Cerita Lama

1584 Words
Langit Solo sore itu berwarna tembaga pucat, ketika kereta hitam milik keluarga Maheswara berhenti di depan rumah joglo besar milik Raden Wicaksana Atmadilaga—seorang bangsawan tua yang kini hidup dalam bayang-bayang utang dan kejayaan masa lalu. Rumah itu tampak tua namun masih gagah, berdiri di antara pohon sawo kecik dan bambu petung yang berdesir pelan ditiup angin. Dari dalam mobil, Raden Adiguna Maheswara, dengan pakaian lurik halus dan blangkon cokelat tua, turun dengan langkah berwibawa meski ada tongkat di sisi kanannya. Usianya yang sudah melewati tujuh puluh tahun tak mengurangi sorot mata tajam yang memancarkan ketegasan khas darah ningrat. Di belakangnya, abdi setia bernama Karta membawa sebuah tas kulit berisi dokumen. Begitu sampai di pendopo, Raden Wicaksana sudah berdiri menyambut, menunduk penuh hormat. “Adiguna, Teman lamaku…” suaranya parau tapi hangat. “sudah lama, aku tidak menyangka kamu mau mampir ke pendopo ini" Adiguna tersenyum tipis. “Wicaksana, kenangan lama tak akan hioang begitu saja. Bagaiman pun kamu masih teman rasa saudara bagiku. Tak masalah kan jika ingin bertemu dengan teman lama. Dan... Apa benar jika usahamu dan bisnismu saat ini sedang tidak baik-baik saja Sana?" Wicaksana menghela napas dalam. “Memang benar, Guna. Hutang dengan Bank Swasta ada yang menunggak karena produksi yang terhenti. Pengrajin pun banyak yang sudah sepuh. Seperti kita. Anak dan keluarganya tak mau melanjutkan. Bahkan pabrik juga sempat terkena musibah kebakaran." Adiguna menatap sahabatnya dalam diam. Dulu, mereka berdua adalah sejawat di pemerintahan kolonial lokal, sama-sama bangsawan yang disegani. Tapi waktu dan takdir terkadang tak bisa berjalan berdampingan. Yang satu masih tetap berada di puncak, sedangkan salah satu dari mereka harus menerima cobaan. Bukan kah memang begitu hidup dalam roda kehidupan? “Jika hanya karena masalah hutang,” ucap Adiguna perlahan, “Aku bisa membantumu Sana. Tidak perlu berpikir bagaimana caranya kamu mengembalikannya. Mengko wae, bangkit dahulu yang pentung." Wicaksana tertegun. “Ah, Guna… aku malu. Kamu sudah begitu baik pada keluargaku. Aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk membalasnya. " Adiguna hanya mengangkat tangannya pelan, menenangkan. “Ora perlu dipikir. Sudah seharusnya aku membantu saudaraku…” kata-kata itu terhenti, saat matanya tak sengaja melihat sosok wanita muda yang baru saja masuk ke pendopo dengan nampan di tangannya. Gadis itu berjalan pelan, mengenakan kebaya sederhana warna krem muda dan jarik bermotif parang rusak. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang, namun sorot matanya lembut dan penuh ketulusan. Cantik sekali. Ia meletakkan gelas teh hangat dan piring berisi kue basah — klepon, serabi, dan nagasari — di meja tamu, lalu menunduk hormat. “Monggo, Eyang,” ucapnya lirih. Suara itu seperti denting lembut gamelan yang menyejukkan telinga. Lembut sekali. “Cucumu?” tanya Adiguna, masih menatap gadis itu. “Iya, Guna. Itu cucuku satu-satunya, Ayu Kirana Ratnadewi Wicaksana. Dia gadis yang manut, tidak banyak bicara, nanging tangguh.” Ayu menunduk sopan, tapi pipinya sedikit memerah di bawah tatapan tajam Adiguna. “Namamu bagus Nak, Ratnadewi,” kata Adiguna perlahan. “Seperi namamu, jika dilihat cantik wajahmu dan hatimu, Nak.” Wicaksana tersenyum malu. “Matur nuwun, Guna. Gadis ini yang saat ini mengurus rumah ini. Menantuku, Raras Prambayun meninggal dalam kecelakaan tujuh tahun yang lalu dengan putraku, Brahmadewa." Adiguna tertegun, sama seperti dirinya. Anak satu-satunya juga diambil oleh Yang Maha Kuasa dengan kejadian serupa. Kecelakaan yang menewaskan Putra dan Menantunya. Mata tua Adiguna tak sengaja melihat Ayu yang saat ini menatap dirinya dan Wicaksana secara bergantian, memberi isyarat ingin pamit. Namun sebelum ia beranjak, Adiguna berkata, “Cah Ayu, sini duduk dulu sebentar. Eyang pengin ngomong sebentar.” Gadis itu ragu, tapi dirinya memilih duduk dengan sopan di kursi yang berhadapan dengan Eyang Adiguna. "Injih, Eyang?" “Apa kamu mengerti apa yang sedang dihadapi dan tanggung oleh Eyangmu saat ini Cah Ayu?" tanya Adiguna, suaranya dalam tapi lembut. Ayu menunduk. “Saya tahu, Eyang. Saya juga sudah mendengarnya beberapa minggu ini. Untuk saat ini saya hanya bisa berdoa, semoga Gusti Allah paringi jalan terbaik untuk keluarga saya" Adiguna mengangguk kecil. Ada kejujuran di mata gadis itu yang membuat dadanya menghangat — sesuatu yang jarang ia lihat di antara kaum muda bangsawan zaman ini. Setelah beberapa saat hening, Adiguna meneguk tehnya, lalu menatap Wicaksana. “Wicaksana, aku punya pemikiran. Semiga kamu tidak tersinggubg dengan niatku ini." Wicaksana menegakkan tubuh. “Apa itu, Guna?” Adiguna menghela napas pelan. “Aku punya cucu laki-laki, Raden Arya Maheswara. Anak itu sudah sepatutnya memiliki pendamping hidup. Jika kamu tak keberatan... Aku ingin meminta Ratnadewi untuk menjadi istri dari cucuku" Setelah kalimat itu terucapkan, suasana pendopo mendadak hening. Hanya suara burung perkutut di luar jendela yang masih terdengar. Ayu menatap Eyang Kakungnya dengan mata membesar, sedangkan Wicaksana terlihat terkejut, dan setengah tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. “Adiguna… ini… maksudnya bagaimana?” “Aku tidak memaksa, Sana,” jawab Adiguna tenang. “Aku hanya menawarkan. Anggap saja ini jalan dari Gusti Allah, untuk menyambung silaturahmi dengan ikatan yang menjadi sunah Kanjeng Nabi. Tapi aku tidak memaksa, jika Ratnadewi tidak menginginkannya. Aku tak akan meneruskan rencana ini." Wicaksana menunduk lama. Di satu sisi, hatinya menolak karena merasa tak pantas, di sisi lain, kesempatan itu terlalu berharga untuk ditolak. Bantuan Adiguna bisa menyelamatkan usahanya, juga menjaga kehormatan keluarga. Bukan mengambil kesempatan dalam kesempitan, hanya saja, mungkin ini memang jalan yang disiapkan Tuhan untuk keluarga Wicaksana. Ayu yang sedari tadi diam akhirnya berkata lirih, “Jika mungkin ini memang jalan yang diberi Gusti Allah, kula manut, Eyang.” Adiguna tersenyum tipis. “Alhamdulillah. Tidak ada yang harus dipaksakan. Jadi percayalah Sana, aku akan menjaga Ratnadewi dengan sebaik-baiknya." Dan hari itu, di bawah langit Solo yang mulai memerah senja, keputusan besar itu tercipta—keputusan yang dua bulan kemudian mengikat Raden Arya Maheswara dan Ayu Kirana Ratnadewi Wicaksana dalam pernikahan yang tampak indah di permukaan, tapi menyimpan luka di dasar hatinya. --- Suara desir angin sore menelusup lembut ke sela-sela pendopo utama keluarga Maheswara. Aroma pandan dari taman belakang terembus halus. Langit senja mulai menguning keemasan, menebar cahaya hangat di atas kolam ikan yang airnya beriak pelan. Ayu melangkah perlahan di belakang kursi roda Eyang Adiguna, mendorongnya menyusuri jalan setapak batu andesit di tepi taman. Sesekali ia menunduk, memperhatikan bunga kenanga yang gugur di tanah basah. Ada perasaan asing yang menyusup di dadanya—rasa tenang sekaligus rindu yang sulit dijelaskan. Suara burung perkutut dan seketika bayangan pendopo keluarganya di Solo muncul dalam ingatannya. Pendopo Wicaksana Atmadilaga, dengan atap limasan dan aroma kayu jati tua, di mana ia biasa duduk sore-sore bersama sang kakek sambil mendengarkan kisah masa muda eyangnya. Ayu menelan perih kecil yang datang bersamaan dengan kenangan itu. Ia merindukan rumah, merindukan Raden Wicaksana, sosok kakek yang dulu selalu menepuk pundaknya dengan lembut seraya berkata, “Wani ngadhepi urip, Ayu. Ora kabeh sing padhang iku becik, ora kabeh sing peteng iku ala.”¹ “Apa yang sedang kamu pikirkan, cah ayu?” suara bariton yang lembut namun berwibawa memecah lamunannya. Ayu tersentak kecil, lalu tersenyum menatap sosok tua yang duduk di kursi roda itu. “Saya tidak apa-apa, Eyang. Hanya teringat suasana di Solo saja, sedikit.” Eyang Adiguna menatap cucu menantunya itu lama, “Apa kamu rindu dengan Eyang Kakungmu, Cah Ayu? Raden Wicaksana itu teman lamaku yang paling jujur. Tidak banyak orang jaman sekarang seperti Eyangmu itu." Ayu tersenyum tipis, matanya berembun. “Eyang Wicaksana memang orang baik. Saya selalu kangen dengan beliau." Mereka terdiam sejenak, menikmati suara gemericik air dari pancuran batu. Beberapa abdi yang lewat menunduk hormat, sementara matahari perlahan turun di balik dinding batik ukir. “Cah ayu…” suara Eyang Adiguna kembali terdengar. “Eyang sudah hubungi suamimu. Sebentar lagi Raden Arya akan datang kemari.” Langkah Ayu tiba-tiba melambat. Ia menahan dorongan tangannya di pegangan kursi roda, menatap punggung Eyang Adiguna dengan raut bingung. “Raden Arya… dipun panggil? Kagem menopo, Eyang?”² tanyanya hati-hati. Eyang Adiguna tersenyum samar. “Lha piye to, Cah Ayu. Kamu sudah menjadi istrinya. Eyang tidak tenang jika kamu menginap disini tapi suamimu malah tidur di pendopo dengan wanita lain. Apa kamu akan baik-baik saja?" Ayu tercekat. Hatinya berdebar tidak karuan. Ia tahu siapa yang dimaksud sang Eyang—Sekar. Ayu menunduk dalam, menahan gejolak yang mendadak menyeruak. “Eyang…” suaranya nyaris bergetar, “Saya tidak mua meminta banyak pada suami saya. Jika memang Raden Arya tidak mau, saya tidak bisa memaksa Eyang" “Maafkan Eyang, Cah Ayu.” Nada Eyang Adiguna meninggi sedikit, tapi tetap dengan kebijaksanaan seorang sesepuh. “Ini semua salah Eyang, seharusnya Eyang tidak membiarkannya. Tidak pantas jika wanita itu masih berada di pendopo kalian." Ayu menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin berkata jujur bahwa yang ia takutkan bukan Arya—melainkan dinginnya hati pria itu yang tak tersentuh oleh kelembutannya selama ini. “Biarlah dia dengan peliharannya, Eyang. Aku sudah lelah berharap.” yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati. "Saya mengerti, Eyang." Tak lama kemudian, suara langkah berat dan tegas terdengar dari arah pendopo utama. Suara sandal kulit menapak di lantai batu, semakin lama semakin dekat. Dingin udara senja tiba-tiba menembus kulit Ayu, membuat jemarinya menggenggam pegangan kursi roda lebih erat. Lalu sebuah suara rendah, berat, dan seakan menahan emosi memecah udara sore itu— “Ayu…!!” “Kita perlu bicara.” _____________ ¹ "Wani ngadhepi urip, Ayu. Ora kabeh sing padhang iku becik, ora kabeh sing peteng iku ala.” — Berani menghadapi hidup, Ayu. Tidak semua yang terang itu baik, dan tidak semua yang gelap itu jelek. ²“Raden Arya… dipun panggil? Kagem menopo, Eyang?” — Raden Arya... Sudah di panggil kemari? Memang ada apa, Eyang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD