Langit sore saat ini terlihat kelam. Awan hitam menggantung berat di atas gedung Maheswara Group, hujan mengguyur deras menimpa kaca-kaca jendela tinggi yang berembun. Suara rintik air yang jatuh dari atap berpadu dengan suara jam dinding yang berdetak pelan di ruang kerja Raden Arya Maheswara — menciptakan suasana mencekam yang seolah mencerminkan isi kepalanya sendiri. Keruh dan seakan tak ada ketenangan sama sekali. Apalagi semenjak kepergian istrinya. Jarum jam menunjuk tepat pukul 17.00. Namun bukan hujan, bukan pula petir yang membuat d**a Raden Arya terasa sesak sore itu. Melainkan ketiadaan. Ketiadaan istrinya. Sejak siang — sejak pertengkaran bodoh itu di depan para staf, sejak dia membela Sekar dan mempermalukan Raden Ayu, istrinya sendiri — perempuan itu menghilang. Tak ada k

