal yang tidak-tidak?” ucapnya lirih, seolah sedang menebak tapi sebenarnya menanamkan racun. Arya mengerutkan keningnya. “Kamu tau dari mana? Jangan suka menyimpulkan hal yang tak penting." Sekar menunduk, memasang wajah sedih yang sudah sangat ia kuasai. “Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Emban Lirih dengan Mbok Ranti jika Eyang tampak murka setelah mendengar Raden Ayu bicara sesuatu tentang pertemuan Mas Arya dengan salah satu rekan bisnis Mas Arya kemari. Aku takut, Mas… jangan-jangan Eyang salah paham padamu.” Ia menyandarkan kepala di d**a Arya, wajahnya semakin dia buat cemas, padahal di balik matanya tersimpan senyum kecil yang hampir tak kentara. “Biar aku ikut saja, ya, Mas?” bisiknya manja. “Kalau Eyang benar-benar marah, aku bisa bantu jelaskan. Aku tak mau kalau Mas disalahkan karena hal yang bukan salahmu.” Namun Raden Arya menahan napas, menatap wajah wanita itu dengan lembut. Arya sedikit bimbang namun Sekar juga tak akan berbohong padanya. Tangannya menyentuh pipi Sekar perlahan, gerakannya lembut. “Ngapunten, Sekar,” ujarnya dengan nada dalam dan menahan. “Bukannya aku tidak mau mengajakmu. Tapi kamu tahu, bukan, jika Kakek sedikit tidak berkenan denganmu?” Sekar tersenyum getir, menunduk, namun mata itu—mata licik yang berkilat—tak bisa menyembunyikan kekecewaan palsu yang ia buat-buat. “Kalau begitu… setidaknya Mas Arya berjanji padaku. Setelah dari pendopo, kamu cepat-cepat pulang jika semua sudah selesai. Aku ingin tahu apa yang membuat Eyang sampai memanggilmu padahal kamu pasti capek saat ini.” Arya tak menjawab, hanya menatap wajah cinta pertamanya itu dalam-dalam. Lalu ia memberi satu kecupan di dahi wanita itu, perlakuan yang tak pernah dia berikan pada sang istri. Wanita yang halal dan sah. Tapi bisa semurahan itu mengecup wanita lain hanya karena cinta pertama. Omong kosong. Begitu pintu kamar tertutup, senyum Sekar berubah. Bibirnya melengkung licik, jemarinya mengetuk pelan meja rias. “Bagus,” gumamnya pelan, “kalau Eyang murka pada Arya… maka langkah berikutnya akan jadi lebih mudah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD